Sundari

Sundari
Tragedi berdarah



Suara kokokan ayam saat waktu subuh membangunkan Sundari, Sundari bangkit dari tempat tidurnya llu membuka jendela.


Udara sejuk masuk ke dalam rumah, arunika terlihat di ujung sana langit gelap berbias jingga. Aroma embum yang membasahi dedaunan begitu terasa.


Sundari beranjak dari kamarnya dan menuju dapur sederhananya untuk memasak.


Sundari mengambil tumpukan kayu kering dari atas dapurnya dan menyalakan api.


Api menyala, asap putih tipis membumbung ke atas atap, di dapur Sundari memasak untuk anak kesayanganya Adit.


Langit mulai berangsur terang, makanan pun sudah di sajikan di atas meja.


Sundari masuk kembali ke dalam kamar.


“Adit makanan sudah siap ya di atas meja, ibu mau ke kebun dulu,” ucap Sundari.


Sundari keluar rumah lalu mengunci pintu dan berjalan menuju kebun teh untuk bekerja.


Saat berada di kebun Sundari mulai memetik pucuk-pucuk teh sembari menggendong keranjang besar di punggungnya. 


Pucuk demi pucuk Sundari petik hingga keranjang yang ada di punggungnya itu penuh.


Matahari semakin naik, suasana sejuk sebentar lagi akan berganti terik. Keranjangnya pun juga suda penuh kini tiba saatnya dimana Sundari menimbang hasil petikan tehnya kepada pengepul untuk mendapatkan uang.


Hari ini pendaatan Sundari lumayan, cukup untuk membeli beras dan ikan asin.


Saat Subdari ingin beranjak dari perkebunan itu, rupanya Rian menghampirinya di perkebunan.


“Sundari,” ucap Rian.


“Mas Rian, tumben ke perkebunan ini. Ada urusan ya,” ucap Sundari.


“Enggak sih, cuma pengen ketemu aja ngobrol-ngobrol,” ucap Rian.


“Tapi saya sudah selesai dan mau pulang Mas,” ucap Sundari.


“Oh pas kalau gitu, saya antar sampai depan rumah.”


Sundari dan Rian pun berjalan beriringan dengan langkah kecil mereka berjalan sambil berbincang.


“Mbak Sun, gak bosan sendirian?” tanya Rian.


“Maksudnya Mas?”


“Ya ... Gak bosan sendiri gak pengen cari calon suami?”


Sundari tersenyum kecil. “ Siapa Mas yang mau sama janda dekil kaya saya,” ucap Sundari.


“Lah saya mau kok,” ucap Rian.


“Bisa aja Mas ini. Mas Rian gak malu jalan sama saya?” tanya Sundari.


“Ngapain malu, saya malah senang bisa jalan berdua gini.”


Perbincangan mereka semakin hangat hingga tanpa sadar mereka sampai di depan rumah.


“Loh udah sampai aja,” ucap Rian.


“Iya sudah sampai. Terima kasih karena sudah mengantarkan saya sampai depan pintu.”


“Sama-sama. Saya pergi dulu ya Mbak Sun.” 


Rian pun pergi meninggalkan rumah Sundari setelah melihat Rian pergi jauh dari rumahnya Sundari masuk ke dalam rumah.


Sundari membereskan meja makan, saat menaruh semua alat makan ke dapur Sundari melihat jika persediaan berasnya habis.


“Aduh aku lupa berasnya habis,” ucap Sundari.


Sundari pun bergegas keluar dan berjalan keluar hutan untuk menuju warung yang letaknya di dekat perkebunan.


Sundari berjalan dengan langkah yang cukup cepat hingga tidak lama dia sampai di warung Bu Tinah.


“Bu beli beras,” ucap Sundari.


“Eh Sun, bukannya kamu tadi baru lewat sini,” ucap bu Tinah.


“Saya lupa kalau beras habis jadi saya kembali lagi ke sini,” ucap Sundari.


Di warung itu bukan hanya ada Sundari tetapi ada beberapa orang yang ingin belanja.


“Ini Sun berasnya,” ucap bu Tinah.


“Ini uangnya Bu.”


“Mbak beli beras cuma 1 kilo apa cukup?” tanya salah satu pembeli yang lain.


“Cukup bu,” sahut Sundari.


“Ini Sun kembaliannya.”


“Terima kasih Bu, saya permisi dulu.”


Sundari pergi meninggalkan warung itu, kehadiran Sundari di warung itu membuat beberapa ibu-ibu itu penasaran. 


Karena hanya Sundari yang pulang selalu masuk ke dalam hutan.


“Bu Tinah. Saya lihat wanita itu pulang pergi sellau lewat hutan memangnya rumahnya di hutan?” 


“Yang saya tahu sih begitu,” sahut bu Tinah.


