Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 9 ] : Ada Apakah?



Entah apa yang membuat Zhaw lebih semangat dan datang lebih pagi dari biasanya. Teman rekan kerjanya pun merasakan hal itu. Namun Zhaw tidak sadar akan perubahan yang ada dalam dirinya. Atau mungkin karena kehadiran Cheara? Apa wanita itu sudah membuat Zhaw jatuh cinta pada pandangan pertama? Zhaw adalah pria yang tampan, bertubuh tinggi dan sangat terlihat keren. Pria itu bisa dibilang mantan orang kaya. Dulu, dia adalah anak dari pemilik perusahaan yang kini telah diambil alih oleh keluarga Mahawira. Iya benar, Mahawira dan Ghamdhani merupakan keluarga yang akrab sehingga mereka selalu menjalankan bisnis bersama.


Namun pada suatu ketika, bisnis yang dijalankan Madava Ghamdhani, ayah dari Zhaw Ghamdhani mengalami kehancuran. Diduga ada yang sengaja melakukannya semata-mata karena urusan pribadi. Tidak berselang lama dari masalah kebangkrutan itu, Madava meninggal dunia akibat bunuh diri. Sampai saat ini, Zhaw pun tidak tau pasti apa yang membuat ayahnya melakukan hal bodoh seperti itu. Hampir 3 tahun Zhaw hidup bersama ibundanya dan akhirnya meninggal juga karena penyakit kronis yang di deritanya. Kini, Zhaw hidup sendiri dengan perasaan dendam dan rasa penasaran yang tak kunjung usai.


Ia masih ingin mencari tau dan menyelesaikan urusan tersebut. Zhaw yakin, ayahnya hanyalah korban dari kelicikan seseorang. Namun sampai saat ini, ia belum menemukan jawabannya. Hanya ada seseorang yang ia curigai, namun ia terlalu takut untuk mencari taunya. Pasalnya, orang itu terlalu penting sehingga sulit untuk dijatuhkan.


Zhaw terus menunggu Cheara datang. Ia menunggu di garasi sembari duduk di motornya dengan barang-barang yang sudah siap untuk diantar. Namun sudah waktunya bekerja, Cheara tidak juga datang. Akhirnya Zhaw berinisiatif sepulang nanti, ia akan berkunjung ke rumah Cheara.


✨✨✨


Cheara merasa hari ini ia sangat bosan. Dari pagi hingga siang ini, ia hanya tiduran dan makan. Ravin menyuruhnya untuk banyak istirahat agar kepalanya tidak pusing lagi. Tapi bagi Cheara, tiduran terlalu lama akan membuat kepalanya tambah pusing. Ketika Cheara hendak turun dari kasur menuju dapur, ia sangat terkejut melihat Ravin yang sedang sibuk memasak. Memakai celemek biru muda milik Cheara membuatnya terlihat manis. Cheara melihatnya dari depan pintu tanpa membuat Ravin tau keberadaannya.


"Apa yang dia lakukan? Apa dia bisa masak? Kalau dilihat dari caranya bekerja, sepertinya dia pandai masak." Ucap Cheara pelan tanpa terdengar oleh Ravin.


Ketika Ravin ingin meletakkan makanan di atas meja makan, ia terkejut melihat Cheara yang berdiri dengan tegak dan wajahnya tertutup rambutnya yang panjang, seperti kuntilanak. Pastinya itu membuat Ravin hampir menjatuhkan makanan yang dibawanya.


"Astaga!" Ravin melotot. Setelah ia tau kalau itu adalah Cheara, ia meletakkan makanannya terlebih dahulu lalu mendekati Cheara. "Apa yang kau lakukan? Itu sungguh menakutkan!"


"Dasar penakut!" Cheara tertawa sambil menjauhkan dirinya dari Ravin, namun Ravin terus mengejarnya. Mereka berlari mengelilingi meja makan untuk saling tangkap.


Brug!


"Aw!" Ravin terjatuh, sepertinya kakinya sakit karena tidak saja menendang meja makan.


"Ravin?" Cheara berlari mendekati Ravin lalu duduk di hadapannya.


"Hap! Kau tertangkap!" Ravin mendekap Cheara. "Dasar wanita sok kuat. Kau ini sedang sakit tapi masih saja lari-lari."


"Aku tidak sakit, aku akan sembuh hanya dengan tatapan dan senyumanmu." Apa yang Cheara katakan langsung diterima Ravin. Cheara sangat tidak menduga kalau ia akan membicarakan isi hatinya itu di depan Ravin. Cheara hanya melongok ketika Ravin kembali menatapnya dengan tatapan lembut miliknya.


