Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 30 ] : Happy Moment



Mayoza berkali-kali mencoba menelpon Ravin, namun tidak ada jawaban. Dia mencemaskan putranya yang belum pulang hingga malam. Zhaw pun sama saja, tidak bisa dihubungi juga. Akhirnya, Mayoza menelpon Abian.


"Hallo, Nyonya Mayoza?"


Cheara? Kenapa dia yang mengangkatnya?


"Hallo, Cheara. Apa itu kau?"


"Iya, Nyonya, ini aku. Kau dan ayahku sudah bertukar nomor telpon ya?"


"Oh, i-iya. Kami sudah berkenalan kemarin. Kau apa kabar? Apa keadaanmu sudah baik-baik saja?" Tanya Mayoza perhatian.


"Iya, aku sudah baik-baik saja. Kau ada perlu apa menelpon ayahku, Nyonya?"


"Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Oh iya, Cheara, apa Ravin dan Zhaw ada di sana?"


Deg! Napas Cheara seakan berhenti karena terkejut dengan pertanyaan Mayoza yang sebenarnya dia hindari. Bagaimana menjawabnya?


"Iya, Ravin dan Zhaw ada di sini, Nyonya."


"Syukurlah, aku benar-benar mengkhawatirkan mereka."


"Nyonya, aku harus istirahat. Sudah dulu ya, selamat malam."


Tut... Tut... Tut...


Cheara segera mematikan panggilan itu. Dia takut Mayoza bertanya lebih lagi tentang Ravin dan Zhaw. Tidak bermaksud untuk berbohong, Cheara hanya tidak ingin Mayoza khawatir.


"Aku harus segera mencari Ravin, Zhaw dan Ayah. Tapi kemana?"


✨✨✨


Ravin tidak bisa tenang sama sekali. Sudah hampir 1 jam lamanya dia dirundung kecemasan. Operasi belum juga selesai, Ravin tidak tau harus berbuat apa agar Zhaw selamat. Dia hanya terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Zhaw baik-baik saja.


"Tuan, apa lukamu tidak mau diobati?" Tanya preman suruhan Deman.


"Tidak perlu. Kalian siapa? Kenapa kalian membantuku?" Ravin akhirnya bertanya.


"Kami orang suruhan Tuan Deman. Dia menyuruh kami untuk menolongmh, Tuan." Jawab salah satu dari preman itu.


"Tuan Deman? Bukankah dia Manager di perusahaan milikku?"


"Benar, Tuan."


"Dia tau dari mana soal keadaanku?"


"Kami tidak tau, Tuan. Kami hanya menjalankan perintahnya untuk menolongmu."


Ravin berpikir, darimana Deman tau kalau dia sedang ada di tengah hutan? Lalu, kenapa dia menolongnya?


Tiba-tiba, Ravin teringat perkataan Zhaw kalau Cheara pasti mencemaskan dan menunggu Ravin untuk menemuinya. Akhirnya, Ravin menitipkan Zhaw pada perawat dan dia segera pergi untuk menemui Cheara.


Ravin pergi dengan taxi menuju rumah sakit tempat Cheara di rawat. Tapi saat sampai sana, dia melihat Cheara menangis sambil tidur di atas ranjangnya. Ravin langsung memeluk Cheara dengan sangat erat, mencoba menenangkan gadis yang kini mulai dia cintai.


Cheara terus menangis memeluk Ravin, bahkan dia terlalu lemas untuk erat memeluknya. Kini Cheara sadar kalau dia sangat membutuhkan Ravin. Ravin mulai sangat berpengaruh di hidupnya. Dia benar-benar tidak mau jauh bahkan sampai kehilangan Ravin.


"Kau kemana saja?" Tanya Cheara sambil terus menangis.


"Maafkan aku, Cheara." Jawab Ravin semakin memperkuat pelukannya.


"Apa kau tidak tau kalau aku mengkhawatirkanmu?"


"Aku tau. Tolong maafkan aku."


Lumayan lama Cheara Ravin memeluk Cheara. Lalu Cheara melepaskan pelukannya dan Ravin membersihkan air mata yang membasahi wajahnya.


"Tolong berhenti menangis. Aku sudah di sini bersamamu."


"Kau kemana saja?! Kenapa kau terluka?! Siapa yang melakukan ini padamu?!"


"Aku tidak tau siapa yang melakukannya. Tapi aku berusaha untuk pergi namun tidak bisa. Untung saja ada orang baik yang menolongku." Jawab Ravin berbohong.


"Jangan membohongiku! Aku tau semuanya! Pasti ayahmu kan yang melakukannya?!"


"Dari mana kau tau?" Ravin bingung.


Cheara takut salah bicara. Dia takut keceplosan mengatakan masalah tentang Ravin yang bukan anak kandung Gauri. Ini belum saatnya Ravin tau.


"Bukankah hanya Ayahmu dan Tuan Rezvan yang tidak menyukaimu? Pasti itu semua karena ulah mereka!"


"Sudahlah, lupakan saja. Sekarang lebih baik kau makan dan minum obatmu." Ravin mengambil makanan yang ada di meja samping ranjang untuk menyuapi Cheara. "Biar kusuapi."


"Aku akan mengobatinya setelah kau makan."


✨✨✨


Orang suruhan Deman memberi kabar sebenarnya. Sebagian dari mereka ada di rumah sakit dan sebagiannya lagi ada di rumah lain untuk menyekap preman suruhan Gauri.