“Bukannya hutan itu angker bu, kemarin saja ada warga yang lihat penampakan kuntilanak di hutan itu padahal itu siang hari.”


“Iya saya juga dengar begitu, tapi memang setiap hari si Sundari itu pulang perginya dari situ.”


“Apa jangan-jangan dia manusia jadi-jadian.”


“Ya enggak lah bu. Dia bahkan kerja di kebun teh.”


Ada banyak spekulasi miring tentang Sundari karena Sundari tinggal di hutan dna pribadinya yang cukup tertutup membuat orang-orang memandang aneh dirinya.


“Eh ngomong-ngomong tadi si Sundari itu pulang di antar sama Rian anak yang punya pabrik itu,” ucap bu Tinah


“Ah masa Bu, jangan-jangan ....”


“Jangan-jangan apa?”


“Ya mereka begituan dihutan.”


“Ah jangan asal bicara. Udah nih bu Tinah punya saya berapa?”


“38 ribu,” sahut bu Tinah.


Di sisi lain Rian yang baru saja keluar dari hutan terlihat senang karena bisa jalan berdua dengan Sundari.


Hingga dia sampai dirumahnya, sikap anehnya itu di perhatikan oleh Rehan ayah dari Rian.


“Pulang-pulang kok senyum-senyum sih,” ucap Rehan.


“Anakmu ini sedang kasmaran,” saut Rian.


“Gayamu kasmaran. Kasmaran sama siapa sih?” 


“Sama pemetik teh di kebun, namanya Sundari.”


“Dianya suka juga sama kamu?” 


“Ajak saja dia ke rumah,” ucap Ratih ibu dari Rian.


“Nanti Rian coba bu, dia mau apa enggak solnya orangnya susah,” ucap Rian.


“Ya di coba. Laki-laki itu harus memperjuangkan wanita biar wnaita itu merasa di hargai,” ucap Ratih.


“Iya Bu, besok Rian coba ajak ke sini.”


“Cantik memang orangnya?”


“Cantik Bu, cuma dia pendiam.”


“Bagus itu gak banyak bicara, berarti dia gak suka ngobrol-ngobrol gosipkan tetangga.” 


Rian yang sudah terlanjur jatuh hati dengan Sundari terus bercerita tentang Sundari.


Malam harinya Sundari bersiap untuk tidur, Sundari mulai merapikan tempat tidurnya.


Sundari berbaring di ranjang usang yang hanya beralaskan tikar bambu itu.


Sebenarnya Sundari sangat lah kesepian, semenja kejadian itu ia selalu berusaha sendiri tanpa ada yang menemani hari-harinya.


Namun ketika ada Rian, Sundari merasa hidupnya lebih hidup. Sundari memiliki teman bicara di saat dia pulang. 


Biasanya dia hanya berjalan sendirian dalam sunyinya hutan. 


Malam semakin larut, suara hewan-hewan malam pun sering terdengar.


Sundari pun terlelap dalam lamunannya hingga dia masuk ke alam bawah sadarnya.


Beberapa bulan telah berlalu Sundari pun semakin dekat dengan Rian, setiap pagi di saat Sundari memetik teh Rian selalu menemaninya hingga waktunya pulang.


Sundari pun sering di ajak Rian main ke rumahnya bertemu Ayah berserta Ibunya.


Namun Rian merasa ada yang aneh dengan Sundari setiap dirinya ingin mengantar Sundari untuk pulang ke rumahnya Sundari pun selalu menolaknya.


Rian yang tingkat penasarannya tinggi pun kali ini mencoba mengikuti Sundari secara diam-diam.


“Mas, aku pulang terlebih dahulu,” Sundari yang pamit terhadap Rian.


“Iya Sundari apa mau aku antar?” tanya Rian.


“Tidak usah Mas, aku berjalan kaki saja,” Sundari yang menolak Rian mengantarnya.


“Baiklah jika begitu,” ujar Rian.


Sundari pun mulai berjalan meninggalkan Rian, secara tidak sadar Rian pun mulai mengikuti Sundari di belakangnya.


Sundari mulai berjalan masuk ke dalam hutan, Rian yang mengikuti Sundari di belakang pun mulai bingung.


‘Sebenarnya Sundari mau pergi ke mana?” Rian yang bermonolog sembari mengikuti Sundari berjalan.


Sundari terus berjalan sampai memasuki hutan lebih dalam lagi, yang  tetap berjalan secara mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Sundari.


Beberapa waktu kemudian Rian melihat dari kejauhan sebuah rumah gubuk yang tampak usang seperti tidak ada penghuninya.


Rian melihat Sundari masuk ke dalam rumah itu.


Rian mencoba mengikuti kembali Sundari.


Sundari yang masuk ke rumah pun di tegur olah Baskoro yang berada di dalam rumah sedang bermain dengan Adit.


“Baru pulang Sundari?” tanya Baskoro.


