Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 20 ] : Kurang Ajar



Cheara sudah terbiasa bangun pagi, tapi tidak biasa bangun tanpa alarm di ponselnya. Hari ini, Cheara terbangun karena sadar kalau ponselnya tertinggal di atas kasur saat ia hendak memasukkan bajunya ke dalam tas untuk menginap di rumah Ravin. Biasanya, dia bangun jam 4 atau 5 pagi. Saat di rumah Ravin pun, Cheara tetap bangun lebih awal dari Mayoza dan Ravin. Dia mandi, mengenakan baju kerjanya dengan rapi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan tanpa membangunkan Mayoza. Baru saja Cheara membuka kulkas, Mayoza datang sambil mengikat rambutnya.


"Astaga Cheara, kau sudah bangun sepagi ini? Bahkan kau sudah rapi dengan baju kerjamu."


"Iya, Bi. Aku terbiasa bangun sepagi ini."


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku ingin membuat sarapan untuk kalian."


"Em, baiklah. Aku belum belanja lagi, di kulkas hanya ada telur dan puding." Mayoza duduk di kursi meja makan. "Di sini ada roti dan selai kacang."


"Bolehkah aku membuatkan kalian nasi goreng dengan telur mata sapi?"


"Kalau kau tidak keberatan, tentu saja boleh. Aku penasaran sekali dengan masakan calon menantuku ini."


Hah?


Calon menantu?


Cheara terdiam di depan kulkas yang masih terbuka. Dia membisu dengan jantung yang berdebar dan otak yang mencerna apa maksud dari pernyataan Mayoza.


"Ah, Cheara. Aku hanya bercanda. Ravin bilang padaku kalau kau dan dia hanyalah teman, tidak lebih. Walaupun aku ingin kalian lebih dari teman." Mayoza kembali menyatakan sesuatu yang membuat Cheara lagi-lagi terdiam.


Ravin mengatakan itu?


Sungguh?


"Pagi, Bu." Ravin tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Mayoza.


"Pagi sayang. Tumben sekali kau sudah bangun jam segini?" Kata Mayoza sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.


Tanpa menjawab, Ravin memperhatikan Cheara yang terdiam kaku di depan kulkas. "Apa yang kau lakukan di sana, Cheara? Apa kau kepanasan?"


Cheara yang sadar kalau posisinya saat ini teramati, ia langsung mengambil telur dan menutup kembali kulkasnya. "Ah tidak. Aku ingin membuat nasi goreng telur mata sapi untuk kalian."


"Tidak perlu, biar aku saja yang membuatnya." Ravin mendekati Cheara yang kini sudah ada di depan kompor.


"Tidak Ravin, biar aku saja. Ibumu ingin mencoba masakanku."


Ravin berdiri di samping Cheara yang sedang mengiris cabai, bawang merah dan bawang putih. "Baiklah, kalau begitu aku ingin mandi dulu." Senyum Ravin di pagi hari.


✨✨✨


Suasana bebas yang sudah dirindukan Abian sejak 1 setengah tahun, membuat dirinya kini bersyukur sambil mengalir air matanya. Ia berjalan entah kemana yang akan ditujunya. Tidak ada tujuan untuknya pulang. Abian ingin menghubungi Cheara, namun ponselnya mati karena tidak pernah diisi baterai. Pihak kepolisian sejak malam tadi tidak dapat menghubungi Cheara untuk memberikan kabar kalau ayahnya resmi bebas hari ini karena laporan terhadapnya telah di tarik.


Abian terus berjalan sambil membawa tas jinjingnya yang lumayan berat. Ia benar-benar tidak tau harus kemana. "Cheara, kau dimana? Aku sangat merindukanmu." Kata Abian.


Tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya. Itu adalah mobil milik Dheto, seorang rentenir yang sudah mengahasut warga dan membuat Abian dipenjara. "Wah, selamat tuan Abian. Aku ucapkan selamat atas kebebasanmu."


Abian memandang Dheto penuh kebencian. "Apa yang telah kau lakukan pada anakku?"


"Aku menginginkan anakmu menjadi istri mudaku. Tetapi itu hanya rencana saja. Ternyata anakmu mampu membayar semua hutangmu bahkan memberikan lebih banyak uang padaku."


"Dimana anakku sekarang?!"


"Aku tidak tidak tau dimana anakmu sekarang, karena aku sudah tidak peduli dengan kalian." Dheto bersiap untuk pergi. "Semoga kau berhasil menghadirkan bahagia di hidupmu. Sampai jumpa lagi, tuan Abian. Jika kau butuh uang, hubungi saja aku ya." Dheto pun pergi.


✨✨✨


Selesai sarapan, Ravin terlebih dahulu mengantar Cheara ke tempat kerjanya. Cheara berpamitan dengan Mayoza dan Mayoza memberikan ciuman pada Cheara, terlihat sekali bahwa Mayoza begitu menyukai Cheara.


"Sering-seringlah menginap di sini." Ucap Mayoza. "Aku titip Ravin ya. Aku tau, hanya kau yang dapat membuat Ravin bahagia. Benar kan, Ravin?" Mayoza melirik Ravin.


Ravin dan Cheara hanya tersenyum lalu mereka pergi. Sesampainya di Laundry Aksewara, Cheara melihat Zhaw yang juga baru datang. Cheara jadi teringat dengan kenyataan kalau Ravin dan Zhaw sudah saling mengenal, bahkan mereka bersahabat sejak kecil.