Abian panik ketika mendengar mereka sedang di rumah sakit. Apakah Ravin terluka? Abian bertanya-tanya dan ternyata jawabannya adalah Zhaw yang terluka. Abian sedikit lega namun tetap saja dia cemas. Mayoza sedikit bercerita tentang siapa Zhaw sebenarnya. Apalagi saat Mayoza bilang kalau dia menganggap Zhaw seperti anaknya sendiri.


"Apa yang terjadi?" Tanya Abian pada Deman.


"Tuan Zhaw ditusuk dengan pisau oleh orang suruhan Tuan Gauri hingga membuat dia harus di operasi. Untuk keadaan Tuan Ravin sendiri, dia baik-baik saja. Kata orang suruhanku, mereka tidak tau kemana Tuan Ravin pergi dengan tergesa."


"Untuk sementara ini, biarkan saja preman suruhan Gauri itu disekap. Jangan biarkan mereka kabur."


"Kau tenang saja, jangan pikirkan masalah ini. Aku mengerti apa yang kau mau, jadi aku akan melakukannya sebagai baik."


"Terima kasih banyak atas bantuanmu, Deman. Aku tidak tau lagi harus berterima kasih seperti apa."


"Jangan segan untuk meminta tolong padaku. Aku akan selalu menolongmu, Tuan Abian."


Lalu, Abian pergi dari rumah itu. Dia tau kalau Ravin pasti pergi ke rumah sakit untuk menemui Cheara. Jadi, Abian pergi ke rumah sakit untuk memastikannya.


Saat sampai di ruang rawat, Abian melihat Ravin dan Cheara tidur berdua di ranjang yang sempit. Mereka saling memeluk dan terlihat sangat nyaman. Entah perasaan apa yang harus diutamakan. Di satu sisi, Abian senang melihat Cheara dan Ravin bahagia. Di sisi lain, dia tidak ingin kedua anaknya itu menjadi sepasang kekasih. Dia tidak bisa menerimanya jika Ravin dan Cheara saling mencintai sebagai pasangan.


"Ravin, Cheara, aku mencintai kalian." Ucap Abian pelan sambil mengusap kepala Ravin dan Cheara.


✨✨✨


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Abian sengaja tidak membangunkan Ravin dan Cheara karena saat ini mereka sama-sama sedang sakit. Namun dengan sendirinya, Cheara bangun saat Abian keluar untuk membeli sarapan.


Cheara mengecek mengangkat kepalanya sedikit, memastikan apakah ayahnya sudah pulang. Dia melihat ada tas milik Abian yang menyatakan kalau dia sudah balik.


Setelah itu, Cheara menatap Ravin yang masih tertidur di sampingnya. Cheara mengusap lembut wajah Ravin yang terlihat sangat lelah, juga ada beberapa luka lebam. Cheara memberanikan diri untuk mencium Ravin, tepat di bibirnya dengan singkat. Namun itu membuat Ravin terbangun dari tidurnya.


"Kau menciumiku? Kau sudah berani sekarang?" Ucap Ravin dengan mata yang masih tertutup, namun senyumannya menghangat pagi.


"Kau tidak suka? Kau melarangku?"


"Aku suka dan aku menginginkannya."


Pernyataan Ravin membuat mereka saling memeluk. Ravin menyatakan kalau dia tidak akan pernah bosan memeluk Cheara. Wangi rambutnya membuat Ravin candu.


"Ravin, kau bau sekali!" Ungkap Cheara dan langsung melepas pelukannya. Kini, dia duduk menghadap Ravin.


"Kalau aku bau, apa kau tidak menyukaiku?"


"Tentu saja. Aku tidak suka Ravin si bau!" Ucap Cheara dan Ravin mulai terbangun. Dia langsung menggelitik Cheara yang berusaha menghindar.


"Dasar Cheara si cengeng!"


"Ravin, hentikan!"


Mereka berhenti ketika melihat Abian datang membawa sarapan. "Kalian sudah bangun rupanya. Kukira akan tidur sampai sore." Ucap Abian yang diikuti tawa diakhir.


"Ayah kan tau sendiri kalau aku selalu bangun pagi. Tidak tau kalau Ravin, mungkin dia biasa lebih banyak tidur daripada mandi. Makannya dia bau." Ungkapan Cheara membuat Ravin kembali menggelitiknya.


"Hentikan, sudahlah. Ayo sarapan dan minum obat kalian. Ravin, tadi dokter memberikanmu obat untuk menyembuhkan luka lebammu." Kata Abian.


"Baiklah, terima kasih, Tuan."


Cheara memanfaatkan situasi untuk kabur dari Ravin karena kini dia sudah tidak di infus. Cheara berlari memeluk ayahnya karena dia belum sempat memeluk Abian semenjak awal datang menemuinya ke kota.


"Ayah, aku tidak mau dekat-dekat dengan Ravin! Dia bau!" Cheara tertawa terbahak-bahak sedangkan Ravin mendekatinya dan berusaha menangkapnya untuk menggelitiknya lagi. "Ayah, tolong aku!"


"Sea, Ravin. Hentikanlah! Ayo sarapan!"


"Ravin! Dengarkanlah kata ayahku! Hentikan!"


Abian berkata dalam hati. "Ayahmu adalah ayah Ravin juga, Sea. Kalian adalah anakku." Batinnya.


✨✨✨


Syukurlah Ravin udah baik-baik aja. Bahkan dia udah bisa bercanda sama Cheara. Seneng liat mereka sama-sama lagi:v Tapi Zhaw? Gimana kabar dia? Apa operasi nya berjalan dengan lancar?


Next part ya guys ♥️


Bekasi, 4 November 2020


[ 14 : 01 WIB ]