
"Kukira, kau sudah tidak menyimpan nomorku, Nyonya Mayoza."
"Apa yang kau katakan, aku ini masih istrimu, Gauri."
"Datanglah ke sini. Aku menunggumu."
Tidak lama setelahnya, Gauri mengirim alamat pada Mayoza.
"Ada apa, Bu? Apa itu Ayah?" Tanya Ravin.
"Iya, Ayahmu ingin bertemu dengan Ibu. Jadi, Ibu harus segera pergi."
"Biar kuantar." Pinta Ravin.
"Tidak-tidak. Kau di sini saja temani Zhaw. Lagi pula, kondisimu juga kurang baik. Ibu tidak akan kenapa-napa. Ayahmu meminta Ibu menemuinya di tempat yang tidak sepi kok."
"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku." Ravin mengecek saku celananya. "Astaga, ponselku hilang."
Zhaw buka suara. "Bagaimana kalau kau hubungi Tuan Abian? Hanya dia yang bisa kita andalkan. Benarkan, Ravin?"
"Iya benar. Kalau ada apa-apa, Ibu hubungi Tuan Abian ya."
Mayoza mengangguk. Sebelum pergi, dia mencium kening kedua anaknya itu.
✨✨✨
Cheara tidak bisa berhenti memikirkan Ravin dan Zhaw. Kenapa ada saja orang yang jahat pada mereka, padahal mereka adalah orang yang baik. Ravin, kemana ayah kandungnya? Setidaknya, Ravin bisa meminta bantuan dari ayah kandungnya untuk menjaga dia dan Mayoza.
"Ayah, aku ingin bicara sesuatu." Ucap Cheara pada Abian yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Katakan, sayang."
"Ini soal Ravin. Ini sangat rahasia, Ayah."
Abian menghentikan aktivitasnya. Dia memasukkan ponsel kedalam saku celananya. "Apa?"
"Ayah janji ya, jangan katakan semua ini pada Ravin."
"Iya, Ayah berjanji. Memangnya rahasia apa?"
"Tuan Gauri bukanlah ayah kandung Ravin. Zhaw dan aku sudah mengetahuinya. Kita tidak berniat untuk merahasiakan semua ini dari Ravin, tapi kita hanya mencari waktu yang tepat."
Deg. Abian kaget kalau Cheara ternyata mengetahui semuanya. "Lalu?"
"Satu-satunya cara agar Ravin dan Nyonya Mayoza aman dari kejahatan Tuan Gauri adalah dengan meminta bantuan dari ayah kandungnya Ravin. Aku yakin, ayahnya Ravin pasti akan membantu mereka. Mana ada seorang ayah yang diam saja melihat anak dan istrinya celaka? Iya kan, Yah?"
Abian berkata dalam hati. "Tentu saja, maka dari itu ayah berusaha meminta bantuan untuk menolong Ravin kemarin. Tapi mana mungkin ayah mengatakan padamu kalau Ravin adalah anak kandungku?"
"Ayah!" Cheara membuyarkan lamunan Abian.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus secepatnya mengatakan pada Ravin soal kenyataan ini agar dia bisa mencari ayah kandungnya untuk menjaga dia, terutama Nyonya Mayoza." Cheara mengatakannya dengan serius.
"Tidak!" Ucap Abian spontan. Alasannya tentu saja karena dia tidak ingin Ravin dan Cheara mengetahui semuanya secepat ini. Dia belum siap kehilangan Cheara ataupun dibenci oleh Ravin.
Cheara terkejut. "Kenapa tidak? Ayah tidak mau membantuku?"
"Tidak, Sea. Maksud Ayah, alangkah lebih baik jika kita tidak ikut campur dalam masalah keluarga mereka. Apa lagi menyangkut hal itu, ayah pikir itu adalah urusan pribadi mereka."
"Tapi, Yah. Aku tidak bisa diam saja melihat Ravin dan Nyonya Mayoza celaka! Jika ayah tidak mau membantuku, aku akan lakukan sendiri. Aku akan mengatakan pada Ravin soal kenyataan ini secepatnya."
Abian tau kalau Cheara adalah anak yang keras kepala. Dia akan melakukan hal yang sudah menjadi kehendaknya, apalagi menyangkut hal untuk membantu orang lain.
✨✨✨
Mayoza sampai di tempat yang Gauri minta. Tentu saja, Gauri datang lebih awal darinya. Di sana, lumayan ramai orang berlalu-lalang. Jadi Mayoza tidak terlalu takut disakitin oleh Gauri.
"Selamat datang, Nyonya Mayoza. Bagaimana keadaanmu?" Sapa Gauri.
"Jangan basa-basi. Cepat sampaikan apa yang ingin kau katakan!"
"Jangan terlalu terburu-buru, apa kau tidak merindukanku?"
"Pria tua yang kejam sepertimu, kurasa tidak pernah ada yang merindukannya."
"Hahahaha... Baiklah kalau begitu, kita mulai saja pembicaraannya."
Gauri mengeluarkan semua surat-surat berharga dari dalam tasnya. Mayoza masih bingung apa yang ingin Gauri lakukan terhadap semua surat-surat penting miliknya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Mayoza.
"Kau tau kan ini surat-surat apa saja?" Gauri menjabarkannya satu-persatu. "Ini surat hak milik perusahaan. Yang ini surat tanah perkebunan yang dapat di desa. Ini surat hak milik rumah dan tanahnya. Yang terakhir, tanda tangani surat pernyataan ini." Gauri memberikan sebuah file.
"Apa ini?"
Mayoza kaget dengan senyum smirknya. "Memberikan semua hartaku padamu? Kau memintanya? Tentu saja aku tidak akan memberikan semua ini padamu. Kau itu bodoh sekali!"
