
"Cattarra, mengapa kau tidak bilang jika susumu habis?" Cheara membuang napasnya asal. Ia sangat lelah hari ini, tapi ia tidak bisa membiarkan Cattarra tidak minum susu di malam hari. Tubuh Cattarra masih sangat kurus, jadi Cheara harus benar-benar memberinya gizi.
"Meong..."
"Baiklah, aku akan pergi membeli susu untukmu. Tunggu ya." Cheara pun segera pergi membeli susu untuk Cattarra.
Ketika keluar dari rumah, ia melihat ada Zissa yang sedang duduk di kursi depan rumahnya. "Zissa, kau sedang apa?" Tanya Cheara sambil mendekati Zissa.
"Aku hanya membaca buku saja. Kau ingin kemana?"
"Aku ingin ke toko kucing. Susu Cattarra habis, jadi aku harus membelinya."
"Mau aku temani?" Tawar Zissa.
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri." Cheara pun pergi dengan berjalan kaki. Toko kucingnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter dan Cheara masih sanggup untuk jalan sejauh itu.
Untuk menuju toko kucing, Cheara melewati banyak warung makan yang menjajakan berbagai makanan yang menggiurkan. Namun Cheara harus menahan nafsunya, setidaknya sampai gajian nanti. Awalnya Cheara hanya berniat untuk membeli susu kucing, tapi akhirnya ia membeli makanannya juga. Sepertinya, Cattarra akan pesta makan untuk malam ini.
"Cheara saja ku belikan, masa aku tidak beli makanan untuk diriku sendiri? Sungguh tidak adil." Cheara pun akhirnya masuk kedalam kafe untuk membeli kopi dan roti kering. Ia segera memesan dan menunggunya sambil duduk di kursi paling depan.
"Besok adalah hari pernikahan Rezvan. Aku tidak mau ada masalah dihari itu. Kau harus pastikan anak itu tidak ada di acara besok. Beri anak itu hukuman jika dia tetap memaksa untuk hadir di acara itu. Paham?"
"Jadi besok kami harus memata-matainya?"
"Tentu saja. Ingat ya, jangan membuatnya terluka berlebihan. Mau bagaimana pun juga, dia adalah harta kita. Walaupun dia bukan anak kandungku, aku harus menjaganya dengan baik sebelum semua hartanya menjadi milikku."
Ravin? Apakah yang mereka maksud adalah Ravin? Ravin bukan anak kandungnya? Mereka ingin mengambil semua harta yang Ravin miliki? Apa maksudnya? Apa Ravin dalam bahaya?
Cheara yang awalnya duduk menghadap ke depan, akhirnya menengok untuk melihat siapa sebenarnya mereka. Dan ternyata, itu adalah pria tua yang pernah ia temui di basemen apartemen Ravin. Berarti itu adalah ayahnya Ravin.
✨✨✨
Ravin pun sampai ke rumah sewa tempat tinggal Cheara. Ia segera mengetuk pintunya tetapi tidak ada yang menjawab. Hanya Cattarra yang mengeong di dalam.
"Ravin, Cheara tidak ada di rumah. Tadi dia pergi membeli susu untuk Cattarra. Tapi sampai sekarang belum kembali."
"Sudah lama?"
"Em, lumayan lama." Zissa pun bergeser dan memberikan Ravin tempat duduk. "Duduklah dulu, mungkin sebentar lagi Cheara kembali."
Ravin pun duduk di bangku yang Zissa berikan, tepat mereka duduk bersampingan. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ravin secara tiba-tiba. Biasanya, Ravin hanya diam dan terus diam. Tidak peduli jika ia berada di suasana yang canggung sekalipun.
"Aku sedang membaca buku untuk presentasi mata kuliah besok."
Ravin hanya mengangguk lalu diam. Ia kembali lagi ke sifat aslinya yang dingin dan cuek. Zissa merasa sangat canggung. Hingga akhirnya ia buka suara. "Kau baru pulang kerja ya?"
Lagi-lagi, Ravin hanya mengangguk sambil terus memperhatikan ponselnya. Tapi Zissa, tidak berhenti untuk bertanya. "Lembur?"
Ravin mengangguk lagi. Ia penasaran, kenapa Cheara tidak menjawab teleponnya? Apakah dia pergi tanpa membawa ponselnya? "Apakah Cheara pergi dengan berjalan kaki?" Ravin malah bertanya soal Cheara seakan tidak peduli dengan basa-basi yang Zissa berikan.
"Iya."
Ravin pun segera pergi menuju toko kucing yang terdekat dan pasti Cheara pergi ke sana. Jika tidak dengan Mayoza, Ravin selalu mengendarai mobilnya dengan laju yang sangat kencang. Apalagi ketika sedang gundah atau panik seperti sekarang ini. Ravin benar-benar tidak tau dengan perasaannya. Mengapa ia sepanik ini pada Cheara?
✨✨✨
Cheara telah mendengar semuanya. Ia telah mengetahui kenyataan sebenarnya tentang siapa Ravin. Soal pernikahan Rachel dan Rezvan, hingga soal Ravin yang bukan anak kandung ayahnya sekarang. Apa Ravin sudah mengetahuinya? Jika belum, apa Cheara harus mengatakan yang sebenarnya pada Ravin? Bagaimana ia tau kalau Ravin sudah mengetahuinya atau belum? Cheara bingung apa yang harus ia lakukan.
