
Keesokan harinya, Ravin bangun lebih awal dari Abian. Mungkin Abian merasa lelah karena baru sampai ke kota itu, dia langsung tiba di rumah sakit karena mengetahui anaknya terluka. Ravin mempersilahkan Abian untuk tidur di sofa, sedangkan dirinya tidur di bangku dengan kepala berada di ranjang Cheara.
Ravin terbangun mendengar alarm di jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 5 lewat 30 pagi. Dia terkejut melihat ada Zhaw yang duduk di sampingnya. "Sejak kapan kau di sini?" Tanya Ravin dengan mata yang masih menyipit karena baru bangun tidur.
"Belum lama. Aku membawakan baju kerja untukmu, ini titipan dari ibumu." Zhaw memberikan tas berwarna biru laut.
"Terima kasih." Ravin mengambil tas tersebut. "Tapi aku tidak bekerja hari ini, setidaknya sampai Cheara sadar." Ravin kembali mengelus rambut Cheara.
"Maafkan aku, Ravin. Ini semua salahku." Zhaw selalu meminta maaf saat ada kesempatan dekat dengan Ravin.
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Aku sudah kehabisan akan, maaf telah membuatmu terluka." Ravin belum bisa menatap Zhaw yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun yang kau lakukan padaku, asal kau mau memaafkanku." Ucap Zhaw dengan tulus sambil memegang pundak Ravin.
"Aku pun tidak tau harus bagaimana lagi mengungkapkan rasa benciku terhadapmu." Kali ini, Ravin menatap Zhaw dengan serius. "Kau benar-benar telah membuatku kecewa."
"Seharusnya kau dengarkan dulu penjelasanku. Kau sudah sangat membenciku tanpa terlebih dahulu mendengar penjelasanku." Zhaw sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Baiklah, aku beri kau kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Tapi hanya sekali dan jelaskan dengan singkat." Kata Ravin dan langsung pergi ke luar ruangan itu.
Zhaw mengikuti kemana Ravin pergi. Mereka berhenti di halaman belakang rumah sakit. Di sana sepi dan udaranya terasa sangat dingin. Bahkan sweater yang mereka pakai, tidak cukup untuk menghangatkan tubuh mereka.
Ravin duduk di bangku taman, diikuti dengan Zhaw. "Cepat katakan." Pinta Ravin.
Zhaw sedikit bingung harus mulai darimana. Ini adalah kesempatan satu-satunya agar dia bisa kembali mendapat kepercayaan dari Ravin. "Selama ini kau salah paham terhadapku. Dalang dari semua masalah ini adalah Rezvan dan Rachel. Mereka telah memfitnahku, mereka berusaha membuatmu membenciku."
Ravin mulai serius. "Kenapa mereka berusaha agar membuatku jadi membencimu? Apa alasan mereka melakukan itu?"
"Tentu saja alasannya karena mereka takut aku membongkar rahasia yang selama ini mereka jaga. Rahasia tentang kau yang bukan anak kandung keluarga Mahawira dan mereka berusaha untuk mengambil kekayaan yang sebenarnya semua itu milikmu, milik ayah kandungmu." Ucap Zhaw dalam hati.
Sambung Ravin. "Jangan jadikan orang lain sebagai alasan untuk menutupi kesalahanmu, Zhaw!" Ravin sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Aku pun tidak tau apa alasan mereka melakukan itu padaku. Tolong Ravin, percayalah padaku. Aku mohon, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu." Zhaw kembali memohon.
"Hentikan omong kosongmu itu! Kau tetap sama seperti dulu. Sifatmu tidak akan pernah berubah! Kau tetap seorang pria yang buruk!" Ravin bangun dari duduknya, emosinya kembali memuncak.
"Ravin, sudah cukup!" Tiba-tiba, Mayoza datang. "Sudah cukup kau menghina Zhaw. Dia adalah temanmu. Kenapa kau bisa sangat membencinya seperti itu? Kau hampir menjadi seperti pria yang tidak punya hati. Ibu tidak pernah mengajarkanmu menjadi orang seperti itu."
"Ibu tidak tau permasalahannya." Jawab Ravin yang mencoba untuk menahan amarahnya ketika berhadapan dengan Mayoza.
"Ibu memang tidak tau masalah apa yang membuat kalian menjadi seperti ini. Tapi Ibu mohon, maafkan Zhaw. Jika kesalahannya sangat besar, setidaknya kau hormati permintaan maafnya. Apa kau tidak lihat, dia berkali-kali meminta maaf dengan sungguh-sungguh? Dia benar-benar telah menyesali perbuatannya." Mayoza mencoba untuk meluluhkan hati putranya yang sedang membatu.