“Iya kek,” ujar Sundari.


“Bagaimana hubunganmu dengan Rian?” tanya Baskoro.


“Baik kek, Rian pemuda yang baik, dan Rian ingin sekali bertemu dengan kakek tapi Sundari belum siap,” ucap Sundari.


“Kalau kamu belum siap Nduk ya sudah kakek tidak bisa memaksa nanti ada waktu Rian tahu,” tutur Baskoro.


Rian yang sedari tadi mengintip Sundari dari celah-celah pintu rumah yang terbuat dari kayu.


Rian mulai bingung dengan apa yang dilihat olehnya.


‘Mengapa Sundari berbicara sendiri?’ batin Rian.


Rian hanya melihat Sundari di rumah gubuk itu yang tidak terus sendirian tidak ada siapa-siapa.


Sundari pun yang dia lihat seperti sedang berbicara sendiri, berulang kali Rian mendengar Sundari memanggil nama Baskoro dan juga Adit.


Rian yang melihat tingkah aneh Sundari semakin menambah penasaran.


Rian yang terus mengintip Sundari di celah pintu kayu rumahnya tersentak kaget.


Rian melihat ada sebuah bayangan hitam di belakang badan Sundari yang sedang duduk, bayangan hitam itu lama-lama menjadi sesosok yang menyeramkan.


Rian yang tersadar ternyata kuntilanak yang selalu mengganggunya itu berada di belakang tubuh Sundari.


Rian yang mulai takut pun menahan rasa takutnya untuk melihat siapa sebenarnya Sundari.


Namun secara tiba-tiba kuntilanak itu menoleh ke arah celah pintu yang di intip oleh Rian sontak saja Rian sangat terkejut.


Dan berlari meninggalkan Rumah gubuk itu.


Rian pergi menuju jalan yang telah Ia beri tanda agar dirinya tidak tersesat di hutan.


Beberapa waktu kemudian Rian telah sampai di desa Rian yang meletakkan motornya di perkebunan pun berjalan menuju perkebunan teh.


Sepanjang jarang Rian mulai berfikir tentang Sundari.


‘Siapakah sebenarnya Sundari?” mengapa dia tinggal di rumah tua yang berada di hutan dengan sendirian. Apa yang sebenarnya terjadi mengapa kuntilanak itu selalu berada di belakang Sundari, aku harus mencari tahu misteri ini. Untuk membongkar siapa sebenarnya Sundari dan ada hubungan apa dengan kuntilanak itu yang selalu berada di dalam mimpi burukku,' Rian yang bermonolog, berpikir keras misteri apa yang sebenarnya ada di dengan Sundari.


Rian yang sedari memikirkan kejadian apa yang dia lihat pun telah sampai di Perkebunan.


Rian mulai menaiki motor besarnya menyalakan mesin motornya lalu menjalan kan motor besarnya menuju pabrik.


Di perjalanan menuju pabrik Rina yang terus menerus memikirkan peristiwa yang ia lihat pun membuat dirinya tidak fokus untuk menyetir motor besarnya di tambah lagi Durmo yang mengganggu Rian di dalam perjalanan.


Secara tiba-tiba Durmo melintas di depan jalan yang Rian lalui dengan sangat panik Rian pun mengerem secara mendadak menimbulkan motornya oleng dan Rian tidak bisa mengendalikan motornya hingga ada sebuah truk yang mengangkut daun teh melintas di sampingnya Rian pun menabrak truk itu dan akhirnya meninggal di tempat.


Motor yang ia naiki kini hancur kondisi Rian pun sangat memperhatikan badannya sempat di lindas oleh ban truk sehingga membuat isi organ dalamnya terburai.  


Para pengendara yang melintas di jalan pun berhenti melihat kecelakaan yang terjadi ada salah satu warga yang mengenal Rian pun menelepon ambulan.


Setelah menelepon ambulan warga itu pun menelepon orang tua Rian untuk memberi tahukan jika Rian menjadi korban kecelakaan.


Beberapa menit kemudian polisi datang ke TKP bersamaan dengan mobil ambulan. 


Para pengendara serta warga pun berkerumun mengelilingi jasad Rian yang mengenaskan itu.


Jasad Rian sebelumnya telah ditutup dengan daun pisang agar tidak ada yang melihat kondisinya.


Beberapa personil polis turun dan langsung mengolah TKP. Polisi menanyai beberapa saksi mata yang melihat kejadian itu.


Sopir beserta truknya pun diamankan oleh polisi.


Disisi lain, Ratih ibu dari Rian syok berat mendengar anak semata wayangnya itu meninggal dalam kecelakaan.


Rehan dan Rati lh langsung menuju rumah sakit tempat jasad Rian di bawa untuk di identifikasi.


Jarak rumah mereka menuju rumah sakit cukup jauh, Rehan dengan tenang mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.