
Hari Senin yang membawa kebahagiaan untuk Zhaw, alasannya karena ia akan bertemu dengan Cheara. Sudah 2 hari ini tidak bertemu dengannya. Zhaw yakin kalau ia sepertinya jatuh cinta pandangan pertama pada Cheara. Selain cantik, Cheara merupakan wanita yang tangguh dan baik hati. Kesempurnaan itu yang membuat Zhaw jatuh cinta.
Setelah sampai di Laundry Aksewara, Zhaw langsung berlari menuju tempat penyimpanan barang yang akan segera dikirim menuju Customer. Zhaw pun menunggu Cheara di sana. "Astaga Cheara, kau membuatku gila." Katanya sembari terus tersenyum sendiri.
Ketika Cheara datang, Zhaw langsung merasa benar-benar tenang. "Cheara, kemana saja kau? Kenapa Sabtu kemarin tidak masuk? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ravin.
"Aku baik-baik saja. Bantu aku untuk bicara pada Bu Sandra ya. Aku takut karena Sabtu kemarin tidak meminta izin." Kata Cheara.
"Kau tenang saja, Bu Sandra orang yang baik. Memangnya kenapa kau tidak masuk?"
"Aku sakit, tapi kini sudah baik-baik saja."
"Ya ampun, ku kira kau tidak bisa sakit." Ledek Zhaw.
"Zhaw! Kau pikir aku ini robot? Robot saja bisa rusak, masa aku tidak bisa sakit?" Kata Cheara sambil manyun.
Zhaw menangkap bibir Cheara yang manyun. "Bibirmu ini, jelek sekali kalau begitu."
"Zhaw, ih!" Cheara memukul Zhaw sambil tertawa. Memang, Zhaw selalu bisa membuatnya tertawa.
✨✨✨
Ravin selalu datang pagi seperti biasanya. Ia membiasakan diri untuk breafing bersama para pegawainya. Membahas hal-hal yang terjadi di hari kemarin dan diperbaiki di hari ini. Ia selalu menyarankan untuk tetap menjaga kebersihan dan keramahan untuk para pelanggan. Oleh karena itu, Shazihander's Restauran terkenal akan kebersihan dan keramahan para pegawainya.
Hari ini jadwal kosong, tidak ada rapat atau tugas yang lain. Jika keadaan seperti ini, biasanya Ravin hanya menyapa para pelanggan. Ia mendengarkan keluh kesah dan saran dari mereka. Tetapi rata-rata pelanggan memberikan banyak apresiasi kepada restoran itu. Banyak juga yang memuji Ravin sebagai seorang manager yang ramah dan bertanggung jawab. Tak jarang, pelanggan wanita sering kali menyapanya dan meminta mengobrol dengannya. Itu salah satu alasan untuk dekat dengan manager tampan dan Ravin tidak bisa menolaknya karena akan mengecewakan pelanggan.
"Pak Ravin, ada yang ingin bertemu denganmu." Salah satu pelayan mendatangi Ravin.
"Siapa?"
"Pak Rezvan. Ia menunggu di ruang rapat."
Ravin pun segera menuju ke meeting room. Benar saja, Rezvan sudah ada di sana dengan kemeja abu-abu dan jaz hitamnya. Dari dulu Ravin mengakui bahwa Rezvan memang lebih tampan darinya, namun tidak ada hal dalam dirinya yang membuatnya menarik. Itu salah satu kelebihan Ravin, tampan dan menarik, tidak ada di diri Rezvan.
"Ada perlu apa?" Tanya Ravin yang baru masuk dan belum sempat duduk namun sudah membuka pertanyaan.
"Biasakan dirimu untuk bersikap sopan."
"Aku selalu sopan pada semua orang yang berlaku sopan padaku."
"Apa kedatanganku ke sini adalah hal yang tidak sopan?" Tanya Rezvan, sinis.
"Apa kau ingin membahas soal kekasihmu?" Lagi-lagi, Ravin langsung berbicara intinya.
"Awalnya tidak, tapi kurasa membahas soal itu sangatlah menarik."
"Pergilah, tidak ada hal penting yang harus kudengar."
"Oke baiklah, kita bahas hal yang sebenarnya ingin kubicarakan padamu." Rezvan bangun dari duduknya, mendekati Ravin. "Apa kau baik-baik saja?"
Ravin mencoba mengambil napas, lalu ia berniat untuk keluar dari ruangan itu. Tetapi apa yang Rezvan ucapkan, mbiat Ravin berhenti ketika hendak membuka pintu.
"Kembalilah ke rumah, bawa juga Ibu."
Ravin terkejut dan terdiam.
"Ayah ingin kau dan Ibu kembali lagi ke rumah. Ayah juga berniat akan memaafkan mu." Rezvan terus saja berbicara walaupun Ravin terus diam dan membelakanginya.
Ravin membalikkan tubuhnya, menatap Rezvan dengan tatapan dingin miliknya. "Memaafkan ku? Jadi dia tetap menyalahkan ku? Apa dia tidak sadar apa yang telah di perbuatannya?! Hah?!" Ravin langsung membentak. Suaranya kencang sekali.
"Jangan bicara seperti itu padaku! Kau tau kan aku tidak menyukai itu!"
"Dengarkan baik-baik, apapun yang terjadi dan dengan cara apapun aku tidak akan kembali ke rumah itu." Ucap rabin pelan, tepat di depan wajah Rezvan.
