
Pagi-pagi sekali Cheara bangun, mencoba menelpon Ravin dan Zhaw tapi tidak bisa. Akhirnya, dia menelpon Mayoza.
"Selamat pagi, Nyonya." Sapa Cheara.
"Selamat pagi, Cheara. Ada apa pagi-pagi kau meneleponku?"
"Aku ingin menanyakan soal keadaan Ravin dan Zhaw. Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja. Aku sekarang ada di rumah dan akan mengunjungi mereka untuk membawa sarapan. Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, Nyonya. Aku sedang menunggu keputusan dari dokter, apakah aku sudah bolehh pulang atau belum."
"Sudah dulu ya Cheara. Aku sedang memasak, kau baik-baik ya. Kabari aku jika kau akan pulang."
"Baik, Nyonya. Sampaikan salamku pada Ravin dan Zhaw."
Panggilan berakhir dan saat itulah Abian bangun. Dia terbiasa mencium kening Cheara sejak kecil. Abian kembali teringat akan ucapan Cheara yang ingin segera memberi tau yang sebenarnya pada Ravin. Dia belum siap, bahkan sampai kapanpun tidak akan siap.
"Ayah, aku ingin segera pulang. Aku bosan di sini." Rengek Cheara.
"Sebentar ya, Ayah tanya dulu ke dokter apakah kau sudah diperbolehkan pulang atau belum."
Lalu, Abian pergi untuk bertanya pada dokter. Tiba-tiba, ponsel Abian berdering. Cheara mengambilnya dan melihat nama 'Deman" di sana. Siapa Deman? Bahkan Cheara tidak pernah mendengar namanya. Panggilan itu mati, lalu masuklah pesan dari orang yang sama.
Deman
|| Tuan, aku sudah menyelesaikan semuanya. Kita tinggal jalankan saja rencananya.
"Rencana? Apa yang akan Ayah lakukan dengan orang itu? Siapa dia?" Cheara bertanya pada dirinya sendiri.
Deman
|| Kutunggu ya, Tuan.
"Sea, dokter bilang..." Abian terkejut melihat Cheara yang sedang menggenggam ponselnya. "Apa yang kau lakukan dengan ponsel Ayah?" Abian langsung mengambilnya.
"Ayah, siapa Deman? Apa yang akan Ayah lakukan dengannya?" Tanya Cheara serius.
"Di-dia teman Ayah. Ayah i-ingin..."Secara tiba-tiba, Abian langsung mengusap pucuk kepala Cheara. "Aish kau ini! Kacau sudah rencana Ayah!"
"Rencana apa?"
"Ayah ingin membuat kejutan atas kepulanganmu dari rumah sakit. Ayah menyuruhnya untuk mempersiapkan semua! Tapi kau sudah terlanjur tau!"
"Sungguh?!" Jawab Cheara bahagia.
"Iya! Tapi kau mengacaukannya!"
"Baiklah kalau begitu, aku akan pura-pura tidak tau. Aku tidak sabar melihat kejutan yang akan Ayah berikan." Cheara tersenyum semringah. Dia langsung memeluk Abian.
Ucap Abian dalam hati. "Untung saja Cheara percaya dengan alasanku. Aku harus segera mempersiapkan kejutan untuknya agar dia percaya padaku."
✨✨✨
Zhaw masih sangat lemas. Jahitan di perutnya belum kering dan beberapa luka di tubuhnya masih terasa sakit. Begitu juga dengan Ravin, luka lebam di kaki dan tangannya terasa sakit walau hanya disentuh.
"Ravin, maafkan perlakuan Ayahmu ya. Dia terlalu terobsesi dengan harta." Ucap Mayoza sambil mengompres luka di tangan Ravin dengan air hangat.
"Bu, apa kita berikan saja semua harta itu padanya? Aku tidak ingin melihat Ibu selalu tersakiti karena Ayah."
"Tidak mungkin aku memberikan semuanya pada Ayahmu. Itu adalah milikmu, sepenuhnya milikmu." Jawab Mayoza santai.
"Aku ingin tau, darimana semua harta itu, Bu? Awalnya kukira itu milik Ayah, namun kenapa di dalam semua surat milik adalah atas namaku?"
Mayoza bingung bukan main. Zhaw yang mendengarnya pun ikut panik. Mana mungkin Mayoza mengatakan kalau semua itu adalah warisan dari Ayah kandungannya Ravin?
"Itu milik keluarga Ibu. Karena kau sudah besar, jadi Ibu mewarisinya padamu."
"Kenapa hanya untukku? Bukankah Rezvan juga harus mendapatkannya?"
Ravin adalah anak yang sangat pandai. Untuk masalah seperti itu, sangat mudah baginya untuk mengetahui dengan jelas alasannya.
