Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 12 ] : Bohong



"Apakah kita akan terus diam seperti ini?" Akhirnya, Rachel yang terlebih dahulu buka suara. Ia meminta Ravin untuk datang ke Recident Greenee Restauran, tempat favorit mereka. Lokasinya ada di pinggir pantai tercantik di kota itu. Udaranya sejuk, hidangannya pun enak-enak.


Ravin hanya terus diam menatap Rachel dengan tatapan tajam. Ia bingung, mengapa masih bisa mencintai Rachel bahkan sampai saat ini. Wanita yang ada dihadapannya kini adalah orang terburuk setelah Gauri dan Rezvan di kehidupannya. Hingga kini, mengapa Ravin masih mencintainya? Ravin masih berharap kalau mereka bisa saling mencintai seperti dulu lagi. Ravin berharap pertemuan mereka ini adalah permintaan maaf dan hubungan mereka dapat kembali lagi.


"Kalau begitu, jangan katakan satu kata pun. Diam dan dengarkan apa yang ku ucapkan. Jangan bicara sedikit pun." Rachel meminum kopinya dengan manis, lalu kembali berbicara. "Aku minta maaf padamu atas semua perlakuanku selama ini. Terima kasih kau sudah mencintaiku dan menyayangiku. Kau sungguh pria yang baik. Tapi sayangnya, kau bukan tipeku. Kau bukanlah orang yang pantas untukku. Jadi aku mohon padamu, lupakan aku semudah aku melupakanmu."


"Apa semudah itu?"


"Tentu saja. Aku bisa cepat melupakanmu dengan cara mencari pria lain yang jauh lebih baik darimu. Ya, kau lakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan."


"Melakukan hal sama sepertimu? Jika aku masih mencintaimu, haruskah aku mencari wanita lain hanya untuk melupakanmu? Bukankah itu hal yang buruk?"


"Iya, lebih buruk dari pembunuhan. Tapi itu adalah cara yang baik untuk melupakan orang yang tidak lagi mencintaimu. Jika tidak, dirimu akan tersiksa selamanya. Dan itu sama saja dengan bunuh diri."


"Kau sangat kejam."


"Ravin, ayo lah. Aku bukan wanita yang buruk. Aku hanya ingin memperbaiki hidupku. Jika aku tau ada yang lebih baik darimu dan aku merasa cocok dengannya, untuk apa aku bertahan denganmu?"


"Dari mana kau menyimpulkan bahwa dia lebih baik dariku?"


"Sudah jelaskan, Rezvan adalah calon pemegang semua kekayaan Mahawira. Dan kau?"


"Jadi kau lebih memilih harta dari pada cinta?"


"Cinta tanpa uang tidak ada gunanya, tapi uang tanpa cinta, itu jauh lebih baik." Rachel berdiri, bersiap untuk pergi. "Kuharap kau mengerti maksudku. Lupakan aku dan jangan ganggu aku lagi. Anggap saja kita tidak pernah kenal." Rachel pun pergi.


Ravin terdiam. Air matanya berusaha ia tahan. Kini yang ada dipikirannya hanyalah Cheara. Ia butuh Cheara sebagai tempat berkeluhnya.


"Cheara dimana kau?"


✨✨✨


Cheara disapa banyak orang. Semenjak kejadian yang menimpa keluarganya, Cheara menjadi tidak disukai warga sekitar. Ia dianggap sebagai anak penjahat karena Abian dipenjara atas kejahatannya. Banyak orang yang juga menuduh Cheara sebagai penipu. Mereka menganggap Cheara pergi tanpa membayar hutangnya. Ia berkali-kali meminta maaf dan berjanji akan melunasinya.


"Dasar kau, tiba-tiba saj pergi dari kampung ini. Ingat ya, hutang kau dan keluargamu masih banyak pada kami. Dasar penipu!"


"Cukup! Jangan pernah menganggap keluargaku penipu! Kami bukan penipu! Kami hanya difitnah!"


"Aish, terus saja berbicara seakan kau korbannya." Kata salah satu warga.


Cheara mencoba menenangkan dirinya. Selama ini, Cheara sudah sering dihina seperti itu. Cheara sudah terbiasa dan akhirnya dapat belajar cara bersabar dan bersikap tenang. Ia langsung pergi menuju rumah Detho, rentenir yang sudah membuat Abian dipenjara.


Seperti biasa, rumah Detho selalu ramai dengan para pekerjanya. Detho memiliki banyak pekerja. Ia memberikan uang sebagai modal kepada pekerjanya untuk dipinjamkan kepada orang yang membutuhkan. Lalu mereka memberikan bunga 80% dari yang dipinjamnya. Itulah yang membuat Abian dipenjara karena tidak dapat melunasi hutangnya dan Detho memanas-manasi warga agar Abian dipenjara.


Cheara memberanikan diri untuk masuk kerumah itu. Ia digoda oleh para pria berumur yang sedang merokok dan mabuk. Sebenarnya Cheara sangat takut, namun demi Abian ia akan berusaha apapun yang terjadi.


"Dimana Detho?" Tanya Cheara pada orang-orang yang ada di sana.


"Mau apa kau menemuinya? Kau sudah menyerah dan ingin menikah dengannya sekarang? Hahaha!!" Mereka semua tertawa bersamaan.


"Kutanya, dimana Detho!"


"Kau berani membentak kami ya!" Salah satu pria mencengkeram pergelangan tangan Cheara hingga membuat luka yang dalam karena kuku tajamnya.


"Hei! Jangan kasar pada berlian ku!" Teriak Detho yang keluar dari dalam rumahnya. "Kau sudah melukai tangannya!"


"Detho, aku ingin membayar hutang seperti janjiku." Cheara langsung membahasnya.


"Duduklah. Sini kita bicara dulu, jangan terburu-buru."


