
Ravin pergi meninggalkan Zhaw agar tidak lebih lagi menyakitinya. Rasanya, Ravin ingin sekali menghajarnya lebih dari itu. Dia juga bingung pada dirinya sendiri, kenapa bisa sebenci itu dengan sahabatnya sendiri? Dengan orang yang sudah dianggap sebagai saudaranya.
"Zhaw, maafkan aku." Kata Ravin pada dirinya sendiri. Dia duduk di taman rumah sakit sambil merenungkan kesalahannya. "Aku pun tidak tau kenapa bisa sangat membencimu lebih dari kesalahanmu. Aku hanya tidak ingin kau kembali melakukan apa yang dulu pernah kau lakukan padaku. Aku tidak ingin kau mengambil Cheara, seperti kau mengambil Rachel."
Setelah hampir 20 menit lamanya, Ravin memutuskan untuk menghubungi Mayoza. Dia juga harus mengambil beberapa pakaian untuk menginap di rumah sakit, menjaga Cheara.
"Halo, Bu." Sapa Ravin pada Mayoza.
"Hallo, sayang. Ada apa kau menelponku?"
"Aku melukai Cheara, Bu."
"Apa? Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan padanya? Apa yang terjadi, Ravin?"
"Nanti akan ku jelaskan. Sekarang Cheara ada di rumah sakit."
"Tolong jemput ibu sekarang, Ravin. Ibu ingin melihat keadaan Cheara."
"Iya, aku segera pulang. Tolong siapkan beberapa baju untukku. Aku berniat menginap di sini untuk menjaga Cheara."
"Baiklah, Ibu akan menyiapkannya. Kau segera pulang ya. Hati-hati, sayang."
Ravin langsung mengakhiri panggilannya. Dia merapikan rambutnya sebelum pergi menuju mobil. Dia terus saja memikirkan perlakuannya kepada Zhaw tadi.
✨✨✨
Abian tidak punya uang sepeserpun. Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja, setidaknya dia akan mendapatkan uang untuk pergi ke kota, menemui Cheara. Dia menjadi kuli panggul dadakan di pasar. Dari pagi sampai sore, uangnya sudah terkumpul 100 ribu. Semoga saja cukup untuk ongkos nanti.
Saat sampai di terminal, Abian mampir sebentar ke sebuah warung untuk minum. Dia juga menumpang untuk mengisi daya baterai di ponselnya. Setelah menunggu sekitar 30 menit, bis jurusan yang Abian tuju sidah tiba. Baterai ponselnya terisi 30%. Lumayan, setidaknya bisa untuk menelpon Cheara.
Abian langsung menuju loket untuk membeli tiket dan segera naik ke bis. Dia mengambil posisi paling belakang. Setelah semua penumpang sudah di dalam, bis pun segera berangkat. Abian mencoba menyalakan ponselnya.
"Syukurlah ponselnya masih bisa menyala. Aku tidak sabar ingin memberi kabar pada Cheara. Dia pasti akan senang sekali kalau tau aku menyusulnya ke kota itu. Tapi, aku tidak tau alamat tempat tinggalnya." Kata Abian dalam hati.
Setelah ponselnya nyala, dia langsung mencari nomor Cheara. Tapi dia baru ingat kalau nomor ponselnya pasti sudah hangus karena tidak pernah diisi pulsa.
"Astaga, nomorku sudah hangus. Bagaimana caranya aku bisa menghubungi Cheara?" Abian mencari ide. Terlintas di pikirannya untuk meminjam ponsel salah satu penumpang yang duduk di sampingnya.
"Maaf, tuan. Bolehkah saya pinjam ponselnya? Saya ingin menghubungi anak saya yang tinggal di kota." Kata Abian dengan sedikit memohon.
"Bukannya kau punya ponsel?" Jawab penumpang itu yang bisa dibilang sedikit berumur.
"Saya baru ingat kalau nomor ponsel saya hangus."
Penumpang itu terlebih dahulu menilai penampilan Abian. Dia melihat dari ujung kaki ke ujung kepala. Mungkin di berpikir kalau Shin ini akan mencuri ponselnya.
"Saya bukan pencuri, Tuan. Saya hanya ingin meminjam ponselmu. Sebentar saja, tolong."
"Baiklah, ini." Orang itu memberikan ponselnya.
Abian mengambilnya. "Terima kasih, Tuan."
