Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 14 ] : Ternyata Ini Kenyataannya



"Ravin, kita mau ke mana?" Tanya Cheara ketika melihat lokasi yang belum ia ketahui.


"Ke tempat dimana banyak kebahagiaan dan luka bagiku." Jawab Ravin seperti biasa, datar.


"Kebahagiaan dan luka?"


"Iya, di tempat itu aku menemukan kebahagiaanku dan di tempat itu pula aku mendapatkan lukaku."


"Artinya bahagiamu mendatangkan luka? Memangnya ada bahagia seperti itu?"


Ravin mengusap kepala Cheara. "Kau ini tidak paham maksudku ya?" Kali ini, rabin menyunggingkan sedikit senyuman.


"Makannya, kau beri tau aku tentang apa yang belum aku ketahui."


"Yang belum kau ketahui soal diriku?"


"Iya, termasuk soal malam dimana kita pertama kali bertemu."


"Kau sangat penasaran soal itu?"


"Sebenarnya tidak. Aku hanya ingin tau saja."


"Setelah aku memberitahunya, kau juga harus memberitahuku apa yang terjadi padamu kemarin. Bagaimana?"


Cheras terdiam. Ia tidak mungkin membiarkan Ravin mengetahui masalah pribadinya. Setelah Ravin tau kalau Cheara adalah anak seorang tahanan, pasti Ravin akan menjauhinya seperti orang-orang.


"Jika kau tidak ingin memberitahuku tidak apa-apa. Mungkin itu masalah pribadimu."


"Tapi apakah kau bisa berjanji untuk menerimaku apa adanya?"


"Memangnya ada apa?" Tanya Ravin dengan ucapan yang lembut.


Cheara meraih tangan Ravin yang sedari tadi mengusap kepalanya. "Berjanjilah kalau kau akan selalu menjadi temanku, apapun yang terjadi padaku."


Tangan Ravin membalas genggaman Cheara. Ia pun mengelusnya dengan lembut. "Aku berjanji." Kata Ravin sambil tersenyum.


✨✨✨


Zhaw menyempatkan diri untuk mengunjungi warung makan pinggir jalan. Sepertinya hari ini ia sangat malas untuk masak sendiri makan malamnya. Ketika sedang menunggu pesanannya, Zhaw menerima pesan dari Rezvan.


Temui aku di Recident Greenee Restauran sekarang juga. Ku tunggu.


Zhaw berpikir sejenak, jika ia datang pasti masalahnya akan timbul lagi. Setelah kejadian 1 tahun lalu, Zhaw memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga Mahawira, termasuk Ravin dan Rezvan. Ia tau, mereka berdua adalah teman masa kecilnya. Tapi kejadian itu membuatnya merasa sudah cukup untuk berada di posisi saat itu.


"Tuan, ini pesananmu." Penjual itu memberikan apa yang Zhaw pesan.


"Oh, ini uangnya. Terima kasih." Kata Zhaw sambil tersenyum.


Tanpa berpikir panjang lagi, Zhaw langsung pergi menuju tempat yang Rezvan minta. Ketika berhubungan dengan keluarga Mahawira, Zhaw selalu teringat kembali masa-masa bahagianya dulu. Ia hidup damai dengan keluarganya dan keluarga Mahawira. Setiap hari, mereka pasti tertawa dan bahagia. Ravin si anak yang pendiam selalu menjadi bahan jail Zhaw dan Rezvan. Mereka sangat akur layaknya saudara. Sampai remaja, mereka selalu satu sekolah. Berangkat dan pulang bersama. Setiap hari mereka selalu bersama. Sampai pada akhirnya masa dewasa, masing-masing mulai sibuk bekerja. Jarang bertemu tapi masih sesekali menyempatkan waktu untuk mengobrol, membicarakan masa kecil mereka. Semuanya masih terasa hangat.


Seorang wanita telah membuat kehangatan persahabatan itu hancur. Kelicikannya membuat kepercayaan selama bertahun-tahun yang terjalin di antara mereka hilang dalam sekejap. Mereka yang dulunya sangat dekat, kini menjadi sangat jauh. Bahkan seperti tidak pernah saling kenal. Hingga saat ini, Zhaw masih berharap bisa kembali seperti dulu lagi bersama Ravin. Hanya bersama Ravin, tidak dengan Rezvan.


