Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 8 ] : Terima Kasih Ravin



Kaki Cheara akibat pukulan balok yang diberikan oleh pencuri malam itu masih terasa sedikit sakit. Pasalnya, luka memar itu ada di lutut dan pergelangan kaki. Sepertinya, pencuri itu sengaja memukul dibagian tersebut agar Cheara tidak mampu berlari mengejarnya. Namun sepertinya ia masih mampu berjalan walau sedikit pegal karena harus terpincang-pincang. Ia jalan cukup jauh, sekitar 2 kilometer. Cheara merasa sangat lelah hingga akhirnya ia menggunakan sedikit uang simpanannya untuk naik angkutan umum. Uang yang seharusnya ia gunakan untuk pulang kampung hari Minggu nanti harus terpakai, tapi ia rasa itu masih cukup.


Setelah sampai di gang sempit tempat Nek Arre tinggal, Cheara langsung berlari menuju rumah Nek Arre. Terlihat banyak orang yang seperti sedang melihat pertunjukkan. Ternyata mereka sedang berdebat dengan 2 rentenir bertubuh besar yang kemarin. Melihat Nek Arre tersungkur di jalan, Cheara langsung menerobos kerumunan itu dan dengan kasar memberi tonjokan pada wajah salah satu rentenir yang diketahui namanya adalah Tohang dan temannya adalah Rengko.


Sontak saja itu membuat semua orang yang tadi berdebat dan mencoba menolong Nek Arre langsung terdiam. Mereka melihat kekesalan yang serius di wajah Cheara. Tidak ada yang berani melakukan hal itu pada Tohang dan Rengko karena bisa saja mereka memanggil pasukannya yang lain. Tanpa rasa takut, Cheara menendang perut Tohang dan Rengko dengan cepat hingga mereka berdua terjatuh. Kejadian itu membuat warga yang melihatnya ikut bereaksi dan langsung memukul mereka berdua. Cheara merasa sedikit aman, ia dan warga yang lain mencoba membangunkan Nek Arre yang terjatuh.


Bugh!


Posisi Cheara yang membelakangi Tohang membuatnya mudah di serang. Kaki Tohang yang panjang mendorong Cheara dengan kencang. Hal itu membuat Cheara terjatuh dan kepalanya membentur bangku di sampingnya. Cheara melakukan upaya agar ia tidak jatuh ke tubuh Nek Arre yang rentan, jadi ia mengarahkan kepalanya agar jatuh ke samping dan membuatnya membentur bangku. Ternyata hal itu membuat kepalanya bocor karena terbentur tepat di bagian sudut bangku. Setelah warga membantu Nek Arre duduk di bangku, mereka langsung membantu Cheara untuk duduk di samping Nek Arre. Mereka mencari cara agar darah yang keluar di kepala Cheara tidak keluar lebih banyak lagi.


Cheara merasakan sedikit pusing dan perlahan semakin pusing. Tak lama, seseorang datang dengan pakaian jauh lebih bagus dari pada warga yang ada di sana. Orang tersebut ternyata adalah Ravin. Ia datang dan langsung menyuruh warga menghentikan hal itu. Tohang dan Rengko langsung bangun dan berdiri. Ravin menunjukkan kartu identitasnya dan membuat mereka semua terdiam kaget.


"Apa kau mengenalku?" Tanya Ravin pada Tohang dan Rengko.


"I-iya tentu, Tuan. Kurasa bukan hanya aku dan Rengko yang mengenalmu, namun mereka semua juga pasti tau siapa itu keluarga Mahawira." Jawab Tohang yang sedikit meringis kesakitan.


"Apa yang terjadi?"


Salah satu warga menjawab pertanyaan Ravin. "Mereka adalah rentenir yang kejam. Mereka membuat kami sangat takut untuk melawan jika mereka melakukan kekerasan oleh Nek Arre dan warga yang lain. Bahkan kami terlalu takut untuk melaporkan mereka ke polisi."


"Apa ini semua masalah hutang?" Tanya Ravin dengan nada dingin.


"Iya, Tuan. Itu benar. Nenek tua itu," Tohang menunjuk ke arah Nek Arre. "Dia berhutang banyak padaku. Sudah beberapa tahun lalu dan ia belum juga melunaskannya. Jadi wajar bukan bila aku kesal?"


"Tuan, tolong maafkan kami. Jangan laporkan kami ke polisi." Tiba-tiba Rengko memohon pada Ravin. Secara, Ravin adalah orang penting. Jadi mereka pasti takut padanya.


"Aku tidak akan melakukannya jika kalian berhenti melakukan itu di kota ini. Kedamaian di kota ini telah hancur karena kalian!" Ravin langsung marah dan itu pertama kalinya Cheara mendengar suara Ravin yang sangat kejam.


"Baik, Tuan. Kami berjanji, tapi kami tidak akan pergi jika uang kami belum kembali."


"Berapa hutang Nenek itu?"


"125 juta. Itu sudah dengan bunganya, Tuan. Memang itulah cara kami mencari uang bukan?"


"Pegang kartu namaku ini dan kembali lagi besok. Aku akan melunaskannya. Sekarang pergilah tanpa mengucapkan sepatah kata pun."


