
Pria itu hanya duduk tegak, melongok dengan tatapan kosongnya. Ia terdiam kaku sepertinya dengan pikiran yang hancur. Cheara tidak berani bertanya apa yang terjadi padanya. Namun sepertinya itu tidak berarti apa-apa. Ia pun tidak mungkin mengerti soal permasalahannya. Tidak mungkin juga Cheara dapat membantunya karena sepertinya ia adalah pria kaya yang sedang patah hati. Bagi Cheara, permasalahan si kaya dan si miskin sangatlah jauh berbeda. Maka dari itu, Cheara berniat untuk pergi meninggalkan pria itu sendiri setelah ia mengobati lukanya.
"Bisakah kau tetap disini?" Ucapan dingin yang keluar dari mulut pria itu pastinya membuat Cheara terkejut untuk yang kedua kalinya. Ia kira, suara pria itu habis karena teriak dengan sangat kencang memanggil wanitanya tadi.
"Aku?"
Tanpa jawaban, Cheara kembali duduk di samping pria itu. Namun tetap sama, ia juga ikut diam karena tidak berani mencampuri urusan pria kaya itu.
"Kau tidak apa-apa?" Pria itu untuk yang ketiga kalinya membuat Cheara kembali terkejut. Ia bukan hanya berbicara dengan nada seram, tetapi juga secara tiba-tiba bertanya sambil menatap Cheara.
"Aku?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Siapa lagi yang ada di sini selain kita? Teman gaibmu? Aku tidak punya kemampuan berbicara dengan makhluk gaib."
"Em... bu... bukan, bukan itu maksudku. Kau membuatku takut dengan nada bicaramu yang seperti itu."
Pria itu langsung melemaskan tubuhnya. Ia bersandar di sandaran bangku dan mengambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan sangat tenang. "Maaf."
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Cheara.
"Itu pertanyaanku dan kau belum menjawabnya."
"Aku baik-baik saja."
"Kau mau kemana? Kabur dari rumah?"
Dengan sigap, Cheara menyalahkan tuduhan itu dengan suara lantang. "Apa maksudmu? Apa aku terlihat seperti anak nakal?"
"Tidak baik wanita ada diluar rumah malam-malam seperti ini." Kata pria itu dengan santainya.
"Kau sendiri, kenapa membiarkan wanitamu pergi sendirian? Apa kau tidak berniat untuk mengikutinya dari belakang?"
Pria itu sedikit menaikkan nada bicaranya. "Yang kau lihat tadi apa? Aku hampir saja mati tertabrak karena mengejarnya."
"Berarti kau masih hidup berkat diriku kan?" Pernyataan Cheara membuat pria itu terdiam lagi. "Lagian, kau ini kenapa? Tadi diam, tiba-tiba marah dan sekarang diam lagi."
"Ayo ikut aku." Pria itu menarik Cheara dengan paksa. Ia membawa Cheara kedalam mobilnya lalu melaju dengan sangat kencang.
✨✨✨
Sambil terus menangis, Cheara merasa bahwa sebentar lagi ia akan mati. Pria itu adalah pria jahat. Kalau begini nyatanya, tadi saja ia membiarkan pria itu mati tertabrak. Mengapa ia harus menolong penjahat dan akhirnya ialah yang menjadi salah satu korban kejahatannya.
"Berhenti! Dasar penculik!" Cheara terus memukul-mukul pria itu dengan sekuat tenaganya, namun pria itu hanya diam sambil terus fokus menyetir.
Tiba-tiba, mobilnya berhenti di depan rumah yang memiliki 2 lantai dan tertulis di depan gerbang 'Rumah Sewa Onny : Khusus Wanita'. Cheara hanya bengong melihat spanduk itu terpampang jelas. Kini, kesunyian kembali hadir di antara mereka. Sesekali Cheara menatap pria itu penuh tanya.
"Aku Ravindra dan aku bukan penculik. Aku hanya seorang pria yang hatinya sedang terluka."
Tatapan Ravin yang dingin dengan matanya yang sayup membuat Cheara merasa sangat bersalah. "Ma... maaf." Dengan cepat, Cheara memegang pundak Ravin. "Maaf ya. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu. Aku cuma takut saja karena cara kau yang aneh dan... menakutkan." Kalimat terakhir itu Cheara ucapkan dengan pelan.
