Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 24 ] : Terungkap



Malam hari tiba. Ravin memang sudah berniat untuk menginap di rumah sakit. Waktu semakin malam dan Ravin mulai mengantuk. Tapi dia tidak ingin tidur sebelum Abian tidur. Akhirnya dia terus mencoba untuk tidak mengantuk dan melihat Abian yang setia ada di samping Cheara.


"Tuan, apa kau mau kopi?" Tawar Ravin pada Abian.


"Tidak perlu. Kau tidurlah, ini sudah larut malam. Kau akan sakit jika tidak istirahat." Jawab Abian tanpa melihat Ravin yang sedang duduk di sofa, posisinya tepat dibelakang Abian.


Ravin mengambil kursi kosong lalu memposisikannya di samping Abian. Dia mencoba untuk mengobrol dengannya. "Ada yang ingin kukatakan padamu."


Abian menengok. "Iya, silahkan."


"Sebenarnya ini semua salahku. Aku tidak sengaja mendorongnya saat aku hendak berkelahi dengan temanku." Abian terkejut mendengar pernyataan Ravin, tapi dia tetap bungkam. "Cheara mencoba meleraikannya, tapi tanganku malah mendorongnya hingga terjatuh. Aku minta maaf, Tuan. Kau boleh menghukumku." Kata Ravin sambil menundukkan kepalanya.


"Bagaimana bisa aku menghukum anakku sendiri setelah dia berani untuk mengakui kesalahannya. Aku sangat percaya kalau dia memang tidak sengaja melakukannya. Aku percaya, kalau anakku adalah orang yang baik." Ucap Abian dalam hati. Matanya terus memandang Ravin yang masih tertunduk di sampingnya.


Sambung Ravin. "Selama ini aku berusaha untuk menjaga Cheara, aku berusaha untuk membahagiakannya. Tapi sepertinya aku gagal. Kini aku malah menyakitinya. Aku sangat menyesal, Tuan. Tolong maafkan aku." Kini Ravin meraih tangan kanan Abian, berharap mendapat maaf darinya. "Tolong jangan jauhkan Cheara dariku. Aku berjanji akan menjaganya dengan lebih baik lagi." Mata Ravin mulai berkaca-kaca. Sungguh, dia tidak ingin jauh dari Cheara.


Abian terus diam, terpaku pada Ravin yang sepertinya sangat tulus pada Cheara. "Aku tidak akan marah apalagi sampai menghukummu. Aku percaya padamu dan aku tidak akan memisahkan kalian." Ungkap Abian dan tubuhnya langsung kaku ketika Ravin memeluknya, mendekapnya sangat erat sebagai ucapan terima kasih.


"Terima kasih, Tuan. Kau benar-benar orang yang baik. Wajar saja bila Cheara menjadi gadis yang baik, karena dia punya ayah sebaik dirimu." Ravin melepaskan pelukan itu. "Aku berjanji untuk selalu menjaganya."


"Berjanjilah dengan sungguh-sungguh." Kata Abian.


Ravin mengangguk kencang seakan sangat siap untuk berjanji. Dia memberikan senyuman yang sangat manis. Senyuman itu membuat Abian menangis, membuat Abian semakin merasa bersalah. Dia malu pada dirinya sendiri karena tidak pernah menemui anaknya sekalipun. Kini, anaknya sudah tumbuh menjadi pria yang baik dan tulus.


"Ravin, anakku. Ibumu telah berhasil mengurusmu. Kau tumbuh menjadi anak yang baik, sopan, dewasa dan tulus. Aku sangat menyayangimu, sangat merindukanmu dan ibumu. Maafkan aku telah pergi dan tidak pernah kembali. Aku sangat menyesal, sungguh." Batin Abian.


"Tuan, aku akan membeli kopi. Kau tunggu sebentar ya." Saat Ravin hendak pergi, Abian menahannya. Dia memegang tangan Ravin dan menyuruhnya duduk kembali. "Apa kau menginginkan sesuatu?"


"Jawab pertanyaanku dengan jujur, apakah kau menyukai Sea? Apa kau mencintainya lebih dari seorang teman?" Tanya Abian yang membuat Ravin kali ini bungkam.


Ravin sedikit berpikir, sebelum akhirnya dia memutuskan. "Sepertinya iya. Rasa tidak mau kehilangan dan selalu ingin membuatnya bahagia, sepertinya itu semua karena aku mencintainya lebih dari seorang teman."


"Apa kau tulus padanya?"


"Dia membuatku jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Aku benar-benar mencintainya, aku ingin memilikinya."


"Apa? Dia ingin memilikinya? Apa dia akan merasakan hal yang sama saat nanti dia mengetahui semuanya? Mengetahui kalau dia dan Sea adalah adik dan kakak walau tidak sedarah? Aku tidak bisa mengizinkan mereka untuk bersama lebih dari saudara. Ravin adalah anak kandungku dan mau bagaimana pun, Sea adalah anakku. Aku tidak ingin mereka menjadi sepasang kekasih."


✨✨✨


Di tempat lain, Ravin pulang bersama Zhaw dan Mayoza. Terlebih dahulu, Ravin kembali ke tempat kerjanya untuk mengambil motor Zhaw. Kemudian Mayoza meminta Ravin untuk kembali ke rumah sakit dan biarkan Zhaw yang mengantarnya pulang.


