Sundari

Sundari
Jimat



Dua hari kemudian Hendra bersama Rini pergi ke tempat mbah Sarno tepatnya hari ini adalah tanggal merah sehingga mereka berdua tidak pergi bekerja.


Perjalanan ke tempat mbah Sarno sendiri memakan waktu empat jam.


“Kamu sudah siap sayang?” 


“Iya Mas.”


Hendra mulai menjalankan mobilnya ke tempat mbah Sarno.


Untuk menghilangkan rasa jenuh berada di dalam mobil Hendra mengajak Rini mengobrol 


“Apa benar jalan  ke rumah mbah Sarno sangat jauh sayang?”


“Iya Mas, kira-kira memakan waktu empat jam untuk sampai ke rumahnya.”


“Baiklah jika begitu, aku juga sudah sangat lelah di teror kuntilanak anak itu terus menurus.”


“Iya Mas, semoga saja mbah Sarno dapat membantu Mas Hendra.”


“Iya sayang terima kasih ya sudah membantuku dalam masalahku,” sahut Hendra.


“Iya Mas, aku tidak mau melihat mu terus menerus seperti ini.”


Di sisi lain Sundari yang sedang berada di dalam kamarnya duduk bersila.


Kuntilanak Durmo mendatangi Sundari dan memberitahukan kepadanya tentang Hendra.


“Ada apa Durmo kau mendatangiku?” tanya Sundari.


“Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu Sundari, bahwa Hendra bersama kekasihnya sedang berada di perjalanan ke rumah seorang dukun,”  Durmo yang memberitahukan Sundari mengenai Hendra beserta Rini.


“Ke dukun, coba saja kalau mereka bisa,” sahut Sundari.


“Iya Sundari, tidak ada yang bisa menyingkirkan aku untuk membunuh targetku,” kata Durmo.


“Aku percaya kepada Durmo, kau kuntilanak yang kuat tidak semudah itu mereka bisa mengalahkanmu,”


“Aku sudah haus akan tumbal Sundari!” 


“Tunggu! jangan kau bunuh Hendra secepat itu, aku ingin melihat dia tersiksa dengan perlahan, jika kau mau bunuh, bunuh saja terlebih dahulu kekasih Hendra yang baru itu,” perintah Sundari.


“Baiklah jika begitu mau mu, aku akan menjalankan perintahmu Sundari,” sahut Durmo lalu menghilang.


 Tidak terasa perjalanan yang mereka tempuh, sudah memakan waktu hampir empat jam.


“Sayang apa kamu tidak salah jalan? Sedari tadi aku tidak melihat rumah penduduk hanya hamparan hutan pinus yang membentang sepanjang jalan ini,” tanya Hendra yang ragu.


“Tidak Mas, aku yakin ini jalannya memang jalan masuk ke rumah mbah Sarno sangatlah jauh terus saja ikuti jalan nanti di ujung jalan nanti akan ada jalan setapak yang masuk menuju rumah mbah Sarno. Rumah mbah Sarno sendiri masuk hampir masuk ke dalam hutan Mas,” pungkas Rini.


“Baiklah jika begitu sayang aku akan mengikuti arahanmu,” ujar Hendra.


Selang beberapa menit Hendra melihat jalan setapak yang telah di beri tahukan oleh Rini sebelumnya.


Hendra memakirkan mobilnya di pinggir jalan raya, setelah itu mereka berdua keluar dari mobil lalu berjalan masuk melewati jalan setapak.


Namun di saat Rini yang turun dari mobil secara tiba-tiba Rini merasakan kepalanya berat dan perutnya mual.


Rini pun memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Hendra yang khawatir.


“Entahlah Mas tiba-tiba perutku terasa mual dan kepalaku juga terasa berat,” Rini yang menjelaskan kepada Hendra.


“Apa sebaiknya kamu tinggal di mobil saja untuk beristirahat,” ujar Hendra.


“Tidak Mas, aku ingin ikut bersamamu. Lagi pula aku masih kuat berjalan aku tidak mau di tinggal di dalam mobil sendirian.”


“Baiklah jika mau begitu sayang.”


“Ayo Mas kita jalan,” ucap Rini mengajak Hendra masuk ke dalam hutan itu melalui jalan setapak.


Hendra berjalan melalui jalan setapak sembari menggandeng Rini.


Tidak lama mereka berjalan sudah terlihat sebuah rumah gubuk di dalam hutan itu.


“Itu dia rumah mbah Sarno Mas,” ucap Rini menunjuk rumah mbah Sarno dari kejauhan.