Abian langsung memasukkan nomor Cheara ke ponsel itu. Saat panggilan pertama, Cheara tidak mengangkatnya. Panggilan ke dua dan ke tiga juga tidak ada jawaban. Akhirnya saat panggilan terakhir di angkat.
"Hallo, Cheara. Ini ayah, Sayang. Ayah sedang di jalan menuju tempat tinggalmu. Tolong kirimkan alamat rumahmu, ayah akan segera ke sana." Ucap Abian panjang lebar.
"Oh baiklah, saya akan segera mengirimkan alamatnya lewat pesan."
"Loh, siapa kau? Apa aku salah sambung?" Tanya Abian bingung, karena yang mengangkat telponnya bukan Cheara.
✨✨✨
Sebelum pergi ke apartemennya, rabin terlebih dahulu ke rumah Cheara. Dia ingin memberikan Catatan makan dan membersihkan kandangnya. Cheara akan sedih jika Cattarra tidak terurus, apalagi sampai kelaparan. Saat sampai di depan rumah sewa Onny, Zissa yang juga baru pulang kuliah menyapanya.
"Hay, Ravin. Apa kabar?" Sapa Zissa.
"Baik, kau sendiri bagaimana?" Ravin balik bertanya.
"Aku juga baik-baik saja. Kau ingin menemui Cheara ya? Sepertinya Cheara belum pulang. Dia tidak ada di rumah sejak kemarin." Zissa menjelaskannya padahal Ravin sudah tau.
"Iya, aku sudah tau. Sekarang Cheara ada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan kecil."
"Apa?! Sungguh?! Astaga, aku mengkhawatirkannya." Kata Zissa terkejut.
"Sudah dulu ya. Ada yang harus aku kerjakan." Ravin langsung masuk ke dalam rumah Cheara. Tapi sebelumnya, dia sudah menemukan kunci rumah di tas Cheara.
Saat sudah ada di dalam rumah, Cattarra mengeong kencang. Sepertinya dia kelaparan karena dari pagi belum makan. Ravin menyiapkan makanan untuk Cattarra dan membersihkan kandangnya dengan cepat. Tiba-tiba, terdengar dering ponsel di kamar Cheara. Rabin segera masuk ke kamar dan melihat ada ponsel di atas kasur.
"Nomor siapa ini? Dia berkali-kali menelpon Cheara." Ravin sedikit berpikir sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. "Hallo?"
...
"Oh baiklah, saya akan segera mengirimkan alamatnya lewat pesan."
...
"Kenapa kau yang mengangkatnya? Kemana Cheara?"
Ravin bingung menjawab apa. Dia tidak mungkin jujur untuk saat ini.
"Dia meninggalkan ponselnya saat berkunjung ke rumahku. Aku akan segera mengirimkan alamat tempat tinggalnya."
"Oh, baiklah. Terima kasih."
Ravin mematikan panggilan itu. Dia langsung mengetik pesan yang berisi alamat tempat tinggal Cheara dan segera mengirimnya ke nomor itu.
"Ayahnya Cheara ingin datang? Bagaimana ini?" Tanya Ravin pada dirinya sendiri.
Setelah semua tugasnya selesai, Ravin berniat untuk meminta tolong pada Zissa. Telat sekali, Zissa ada di depan rumahnya. Dia menunggu Ravin keluar, kata minta diantarkan ke rumah sakit untuk melihat Cheara. Tapi Ravin menolaknya.
"Kenapa?" Tanya Zissa.
"Aku ingin minta tolong padamu. Ayahnya Cheara akan datang hari ini, dia sedang dalam perjalanan. Jika nanti dia sudah sampai, tolong antarkan ke alamat ini." Ravin memberikan alamat rumah sakitnya.
"Oh, baiklah."
"Terima kasih, Zissa. Maaf aku merepotkanmu."
"Tidak masalah, Ravin."
✨✨✨
Zhaw diizinkan untuk menemani Cheara di kamarnya. Cheara yang selalu ceria dan semangat, kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia wanita yang Zhaw mulai cintai, ternyata adalah kekasih sahabatnya. Awalnya Zhaw ingin lebih dekat lagi dengan Cheara, tapi sepertinya dia harus berhenti sebelum Ravin semakin membencinya. Walaupun dia tidak pernah mengkhianati Ravin, tetapi dia tidak ingin Ravin sakit hati.