"Jika kau tidak mau, kau akan tau akibatnya. Kau itu kenal betul Ayah bagaimana kan? Ayah melakukan apapun yang ia inginkan dan dengan cara apapun."
"Aku tidak takut dengan ancaman kalian." Ravin kembali berniat keluar Sarai ruangan itu.
"Semua orang yang dekat denganmu, akan hancur seperti Zhaw. Kau tau kan apa yang telah terjadi pada Zhaw? Itu semua karena mu. Apa kau ingin, mereka yang dekat denganmu hancur sepertinya? Apa kau yakin akan baik-baik saja jika ibumu hancur seperti Tuan Madava?" Apa yang Rezvan ucapkan sungguh menyayat hati.
Ravin terdiam lagi. "Dengarkan baik-baik, apa yang terjadi pada Zhaw itu bukan salahku. Dan jangan pernah kau dan Ayahmu melukai orang yang dekat denganku! Aku tidak akan tinggal diam!"
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Hah?" Rezvan memang selalu menganggap Ravin sepele.
"Kurang ajar!" Ravin menonjok Rezvan. Emosinya mulai meluap. Akhirnya, mereka berada dalam baku hantam di ruangan itu.
✨✨✨
Sudah saatnya istirahat. Kebetulan lokasi Cheara saat itu jauh dari tempat kerjanya. Tidak mungkin ia kembali hanya untuk beristirahat, lalu pergi lagi. Bisa-bisa waktu istirahatnya habis di jalan. Cheara pun memutuskan untuk istirahat di warung makan pinggir jalan. Ia menemukan uang di tasnya, sepertinya Ravin yang memberinya. Ada surat yang membungkus uang senilai 500 ribu itu.
Satu lagi, belikan Cattarra makanan juga. Sehat selalu, aku menyayangimu:)
Temanmu,
Ravin.
Kalimat terakhir sangat jelas bahwa Ravin hanya benar-benar menganggapnya teman, hanya teman. Cheara menduga Ravin memasukkan uang ini ketika ia mengambil kotak obat dikamar Cheara dan melihat tas ransel, lalu memasukkannya.
"Aku juga menyayangimu, temanku." Kata Cheara sambil tersenyum.
Akhirnya, Cheara pun memesan makanan. Ravin memang penolong dalam hidupnya. Ravin benar-benar orang yang tulus.
Ketika Cheara sedang makan, ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dan itu dari Ravin. Cheara langsung mengangkatnya.
"Ravin, terima kasih ya uangnya. Nanti kalau gajiku sudah turun, akan ku ganti uangmu." Kata Cheara dengan mulut yang penuh makanan.
"Apa kau menggunakannya dengan baik?" Tanya Ravin dengan suara yang lesu.
"Tentu saja. Aku sedang makan di warung pinggir jalan. Kau sedang istirahat juga ya? Sudah makan?"
"Iya, aku sudah makan."
"Lalu, ada apa kau meneleponku?"
"Nanti aku akan menjemputmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Wah, baiklah. Kau tau kan dimana tempat kerjaku?"
"Aku lahir dan dibesarkan di sini, jadi aku sudah pasti tau."
"Astaga aku lupa." Cheara tertawa dan itu adalah hal yang Ravin suka, ia pun ikut tertawa.
"Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa nanti sore."
✨✨✨
Semua barang sudah diantar, Cheara merasa ini adalah bekerja yang sebenarnya. Bekerja paruh waktu sangatlah melelahkan. Ketika Cheara sampai di tempat kerja, seperti biasa Zhaw menunggunya di garasi.
"Cheara, bagaimana hari ini?"
"Sangat melelahkan." Jawab Cheara sembari memarkirkan motornya.
"Hari ini sangat panas, tetapi ketika melihat kau, aku merasa sangat sejuk." Zhaw memang seperti itu, selalu bisa membuat Cheara tertawa. Segala hal yang keluar dari mulutnya adalah lelucon, gombalan atau pun rayuan. Sungguh pria yang romantis.
"Aku ini bukan kulkas, Zhaw."
"Iya memang kau bukan kulkas, tapi kau penyejuk ruangan di hatiku." Lagi-lagi, Zhaw membuat gombalan dan kembali berhasil membuat Cheara tertawa.
"Zhaw, hentikan. Kau ini lucu sekali." Kata Cheara yang terus tertawa.
"Kau tau tidak mengapa hujan itu turunnya air?" Zhaw mencoba untuk menggombal lagi.
"Entahlah, aku tidak pandai dalam pelajaran sains." Jawab Cheara polos.
"Kalau jatuhnya Cheara, pasti banyak yang nungguin. Karena mereka menyukaimu." Zhaw tertawa karena gombalannya sendiri.
"Zhaw! Kau ini benar-benar membuatku sakit perut." Cheara terus tertawa sampai perutnya sakit. Tiba-tiba ponselnya berdering panggilan masuk.
"Hallo."
"Dimana kau? Aku sudah menunggumu di depan dari tadi."
"Astaga, aku lupa. Baiklah aku akan segera keluar. Tunggu ya." Cheara mematikan ponselnya.
"Siapa?" Tanya Zhaw.
"Temanku. Dia menjemputku dan sudah ada di depan. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa besok." Cheara langsung pergi.
"Aku menyukaimu, Cheara." Kata Zhaw pelan sambil tersenyum melihat Cheara pergi.
✨✨✨
Bekasi, 20 Juli 2020
[ 22 : 05 WIB ]