Melihat rumah mbah Sarno telah terlihat Hendra pun sangat antusias ingin segera bertemu mbah Sarno dan meminta pertolongan kepadanya.


Setelah berapa menit mereka berjalan, akhirnya Hendra berserta Rini telah sampai di pintu rumah mbah Sarno.


Tidak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya membukakan pintu untuk mereka.


“Ada perlu apa kalian datang ke rumahku!” tanya mbah Sarno.


“Ini mbah calon suami saya mau minta tolong sama mbah, Mas Hendra sering di ganggu kuntilanak,” Rini yang menjelaskan tujuannya menemui mbah Sarno.


“Masuklah!” perintah mbah Sarno.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah mbah Sarno.


“Duduk lah di sini!” perintah mbah Sarno.


“Iya mbah terima kasih,” ucap Hendra.


“Sejak kapan kamu di ganggu kuntilanak itu anak muda?” 


“Sejak kematian istri saya mbah kuntilanak itu sering mengganggu saya, bahkan dia mengancam untuk membunuh saya mbah,” ujar Hendra menjelaskan kepada mbah Sarno.


“Ambil ini, jimat ini mungkin akan dapat membatumu agar kuntilanak itu tidak bisa membunuhmu. Tapi jika jimat ini hilang aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadamu anak muda” kata mbah Sarno.


“Apakah mbah tidak bisa melenyapkan kuntilanak itu?” tanya Hendra.


“Tidak! Kuntilanak itu sangat kuat dia datang ketika seseorang memanggilnya dengan amarah dan dendam. Sehingga energi yang di hasilkan oleh dendam dan amarah itu sangat kuat, aku tidak bisa membantumu dan aku juga tidak mau ikut dalam masalahmu. Ini karma masa lalu yang harus kau jalani anak muda,” pungkas mbah Sarno kepada Hendra.


Hendra pun tidak bisa berbuat apa-apa, ia juga tidak dapat memaksa mbah Sarno.


“Baiklah mbah saya ambil jimat ini,” ucap Hendra yang mengambil kalung mustika yang di berikan oleh mbah Sarno.


Hendra pun segera memakai kalung mustika pemberian mbah Sarno tersebut.


“Ini tanda ucapan terima kasih saya untuk mbah, karena Mbah telah bersedia membantu saya.”


Hendra yang menyodorkan amplop coklat yang berisikan sejumlah uang yang lumayan banyak.


“Aku tidak butuh itu, bawa saja uangmu kembali berikan ke pada yang benar-benar membutuhkan,” nasehat dari mbah Sarno.


Karena mbah Sarno tidak mau menerima uang pemberian Hendra akhirnya Hendra memasukkan kembali amplop berwarna coklat ke kantongnya.


“Pulanglah kalian berdua sebelum hari mulai malam, satu pesan ku, jika kalian sudah keluar dari rumah ini menuju jalan setapak jangan coba-coba menoleh ke belakang kalian mengerti!” mbah Sarno yang menegaskan.


“Ba-baik Mbah,” ucap Hendra.


Mereka berdua pun berdiri berjalan keluar rumah mbah Sarno.


Saat Hendra beserta Rini sedang berjalan melalu jalan setapak Hendra melanggar larangan mbah Sarno. 


“Sayang mengapa kita tidak boleh menoleh ke belakang?” tanya Hendra yang sangat penasaran.


“Aku juga tidak tahu Mas, sudahlah ikuti saja perintah mbah Sarno.”


Namun karena Hendra sangat penasaran akhirnya ia pun menoleh ke belakang.


Alangkah terkejutnya Hendra.


Rumah gubuk mbah Sarno hilang bagaikan di telah bumi yang terlihat adalah sebuah pohon beringin yang tua dan besar.


Hendra memberitahukan kepada Rini dengan apa yang dia lihat.


Sontak saja Rini pun menoleh ke belakang dan hasil yang Rini lihat sama dengan Hendra tidak ada rumah gubuk mbah Sarno hanya ada satu buah pohon beringin tua di hutan itu.


Apa yang mereka lihat menambah daya angker hutan itu, mereka berdua pun memutuskan untuk mempercepat laju jalan mereka.


Akhirnya mereka telah sampai di mobil tidak ada gangguan sedikit pun kepada mereka berdua.


Hendra berserta Rini segera masuk ke dalam mobil, sebelum matahari berubah menjadi gelap mereka berdua harus keluar dari jalan tersebut.


“Ayo Mas kita harus cepat keluar dari hutan pinus ini,” tegur Rinu.


“Baik sayang.”


Hendra pun mulai menyalakan mesin mobilnya meninggalkan hamparan hutan pinus dan kembali ke rumah mereka masing-masing.