Sundari

Sundari
Target terakhir Sundari



“Aku pun membawa Sundari ke gudang tempat menyimpan teh milikku, di sana nafsuku semakin memuncak saat aku melihat kemolekan tubuhnya di tambah lagi paras Sundari yang sangat cantik membuat nafsuku tidak dapat di kendalikan.”


“Lalu Tuan berbuat apa kepada gadis yang bernama Sundari itu?”


“Aku pun memperkosanya di gudang itu, setelah selesai aku melampiaskan nafsuku yang selama ini terpendam aku pun memberikan Sundari sejumlah uang aku juga mengancam Sundari menyuruhnya menutup rapa-rapat kejadian itu kalau tidak aku tidak segan akan membunuh neneknya dan meninggalkannya begitu saja di gudang itu.”


Sundari yang mendengar cerita Hendra mulai terbawa emosi, namun dengan pandainya Sundari menyembunyikan emosinya kepada Hendra. 


“Kasihan sekali gadis itu Tuan,” ucap Sundari sembari menahan emosinya.


“Waktu itu aku tidak punya rasa kasihan terhadapnya Bin Sun, selang beberapa bulan Sundari pun hamil, kehamilan dirinya mulai tersebar luas, aku sangat panik saat itu jika orang desa tahu aku yang menghamili Sundari aku sangat malu Bi Sun. Dan akhirnya aku memprovokasi para warga bawa Sundari itu membawa sial di desa itu sampai neneknya pun meninggal akibat ulahnya. Lalu Sundari pun di usir dari desa itu dan aku tidak tahu lagi kabar dirinya hingga sekarang,” Hendra yang mengakhir cerita kepada Sundari.


“Tuan ingin tahu bagaimana kisah gadis itu setelah di usir dari desa,” ucap Sundari yang ingin memberitahukan penderitaannya kepada Hendra.


“Iya Bi Sun, Bi Sun kenal dengan Sundari. Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Hendra dengan antusias.


“Ya saya sangat mengenal sekali siapa Sundari dan tahu betul tentang dirinya, gadis yang bernama Sundari itu saat di usir dari desa ia ingin mengakhir hidupnya. Dan nasib baik masih memihak kepadanya Sundari bertemu dengan kakek tua yang menolong dalam hidupnya. Lalu mengajarkan ilmu hitam untuk dirinya dapat membalaskan dendamnya kepada laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya,” ucap Sundari dengan penuh amarah.


“Ilmu hitam? Maksud Bi Sun apa? Dan kenapa Bi Sun sangat mengetahui Sundari ada hubungan apa Bi Sun dengan Sundari?” 


Banyak pertanyaan yang di lontar Hendra kepada Sundari.


“Akulah Sundari sebenarnya, dan ilmu hitam yang di ajarkan kakek itu sekarang aku gunakan untuk membunuh semua orang yang di dekatmu termasuk Rini?” 


“Apa? Bi Sun jangan bercanda aku sedang berbicara serius kali ini” Hendra yang belum percaya.


“Lihatlah baik-baik wajahku Hendra!” ucap Sundari dengan tegas.


Hendra mulai menatap wajah Sundari alangkah terkejutnya dirinya di kala wajah Bi Sun yang Ia kenal sebagai pembantunya kini berubah menjadi wajah Sundari gadis yang pernah ia perkosa dulu.


“Tidak mungkin! Kau Sundari!” ucap Hendra yang terkejut.


Hendra pun berdiri dari tempat duduknya.


“Iya akulah Sundari Hendra, bagaimana di tinggalkan orang yang kau cintai Hendra?” 


“Jadi benar yang di katakan Dina, bahwa kau penyebab semua ini!” 


“Ha-ha-ha, Iya aku yang menyebabkan kematian dari keluargamu dengan bantuan Durmo,” ucap Sundari sembari tertawa lepas.


“Durmo siapa dia! Aku akan melaporkanku ke polisi Sundari!” ancam Hendra.


“Durmo adalah kuntilanak yang selalu meneror hidupmu Hendra. Aku tidak takut akan ancamanmu! Laporkan saja merek pasti akan menganggapmu gila, dan sekarang kau korban terakhirku Hendra, ha-ha-ha,” ancam Sundari dengan tawa jahatnya.


Sontak saja Hendra yang mendengar pernyataan Sundari membuat ia tidak percaya, jadi selama ini yang mencelakakan keluarganya adalah Bi Sun alis Sundari sendiri itu yang ada pikirannya saat ini.


