Sundari

Sundari
Pertanda dalam mimpi



Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam Hendra telah selesai dalam pekerjaannya pun ingin kembali ke rumah.


Hendra menelepon Iwan untuk menjemputnya, namun saat Hendra menelepon Iwan nomor Iwan tidak aktif.


Hendra mengulangi berkali-kali menelepon Iwan namun tetap saja tidak aktif.


Hendra pun berinisiatif untuk menelepon Dina istrinya, memberitahukan dirinya akan pulang dan menyuruh Dina memberitahukan Iwan.


Namun sama saja dengan Iwan nomor telepon Dina pun tidak aktif. Hendra mencoba mengulanginya tapi hasilnya sama saja nomor telepon Dina beserta Iwan tidak ada yang aktif.


Akhirnya Hendra menelepon nomor rumahnya.


KRING 


Suara telepon rumah berdering.


Sundari yang belum tidur dan masih berada di dapur mendengar telepon rumah yang berdering segera berjalan menghampirinya lalu mengangkatnya.


“Hallo Tuan,” ucap Sundari di telepon.


“Ya hallo Bi Sun, Nyonya dan Iwan mana berkali-kali aku telpon tidak aktif,” ujar Hendra yang memberitahukan sundari di telepon.


“Nyonya beserta Iwan tidak ada di rumah Tuan, mereka berdua pergi dari tadi siang hingga sekarang.”


“Apa? Pergi dari siang hingga sekarang belum pulang!” ucap Hendra dengan nada kesal di telepon.


“Iya Tuan.”


“Ya sudah kalau begitu,” ucap Hendra.


Hendra segera mematikan teleponnya.


Hendra pun memesan jasa taksi online untuk mengantarnya pulang ke rumah melalui HP nya.


Selang beberapa menit taksi online pesanan Hendra telah tiba dengan segera Hendra menghampiri taksi online itu lalu masuk.


30 menit Hendra di dalam perjalanan akhirnya telah tiba di depan rumahnya.


Hendra yang merogoh kantong bajunya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar taksi online itu, setelah itu barulah Hendra turun lalu Hendra membuka pagar rumahnya berjalan menuju pintu rumahnya.


Sesampainya di depan pintu rumah Hendra memanggil Sundari sembari mengetuk pintu rumah.


“Bi Sun! Bi Sun,” pekik Hendra sembari mengetuk pintu rumahnya.


Sundari yang berada di dalam rumah mendengar ada yang mengetok pintu rumah, segera Sundari menghampiri lalu membukannya.


“Nyonya belum pulang juga?” Hendra yang bertanya sembari masuk ke dalam rumah.


“Belum Tuan.” 


“Ya sudah kalau begitu ke mana mereka berdua ini hingga jam segini belum pulang,” ucap Hendra meninggalkan Sundari pergi menuju kamarnya.


Setelah berada di kamar Hendra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang menempel seharian.


Beberapa menit telah berlalu Hendra telah selesai mandi keluar dari kamar mandi, Hendra memakai baju tidurnya.


Karena hatinya merasakan gelisah Dina tidak kunjung pulang Hendra berjalan kembali ke tempat tidurnya untuk mengambil telepon genggam miliknya. 


Hendra duduk di tepi kasurnya mencoba menelepon Dina beserta Iwan kembali. Akan tetapi apa yang Hendra lalukan hannyalah sia-sia tetap saja nomor telepon Dina beserta Iwan tidak dapat di hubungi.


Hendra mulai berpikir keras ke mana mereka berdua pergi, hingga akhirnya Hendra berinsentif menelepon orang tua Dina berharap Dina sedang berada di rumah orang tuanya.


Saat Hendra menelepon orang tuan Dina mereka memberitahukan kepada Hendra bahwa Dina tidak ada di sini, Hendra semakin bingung dan cemas.


Hendra memulai mencari satu-persatu kontak teman Dina di HP nya.


Saat Hendra sudah menenukan kontak telepon beberapa teman Dina Hendra mencoba menelepon kembali.


Hal yang sama yang di dengar Hendra bahwa Dina tidak ada di rumah teman-temannya.


Hendra mulai semakin panik, ia ingin menghubungi pihak berwajib melaporkan tentang hilangnya istrinya, namun belum sampai 24 Dina hilang Hendra pun tidak bisa melaporkan ke pihak berwajib.


