Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 17 ] : Hal penting apa?



Sudah berlalu 4 jam, ini saatnya Cheara untuk istirahat dan makan siang. Namun lokasinya saat ini jauh dari tempat kerjanya, jadi Cheara memutuskan untuk makan di luar saja. Ia mampir ke sebuah warung makan pinggir jalan. Cheara memilih untuk makan mie ayam jamur kesukaannya dengan ditemani es teh. Ketika sedang menyantap penuh keseriusan, ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Cheara langsung merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel.


"Pasti Ravin." Kata Cheara sambil mengunyah.


Ketika dilihat, ternyata Zhaw yang menelponnya. "Hallo, Zhaw. Ada apa?"


"Kau tidak ke sini? Dimana kau beristirahat?"


"Aku sedang makan mie ayam."


"Sudah berapa barang yang kau kirim?"


"Sudah 14 barang, kurasa aku bisa menyelesaikannya sebelum jam pulang kerja."


"Baiklah. Cheara, lihatlah langit."


"Untuk apa?"


"Cepat lihatlah sebentar."


"Iya-iya." Warung makan yang Cheara kunjungi adalah saung, jadi bisa dengan mudah melihat langit langsung.


"Apakah langitnya indah?"


"Iya, langitnya cerah. Indah sekali."


"Tentu saja, itu karena aku sekarang sedang tersenyum menatap langit dan langit menyampaikan keindahan senyumku agar kau melihatnya."


Cheara menjadi ikut tersenyum dengan apa yang Zhaw katakan. Ia selalu bisa membuat Cheara tertawa dengan kalimat yang lucu dan sedikit romantis. "Kau bisa saja."


"Yasudah, habiskan makananmu segera. Setelah itu tersenyumlah sambil menatap langit agar aku bisa melihatnya dari jauh."


"Zhaw, hentikan. Kalimatmu sungguh membuatku merinding."


"Aku ini pangeran cinta, bukan hantu."


✨✨✨


Lain halnya dengan Cheara, Ravin hari ini menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan siang bersama beberapa pegawainya sesuai jam istirahat mereka masing-masing. Ravin mentraktir pegawainya untuk makan sepuasnya, apapun yang mereka mau. Tentu saja, semua pegawai bersorak dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ravin memang dikenal sebagai seorang atasan yang baik, ramah dan penuh sopan santun. Jadi bukan keanehan jika Ravin melakukan hal itu. Hanya saja, sudah sejak lama Ravin tidak melakukannya karena suasana hatinya yang sedang kacau.


Sembari makan, para pegawai menyempatkan diri untuk mengungkapkan apa yang akhir-akhir ini mereka rasakan terhadap perlakuan Ravin.


"Tuan, kami sangat rindu dengan kebaikanmu ini." Kata Mutiara, salah satu pegawai wanita di restoran itu.


"Iya benar, kami sangat rindu dengan senyummu." Tessa mengikuti.


"Memangnya apa yang telah aku perbuat akhir-akhir ini?" Tanya Ravin sambil memakan es krim caramelnya.


"Akhir-akhir ini kau terlihat cuek, gundah dan sedikit tidak ramah. Awalnya kami pikir kau sedang sakit, tetapi lama-lama kami rasa tidak." Jawab Mutiara.


"Ada suatu masalah yang membuatku menjadi seperti itu. Maafkan aku ya." Ravin kembali memberikan senyuman pada mereka.


"Lalu apa yang membuatmu kini kembali tersenyum? Hal apa yang kembali membuatmu bahagia?" Tessa bertanya.


"Sepertinya Cheara, tapi kurasa tidak. Aku pun bingung mengapa dapat dengan mudah percaya padanya. Ada ikatan kuat dalam diriku ketika bertemu dengannya. Apakah Cheara ditakdirkan datang ke kehidupanku untuk membuatku sembuh dari luka sakit hatiku?"


"Tuan Ravin, mengapa kau melamun? Apakah yang kukatakan salah?" Kata Tessa.


"Tidak Tessa, kalian lanjut saja makannya."


✨✨✨


Cuaca hari itu sangat panas. Jaket kulit yang Cheara kenakan membuat terasa tambah panas. Untung saja sisa 2 barang lagi. Alamatnya pun berdekatan namun jauh dari tempat kerjanya. Waktu menuju jam pulang kerja tinggal 30 menit lagi. Dengan cepat, Cheara menuju alamat yang ada di list no 19. Barang yang di laundry-nya cukup banyak. Cheara sedikit kerepotan untuk mengambil baju, ia hati-hati agar bajunya tidak lecek.


Selanjutnya ia menuju ke alamat yang ada di list nomor 20, beda sekitar 8 rumah dari yang sebelumnya. Syukurlah, ia tidak terlalu jauh lagi untuk mengantarnya. Ketika Cheara hendak memberikan setumpuk laudryan, ia melihat ada banyak orang yang keluar masuk dari rumah itu. Mulai dari mengantar banyak sekali bunga, catering, dan lain-lain. Cheara mengingat-ingat kembali rumah itu.


"Ah, aku pernah ke sini dan melihat ada Rachel. Apakah ini rumah Rachel? Atau rumah Rezvan, kakaknya Ravin?" Kata Cheara dalam hati.


"Maaf nona, ada perlu apa ya?" Tanya pria sedikit tua yang menjaga rumah itu.