Ravin pergi dan Cheara segera berlari mendekati Zhaw yang ada di parkiran. "Zhaw, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Cheara dan Zhaw mengangguk sambil tersenyum.


Mereka pergi ke kantin yang tidak terlalu ramai. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Zhaw sambil meminum teh yang dibelinya.


"Soal kau dan Ravin, kalian sudah saling mengenal kan?" Cheara langsung bertanya ke intinya.


Zhaw terkejut dengan pernyataan Cheara. "Tentu saja aku mengenalnya. Kan kau yang mempertemukan kami." Jawab Zhaw sedikit gugup.


"Jujur saja, Zhaw. Kalian sudah saling mengenal, jauh sebelum aku mempertemukan kalian kan?"


"Kau tau dari mana?"


"Ibunya Ravin yang tidak sengaja membahas soal masa kecil kalian. Sudah kuduga sejak awal kalau kalian sudah saling mengenal." Ucap Cheara panjang lebar.


"Baiklah, apa yang kau katakan memang benar." Akhirnya Zhaw mengakui.


"Lalu, mengapa kalian seperti tidak saling kenal?" Tanya Cheara lebih dalam lagi.


"Apa sudah seharusnya kau mengetahui ini?" Sepertinya Zhaw ragu untuk memberitahunya.


"Tolonglah, Zhaw. Tolong beritahu aku. Ada hal penting yang harus kuberi tau padamu." Kata Cheara.


"Tentang apa?" Zhaw balik bertanya.


"Aku akan memberitahunya setelah kau menjawab pertanyaanku tadi."


Zhaw bersiap untuk bercerita. "Aku dan Ravin sejak kecil memang bersahabat. Kami sangat dekat, bahkan seperti adik dan kakak. Aku juga dekat dengan Rezvan, kakaknya Ravin. Tapi saat kita dewasa, masalah percintaan membuat persahabatan kami hancur. Rachel dan Rezvan adalah penyebab semuanya. Aku yakin kau sudah mengetahui siapa Rachel. Dia wanita yang jahat. Ravin mencintai Rachel lebih dari apapun, bahkan sampai saat ini. Rachel selingkuh dengan Rezvan dan membuat Ravin sangat terluka." Zhaw menarik napas panjang. "Lalu aku mencoba untuk membantu Ravin. Aku mengunjungi kantor tempat Rezvan bekerja. Yang aku dapatkan adalah kenyataan bahwa Ravin bukan anak kandung dari Gauri Mahawira, ayahnya Ravin. Aku mendengarnya langsung dari Gauri dan Rezvan. Ketika mereka tau bahwa aku mendengar percakapan mereka, aku langsung diancam untuk menutup rahasia itu dari Ravin. Bertahun-tahun aku menyembunyikannya dari Ravin. Hingga pada akhirnya aku difitnah oleh Rezvan, kalau aku berpacaran dengan Rachel dan Rachel membenarkannya. Rezvan dan Rachel telah bekerja sama sebelumnya. Itu yang membuat Ravin hingga kini membenciku." Kata Zhaw panjang lebar.


Cheara diam sejenak. Ia mencoba memahami apa yang Zhaw katakan. Bagaimana bisa, Ravin lebih percaya dengan wanita kejam itu dibandingkan sahabatnya sendiri?


"Zhaw, aku paham apa yang kau ceritakan. Terima kasih kau sudah mau memberi tauku." Ucap Cheara sambil memegang tangan Zhaw yang sepertinya kembali teringat masa-masa itu. "Aku akan membantumu untuk menjelaskannya pada Ravin."


"Sungguh? Terima kasih, Cheara." Zhaw balik memegang tangan Cheara. "Lalu hal penting apa yang ingin kau katakan?"


"Soal ayahnya Ravin. Aku sudah tau tentang Ravin yang bukan anak kandungnya. Aku mendengarnya langsung malam tadi. Rezvan hari ini akan melangsungkan pernikahan tertutup dengan Rachel. Ayahnya Ravin menyuruh orang untuk memata-matai Ravin. Jika Ravin mengetahui soal pernikahan itu, pasti Ravin akan langsung datang karna dia masih mencintai Rachel. Dia dalam bahaya jika nantinya datang ke acara itu, mereka akan melukai Ravin." Cheara kembali menggenggam erat tangan Zhaw. "Tolong bantu aku untuk menjaga Ravin. Aku tidak ingin dia terluka, Zhaw. Dia adalah temanku, aku ingin dia baik-baik saja. Hanya kau yang bisa ku minta bantuan, Zhaw."


"Kurang ajar! Tidak ada habisnya mereka menyakiti Ravin!" Zhaw mulai terlihat kesal jika membahas soal Gauri, Rezvan dan Rachel. "Aku akan membantumu. Kau tenang lah, aku akan menjaga Ravin."


✨✨✨


Ah syukurlah Zhaw mau bantuin Cheara buat jaga Ravin. Jadi Cheara bisa sedikit aman ngadepin iblis macam Gauri, Rezvan dan Rachel. Semoga mereka berhasil ya buat lindungin Ravin dari para iblis itu:v


Bekasi, 16 September 2020


[ 21 : 30 WIB ]