Dengan tangan kanannya, Ravin memegang tangan Cheara dan masih dengan tatapan dingin. Hal itu membuat Cheara semakin takut. Pasalnya, ini adalah tempat baru untuk Cheara. Ia sangat asing dengan tempat itu dan orang-orang disana. Tak ada seorang pun yang ia kenal. Jadi bukan salahnya jika waspada dan berhati-hati ketika bertemu dengan orang yang baru ia kenal bahkan belum dikenalnya.
Mereka sama-sama diam saling menatap satu sama lain. Hati Cheara yang awalnya takut dan cemas dengan rasa bersalahnya, seketika menjadi teramat sangat tenang. Ia juga bingung mengapa perasaan ini hadir. Mengapa ia bisa tenang ketika berada di depan orang yang bahkan baru beberapa detik lalu ia ketahui namanya.
Pandangan mereka hilang ketika ponsel Cheara berbunyi karena ada panggilan masuk. Cheara pun melepaskan sentuhan Ravin lalu mengambil ponsel di tasnya. Panggilan masuk itu langsung diangkat oleh Cheara. "Ada apa lagi?"
"Kukira kau sudah mati. Bagaimana keadaanmu disana? Berniat untuk menyerah dan pulang kembali?" Suara pria tua yang bernama Detho itu terdengar sangat galak dan sedikit candaan yang bagi Cheara itu hanya sindiran semata.
"Apa pedulimu? Memangnya jika aku menyerah dan kembali pulang, apa yang akan kau lakukan?"
"Sepertinya ini bukan hal yang asing bagimu. Kau tau kan apa yang akan kulakukan padamu?" Katanya dengan melontarkan sedikit tawa.
"Apa kau sudah tidak waras? Untuk apa kau menghubungiku malam-malam seperti ini?"
"Aku hanya ingin memastikan kalau calon budakku yang murni ini baik-baik saja."
"Kurang ajar!" Cheara mematikan panggilan itu secara sepihak. Seperti biasa, ia selalu menangis jika Detho mengancamnya seperti itu. Ia selalu kepikiran Abian, sang ayah.
Cheara mencoba menutupi tangisannya dari Ravin dengan rambutnya yang terurai."Jangan bertanya apapun padaku." Ia mencoba membuka pintu mobil, namun terkunci otomatis dari Ravin. "Bukan pintu ini."
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi dalam keadaan seperti itu?"
Tubuh Cheara yang membelakangi Ravin berhasil dipeluk penuh olehnya dari belakang. Cheara memejamkan matanya dan air mata berhasil tumpah dengan derasnya. Isak tangis dari mulut gadis malang itu sangat terdengar oleh Ravin. Bahkan, Ravin pun ikut terbawa dalam keadaan itu. Entah apa yang terjadi pada Ravin. Yang pasti, kini Cheara merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia merasa sentuhan Ravin membuatnya kembali kuat. Bahkan air matanya pun berhenti tanpa alasan.
✨✨✨
Mobil Ravin terparkir di parkiran milik rumah sewa itu, tepatnya ada di depan gerbang. Ravin tertidur pulas di bangku kemudi mobilnya dan menyuruh Cheara untuk menenangkan diri. Bahkan Ravin memberikan selimut agar Cheara tidur dengan tenang di bangku samping Ravin sampai pagi tiba. Namun Cheara tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Super Hero nya. Cheara berpikir, selama ini ia tidak bisa tidur dengan tenang sebelum semua hutang dan masalah yang ada telah usai. Cheara membuka tasnya dan mengambil buku harian berwarna coklat.
Aku berpikir bahwa hidupku yang baru ini akan dimulai dengan kehancuran. Ternyata, seorang pria yang tidak kukenal telah berhasil menghilangkan ketakutanku itu. Kami tidak sengaja dipertemukan, lalu aku langsung mendapat kebaikan dari dirinya. Entah perlakuan pria ini tulus atau tidak? Apakah pria ini benar-benar orang baik atau tidak? Apakah pria ini akan selalu ada untukku atau tidak? Yang jelas, aku nyaman dengannya.
Entah perasaan apa ini. Aku belum pernah merasakan sebelumnya. Tapi aku yakin, ini bukanlah perasaan suka. Ini hanya perasaan untuk sekedar rasa berterima kasih atas kebaikan telah telah ia lakukan untukku.
Ya Tuhan, jagalah pria ini. Ia orang baik, kurasa begitu. Pulihkanlah luka dihatinya. Orang sebaik dia, tidak pantas untuk dilukai. Aku berharap, dia benar-benar orang yang baik.
- Sea -
✨✨✨
Bekasi, 23 Juni 2020
[ 21 : 19 ]