"Aku dari Laundry Aksewara, ingin mengantar laudryan." Cheara memberikan setumpuk laudryan yang sedari tadi dia bawanya. "Bolehkah aku bertanya?"


"Tentu saja, ada apa?"


"Apakah di rumah ini akan diadakan acara besar?" Cheara bertanya seperti itu karena ia melihat ada sebuah mobil yang baru datang, mengeluarkan gaun pengantin berwarna abu-abu dan Jas abu-abu setelan.


"Ah, tidak. Aku hanya bertanya saja."


"Aku pun tidak diberi tau akan ada acara apa di rumah ini. Yang kulihat, seperti pesta ulang tahun atau semacamnya." Jawabnya dengan bingung.


"Mana mungkin pesta ulang tahun mengenakan gaun pengantin?" Lagi-lagi, Cheara berambisi.


"Sepertinya ini akan jadi acara pribadi." Kata satpam tersebut.


Cheara pun berniat untuk segera pergi. "Baiklah kalau begitu, terima kasih paman."


Sepanjang jalan menuju tempat kerja, Cheara bertanya-tanya dalam dirinya. Apakah Ravin sudah tau soal ini? Jika Ravin tau, apakah dia akan baik-baik saja melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan kakaknya? Sepertinya Ravin tidak akan baik-baik saja. Ravin adalah pria dingin yang emosional. Malam itu, ia bahkan sampai hampir mati hanya karena mengejar Rachel. Apa lagi yang akan Ravin lakukan jika ia mengetahuinya?


Brug!


"Astaga!" Cheara terjatuh bersama dengan motornya. Kakinya kirinya tertimpa motor dan tangan kirinya terluka.


Mobil yang menyerempetnya tidak berhenti dan terus melaju dengan kecepatan tinggi. Orang-orang yang melihat Cheara terjatuh di tikungan, langsung mendekat dan menolong. Ada yang menyarankan agar Cheara di bawa ke rumah sakit, namun ia menolaknya. Bahkan Cheara kembali pergi dengan motornya.


✨✨✨


"Cheara, apa terjadi?" Tanya Zhaw penuh kekhawatiran.


"Suttt... Jangan bicara kencang-kencang, Zhaw. Aku baik-baik saja. Coba tolong kau periksa motornya, apakah ada rusak?" Cheara panik, ia takut motornya ada yang rusak akibat kecelakaan tadi. Maka dari itu, ia langsung membawa motor itu ke garasi tempat kerjanya.


Zhaw segera memeriksanya, namun tidak ada yang rusak. Hanya lecet di bagian sebelah kiri. "Tidak ada yang rusak. Apa yang terjadi sebenarnya, Cheara?"


"Tadi ada mobil yang menyerempetku."


"Apakah orang itu bertanggung jawab?"


"Tidak, ia langsung pergi. Tapi aku benar-benar tidak apa-apa."


"Syukurlah kalau begitu."


"Untung saja Zhaw tidak terlalu memperhatikan jaket di lengan kananku yang sobek dan membuat lenganku berdarah." Kata Cheara dalam hati.


Ting!


Pesan masuk dari ponsel Cheara berbunyi. Siapakah yang mengirimnya pesan? Sudah sejak lama ia tidak bertukar pesan dan biasanya menelpon.


Cheara, aku ada meeting sore ini. Kemungkinan aku pulang malam.


Maaf ya aku tidak bisa menjemputmu.


Kau pulangnya hati-hati ya.


Setelah dari kantor, aku akan langsung ke rumahmu.


See you...


"Zhaw, bisa antar aku pulang?"


✨✨✨


Waktu semakin sore, langit yang cerah perlahan berubah menjadi gelap. Matahari mulai tenggelam dan angin berganti menjadi lambaian sejuk. Meeting masih berlangsung. Ravin sedang membicarakan soal kontrak kerja samanya pada salah satu perusahaan yang mempercayai Restoran Shazihander's untuk mengisi hidangan di acara ulang tahun perusahaan itu. Bersama dengan para atasannya, Ravin terlihat lebih aktif. Itu dikarenakan kemampuan Ravin dalam menyampaikan segala sesuatunya dengan tata bahasa yang baik.


3 jam berlalu dan menunjukkan pukul 8 malam. Meeting itu selesai. Semuanya bubar, termasuk Ravin yang langsung berlari menuju mobilnya. Walaupun pekerjaan hari ini sangat melelahkan, tetapi Ravin merasa hatinya yang bahagia sejak pagi masih terasa. Ia melihat ponselnya yang dari tadi ia matikan. Ada 5 panggilan masuk dan 2 pesan dari Cheara.


Ada yang ingin aku bicarakan, Ravin.


Apakah kau akan pulang larut malam hari ini?


Ravin pun segera menelpon balik Cheara, namun tidak diangkat. Ravin mencoba lagi namun tidak diangkat juga. Dengan laju mobil yang kencang, Ravin segera menuju rumah Cheara. Ia menyempatkan untuk mengirim pesan suara pada Mayoza.


"Bu, hari ini aku pulang telat. Aku ingin berkunjung ke rumah Cheara. Kunci pintu rapat-rapat dan jangan buka pintu jika ada yang bertamu. Diam saja di dalam ya. Aku akan segera pulang."


✨✨✨


Bekasi, 16 Agustus 2020


[ 21 : 39 WIB ]