Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 7 ] : Kedekatan Mereka



Baru semalam Ravin menginap di rumah sakit, namun ia sangat ingin pulang. Yang ia maksud bukan pulang ke rumah, tetapi pulang ke apartemen tempat tinggalnya setelah beberapa hari meninggalkan rumah yang selalu membuatnya terluka. Rumah itu adalah rumah yang besar dan penuh kekayaan. Keluarga yang selalu terlihat rukun oleh orang-orang tetapi tidak dengan kenyataannya. Tidak ada kebersamaan dan kehangatan yang membuat Ravin merasa aman dan nyaman. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sekalinya berkumpul hanya saat makan malam. Itu pun bukan kebahagiaan untuk Ravin. Ia tetap disalahkan dan tidak dipandang ada oleh Gauri, sang Ayah dan Rezvan sang Kakak. Apapun yang Ravin lakukan selalu salah.


"Tetaplah di sini hingga keadaanmu benar-benar pulih."


"Tidak. Aku tetap ingin pulang." Pinta Ravin yang terduduk di atas ranjang dengan wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Baiklah jika itu maumu. Tetapi boleh kah jika Ibu tinggal bersamamu?"


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa yang telah pria itu lakukan padamu?" Pria yang Ravin maksud adalah Gauri. Setelah pergi dari rumah, rasanya Ravin tidak sudi lagi untuk mengakuinya sebagai orang tuanya.


"Jangan begitu, ia tetap Ayahmu." Mayoza memegang kedua tangan putranya itu. "Apa kau sungguh ingin tau? Atau kau hanya sekedar bertanya dan tidak peduli dengan jawabannya?"


"Memangnya jika aku sungguh bertanya padamu, apa arti semua itu?" Kini, Ravin berani menatap Mayoza.


"Aku akan sangat senang. Kaulah putraku yang paling aku sayangi."


"Jika begitu nyatanya, mengapa kau diam ketika aku disakiti mereka? Mengapa kau diam ketika melihatku dilukai dengan ucapan dan perilaku mereka?!" Ravin menaikkan nada bicaranya.


"Maafkan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Kau tidak tau sesulit apa berada di posisiku." Mata Mayoza mulai berlinang air mata. Ia sebenarnya sungguh merasa bersalah, namun sangat sulit berada di posisinya. Ia tidak tau harus membela suami atau anak tercintanya.


"Lupakan itu. Jawablah pertanyaanku diawal tadi." Kata Ravin yang langsung memalingkan pandangannya menuju televisi yang menyala dengan suara pelan.


"Aku bertengkar hebat dengan Ayahmu. Ia menginginkan perpisahan denganku karena ada wanita lain. Namun Ayahmu bilang itu bukanlah alasan mengapa ia meminta kami untuk bercerai, katanya itu semua karena aku sudah tidak cantik dan tak menarik lagi. Aku sudah banyak melakukan kesalahan hingga membuatnya kini jadi membenciku. Aku sungguh terluka dengan ucapannya. Sungguh sakit hatiku." Mayoza langsung menangis dan terlihat bahwa tangisan itu pertanda dirinya sangat terluka. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Ravin yang awalnya tidak peduli dengan ucapan Mayoza, ia langsung memeluknya dengan lembut. Sungguh, pelukan itu sangat dirindukan oleh Mayoza. Apalagi disaat-saat ia terluka seperti ini, hanya Ravin yang selalu membuatnya tenang. Ketika rabin tiada dan hatinya sedang terluka, ia hanya bisa menatap foto Ravin di ponselnya dan itu cukup membuatnya tenang.


Ravin melepaskan pelukan itu dan langsung melihat pipi sebelah kanan Mayoza. Ia tau apa yang akan dilakukan pria kejam itu ketika ia sedang kesal, pasti istrinya yang akan menjadi sasaran amukannya. Dan hanya Ravin yang berani membela Mayoza di depannya. Hanya Ravin pula yang berani menyerang Gauri daripada Rezvan, kakaknya.


"Dia melukaimu lagi? Apa pria itu menamparmu?!" Ravin mulai kesal. Amarahnya mulai berapi.


"Jangan lakukan apapun. Cukup kau ada disampingku, aku sudah merasa sangat bahagia. Jangan lakukan apapun padanya. Aku baik-baik saja." Lagi-lagi, Mayoza mendapat pelukan hangat dari putranya yang sudah lama ia rindukan.


✨✨✨


Tempat kerja baru, teman baru dan kegiatan baru. Kini Cheara sangat bersemangat memulai hari barunya. Semua pegawai menyambutnya dengan baik. Salah satu orang yang membuatnya pekerjaannya lebih mudah adalah Zhaw. Pria itu selalu membantunya untuk mengerjakan apa yang belum Cheara ketahui. Mulai dari mengambil barang yang akan dikirim ke pelanggan hingga mengajarkannya cara berperilaku ketika ingin memberikan barang tangan pelanggan. Zhaw sungguh pria yang baik dan asik.


"Terima kasih, Zhaw. Aku akan mengantar barang ini, lalu tersenyum dengan sapaan yang baik di depan pelanggan." Kata Cheara yang sudah duduk di motornya dengan helm yang sedikit kebesaran di kepalanya.


"Hati-hati ya. Jika kau tidak tau jalan, hubungin aku. Oh iya, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


Cheara baru ingat, ponsel dan jam tangannya dijadikan jaminan oleh rentenir tempat Nek Arre berhutang. "Ah, aku lupa membawa ponsel dan aku tidak mengingat nomor ponselku. Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."


"Yasudah, hati-hati ya."