"Yasudah kalau begitu, kita berikan saja hak mereka. Aku tidak berhak mengambil hak mereka, Bu. Rezvan kan punya hak atas harta yang Ibu punya, dia kan anakmu juga."
"Hentikan, Ravin! Kenapa kau terus bertanya soal hak itu?! Bukankah semua penjelasan Ibu selama ini sudah jelas?! Kenapa kau terus menanyakan hal yang sama?!" Mayoza kesal, itu karena dia bingung harus menjawab bagaimana lagi. Sebenarnya, dia lelah harus terus berbohong seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Ravin.
"Kenapa Ibu marah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jika mereka ingin harta yang kupunya, berikan saja hak mereka yang ada di dalam harta itu. Apa aku salah?"
"Ravin, mereka adalah orang yang jahat! Mereka tidak berhak menerima semua itu!"
"Apa karena aku bukan anak kandung Ayah? Apakah itu alasan kenapa dia sangat membenciku dan menginginkan hartaku?" Pertanyaan yang Ravin lontarkan membuat Mayoza semakin kesal.
"Iya! Iya, itu kenyataannya! Kau puas?!!"
Bukan hanya Ravin yang terkejut, tetapi Zhaw pun ikut terkejut dengan apa yang Mayoza katakan. Kenapa dia mengatakan semuanya sekarang? Bukankah ini bukan yang tepat?
"A-apa?" Ravin mulai berkaca-kaca. "A-aku bukan anak kandungnya?"
Mayoza mencoba menenangkan dirinya yang emosi. Bahkan dia tidak sadar kalau sudah mengatakan hal yang selama ini sangat dirahasiakannya.
"Kenapa Ibu tidak mengatakannya padaku? Kenapa Ibu merahasiakannya?!!"
"Ravin, itu semua tidak benar. Ibu hanya terbawa emosi tadi."
Ravin pergi meninggalkan Mayoza dan Zhaw. Ketika Mayoza ingin mengejarnya, Zhaw menahannya.
"Bu, jangan kejar dia. Biarkan dia sendiri dulu."
"Zhaw, aku benar-benar tidak berniat untuk mengatakannya. Aku tidak sengaja, aku terlalu terbawa emosi tadi." Maoyza menangis dan Zhaw menggenggam erat tangannya.
"Aku tau, Bu. Tapi semuanya sudah terlanjur. Ravin sudah terlanjur tau dan biarkan dia tenaga dulu, baru kita jelaskan padanya."
✨✨✨
Cheara senang bisa keluar dari rumah sakit yang telah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari. Abian susah mengurus semua kejutan yang tadi dia janjikan pada Cheara. Deman banyak membantunya, syukurlah dia bisa bertemu dengannya.
Di dalam taxi, Cheara teringat Ravin. Dia berniat untuk menjenguk Zhaw sekalian bertemu Ravin. Saat sampai di rumah sakit tempat Zhaw dirawat, Cheara langsung saja masuk dan mendapati Mayoza sedang menangis di samping Zhaw.
"Nyonya, kau kenapa?" Tanya Cheara panik.
"Cheara... Ravin telah..." Mayoza memeluk Cheara.
"Zhaw, apa yang terjadi?" Tanya Cheara pada Zhaw.
"Ravin telah mengetahui semuanya kalau dia bukan anak kandung Tuan Gauri."
"Apa?!" Cheara terkejut. Sepertinya bukan hanya dia, tetapi Abian pun ikut terkejut. Abian belum siap kalau harus dibenci oleh Ravin.
"Aku tidak sengaja mengatakannya. Aku terlalu emosi tadi." Mayoza masih menangis di pelukan Cheara.
"Nyonya, ini sudah terlanjur. Aku akan menenangkan dia. Aku akan mencoba membujuk dia untuk bisa memahami keadaan ini. Kau tenang saja."
Mayoza melirik Abian yang berdiri di belakangnya Cheara. Tatapan Abian penuh kebingungan dan kepanikan. Mayoza mencoba meminta maaf lewat tatapannya.
"Lalu, kemana Ravin?" Tanya Cheara.
"Aku tidak tau. Tadi dia langsung pergi saja." Jawab Zhaw.
"Aku akan mengunjungi apartemennya. Ayah, kau di sini saja ya. Tolong jaga Nyonya Mayoza dan Zhaw. Aku akan menemui Ravin sendiri."
"Apa kau merasa semuanya baik-baik saja?" Tanya Abian.
"Tentu saja. Aku harus segera pergi. Aku akan menghubungi Ayah jika semuanya telah baik-baik saja."
Cheara langsung pergi. Dia juga mempersiapkan dirinya untuk menerima amarah dari Ravin kalau sudah ikut merahasiakan soal kenyataan ini.
✨✨✨
Bekasi, 10 November 2020
[ 13 : 58 WIB ]