✨✨✨


Sebelum turun dari mobil, Ravin memberikan sweater tebal miliknya pada Cheara. Restoran pinggir pantai pasti memiliki suasana dingin saat sore menjelang malam hari. Bukan hanya memberikan, tetapi Ravin pun memakaikannya kepada Cheara.


"Aku bisa memakainya sendiri." Kata Cheara.


Mereka pun langsung turun. Ravin menggandeng Cheara dengan erat. Tangan Cheara terasa sangat dingin. Akhirnya Ravin menarik Cheara untuk berlari agar cepat sampai. Saat sampai di dalam, udaranya terasa jauh lebih hangat. Tidak terlalu banyak orang yang berkunjung ketika mulai malam. Cheara merasa tidak nyaman berada di tempat semewah itu.


"Ravin, jika kita ke sini hanya untuk makan, lebih baik kita pulang saja. Kita beli makanan di pinggir jalan dan makan bersama di rumahku."


Ravin menggenggam erat kedua tangan Cheara yang masih terasa dingin. "Ini pertama kalinya aku mengajakmu pergi. Jadikanlah ini hari bahagia untukku dan untukmu." Ravin menundukkan kepalanya dan menatap Cheara. "Apa kau tidak bahagia?"


"Aku senang jalan-jalan bersamamu, tapi tidak untuk ketempat yang mewah ini."


"Anggap saja aku Raja dan kau Ratuku, ini adalah istana kita."


Chera hanya nurut ketika Ravin kembali menariknya dan membawanya duduk di ruangan yang tertulis VIP Room. Ada 5 pelayan yang menunggu di depan pintu. Ketika masuk ke dalam ruangan itu, berbagai jenis makanan sudah tersedia. Tempatnya sangat cantik dan Cheara sangat menyukainya. Cheara melongok ketika masuk kedalamnya.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Ravin.


"Ravin, tempat ini cantik sekali."


"Lebih cantik kau, Cheara." Ravin tersenyum. "Ayo kita duduk."


"Manager Ravin, jika kau perlu sesuatu segera hubungi kami." Ucap salah satu pelayan.


Ravin hanya mengangguk lalu kembali menatap Cheara yang duduk di hadapannya. "Makanlah."


"Tidak, restoran ini bekerja sama dengan restoran tempat kerjaku."


"Apa kau tidak malu berteman denganku?"


"Aku lebih malu berteman dengan orang yang pura-pura peduli padaku, padahal hanya peduli pada hartaku."


"Ravin, apa ini semua untukku?"


"Iya, aku akan jadikan ini sebagai hal yang mampu membuatmu bahagia."


"Cukup kau setia menjadi temanku, aku sudah pasti senang sekali." Setelah mengetahui kalau Ravin adalah orang yang pandai dan bergelimang harta, Cheara merasa cukup menjadi temannya saja, tidak akan lebih dari itu.


Ravin mulai makan dan Cheara pun mengikutinya. Cheara terlihat sangat bahagia dan Ravin bahagia melihatnya. Hal ini membuat Ravin merasa lebih yakin kalau Cheara adalah orang yang tulus padanya. Wanita lugu yang ada di hadapannya adalah seorang yang tangguh dan membawa kenyamanan untuknya. Tapi entah kenapa, perasaan Ravin masih tetap pada Rachel. Ia masih mencintainya sekalipun sudah tersakiti berkali-kali oleh Rachel. Ia benar-benar sangat mencintainya.


✨✨✨


"Mengapa kau kembali mencari ku? Ada apa lagi? Bukannya sudah kubilang, jangan temui aku lagi!" Zhaw selalu emosi ketika bertemu dengan Rezvan. Masa lalu selalu terbayang-bayang di pikirannya ketika sedang berhadapan dengan Rezvan.


"Jangan membentakku seperti itu! Kaulah yang membuat semua masalah ini hadir! Jadi jangan pernah kau salahi diriku!"


"Jika saat itu kau tidak mengancamku, aku tidak akan melakukannya!" Zhaw semakin marah. Untung saja mereka berada di luar restoran itu, tepatnya ada di parkiran. Jadi, tidak ada orang di sana.