Dengan cepat, Tohang dan Rengko langsung pergi tanpa pamit. Semua warga pun ikut pergi ketika melihat pandangan Ravin yang dingin dan menakutkan pada mereka semua. Ia segera mendekati Cheara dan Nek Arre yang terduduk lemas di bangku panjang tepat di depan rumah.


"Kau tidak apa-apa?" Seketika Ravin menjadi jauh lebih manis dari sebelumnya. Wajahnya yang penuh amarah dan menakutkan, kini berubah menjadi pria yang penuh dengan kelembutan. Entah kenapa Cheara merasakan hal itu.


"Aku baik-baik saja."


"Apa kau baik-baik saja, Nek?" Tanya Ravin pada Nek Arre.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih ya kalian sudah mau membantuku. Aku sungguh senang bisa bertemu kalian."


"Nek, mau kah kau tinggal denganku? Itu akan membuatmu hidup lebih aman." Pinta Cheara yang masih terus menutupi kepalanya yang berdarah dengan kain.


"Tidak perlu. Aku sudah berjanji pada suamiku untuk tetap berada di rumah ini selamanya, bahkan jika salah satu dari kami sudah tidak ada. Aku akan selalu bersama dengan kenangannya di sini." Ucapan Nek Arre membuat Cheara menangis. Ia sangat merindukan sosok Ibu di hidupnya.


Tiba-tiba Cheara meringis kesakitan. "Argh!"


"Cheara, ada apa?" Tanya Ravin penuh perhatian.


"Kepalaku, sakit. Kepalaku terasa sangat pusing." Cheara mencoba menekan kepalanya namun malah terasa lebih sakit.


"Ayo kita ke rumah sakit."


✨✨✨


"Ravin?"


Cheara memanggil pria yang sedang tertidur di lengannya itu. Pria itu adalah Ravin. Mengapa ia ada di sini? Bukankah ia juga baru pulang dari rumah sakit? Apakah Ravin semalaman menemaninya di rumah sakit? Jika benar, mengapa ia tidak tidur di sofa saja? Mengapa ia melakukan hal yang sama dengan apa yang Cheara lakukan saat Ravin di rumah sakit?


Cheara membiarkan Ravin tetap tidur. Wajahnya terlihat jauh lebih tampan. Sejauh Cheara mengenalnya, sebenarnya Ravin adalah pria yang baik dan penuh perhatian. Ia adalah sosok pria yang sangat dikagumi banyak wanita. Namun entah apa yang terjadi hingga membuat dirinya dingin dan tertutup. Cheara belum berani menanyakan tentang hal itu sekalipun ia sudah Ravin anggap sebagai temannya. Cheara hanya merasa sangat tidak pantas berteman dengan Ravin hingga sejauh ini, rasanya aneh dan canggung.


Ketika Cheara melihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Bukankah seharusnya Ravin bersiap-siap untuk bekerja? Namun rasanya tidak tega jika harus membangunkannya. Tidurnya sangat tenang dan pulas. Cheara tidak perlu membangunkannya, ternyata Ravin tiba-tiba bangun. Matanya yang masih sayup menatap Cheara dengan lembut sambil memberikan sedikit senyuman hangat di pagi hari.


"Selamat pagi, Cheara." Sapa Ravin.


"Pagi juga, Ravin. Mengapa kau membawaku ke sini? Sudah ku bilang kan, bawa saja aku pulang."


Tanpa jawaban, Ravin terus menatap Cheara. Setiap kali ditatap oleh Ravin, Cheara seperti menemukan sesuatu. Ravin seperti sedang mencari sesuatu di diri Cheara. Entah apa yang ia cari, tapi sepertinya Ravin mencari ketulusan dari seseorang dengan cara menatapnya.


"Apa menatap seseorang adalah hobimu?" Tanya Cheara dengan lembut.


"Jika iya kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"


"Jika itu hobimu, aku tidak menyukainya. Jika itu membuatmu merasa nyaman, lakukanlah."


"Mengapa kau terus berbicara soal kenyamanan? Apa aku terlihat menyedihkan bagimu?" Pertanyaan Ravin membuat Cheara diam. Ia takut melakukan kesalahan.


"Bukan itu maksudku. Aku pun tidak tau mengapa aku terus berkata seperti itu padamu. Aku hanya merasa, sepertinya hidupmu terasa sangat sulit. Jadi aku senang jika mampu membuatmu nyaman."


"Apa itu suatu ketulusan darimu?"


"Menurutmu apa itu palsu?"


"Aku harap tidak."


"Aku akan tulus padamu."


Kalimat itu berhasil membuat Ravin membeku. Ia membiarkan memberikan tatapan yang membuat Cheara tidak mampu lagi berkata-kata. Cheara pun kaget ketika kalimat itu keluar dari mulutnya. Ia takut Ravin salah paham dalam mengartikannya.


"Terima kasih sudah tulus ingin berteman denganku."


"Kita adalah teman?" Tanya Cheara dengan spontan.


"Iya tentu, kau mengiyakannya waktu itu."


"Jika itu membuatmu nyaman, aku sangat senang."


✨✨✨


Di part kali ini aku cuma membuat 2 situasi. Situasi pertama masalah Nek Arre dan situasi kedua masalah Cheara dan Ravin. Entah kenapa di part ini susah bikin jeda :v Rasanya kek lebih bawel dari part sebelumnya :v


Thanks to reading 💙


Bekasi, 2 Juli 2020


[ 23 : 23 ]