"Kau yang bodoh, Nyonya Mayoza. Kau lebih memilih harta daripada nyawamu dan Ravin?"
Apa yang dia masud? Apa Mayoza dan Ravin akan dia bunuh jika tidak menurutinya? Tentu saja tidak semudah itu.
"Kau mengancamku lagi?!"
"Iya! Dan itu selalu berhasil! Kau taukan kalau ancamanku tidak pernah main-main?!"
Iya, benar. Garuri tidak pernah main-main dengan ancamannya. Hal itu membuat Mayoza bingung. Dia tidak ingin Ravin celaka, tapi dia juga tidak ingin kehilangan semua harta yang diberikan Abian padanya. Itu adalah titipan dari Abian untuk Ravin.
"Semua itu sudah kubalik nama atas nama Ravin. Jadi aku tidak berhak menandatangani surat itu."
"Kalau begitu, aku akan memintanya pada Ravin. Jika dia tidak mau, siap-siap saja kalian celaka. Kalian tidak akan bisa melaporkanku ke polisi, karena aku akan melakukan semua hal dengan mendapatkan harta itu!"
"Abian tidak akan membiarkannya!!" Ucap Mayoza dengan lantang. Dia juga tidak menyangka akan mengatakan itu.
"Abian? Mantan suamimu? Kau yakin dia masih peduli denganmu?!"
"Ya! Tentu saja! Dia kini ada di dekatku! Aku sudah bertemu dengannya!!"
"Oh, begitu ya. Aku siap berperang dengannya jika kau mau." Gauri merapikan semua berkas-berkasnya. "Lihat saja, aku akan melakukan hal yang lebih kejam dari yang kulakukan pada kalian selama ini!" Lalu, Gauri pergi meninggalkan Mayoza.
✨✨✨
Hari sudah semakin sore. Zhaw tidak bisa beristirahat dengan baik karena terus mengkhawatirkan Mayoza.
"Ravin, aku tidak habis pikir kenapa Ayahmu tega melakukan itu padamu." Ucap Zhaw.
"Kadang aku berpikir, apa mungkin aku bukan anak kandungnya? Terlihat sangat berbeda perlakuan dia terhadap Rezvan dan terhadapku." Ungkap Ravin.
Zhaw merasa sedih dengan nasib sahabatnya itu. Bagaimana kalau Ravin tau itu adalah kenyataannya? Apa dia akan marah pada Zhaw karena telah merahasiakan semua itu darinya?
"Kau jangan berpikir seperti itu, tentu saja itu tidak benar."
"Zhaw, apa sebaiknya aku turuti saja kemauan Ayahku? Aku rela memberikan semua harta itu padanya asal Ibuku tidak terus disakiti olehnya."
"Apa-apaan kau ini? Jangan pernah lakukan itu! Ada cara lain untuk membuat Ayahmu berhenti menyakiti kalian."
"Lalu bagaimana? Tidak ada cara lain, Zhaw. Hanya itu yang dia inginkan."
"Laporkan saja dia ke polisi. Dia juga sudah mencoba untuk membunuhmu dan aku kan." Usul Zhaw.
"Mana mungkin aku melaporkannya ke polisi. Mau bagaimanapun, dia adalah Ayahku."
Ravin masih saja memikirkan hal itu. Padahal, dia sudah di sakit oleh Gauri. Mengapa Gauri tega menyakiti orang yang bahkan tulus mencintainya?
Ravin teringat dengan Cheara. "Zhaw, Cheara menanyakan kabarmu. Dia meminta maaf padamu karena sudah membuatmu celaka. Padahal, ini semua karenaku."
"Tidak-tidak. Ini semua bukan karena kau ataupun Cheara. Ini semua karena aku ingin membantu Cheara mencarimu dan karena aku ingin menolongmu."
"Kenapa kau masih saja baik denganku? Padahal aku selalu menyakitimu."
"Kau adalah temanku, bahkan kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri."
"Apa kau menyukai Cheara?" Ravin bertanya dengan serius. Pertanyaannya membuat Zhaw kaget.
"A-apa yang kau katakan? Tentu saja aku menyukainya, karena dia temanku."
"Apa hanya sekedar teman?"
Ucap Zhaw dalam hati. "Tentu saja tidak. Aku menyukai Cheara sejak awal bertemu dengannya. Mungkin saja, aku yang lebih dulu menyukainya daripada kau."
Ravin membuyarkan lamunan Zhaw. "Aku ingin kau jujur padaku. Sepertinya, Cheara juga suka padamu. Dia sangat perhatian padamu."
"Mana mungkin! Dia hanya temanku. Sudah jelaskan kalau dia menyukaimu."
"Kau serius?"
"Ya! Lalu, kapan kau akan menyatakan cintamu padanya?" Tanya Zhaw, padahal hatinya hancur harus berbohong soal perasaannya.
"Secepatnya aku akan menyatakan cinta padanya. Bahkan, aku berniat ingin segera menikahinya."
Hah? Menikah? Sepertinya, Ravin benar-benar serius mencintai Cheara. Hati Zhaw semakin hancur. Namun di sisi lain, Zhaw bahagia melihat Ravin bisa mendapatkan wanita yang dia cintai. Cheara adalah wanita yang pas untuk menjadi pendampingnya. Zhaw rela kehilangan wanita yang dia cinta, demi kebahagiaan sahabatnya.
✨✨✨
Nikah? Serius Ravin udh punya rencana buat ngelamar Cheara? Kasian Zhaw, padahal dia duluan yg cinta sama Cheara. Tapi, gimana sama Cheara? Dia lebih memilih Zhaw atau Ravin ya?
Bekasi, 8 November 2020
[ 22 : 37 WIB ]