"Dengarkan aku baik-baik, aku mengancammu karena aku ingin kau merahasiakan apa yang telah kau ketahui tentang Ravin."


"Persoalan kalau Ravin bukanlah anak dari keluarga Mahawira?! Itu maksudmu?!"


"Benar sekali. Hal itu yang membuatku takut kalau kau mengatakan yang sebenarnya pada Ravin, jadi aku mengancammu untuk diam atau aku tidak akan memberikan biaya pengobatan untuk ibumu saat itu."


"Kau tega sekali! Kau memanfaatkan uang hanya untuk membuat orang lain sengsara!"


"Apa kau tau alasan mengapa aku ingin kau menyembunyikan kebenaran itu dari Ravin?"


"Karena Ravin adalah seorang pemegang kekuasaan sebenarnya, kekuasaan yang dimiliki Mahawira saat ini. Jika Ravin mengetahui kalau dia bukan anak dari keluarga Mahawira, pasti kau yang akan diusir dan terlepas dari semua kekayaan Mahawira. Dan sebenarnya semua itu adalah milik keluarga Sayuda, Ayah kandung Ravin. Benarkan?"


"Sempurna. Kau mengetahui semuanya. Itu adalah alasan kenapa aku mengancammu untuk tetap diam sampai sekarang."


"Karena kau belum berhasil mendapatkan semua harta itu. Jadi kau akan mempertahankan Ravin sampai ia menyerahkan semua hartanya pada Mahawira. Benar kan?"


"Aku harus membuat Ravin percaya kalau dia bukanlah anak kandung Mahawira dan semua kekayaan yang dimilikinya, sepenuhnya milik Mahawira dan tidak akan diberikan sepeserpun padanya."


"Dasar licik!" Zhaw menonjok Rezvan sampai terjatuh ke tanah. "Aku tidak akan membiarkanmu melukai Ravin!"


"Aku juga tidak akan membiarkanmu mengatakan semuanya pada Ravin. Jika kau berani melakukannya, aku tidak akan diam. Aku telah mampu membuat ibumu meninggal karena kau telat mengambil keputusan, jadi aku pun mampu membuat hidupmu seperti itu. Paham?!"


✨✨✨


Setelah selesai makan, Ravin mengajak Cheara untuk keluar. Melihat pantai dan laut yang tenang di malam hari. Udaranya terasa sangat dingin menusuk kulit. Cheara sudah lama tidak membahagiakan dirinya. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama Cheara lupa rasanya bahagia. Rabin menggenggam tangan Cheara untuk memberikan rasa hangat. Pandangan Cheara terus pada laut dan pantai.


"Kenapa aku tidak boleh memanggilmu sea?" Tanya Ravin.


"Karena itu adalah panggilan spesial dari ayah dan ibuku. Hanya orang spesial yang boleh memanggilku dengan nama itu."


"Apa aku bukan orang spesial untukmu?"


Cheara merasa kalau ucapannya salah. "Ravin, aku tidak bermaksud begitu. Kau temanku, kau sangat penting untukku."


Melihat Cheara yang merasa bersalah, Ravin memeluknya. "Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu. Aku berharap, kau adalah temanku yang sebenarnya."


"Kapan kau akan menceritakan semuanya padaku?"


Ravin melepaskan pelukannya. "Kukira kau sudah melupakannya."


"Ayo ceritakan. Apa yang terjadi padamu malam itu?"


✨✨✨


Jadi di part kali ini sudah terungkap ya ada hubungan apa antara Zhaw, Rezvan dan Ravin. Sudah ketahuan juga bahwa Rachel adalah awal masalah itu terjadi dan Rezvan adalah dalangnya. Kejam amat ye sama adik sendiri:v


Kalian sendiri, kalau nemu cewe kek gitu di kehidupan kalian gimana? Butuh pisau, pistol, parang atau gergaji? (Bercanda:v)


Jangan ya guys, kita harus selalu berlaku baik, sekalipun sama orang yang jahat sama kita:)


Bekasi, 21 Juli 2020


[ 23 : 04 WIB ]