
Saat Rini sedang menangis di ruang sepi terdengar suara yang tidak ada wujudnya.
“Rini kemarilah! Rini kemarilah” Panggil suara itu.
Tangisan Rini terhenti saat mendengar suara tersebut.
“Siapa kau!” ucap Rini.
“Rini kemarilah, ikutlah denganku maka bebanmu akan hilang.”
Rini tiba-tiba terdiam seperti orang yang sedang terhipnotis.
“Iya aku akan ikut denganmu,” sahut Rini tatapan mata yang kosong.
Rini pun berjalan menaiki anak tangga satu persatu Rini menaiki anak tangga yang berada di gedung kantor.
Hingga akhirnya Rini berada di atas balkon.
“Kemarilah Rini, ayo kemarilah.”
Rini mengikuti asal suara itu berada.
Hingga Rini secara tidak sadar berada di tepi balkon.
“Terjunlah, kau akan terbebas dari semua masalahmu, terjunlah Rini.”
Terlihat Rini dengan tatapan kosong sedang berada di tepi balkon hingga akhirnya.
BRUK
Suara benda jatuh begitu keras.
“Ada karyawati yang jatuh dari gedung!” teriak salah satu pegawai kantor.
Para pegawai keluar kantor, mereka berkerumun ingin melihat jasad siapa yang jatuh dari gedung.
Hingga kabar jatuhnya pegawai kantor dari gedung terdengar oleh Hendra.
Hendra segera keluar dari ruangannya menuju keluar kantor.
Setelah Hendra keluar dari kantor terlihat banyak orang berkerumun di depan kantor.
“Minggir! Minggir!” pungkas Hendra yang mencoba masuk ke dalam kerumunan manusia.
Saat Hendra berhasil masuk di dalam kerumunan manusia, Hendra melihat ternyata yang jatuh dari atas gedung adalah Rini.
“Rini!” pekik Hendra.
Terlihat kepala Rini yang pecah mengeluarkan darah segar bercampur dengan organ di dalam kepala berbentuk putih dan kental.
Tangan berserta kaki Rini pun patah akibat jatuh dari lantai 10.
Hendra yang melihat aksi nekat Rini pun sangat terkejut, untung saja di saat perdebatan mereka di ruang kerja Hendra tidak ada yang tahu.
Hendra pun segera mengambil ponselnya di dalam saku celananya, Hendra yang telah mendapatkan ponselnya menelepon ambulan dan pihak berwajib.
Tidak lama kemudian ngiunggan dari sirine mobil ambulan terdengar dari kejauhan.
Para petugas medis segera mengangkat jasad Rini masuk ke dalam ambulan, sementara pihak berwajib memasang garis kuning di tempat kejadian.
Seluruh warga beserta staf kantor kembali ke tempatnya masing-masing.
Hendra yang bertugas menjadi pimpinan perusahaan pun di minta keterangan oleh polisi.
Hendra beralibi tidak mengetahui apa-apa terhadap Rini.
“Baik Pak Hendra jika begitu keterangan Pak Hendra kami terima, jika kami butuh keterangan pak Hendra kembali apakah pak Hendra bersedia?”
“Baik pak saya bersedia?” ucap Hendra kepada polisi.
Jasad Rini pun di bawa oleh mobil ambulan ke rumah sakit.
Petugas medis pun menghubungi pihak keluarga korban.
Isak tangis ibunda Rini mendengar anaknya meninggal secara tragis.
“Ya Allah Rini, kenapa nasib mu begini nak,” ucap Ibu Rini mendengar kabar kematian dari anaknya.
Dua jam jasad Rini berada di rumah sakit dan selesai di bersihkan luka-luka yang berada di tubuh Rini sudah di jahit dan di rapikan oleh petugas media begitu pun kepala Rini yang pecah akibat benturan keras pun telah selesai di jahit dan rapikan.
Kini jasad Rini telah siap di bawa oleh mobil ambulan kepada orang tuanya yang berada di desa.
Hingga sore hari jasad Rini telah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Isak tangis pecah saat jasad Rini di keluarkan dalam mobil ambulan para keluarga Rini menyambut jasad Rini.
Jasad Rini pun di taruh di dalam rumah untuk di mandikan hingga di kafani barulah jasad Rini di kuburkan di dekat rumah orang tuanya.