"Cheara, aku mencintaimu. Aku juga mencintai Ravin. Aku tidak ingin melepaskanmu, tapi aku juga tidak ingin dibenci sahabatku. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Zhaw berbicara sendiri. Dia ada di sofa yang posisinya lumayan jauh dari ranjang Cheara. Dia takut kalau dekat-dekat, tiba-tiba ada Ravin datang.
Ternyata benar, Ravin dan Mayoza datang. Mayoza segera duduk di kursi samping Cheara dan langsung mencium tangan Cheara yang lemah. "Sayang, apa yang terjadi padamu? Cepatlah sadar, tolong." Mayoza berkali-kali mencium tangan Cheara.
Ravin hanya berdiri di sebrang Mayoza. Dia menatap Zhaw, tapi tidak seperti sebelumnya. Sepertinya, Ravin sedikit merasa bersalah. Terlihat jelas di wajah Zhaw luka lebam yang mulai bengkak. Di ujung bibirnya juga ada sedikit luka dan darah. Apa sebenarnya Ravin tidak tega dengan Zhaw?
Mayoza melihat Zhaw yang sedari tadi bangkit dari duduknya. "Zhaw? Apa yang terjadi padamu? Wajahmu terluka?" Mayoza memang selalu cemas dengan Zhaw. Dari kecil, Mayoza sudah menganggap Zhaw seperti anaknya sendiri.
"Aku tidak apa-apa, Nyonya." Jawab Zhaw sambil tersenyum seakan tidak ada rasa sakit yang kini dia rasakan di wajahnya.
"Tidak mungkin kau baik-baik saja. Apa kau berkelahi dengan Ravin?" Tanya Mayoza. "Ravin, apa kalian berkelahi? Apa kau yang memulai Zhaw?" Mayoza bertanya pada Ravin.
"Tentu saja tidak, Nyonya. Aku tadi ada masalah di tempat kerja. Tentu saja ini bukan karena Ravin." Zhaw kembali berbohong. Dia memang selalu melindungi Ravin. Dari dulu, Zhaw adalah pelindung untuk Ravin.
"Apakah itu benar, Ravin?" Tanya Mayoza.
Zhaw memberikan kode pada Ravin untuk mengiyakannya saja. Ravin pun mengangguk pada Mayoza. "Syukurlah jika kalian tidak bertengkar. Zhaw, biar kuobati lukamu ya."
"Tidak perlu, Nyonya. Tadi suster sudah mengobatinya." Jawab Zhaw, kali ini dia jujur.
"Zhaw, jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya. Bukannya kau sudah menganggapku sebagai ibumu sendiri? Panggil aku Ibu seperti dulu." Pinta Mayoza.
"Sekarang, aku lebih nyaman memanggilmu dengan sebutan Nyonya."
"Yasudah terserah kau saja. Kau dan Ravin sudah baikan kan?" Tanya Mayoza sambil tersenyum.
Zhaw dan Ravin yang berpandangan. Tentu saja Zhaw tidak bisa menjawabnya. Pastinya Zhaw akan menjawab kalau dia dan Ravin ingin baik-baik saja. Tapi Ravin pasti marah jika Zhaw menjawabnya seperti itu.
"Sudahlah, Bu. Jangan bahas itu dulu. Aku benar-benar tidak ingin membahasnya. Kita fokus saja dulu pada Cheara." Ravin malah mencari topik lain dan Mayoza hanya mengangguk.
"Cheara?!"
Tiba-tiba, ada pria berumur datang bersama Zissa dan langsung memeluk Cheara yang belum sadarkan diri. Dia menangis dan berkali-kali mencium wajah Cheara. Mayoza yang tadi duduk di samping Cheara, langsung segera bangkit dan berdiri di samping Ravin.
"Apa kau adalah ayahnya Cheara, Tuan?" Tanya Ravin.
Pria itu pun menganggut kepalanya dan memandang Ravin. "Iya, aku Abian. Aku ayahnya Cheara."
"Abian?" Mayoza terkejut saat melihat wajah pria itu dan saat mengetahui namanya.
✨✨✨
Waw, part kali ini lumayan panjang daripada part sebelumnya ya:v Haduh aku lagi MOOD BANGET pas ngetik part ini. Soalnya udah mulai ketahuan dan ada rasa-rasa baru gitu:v Apalagi soal Zhaw dan Ravin, rasanya aku nyesek pas ngetiknya:v
Semoga kalian gak bosen ya sama cerita ini:) Baca terus ya kelanjutan ceritanya ♥️
Bekasi, 19 September 2020
[ 21 : 55 WIB ]