
Semalaman, perasaan Mayoza tidak karuan. Dia merasa cemas berlebih, entah itu pertanda apa. Pagi-pagi, Mayoza menyiapkan sarapan untuk dia bawa ke rumah sakit sembari menjenguk Cheara. Dia pergi dengan taxi yang dipesannya. Saat di perjalanan, Mayoza mencoba menelpon Cheara untuk menanyakan kabar Ravin.
"Hallo, Cheara?"
"Hallo, Mayoza. Ada apa?"
"Abian? Kenapa kau yang mengangkatnya?"
"Cheara dan Ravin belum bangun. Aku tidak tega membangunkan mereka."
"Ini sudah siang, Ravin akan telat berangkat ke tempat kerjanya. Tolong bangunkan dia. Aku sedang di jalan menuju ke sana."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Mayoza mematikan sambungan teleponnya. 30 menit perjalanan, akhirnya sampailah di rumah sakit. Dia langsung menuju kamar rawat Cheara dan melihat Ravin sedang makan bersama dengan Cheara dan Abian.
"Selamat, Pagi." Sapa Mayoza.
"Pagi, Nyonya Mayoza." Sahut Abian dan Cheara bersama-sama.
"Pagi, Bu." Saat Ravin menyahut, Mayoza langsung kaget melihat wajah anaknya yang babak belur.
"Apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau seperti ini?! Siapa yang melakukannya, Ravin?!" Pertanyaan Mayoza sama seperti Cheara. Wajahnya terlihat sangat panik dan mulai sedih.
"Ibu, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Katakan, siapa yang melakukannya?!!" Mayoza mulai membentak Ravin. Dia memegang wajah Ravin dengan hati-hati.
"Aku tidak tau, Bu." Jawab Ravin berbohong padahal Cheara dan Abian sudah mengetahuinya.
"Jangan berbohong pada Ibu! Apakah Ayahmu yang melakukan ini?!!" Mayoza mulai menangis.
"Bu, tolonglah, jangan menangis. Aku sudah tidak apa-apa." Jawab Ravin sambil memeluk ibunya.
"Bagaimana kau bisa selamat? Apa kau berhasil kabur sendiri?" Mayoza melepas pelukannya dan kembali bertanya.
"Zhaw yang menolongku."
"Lalu, kemana Zhaw sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
Ravin bingung harus jawab apa. Dia tidak ingin membuat Cheara dan Mayoza cemas. Tapi dia tidak tau harus berbohong bagaimana.
"Zhaw tadi menghubungiku, katanya dia sedang di tempat kerja."
"Tempat kerja? Bahkan dia belum pulang sejak kemarin. Ponselnya pun tidak aktif sejak kemarin. Lalu, dari mana kau bisa menghubunginya?"
Ravin gelagapan. Dia benar-benar tidak pandai berbohong. Akhirnya dia menyerah dan menceritakan semuanya pada mereka. Sebenarnya setelah sarapan, Ravin mau langsung menjenguk Zhaw. Dia ingin tau keadaan Zhaw sekarang setelah operasinya semalam.
"Ravin, katakan yang sebenarnya. Jangan berbohong, Ravin! Kau tidak pandai berbohong!" Cheara mulai kesal dengan Ravin.
"Cepat! Katakan!" Pinta Mayoza.
"Sebenarnya, Zhaw terluka. Dia menyelamatkanku tapi malah dia yang terluka. Preman yang menculikku menancapkan pisau ke perutnya dan semalam Zhaw di operasi." Jawab Ravin dengan jujur.
Mayoza lemas. Abian mencoba menolongnya agar tidak terjatuh. Cheara pun kaget mendengarnya. Kenapa Ravin bisa merahasiakan hal semacam ini? Kenapa dia malah meninggalkan Zhaw yang sedang dalam keadaan kritis?
"Ravin, kenapa kau tidak jujur padaku?" Tanya Cheara pelan karena dia masih terkejut. Air matanya mulai tumpah.
"Maafkan aku. Aku tidak ingin meninggalkan Zhaw, tapi sebelumnya Zhaw menyuruhku untuk menemuimu. Katanya kau khawatir denganku, jadi aku segera datang ke sini dan meninggalkan dia. Niatnya aku akan langsung ke sana setelah sarapan. Tapi, kalian sudah terlanjur mengetahuinya. Jadi maafkan aku." Ucap rabin pajang lebar sambil menggenggam tangan Mayoza dan Cheara.
"Setidaknya beritahu aku, Ravin! Kenapa kau... Aduh!" Cheara meringis kesakitan pada kepalanya.
"Cheara!" Ravin langsung memposisikan Cheara agar tertidur di ranjangnya, sedangkan Abian memanggil dokter.
"Ravin, tolong temui Zhaw. Tolong temani dia sampai sembuh. Dia seperti itu karena aku. Dia menolongku untuk mencarimu. Itu semua karena aku, Ravin." Kata Cheara sambil menangis.
Dokter datang dan segera mengecek keadaan Cheara. "Tolong jangan membuat Nona Cheara banyak pikiran atau berpikir terlalu berat. Kondisinya belum pulih betul, jadi tolong buat dia senyaman mungkin." Ucap dokter.
Setelah itu, dokter pergi dan Ravin mencoba menenangkan Cheara. "Tolong maafkan aku, Cheara. Ini semua karena Zhaw berusaha menolongku, itu bukan salahmu tapi salahku. Tolong jangan berpikir terlalu berat, aku tidak mau kau kenapa-napa. Aku akan menemuinya sekarang, tapi kau harus tetap istirahat di sini."
"Aku ingin menemui Zhaw." Pinta Cheara.
"Kau boleh menemuinya setelah kau sembuh. Aku akan memberi tau padamu bagaimana keadaan Zhaw nanti."