Ketika pesanannya sudah jadi, Cheara segera membayarnya dan pergi tanpa dicurigai oleh pria tua itu. Karena kalau sampai pria itu melihat Cheara, pasti ia masih mengingatnya ketika bertemu di basemen beberapa hari lalu. Cheara berlari sambil membawa beberapa belanjaannya. Tiba-tiba sebuah mobil putih berjalan pelan di sampingnya dan seseorang memanggilnya dari dalam.
Cheara yang awalnya berlari, segera berhenti dan langsung masuk kedalam mobil. Dengan napas yang terengah-engah, rambut kuncir kuda yang acak-acakan, sampai kopi yang ia pesan pun tumpah karena Cheara berlari lumayan kencang.
Ravin melongok melihat Cheara. Matanya melotot dan bibirnya menganga. "Ada apa Cheara? Kau baik-baik saja?" Itu yang selalu Ravin tanyakan pada Cheara.
"Iya, aku baik-baik saja." Jawab Cheara yang napasnya mulai teratur.
"Mengapa kau seperti ini? Kau seperti sedang dikejar-kejar."
"Tidak ada yang mengejarku, hanya saja aku ingin cepat sampai rumah, Cattarra pasti sudah menunggu lama."
"Astaga Cheara, kupikir ada apa." Ravin menyetir dengan laju yang normal. "Tadi kau mengirim pesan padaku, apa yang ingin kau bicarakan?" Ravin bertanya.
Cheara benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan? Jika ia mengatakan semuanya pada Ravin, apakah Ravin akan baik-baik saja?
"Oh itu, aku ingin bicara..." Cheara mencoba mencari alasan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya soal acara yang akan dilakukan di rumah keluarganya. "Sebenarnya aku ingin membicarakan soal... Soal weekend nanti, apakah kau mau mengajakku pergi jalan-jalan?"
"Hanya itu yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ravin yang seperti tidak percaya.
"Iya, aku takut kau sibuk." Cheara mencari alasan.
"Baiklah, weekend nanti kita jalan-jalan ya." Jawab Ravin yang dibalas senyum oleh Cheara.
Untung saja Ravin percaya. Ravin yang emosional tidak mungkin akan baik-baik saja jika mengetahui semuanya. Tetapi Cheara tidak bisa hanya diam saja. Ia harus melakukan sesuatu untuk menjaga Ravin dari ayahnya yang jahat itu. Cheara harus mencegah semua rencana pria tua itu. Sepertinya, untuk tetap dia dan terus menjaga Ravin adalah keputusan terbaik, dibandingkan jujur soal semuanya dan Ravin pasti akan celaka.
✨✨✨
Di apartemen milik sang anak, Mayoza tetap diam di dalam seperti apa yang Ravin pinta. Maksud Ravin adalah agar sang ibu tidak celaka oleh semua orang suruhan Gauri yang terus berusaha membujuk ibunya untuk pulang dan melupakan soal perceraian yang pernah dimintanya. Namun Ravin meminta pada ibunya untuk tetap bercerai dengan ayahnya. Mayoza harus memilih antara Gauri atau Ravin. Tentu saja ia akan memilih Ravin. Alasannya bukan hanya karena Ravin adalah anaknya, tetapi juga karena Gauri tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Ia merasa sangat tersiksa dengan pernikahan itu.
"Aku merindukanmu. Aku berharap kau datang kembali padaku untuk sekedar menyapaku. Aku sangat merindukanmu." Mayoza membuka kembali album yang berisi foto-foto dengan ayah kandung Ravin. Album itu disimpannya dengan baik, tanpa sepengetahuan Ravin. "Apakah kau tidak ingin melihat putramu? Dia sudah besar sekarang, tampan sepertimu." Air matanya perlahan mengalir. Ia sungguh sangat merindukan pujaan hatinya itu.
Ting tong!
Ting tong!
Bel berbunyi 2 kali, namun Mayoza mengabaikannya. Tidak lama, panggilan masuk di ponselnya berbunyi. "Iya sayang, ada apa?" Ternyata Ravin yang menelponnya.
"Ini aku, Bu. Bukalah pintunya."
Mayoza yang berada di kamar segera merapikan album foto dan kembali memasukkannya ke dalam brangkas di dalam koper yang ada di bawah kasurnya. Ravin sama sekali tidak pernah mencurigainya. Mayoza juga menghapuskan air matanya dan sedikit mengatur napasnya. Ia langsung keliar kamar dan segera membuka pintu untuk putra tercintanya itu.
"Cheara? Apa kabar sayang? Aku sangat merindukanmu." Ketika mengetahui Ravin datang dengan Cheara, Mayoza langsung memeluk Cheara dengan erat. Memang sejak pertama bertemu, Mayoza sudah menyukai gadis manis itu. Apalagi saat ia tau kalau Ravin dan Cheara saling kenal, rasanya bahagia.
"Aku juga merindukanmu, Bibi."
"Ayo masuklah."
Sebelumnya, Ravin terlebih dahulu mengantar Cheara pulang, mengambil pakaian untuk kerjanya besok. Cheara yang meminta untuk menginap di apartemen Ravin. Alasannya karena Cheara ingin menjaga Ravin, setidaknya untuk besok. Ravin tidak boleh mengetahui soal pernikahannya kakaknya dan mantan kekasihnya itu. Cheara juga takut kalau pria tua itu membuat Ravin celaka.
✨✨✨
Cheara hati-hati deh sama bapak itu. Jangan ikut campur deh mendingan. Itu bapak-bapak jehong, bahaya kalo sampe jadi inceran dia:v
Bekasi, 19 Agustus 2020
[ 22 : 04 WIB ]