Sementara polisi sendiri pun telah mengusut kasus kematian Rini murni tindakan bunuh diri.
Hendra yang berada di dalam mobilnya menuju ke rumah, sepanjang jalan Hendra memikirkan kejadian tragis dialami Rini.
‘Mengapa kamu melakukan hal yang nekat, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa,' gumam Hendra kembali.
Selang beberapa menit Hendra telah tiba di rumahnya.
Kedatangan Hendra pun di sambut oleh Sundari yang membukakan pintu untuk Hendra.
“Baru pulang tuan,” sapa Sundari.
“Iya Bi, oh ya Bi Sun tolong buatkan segelas susu hangat untukku. Aku mau beristirahat di kamar terlebih dahulu.”
“Baik tuan,” sahut Sundari.
Hendra pun pergi meninggalkan Sundari menuju kamarnya.
Rasa bersalah mulai menghantui hati Hendra.
Di dalam kamar Hendra yang membuka foto dirinya bersama Rini di ponselnya.
‘Maafkan aku sayang, aku tidak dapat berbuat apa-apa semoga kamu d sana bisa mengerti,' Hendra yang bermonolog.
Selang beberapa menit saat Hendra masih memegang ponselnya melihat foto kenangan dirinya bersama Rini, Sundari pun mengetuk pintu kamar Hendra.
“Tuan ini susu hangatnya pesanan Tuan,” ucap Sundari sembari mengetuk pintu kamar Hendra.
“Iya Bi Sun,” ucap Hendra.
Hendra berdiri dari tempat tidurnya menuju pintu kamarnya, ia pun membuka pintu kamarnya.
“Terima kasih Bi Sun,” ucap Hendra mengambil segelas susu hangat dari tangan Sundari.
“Iya Tuan.”
Hendra kembali menutup pintu kamarnya lalu meminum susu hangat yang ia pesan tadi setelah selesai Hendra merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidurnya sembari melihat foto kenangan dirinya bersama Rini.
Malam hari telah tiba Hendra yang sedari tadi tidak keluar kamar pun di panggil oleh Sundari.
“Tuan makan malamnya telah siap!” pekik Sundari di balik pintu kamar Hendra.
“Aku tidak makan hari ini Bi Sun, kamu makan saja makan itu!” pekik Hendra di dalam kamarnya.
Sundari yang memang tidak terlalu banyak bicara kepada Hendra pun pergi kembali ke dapur untuk merapikan kembali makan yang tidak Hendra makan.
***
Malam semakin larut Hendra masih saja larut dalam kesedihannya.
Di saat Hendra sudah tidak lagi mengingat hal-hal mistik, kini hal itu pun kembali muncul.
Tiba-tiba korden jendela kamar Hendra terbuka dengan Sendirinya.
Hendra yang mengetahui hal itu mencoba berjalan mendekati jendela kamarnya untuk menutup kembali korden yang terbuka itu.
Namun saat Hendra ingin menutup korden itu lagi-lagi hal menakutkan terjadi kembali.
Jendela kamar Hendra terbuka dengan sendirinya angin kencang pun berhembus ke tubuh Hendra, padahal cuaca malam itu tidak hujan.
Terlihat dengan samar-samar arwah Rini.
Dengan darah yang mengalir dari kepala hingga ke wajahnya menambah daya seram saat melihatnya.
“Mas Hendra, kau sangat kejam Mas!” ucap Rini di balik jendela.
Melihat arwah Rini di balik jendela Hendra pun langsung menjauh dari jendela kamarnya.
“Bukan aku! Bukan aku penyebab kematianmu!” pekik Hendra.
“Mas kau harus ikut bersamaku,” ucap kembali arwah Rini di balik jendela.
“Tidak, aku tidak mau bersamamu kau sudah mati Rini, pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Hendra mengusir arwah Rini.
Namun anehnya arwah Rini itu berubah menjadi kuntilanak yang selalu meneror Hendra.
“Jika aku yang mengajakmu apa kau mau Hendra, hi-hi-hi,” ucap kuntilanak sembari tertawa melengking.
“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” pekik Hendra.
Hendra pun terbangun dari mimpi buruknya.
‘Rupanya ini hanya mimpi,' gumam Hendra
‘Lagi-lagi aku bermimpi buruk,' gumam kembali Hendr.