Sundari mulai membacakan mantra memanggil kuntilanak Durmo.


Terlihat bayangan hitam oleh Hendra saat Sundari  membacakan mantra di belakang tubuh Sundari sendiri.


Bayang hitam ini berubah menjadi kuntilanak yang berjalan dengan merangkak.


“Kau! Ternyata yang memanggil kuntilanak itu!” ucap Hendra yang terkejut melihat semuanya di depan matanya.


“Iya Hendra mari bermain-main denganku, Durmo habisi dia!” perintah Sundari.


“Baik Sundari,” ucap Kuntilanak Durmo.


Kuntilanak Durmo pun mulai berjalan merangkak mendekati Hendra.


Hendra yang sangat takut mencoba untuk pergi dari rumahnya.


Hendra berlari mendekati pintu keluar, dengan sangat antusias Hendra ingin membuka pintu rumahnya.


“Kau akan mati Hendra!” ucap Sundari.


Hendra dengan tergesa-gesa membuka paksa pintu rumahnya, sementara kuntilanak Durmo mulai ingin mendekati Hendra untuk mencekiknya.


 Akan tetapi nasib baik masih berpihak kepada Hendra kuntilanak Durmo yang berhasil mencekiknya seketika berteriak. Karena pengaruh jimat kalung mustika yang Hendra kenakan membuat kuntilanak Durmo yang menyentuhnya seperti terbakar.


 Hendra pun berusaha dengan susah payah membuka pintu keluar, dan akhirnya Hendra berhasil keluar berlari mendekati mobilnya Hendra merogoh kantong celakanya dengan sangat kebetulan kunci mobil masih berada di kantong celaka Hendra yang ia kenakan.


Hendra mulai membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa walaupun Hendra awalnya tidak bisa membukan pintu mobilnya karena panik.


Setelah pintu mobil berhasil Hendra buka dengan segera Hendra menaiki mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya, tanpa pikir panjang Hendra menjalankan mobilnya, saat telah berada dj depan pagar rumahnya Hendra keluar mobilnya kembali untuk membuka pagar rumahnya dan ia pun berhasil keluar dari rumah itu.


Hendra yang telah berhasil keluar dari rumahnya menoleh ke belakang, terlihat Kuntilanak Durmo yang berdiri secara membungkuk di depan pagar rumah Hendra.


 Dengan kecepatan Penuh Hendra menginjak pedal gas, Hendra yang berpikir saat itu jika kuntilanak Durmo akan mengejarnya sehingga ia mempercepat laju mobilnya.


 Namun kuntilanak Durmo tidak diam begitu saja, kuntilanak Durmo secara tiba-tiba melintas di depan mobil Hendra.


Bruk


Suara benda keras menghantam mobil Hendra.


Seketika Hendra yang mengerem dengan spontan membuat mobil yang di kemudiankannya menjadi oleng ia pun membating setir ke arah kanan menabrak pembatas jalan.


Sontak saja Hendra tidak sadarkan diri, para pengendara yang melihat kecelakaan itu berhenti untuk menolong Hendra.


Ditambah lagi para warga yang berada di lokasi tersebut berupaya untuk menghubungi ambulan.


Untung saja jalan yang Hendra lalui itu masih sepi sehingga tidak mengakibatkan kecelakaan beruntun.


“Hallo, pak ada kecelakaan di jalan suka rama, tolong secepatnya pak,” ucap seseorang warga yang menghubungi ambulan.


Para pengendara serta para warga berkerumun ingin melihat keadaan Hendra.


Terlihat Hendra yang berada di dalam mobil pun tidak sadarkan diri.


Beberapa menit telah berlalu ngiuan mobil ambulan pun terdengar dari kejauhan.


Sampai akhirnya mobil ambulan telah sampai di tempat kejadian kecelaan yang menimpa Hendra.


Para petugas medis keluar dari mobil ambulan mereka masuk ke dalam keruman.


“Minggir! Minggir!” teriak beberapa tim medis untuk menolong Hendra.


Hendra pun berhasil diangkat oleh beberapa tim medis lalu di masukkan ke dalam mobil ambulan.


Sopir ambulan segera menyalakan kembali mobilnya lalu segera dengan sergap membawa Hendra ke rumah sakit terdekat.