Mengapa aku berkata seperti itu dihadapannya? Mengapa aku sebodoh ini? Dasar bodoh! Kau mempermalukan dirimu sendiri!


"Aku sangat senang kau berkata seperti itu. Jangan anggap dirimu bodoh, kau lebih sempurna ketika mengatakan itu." Ucap Ravin dengan lembut tepat didepan wajah Cheara. Mereka masih dalam dekapan dan jarak yang sangat dekat.


Mengapa ia bisa tau apa yang kukatakan dalam hati?


"Aku... aku hanya tidak sengaja mengatakan itu." Cheara langsung melepaskan dekapan itu lalu berdiri. "Kau ini, hatimu mudah sekali di luluh kan hanya dengan kata-kata." Ledek Cheara yang sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malunya setelah apa yang ia katakan sebelumnya.


"Apa kau malu padaku?" Ucapan Ravin membuat Cheara semakin merasa sangat malu.


"Apa? Tidak! Aku tidak malu! Untuk apa aku malu hanya dengan berkata seperti itu?"


"Apa itu artinya kau sungguh-sungguh mengatakannya? Itu tulus dari hatimu?"


Ravin sungguh hebat. Ia selalu bisa membuat Cheara diam tak berkata sedikitpun. Kalimat yang keluar dari mulutnya selalu membuat Cheara tidak mampu menjawabnya.


"Mengapa jadi serius seperti ini? Sudahlah, aku hanya bercanda, teman. Ayo kita makan. Sepertinya masakan mu enak, menggoda sekali harumnya." Cheara mengalihkan pembicaraan, itu membuat Ravin hanya tersenyum. Lalu mereka makan bersama seperti sedang berkencan di restoran mewah, karena makanan yang Ravin buat benar-benar lezat.


✨✨✨


Tidak terasa sudah waktunya pulang kerja. Sepertinya Zhaw bekerja sangat keras, ia merasa waktu berjalan begitu cepat untuk hari ini. Zhaw sudah membeli makanan untuk ia bawa ketika berkunjung ke rumah Cheara.


"Zhaw." Seseorang memanggil Zhaw. Orang itu sudah tidak asing lagi baginya.


"Rezvan? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku sengaja ingin menemuimu." Jawab Rezvan dengan pelan.


"Ada perlu apa? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak menemuiku lagi?!" Tiba-tiba Zhaw berteriak.


"Zhaw, tenanglah. Aku datang baik-baik. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tolonglah."


Zhaw pun akhirnya mengiyakan permintaan Rezvan. Mereka mengunjungi salah satu kafe dan mengambil posisi paling belakang di sudut.


"Cepat katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan?" Zhaw tidak ingin lama-lama bersama orang itu.


"Jangan buru-buru lah, Zhaw. Setidaknya kita pesan minuman dulu."


"Aku tidak ada waktu untuk berlama-lama seperti ini. Cepat, katakanlah."


"Apa kau masih berhubungan dengan Ravin?"


Zhaw diam dengan tatapan kesal. Sebenarnya apa inti dari pembicaraan ini? Bukankah keluarga mereka sudah berjanji untuk tidak menghubunginya lagi? Mengapa tiba-tiba Rezvan datang dan bertanya soal Ravin padanya? Bukankah mereka adalah saudara?


"Apa inti dari pembicaraan ini?" Zhaw masih menahan emosinya.


"Aku ingin bertemu dengan Ravin dan berbicara padanya. Banyak yang ingin kukatakan padanya. Namun sudah sebulan aku tidak bertemu dengannya dan sudah hampir 5 hari ia pergi dari rumah."


"Jadi?"


"Tolong bantu aku untuk mencari Ravin dan katakan padanya bahwa aku ingin menemuinya."


"Mengapa kau tidak menyuruh para suruhanmu?"


"Bukankah itu berarti aku cari mati dengan ayahku?" Rezvan menarik napas. "Tolonglah. Aku hanya ingin bertemu dan meminta maaf padanya. Hanya kau yang bisa diharapkan."


"Kau sungguh ingin meminta maaf padanya?"


"Iya, sungguh. Maukah kau membantuku?"


✨✨✨


Wah sebenarnya ada hubungan apa ya antara Ravin, Zhaw dan Rezvan?


Pantengin terus yang kelanjutan untuk cerita ini:)


Thanks Guys✨


Bekasi, 3 Juli 2020


[ 21 : 16 ]