Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 15 ] : Bertemu



Akhirnya Cheara dan Ravin memutuskan untuk menceritakan kisah hidup mereka sebagai sesama teman, dipinggir pantai dengan udara dingin yang menusuk kulit. Itu adalah permintaan Cheara, sudah lama sekali ia tidak melihat laut dan pantai bersama orang yang ia sayangi. Cheara yakin, suatu saat nanti ia akan kembali melihat laut dan pantai bersama orang yang ia sayangi. Apakah semuanya telah terkabul?


"Entah apa yang membuat ayahku meletakkan kata 'Sea' di tengah namaku. Setelah tumbuh dewasa aku mulai memahaminya. Ayah dan ibuku selalu mengajakku mengunjungi pantai. Kami selalu bermain pasir, berlari saling mengejar dan aku sangat bahagia. Lalu kami duduk diatas pasir putih, memandangi luasnya lautan." Pandangan Cheara terus melihat luasnya lautan yang ada di hadapannya, sedangkan Ravin yang duduk di sampingnya terus memandangnya. "Ayah bilang, laut itu ibarat cinta yang ia miliki. Cintanya pada kami seluas dan sedalam lautan." Cheara membalas tatapan Ravin. "Mulai saat itu aku berharap dapat bertemu pria seperti ayahku. Mencintaiku setulus, seluas dan sedalam lautan. Aku berharap dapat duduk di pantai dan memandang laut bersama orang yang kucintai dan juga mencintaiku." Jelas Cheara.


Ravin hanya bisa menatapa mata Cheara. Ia mencari keadaan yang sedang Cheara rasakan. Sepertinya di satu sisi Cheara sedih karena kembali mengingat masa lalunya yang sulit, tapi di sisi lain ada kebahagiaan yang terpancar di matanya. "Apa kau bahagia bersamaku memandang indahnya pantai dan luasnya lautan?"


Dengan spontan Cheara manggut-manggut. "Iya, aku sangat bahagia. Kau membuatku sangat bahagia malam ini."


Ravin meraih wajah Cheara dengan kedua tangan lembutnya. "Kau harus percaya padaku kalau aku akan selalu ada untukmu kapan pun. Kunjungi aku jika kau butuh sesuatu. Katakan padaku jika kau ingin mengutarakan apa yang sedang kau rasakan. Lakukanlah tanpa ragu."


"Apakah kau bisa berjanji padaku?"


Ravin menjulurkan jari kelingking kanannya. "Janji!" Sambil tersenyum.


Cheara membalasnya, lalu ia memeluk Ravin dengan sangat erat. Ini pertama kalinya Cheara memeluk Ravin tanpa paksaan. Itu adalah ketulusan dari dirinya. "Terima kasih Ravin. Terima kasih kau sudah mau menjadi temanku."


Ravin pun membalas pelukan itu. Ia bahkan menjatuhkan wajahnya di leher Cheara yang lembut. "Terima kasih juga."


Cheara melepaskan pelukan itu. Ia langsung menanyakan hal yang tiba-tiba membuatnya menjadi sangat penasaran. "Ayo ceritakan semuanya padaku."


✨✨✨


Beberapa orang yang melihat perkelahian itu akhirnya berhasil memisahkan Rezvan dan Zhaw. Mereka membawanya ke pos keamanan milik restoran itu. Rezvan dan Zhaw diinterogasi, apa yang membuat mereka berkelahi. Tetapi tidak ada satupun yang berbicara. Pihak restoran mengenal siapa Zhaw dan Rezvan, lalu ia menghubungi Gauri untuk segera datang ke lokasi.


Tidak lama, Gauri datang tanpa dikawal atau didampingi asistennya. Ia datang dengan menggunakan pakaian sederhana. Tidak terlihat kemarahan di wajahnya. Sudah jelas, Gauri pasti membela anaknya.


"Tuan Rezvan berkelahi dengan Tuan Zhaw. Aku sudah bertanya, apa penyebab dari perkelahian itu. Namun mereka terus saja diam." Petugas keamanan itu menjelaskannya.


"Aku tau apa penyebab dari semua itu. Jadi izinkan putraku untuk bebas, aku menjaminnya."


"Lalu bagaimana dengan Tuan Zhaw?" Petugas keamanan itu bertanya lagi.


"Aku bukan keluarganya, jadi aku tidak mau menjaminnya."


"Baiklah kalau begitu." Petugas keamanan menyetujui dan mengizinkannya.


Zhaw buka suara. "Tapi Tuan Gauri, kau mengenalku dan aku pernah bekerja untukmu. Mengapa kau tega memperlakukanku seperti ini?"


"Setelah kau memutuskan untuk tidak lagi berurusan denganku, aku menganggap tidak pernah mengenalmu." Tuan Gauri dan Rezvan pergi meninggalkan Zhaw.


"Siapa yang bisa kuhubungi untuk menjaminmu, Tuan Zhaw?"