Ravin dan Mayoza akhirnya pergi untuk menengok Zhaw. Dia berharap, operasi berjalan lancar dan Zhaw sudah baik-baik saja.
✨✨✨
Gauri panik ketika mendengar kabar bahwa orang suruhannya disekap dan kemungkinan besar rencananya gagal. Dia bingung harus bagaimana lagi. Siapa yang menangkap orang suruhannya? Siapa yang berusaha untuk menolong Ravin? Gauri benar-benar penasaran dengan jawabannya.
"Apakah kita harus menyerah saja, Yah? Daripada nantinya kalian tertangkap polisi." Ucap Rachel.
"Tidak! Aku tidak akan menyerah! Aku sudah memikirkan cara lain untuk menggantikan rencanaku yang gagal." Kata Gauri penuh keyakinan.
"Rencana apalagi?" Tanya Rachel.
Gauri langsung pergi dari rumah menuju kantornya. Rezvan dan Rachel bingung karena tidak tau apa rencana Gauri selanjutnya.
Saat sampai di kantor, Gauri mengambil semua surat-surat penting yang ada di ruangannya. Setelah itu, dia segera membawanya pergi dan mulai menjalankan rencananya.
✨✨✨
Di rumah, Rezvan dan Rachel takut kalau polisi akan mengetahui soal semua ini. Dia tidak ingin dipenjara atas tindakan percobaan pembunuhan.
"Rezvan, aku tidak ingin kau dipenjara. Aku tidak mau kehilanganmu." Ucap Rachel.
"Ini semua karena Ravin! Dia sudah membuatku dalam situasi seperti ini. Jika dia bisa dengan mudah memberikan semua yang Ayah mau, ini semua tidak akan terjadi!" Rezvan mulai terpancing emosi. Dia juga takut dipenjara.
"Kita tidak bisa diam saja, Rezvan! Kita harus bertindak!"
"Aku akan membantu Ayah untuk menjalankan rencananya. Aku tau apa yang akan Ayah lakukan. Jadi aku akan membantunya dengan cara mencelakakan Ravin dan orang-orang yang berhubungan dengannya!"
"Aku akan membantumu, sayang."
Rezvan dan Rachel langsung pergi untuk menjalankan rencananya. Pastinya, nanti akan ada yang celaka karena ulah mereka.
✨✨✨
Saat sampai di ruangan tempat Zhaw di rawat, Mayoza nangis sejadi-jadinya. Walaupun Zhaw bukan anaknya, tetapi dia sudah menganggap Zhaw seperti anak kandungnya sendiri. Melihat Zhaw terbaring lemah seperti itu, rasanya sangat menyakitkan.
Dokter dan perawat sedang memeriksanya. Dokter bilang, operasinya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Zhaw juga bisa melewati masa kritisnya dengan cepat. Ravin sangat bersyukur karena Zhaw akan segera pulih.
"Zhaw, bangunlah." Pinta Mayoza yang masih menangis di samping Zhaw.
"Maafkan aku, Zhaw. Karenaku, kau jadi seperti ini. Terima kasih telah menolongku." Ravin pun ikut menangis.
Tidak lama, Zhaw terbangun. Wajahnya pucat dan terlihat sangat lemas. Mayoza dan Ravin langsung terlihat senang melihat Zhaw memberikan sedikit senyuman.
"Kalian di sini?" Tanya Zhaw dengan lemas.
"Zhaw, kau baik-baik saja?" Tanya Mayoza dan Zhaw hanya mengangguk pelan.
"Maafkan aku, ini semua karenaku." Ravin menggenggam erat tangan Zhaw yang sedikit dingin.
"Jangan minta maaf lagi, itu sudah terlalu banyak." Jawab Zhaw sedikit memberikan candaan.
"Jangan banyak bicara dulu. Kau harus banyak istirahat." Pinta Mayoza.
"Bagaimana keadaanmu, Ravin? Kau juga terluka kan?" Tanya Zhaw.
"Lukaku tidak terlalu parah."
"Maafkan Ibu, Ravin. Ibu sampai lupa melihat keadaanmu. Apakah lukamu sudah diobati?" Mayoza langsung beralih pada Ravin, mengelus lembut wajah putra semata wayangnya itu.
"Sudah, Bu. Cheara yang mengobatinya. Aku sudah tidak apa-apa. Hanya saja, kakiku sedikit sakit. Tapi ini akan segera sembuh." Jawab Ravin.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Apa yang dilakukan Gauri sampai kalian seperti ini? Ini tidak bisa di biarkan! Kita harus melaporkannya ke polisi!" Mayoza benar-benar ingin melaporkan masalah itu ke polisi agar tidak terjadi hal serupa lagi pada anak-anaknya.
"Kau tenang saja, Bu. Biar aku yang mengurus semuanya. Jangan lakukan apapun yang berhubungan dengan Ayah. Aku tidak ingin Ibu kenapa-napa." Ravin kini menggenggam sangat erat kedua tangan Mayoza.
"Kau harus jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai Gauri melakukan hal yang lebih dari ini padamu."
Tet... Tet... Tet... (Panggilan masuk)
"Gauri?" Ucap Mayoza pelan saat melihat siapa yang menelponnya.
✨✨✨
Wah wah wahhhhh!!! Gimana? Gk jelas ya?? Iya, maaf ya. Soalnya di part kali ini, aku cuma mau cepet-cepet klarifikasi masalah yang ada dan langsung mau buat masalah baru lagi. Itu loh, masalah yang akan dibuat sama Gauri, Rezvan dan Rachel.
Kira-kira, apa ya rencana mereka?
Makannya, Next part guys♥️
Bekasi, 4 November 2020
[ 23 : 18 WIB ]