Ravin hanya diam menunduk, sedangkan Zhaw mulai buka suara. "Jika kau ingin aku pergi selamanya dari kehidupanmu, aku akan melakukannya. Asalkan sebelum aku pergi, tolong maafkan aku." Pinta Zhaw yang memang terlihat sangat tulus.
Ravin masih diam di posisinya. Mayoza mengangkat wajah Ravin sehingga menatapnya dengan dekat. "Katakan pada Ibu, apa kau Ravin anakku yang tulus? Apa kau Ravin, anakku yang baik hati? Apa kau Ravin, anakku yang bukan seorang pendendam? Katakan!"
✨✨✨
"Mayoza, kau benar-benar memberinya nama Ravin, seperti yang kita mau dulu." Ucap Abian sambil senyum-senyum sendiri.
Dia kembali memasukkan jas itu kedalam tas dan langsung terfokus kembali pada Cheara. "Sayang, apa kau mencintai Ravin? Jika iya, apa kau akan tetap mencintainya setelah kau tau kalau dia adalah kakakmu? Walau kalian bukan saudara kandung, tapi aku tidak ingin kalian menjadi sepasang kekasih." Abian mengelus tangan Cheara dengan lembut.
Abian kembali berbicara pada Cheara yang tidak sadarkan diri. "Apa kau akan tetap bersama ayah setelah nantinya kau mengetahui semuanya? Setelah kau tau kalau kau bukan anak kandungku? Ayah sangat mencintaimu seperti anak kandung sendiri. Kau adalah Sea, putri ayah yang sangat cantik." Abian mencium kening Cheara.
✨✨✨
Ravin tidak kuat menahan amarahnya, dia akhirnya menumpahkan air mata sambil memeluk Mayoza. Sebenernya dia tidak ingin melakukan semua itu, tapi emosi dan egonya sangat sulit untuk dimengerti.
Zhaw pun ikut menangis dan Mayoza juga mengajak Zhaw untuk masuk ke pelukan mereka. Bertahan sekitar 5 menit, Mayoza melepaskan pelukan itu. Dia mengusap air mata Ravin dan Zhaw.
"Kalian adalah anakku. Tolong jangan bertengkar lagi. Jadilah seperti dulu, pengertian dan saling menyayangi." Pinta Mayoza sambil mengusap pipi Ravin dan Zhaw.
Ravin belum bisa menatap Zhaw. Matanya menatap ke langit, berusaha agar air matanya tidak terjatuh lagi. Sama seperti Ravin, Zhaw pun melakukan itu.
"Ravin, kau mau kan memaafkan Zhaw? Kau mau kan menjadikan dia sebagai temanmu lagi?" Tanya Mayoza dengan lembut.
Ravin terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk. Zhaw menyambut anggukan Ravin sambil memeluk sahabatnya itu. Dia memeluk Ravin dengan penuh kerinduan. Temannya, sahabatnya sejak kecil telah berhasil mengalahkan rasa egonya.
"Terima kasih, Ravin. Aku berjanji, setelah ini aku akan pergi dan tidak akan ada di kehidupanmu lagi." Ucap Zhaw dalam pelukan Ravin. Ternyata dia benar-benar tulus dengan ucapannya yang akan pergi setelah Ravin memaafkannya.
Tangan yang awalannya tegap lurus, kini Ravin membalas pelukan Zhaw dengan erat. "Jangan lakukan itu, kita adalah teman selamanya. Maafkan aku yang telah sangat membencimu. Kau berhak untuk membenciku karena aku telah banyak melukaimu." Kata Ravin yang juga mengatakannya dengan tulus sebagai seorang teman.
Mayoza yang menyaksikannya, ikut terbawa suasana. Dia menangis melihat ketulusan dari seorang teman yang sudah sangat terluka. Mereka akhirnya bisa bersama lagi setelah bertahun-tahun terbalut kebencian.
✨✨✨
Waw, gimana nih? Ada gak yang awalnya kesel sama Ravin karena batu banget? Dia kekeh gak mau maafin Zhaw, tapi akhirnya luluh karena ketulusan Zhaw padanya?
Sebesar apapun kesalahan orang lain terhadap kita, jangan kita balas dengan sesuatu yang lebih besar dari kesalahan orang tersebut. Jika kita melakukan hal tersebut, berarti kita lebih buruk dari dia. Alangkah lebih baik, kita maafkan kesalahannya dan kembali menjalin kebahagiaan bersamanya.
Jika dia melakukan kesalahan lagi gimana? Intinya, kalian jangan ambil keputusan jika sedang dalam suasana hati penuh amarah. Pikir dengan baik apa yang akan terjadi kedepannya.
#SokBijak:v
Kita sama-sama mengkoreksi diri dan saling mengingatkan ya, Guys:)
Bekasi, 3 Oktober 2020
[ 22 : 45 WIB ]