✨✨✨


"Malam itu tepat 2 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Tetapi malam itu juga adalah akhir dari hubunganku dengan wanita yang sangat aku cintai. Aku benar-benar sangat mencintainya. Aku berharap dia meminta maaf atas kesalahannya dan memintaku untuk kembali lagi dengannya, tetapi itu tidak terjadi. 6 bulan terakhir aku sudah mengetahui bahwa kakakku, Rezvan menjalin hubungan dengan Rachel di belakangku. Setelah mengetahui semuanya, aku memutuskan untuk langsung memaafkannya. Aku memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan kakakku, tapi ia malah memilih untuk tetap pada Rezvan dan meninggalkanku." Mata Ravin mulai berkaca-kaca.


"Salah satu cara agar Rachel dan Rezvan tidak bersatu, yang terpikir di otakku adalah ayahku harus mengetahui semua kebusukan Rezvan. Aku pun mengadu padanya, kalau Rezvan telah menusukku dari belakang. Ternyata ayahku tetap membela Rezvan. Ia berkata kalau aku yang salah karena tidak mampu membuat Rachel setia padaku seorang. Saat itu aku merasa semua orang di dekatku palsu, semuanya palsu. Tidak ada yang mencintaiku dan tulus padaku. Aku berusaha memohon pada Rachel agar kembali padaku, tetapi semuanya sia-sia. Ia memaksaku untuk melupakannya dan menganggap tidak pernah saling kenal. Hatiku terluka dan sangat hancur. Aku merasa hidup sendiri. Aku benar-benar merasa tidak berguna." Ravin berhasil menangis. Ia menutupi wajahnya dan menundukkan kepalanya. "Tidak ada yang tulus padaku."


Cheara memeluk Ravin. Ia berharap pelukan itu membuat Ravin yakin, masih ada yang tulus padanya, yaitu Cheara. "Kau harus percaya padaku, aku tulus padamu. Aku tulus berteman padamu. Aku akan membantumu untuk melupakan Rachel."


Mereka berdua benar-benar dalam keadaan yang sama, sedang berjuang untuk membahagiakan hidupnya masing-masing. Mereka mencari kebahagiaan dalam setiap kesedihan yang selama ini hadir di hidupnya. Akhirnya mereka saling menyemangati dan berjanji akan saling membantu untuk mencari kebahagiaan masing-masing.


Kring...


Pelukan mereka berakhir ketika terdengar ada panggilan masuk di ponsel Cheara. "Hallo."


✨✨✨


Satu orang yang terpikirkan oleh Zhaw adalah Cheara. Sebenarnya Ravin lah pilihan pertamanya, namun sudah lama Ravin tidak aktif dengan nomor ponsel yang Zhaw simpan. Akhirnya ia meminta petugas keamanan untuk menelpon Cheara. Ia merasa kalau Cheara adalah orang baru yang akan membuatnya bahagia.


"Baiklah, aku yang menjamin kebebasannya." Cheara pun keluar dari pos keamanan itu bersama Zhaw. Berkali-kali Zhaw mengucapkan terima kasih padanya. Jika tidak ada Cheara, mungkin saja Zhaw akan di tahan karena telah berkelahi di tempat umum dan mengganggu ketenangan restoran.


"Zhaw, sebenarnya apa yang terjadi padamu?"


"Sebenarnya..." Zhaw terkejut ketika melihat ada Ravin di hadapannya. Ravin menatapnya dengan tatapan dingin.


"Zhaw, ini Ravin temanku." Cheara memperkenalkannya pada Zhaw. "Ravin, ini Zhaw rekan kerjaku yang aku ceritakan di mobil tadi." Sebaliknya.


Mereka hanya diam dan saling menatap. Tatapan Zhaw menandakan ia sangat ingin berbicara pada Ravin. Tetapi pandangan Ravin berkata kalau ia masih sangat membenci teman masa kecilnya itu. "Kita pulang, ini sudah malam." Ravin menarik tangan Cheara.


"Tunggu Ravin, aku belum bicara pada Zhaw."


"Tidak perlu, lain kali saja. Kau harus istirahat." Ravin memaksa Cheara masuk kedalam mobil dan menguncinya secara otomatis.


"Jangan dekati Cheara." Ravin berbicara pelan sambil menatap Zhaw dengan tajam, lalu masuk kedalam mobilnya.


Zhaw hanya diam. Ia kembali merasa bersalah. Baru saja ia mencintai Cheara, ternyata Cheara adalah milik Ravin. Zhaw tidak ingin kejadian dulu terulang lagi. Ia tidak ingin menyakiti Ravin lagi. Padahal sebenarnya mereka tidak salah, yang salah adalah Rachel dan Rezvan. Harapannya untuk mendapatkan Cheara masih sangat awal untuk pupus. Namun demi persahabatan, ia rela melakukannya.


✨✨✨


Btw, ada masalah apa di masa lalu antara Ravin dan Zhaw?


Dasar ya si Rachel sama Rezvan, gak tau diri banget. Demi harta mereka jadi nyakitin banyak orang. Mereka pikir, bakalan nemu kebahagiaan dengan cara menyakiti orang lain? Karma is real, Guys :v


Bekasi, 22 Juli 2020


[ 22 : 22 WIB ]