Saat sampai di apartemen, Mayoza meminta Zhaw untuk menginap. Zhaw berusaha untuk menolaknya, tapi Mayoza terus memintanya. Karena tidak tega, Zhaw pun mengiyakan. Saat sampai di dalam apartemen, Zhaw terlihat sangat canggung, seakan mereka baru saja saling mengenal.


"Zhaw, kenapa kau secanggung itu?" Tanya Mayoza yang pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Tidak, Nyonya. Aku baik-baik saja." Jawab Zhaw yang duduk di sofa ruang tengah.


"Dulu kau menganggapku sebagai ibumu sendiri. Bahkan aku pernah menyuapimu dan membacakan dongeng penghantar tidur untukmu." Mayoza datang membawa teh hangat untuk Zhaw. "Tapi kenapa sekarang seakan kau baru mengenalku?"


Zhaw terdiam sebentar. "Mungkin karena sudah lama tidak bertemu."


"Baiklah, Bu." Zhaw meminum teh hangat yang telah disajikan. "Kau istirahatlah. Ini sudah larut."


"Zhaw, apa hubunganmu dengan Ravin sudah baik-baik saja?" Tanya Mayoza.


"Aku harap begitu. Tapi entahlah, sepertinya Ravin tidak menginginkannya." Jawab Zhaw sambil menunduk.


Mayoza duduk di samping Zhaw sambil memberikan teh hangat untuknya. "Segeralah perbaiki hubungan kalian. Aku sangat sedih melihat kalian seperti musuh."


Zhaw menengok ke arah Mayoza. "Bisakah kau membantuku untuk menyelesaikan masalahku dengan Ravin?"


Mayoza memegang tangan kanan Zhaw. "Tentu saja, aku akan membantumu."


Zhaw memeluk Mayoza seperti ibunya sendiri. Walaupun Mayoza bukan ibunya, tetapi Zhaw menyayangi Mayoza. Dia adalah wanita yang baik.


✨✨✨


Zhaw kembali ke rumah sakit. Dia membelikan beberapa camilan untuk Abian. Dengan senang, Abian menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Ravin merasa, dia akan dengan mudah mendapatkan Cheara karena Abian sepertinya menyukainya.


Abian dan Ravin duduk di sofa sambil memakan camilan yang dibelinya. Ravin sedikit mengobrol tentang Cheara dan Abian berkali-kali bertanya tentang keseharian Cheara selama ada di kota itu.


"Sejak kapan kau mengenal Cheara?" Tanya Abian.


"Saat pertama kali dia datang ke kota ini. Dia kebingungan untuk mencari rumah sewa. Dia menolongku dari kecelakaan dan aku membalasnya dengan mencarikan rumah sewa untuknya tinggal." Penjelasan Ravin membuat Abian semakin serius.


"Kecelakaan? Apa yang terjadi padamu?"


"Apa aku boleh bercerita soal kehidupanku padamu?" Tanya Ravin yang entah kenapa merasa nyaman membahas soal kehidupannya pada orang yang baru dikenalinya.


"Tentu saja. Ceritakan padaku, anggap saja aku sebagai ayahmu." Ungkap Abian dengan perasaan sedih di hatinya karena dia benar-benar adalah ayahnya.


"Kekasihku berselingkuh dengan kakakku. Aku merasa di khianati dan sempat hampir depresi. Yang aku tau, hari ini mereka akan menikah. Tapi entahlah, aku tidak peduli lagi. Aku sudah lelah dengan hidupku." Ravin menceritakannya secara singkat. Dia mulai merasa lelah dengan hidupnya yang kacaw.


"Apa yang kau katakan? Mengapa kau tidak percaya bahwa dibalik kesulitan, akan datang kebahagiaan yang tak terkira?" Abian mengusap punggung Ravin dengan lembut. "Memangnya, apa yang terjadi di kehidupanmu sampai kau merasa tidak berguna?" Abian bertanya seperti itu karena dia ingin tau kehidupan anaknya selama ini.


"Ayahku adalah orang yang sangat jahat. Mungkin kau terkejut mendengar pernyataanku ini. Tapi sungguh, dia adalah pria yang kejam. Dia bukan hanya menyakitiku, tapi juga ibuku." Pandangan Ravin terus melihat ke arah Cheara yang terbaring lemah. "Ayah dan kakakku sepertinya tidak menyukaiku. Mereka bahkan mencoba untuk menghancurkanku yang sampai sekarang aku tidak tau apa alasannya. Aku merasa tidak nyaman di kehidupanku sendiri."


Abian benar-benar merasa hancur. Dia semakin yakin jika Ravin mengetahui semuanya, Ravin akan sangat membencinya sekalipun dia adalah ayah kandungnya yang telah pergi bahkan sebelum Ravin di lahirkan ke dunia. Tanpa sadar, Abian meneteskan air mata dan memeluk Ravin.


"Kau adalah pria yang kuat. Kau telah berhasil untuk menjaga ibumu selama ini." Ucap Abian.


Ravin dengan bingung, membalas pelukan Abian. "Tentu saja, aku bangga pada diriku sendiri karena telah mampu menjaga ibuku, bahkan tanpa ayahku."


✨✨✨


Bekasi, 3 Oktober 2020


[ 15 : 07 WIB ]