Cheara berangkat lebih dulu. Suasana pagi dengan jalanan yang ramai membuatnya sedikit takut. Pasalnya, ia membawa barang milik orang lain. Entah ini baju, selimut, sepatu atau barang lain dengan harga yang mahal. Ia harus lebih berhati-hati. Ketika sampai di sebuah kompleks perumahan mewah, ia menunjukkan kartu identitas kerjanya kepada satpam untuk dapat masuk. Cheara mulai mencari rumah tujuan utamanya. Tidak perlu waktu lama, Cheara menemukan alamat pertama. Di sana baru saja ada mobil yang masuk. Rumah itu sangat besar dan mewah.


Cheara berhenti tepat di depan gerbang dan mengambil barang laundry pemilik rumah itu. "Permisi, Laundry Aksewara."


Wanita yang turun dari mobil itu mendekatinya. Ia mengambil barang yang dipegang Cheara. Ternyata, itu adalah pemiliknya. Cheara langsung memberikan selebaran kertas untuk menandatangani bahwa barang telah diterima oleh pemilikannya.


Ketika wanita dengan tampilan modis itu selesai tanda tangan, seorang pria tampan keluar dari dalam rumah. Apa mungkin itu adalah pemilik rumahnya? Lalu siapa wanita itu?


"Chel, kau sudah sampai?" Sapa pria itu yang jika dilihat mirip seseorang. Hal itu membuat Cheara sampai menatapnya sambil melongok.


"Kau mengapa masih disini? Bisa pergi sekarang?" Wanita itu sungguh sombong. Ia terang-terangan mengusir Cheara.


"Antar laundryan ya?" Tanya pria yang masih ditatap Cheara.


"Uangnya sudah kubayar di awal ya, terima kasih." Kata pria itu dengan sopan.


Mereka berdua pun masuk kedalam rumah mewah itu. Masih terus melongok Cheara melihat keduanya. Pria itu sungguh mirip dengan seseorang, tetapi siapa? Wanita itu pun seperti pernah ia temui sebelumnya. Baju mini dan rambut sedikit ikal. "Ah, model wanita seperti itu banyak disini." Kata Cheara pelan dan ia langsung pergi dari sana.


✨✨✨


Ravin yang keras kepala tetap meminta ingin pergi dari rumah sakit dan pulang kembali ke apartemennya. Ia memutuskan untuk mengizinkan Mayoza tinggal bersamanya. Awalnya Mayoza meminta itu hanya untuk sementara karena takut Ravin keberatan, namun ternyata Ravin memintanya untuk tinggal bersama dengannya. Mau bagaimana pun, Mayoza tidak pernah melakukan hal jahat seperti Gauri dan Rezvan. Kesalahannya hanya ia tidak berani membela dan hanya bisa diam terhadap semua tindakan.


Sesampainya di apartemen, Ravin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia masih merasa sedikit lemas dan pusing. Lalu Mayoza membuatkannya makan siang dan menyiapkan obat agar Ravin lekas sembuh. Dengan perasaan haru, Ravin menatap Mayoza dengan tatapan dingin seperti biasanya.


"Maafkan aku."


"Mengapa kau meminta maaf? Kau tidak salah. Mereka yang selalu melukaimu dan aku hanya bisa diam."


"Kau tidak salah. Itu semua karena mereka yang selalu membuat hidupmu sulit. Tolong jangan paksa aku untuk kembali dengan mereka."


"Mengapa begitu? Mau bagaimana pun mereka adalah keluargamu, Ayah dan Kakakmu. Kau tidak boleh melupakannya."


"Mereka yang mengusirku dan mereka tidak mencariku. Itu artinya aku sudah tidak dianggap lagi dalam keluarga itu. Untuk apa aku menganggap mereka, sedangkan mereka seperti tidak pernah mengenalku?"


"Jangan membenci mereka. Kau pantas untuk sakit hati terhadap mereka, tapi tolong beri mereka kesempatan jika mereka memintanya."


"Apa itu permintaanmu?"


"Iya, hanya itu permintaanku setelah kau selalu ada untukku."


✨✨✨


Waktu sudah menunjukkan pukul 4


sore. Seharusnya, Cheara sudah sampai dari 20 menit sebelum waktu pulang. Tetapi sepertinya, tugas pertama membuat Cheara sedikit kesulitan. Selain Cheara belum terlalu mengenal kota itu, ia pun masih kesulitan dengan aplikasi yang menunjukkan setiap lokasinya. Ketika Cheara tiba, Zhaw langsung mendekatinya. Bertanya banyak pertanyaan.


"Apa kau baik-baik saja? Apa semua barangnya sudah sampai ke tangan pemiliknya dengan tepat waktu? Apa sesuatu terjadi padamu? Apa kau nyasar? Apa lokasinya sulit untuk kau temui? Mengapa kau pulang telat?"


"Cukup Zhaw. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Semua barang sampai dengan baik dan tepat waktu. Tadi aku hanya terjebak macet."


"Ah baiklah, aku terlalu mengkhawatirkan wanita kuat sepertimu." Ledek Zhaw dengan diselipkan sedikit candaan.


"Sepertinya kau telah mengakui bahwa diriku kuat ya?"


"Sudah-sudah, cepat bawa motor ini ke garasi. Kita harus cepat pulang."


"Zhaw, kau pulang saja duluan. Aku masih ada perlu di luar. Aku bisa pulang sendiri."


"Sungguh tidak ingin kuantar sampai ke tempat tujuanmu?"


"Sungguh. Pergilah, terima kasih untuk hari ini ya. Kau sudah banyak membantuku."


"Sama-sama, sampai jumpa besok."


✨✨✨


Bekasi, 30 Juni 2020


[ 22 : 35 ]