‘Ke mana kamu sayang, aku sangat khawatir dengan keadaanmu, semoga kamu baik-baik saja beserta bayi kita,' Hendra yang bermonolog.


Hendra mencoba untuk tenang dan menunggu ke pulangan Dina.


Hendra merebahkan tubuhnya di kasur sambil menunggu kepulangan Dina.


Sayup-sayup mata Hendra menahan kantuk sampai akhirnya Hendra tidak sanggup lagi dan tertidur.


Di dalam tidurnya Hendra bermimpi bertemu Dina.


Di saat itu Hendra merasa berada di dalam hutan, Hendra yang melihat Dina berdiri di mulut goa.


Melihat Dina berada di sana Hendra pun mulai menghampirinya.   


“Sayang kamu sedang apa di sini ayo kita pulang sedari tadi aku mengkhawatirkanmu sayang,” ucap Hendra di dalam mimpi kepada Dina.


“Aku tidak bisa pulang Mas, sebelum kamu menemukanku,” sahut Dina di dalam mimpi Hendra.


“Menemukanmu? Bukannya aku telah menemukanmu di sini.”


Saat mereka sedang asyik berbincang ada bayangan yang menghampiri diri dari dalam goa itu.


Bayang itu muncul di belakang Dina lalu berubah menjadi sosok kuntilanak, Hendra yang melihatnya sontak saja terkejut.


“Sayang di belakangmu!” pekik Hendra memberitahukan Dina.


Dina yang menoleh pun langsung di bawa oleh sosok kuntilanak itu ke dalam goa.


Sementara Hendra yang tidak sempat menarik tangan Dina pun pergi ke dalam goa untuk mencari istrinya itu.


Saat Hendra masuk ke dalam goa cahaya mata hari yang sedikit masuk ke dalam goa membuat goa itu agak gelap.


Hendra tidak melihat keberadaan Dina di dalam goa itu mulai berteriak memanggil-manggil namanya.


“Dina! Dina!” teriak Hendra sembari terbangun dari tidurnya.


‘Mimpi apa ini,' gumam Hendra mengingat akan mimpinya.


Hendra berdiri dari tempat tidurnya untuk menyalakan lampu kamarnya, setelah itu Hendra menuju meja kamarnya untuk mengambil segelas air putih.


Hendra meminum segelas air putih itu untuk menenangkan dirinya selepas itu Hendra melihat jam yang ada di meja kamarnya.


Jam telah menunjukkan pukul 01.00.


‘Sudah jam satu tapi Dina beserta Iwan belum juga pulang, kamu di mana sayang aku sangat khawatir kepadamu,' Hendra bermonolog.


Hendra yang gelisah dan tidak bisa tidur keluar dari kamarnya sembari membawa HP nya.


Setelah keluar dari kamar Hendra mencoba melihat kondisi luar rumah dengan mengintip di jendela berharap Dina pulang.


Namun tidak ada apa-apa di luar rumah.


Hendra pun kembali menelepon Dina beserta Iwan. Namun telepon mereka berdua masih tetap sama saja tidak dapat di hubungi. Hendra pun menunggu Dina di ruang tamu.         


Tiga jam telah berlalu sesekali Hendra mencoba menelepon tidak tapi sama saja hasilnya.


Jam pun sudah menunjukkan jam empat dini hari, namun Dina belum juga pulang.


Sesekali terlihat Hendra yang menguap menahan kantuknya.


Hendra yang tidak dapat menahan kantuknya akhirnya merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu berusaha menunggu kepulangan Dina di sana.


Hingga hari mulai menjelang pagi Sundari yang telah bangun melihat Hendra yang tidur di sofa itu lalu mencoba untuk membangunkannya.


“Tuan hari sudah pagi,” ucap Sundari membangunkan Dina.


Hendra yang mulai membuka matanya terlihat samar-samar wajah Dina.


“Sayang kamu sudah pulang,” ucap Hendra yang masih belum sadar.


“Tuan, nyonya belum pulang Tuan,” sahut Sundari.


Merasa suara yang di hadapannya berbeda dengan sang istri Hendra mengusap-usap matanya.


Terlihat yang sedang berdiri di hadapannya dan membanguninya bukanlah Dina melain kan Sundari.  


“Eh kamu Bis Sun, Nyonya belum pulang?” 


“Belum Tuan,” ucap Sundari.