"Aku tidak punya banyak waktu." Cheara membuka ranselnya dan mengeluarkan sesuatu. "Ini sertifikat rumahku. Keserakahan padamu untuk dibalik nama."


"Rumahmu? Rumahmu yang mana? Kau itu miskin! Mana mungkin kau punya rumah seharga 2 milyar? Hahaha!!" Detho dan para anak buahnya menertawai Cheara.


"Bukannya kau tau rumah tempat tinggalku dulu?"


"Dulu? Rumahmu yang seperti istana itu?" Tanya Detho terkejut. "Bukannya rumah itu sudah kau jual dengan harga murah pada pengusaha batu bara yang tinggal di kampung sebelah?"


"Tidak. Kami tidak pernah menjualnya pada siapapun."


"Pantas saja rumah itu seperti rumah kosong. Kalau aku tau," Detho mengambil sertifikat di tangan Cheara. "Dari dulu saja kusita rumahmu itu!"


"Rumah itu harganya lebih dari 2 milyar. Aku akan meminta sisanya."


"Sisanya? Hey gadis muda, segala hal yang sudah ada di tanganku, tidak dapat diambil lagi!"


"Tapi sisanya masih banyak! Itu hakku! Kau harus mengembalikannya!"


"Lepaskan! Dasar licik! Akan ku laporkan kau ke polisi!"


"Silahkan saja jika memang kau ingin Ayahmu dipenjara lebih lama lagi!"


"Kalau begitu, tepati janjimu untuk membebaskan ayahku dipenjara! Aku sudah melunasi hutangnya bukan?"


"Baik, Baik. Aku pasti akan membebaskannya. Minggu depan kupastikan Ayahmu pasti akan bebas. Tapi, jangan kau pinta lagi sisa hasil penjualan rumah ini. Bagaimana? Apa kau mau?"


"Baiklah."


✨✨✨


Hari sudah mulai gelap. Jam menunjukkan pukul 6 sore, tapi Cheara belum juga pulang. Ravin menunggu Cheara di depan gerbang Rumah Sewa Onny sejak pertemuannya dengan Rachel pagi tadi. Ravin benar-benar membutuhkan Cheara. Di sisi lain ia sangat kesal karena Cheara benar-benar tidak ada kabar. Sama sekali tidak ada yang tau kemana Cheara pergi. Ini adalah panggilan ke 80 dari Ravin pada Cheara. Ravin terkejut ketika melihat Cheara datang dan membuka pintu gerbang. Ia langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju Cheara.


"Cheara! Kau kemana saja?" Ravin meraih tangan Cheara. " Kenapa tanganmu terluka?" Ini kesekian kalinya Ravin membuat Cheara terkejut.


"Astaga, Ravin! Kau membuatku terkejut."


"Kau kemana saja? Mengapa tidak bisa dihubungi?"


"Karena kau berkali-kali menelpon, jadi kumatikan ponselku."


"Karena aku khawatir padamu. Mengapa kau tidak peka?"


"Ravin sudahlah, aku ingin istirahat. Pulanglah, sudah hampir malam." Cheara langsung menuju rumahnya.


Ravin terus mengikuti Cheara. "Cheara! Ceritakan padaku, kau kemana seharian ini tanpa kabar?"


"Ada hal yang harus ku selesaikan." Cheara masuk ke dalam rumahnya dan Ravin pun ikut masuk. "Ravin! Pergilah."


"Kau ini tega sekali. Aku menunggumu dari pagi sampai malam dan sekarang kau mengusirku?"


"Untuk apa kau menungguku?" Cheara menuju kamarnya.


"Karena aku khawatir padamu." Ravin pun ikut ke dalam kamar Cheara.


Lagi-lagi Cheara terkejut. "Ravin! Apa-apaan kau ini?! Mengapa kau mengikutiku sampai ke kamar?! Keluar!" Cheara mendorong Ravin, lalu ia mengunci pintu kamarnya.


"Kalau begitu, aku akan memasak sesuatu untuk makan malam kita dan kucingmu itu!" Teriak Ravin yang langsung menuju dapur.


✨✨✨


Di dalam kamar, Cheara menangis terisak. Ia sangat menyesal telah memberikan rumah itu pada Detho. Padahal ia sudah janji pada ayah dan ibunya untuk menjaga baik-baik rumah itu, apapun keadaannya. Namun Cheara tidak sanggup lagi. Ia sangat membutuhkan ayahnya untuk selalu ada di sampingnya. Hanya itu satu-satunya cara untuk membebaskan ayahnya dari penjara. Cheara menangis pelan agar Ravin tidak mendengarnya. Ia dengan cepat berganti pakaian dan segera membantu Ravin menyiapkan makan malam.


"Cheara, makan malamnya sudah jadi." Teriak Ravin dari dapur.


"Iya, aku segera ke sana." Cheara mengusap air matanya. Ia sedikit memberikan bedak di wajahnya agar tidak terlihat sedih. Cheara langsung keluar dari kamarnya.


"Aku memasak kari untuk makan malam. Apa kau suka?" Tanya Ravin yang sudah duduk di meja makan.


"Tentu saja aku suka." Jawab Cheara tersenyum. Tapi Ravin malah menatapnya. Ravin sangat pandai membaca keadaan orangain lewat tatapannya. Ia menatap Cheara dengan seksama dan Cheara selalu saja terbawa suasana.


"Ada apa denganmu? Apa kau menangis?" Tanya Ravin yang seketika langsung menangi dingin dengan tatapan serius.


Cheara memalingkan pandangannya menuju piring dan segera memulai makan. "Tentu saja tidak. Aku hanya lelah. Cepat habiskan makananmu, lalu pulanglah. Aku ingin istirahat."


Ravin pun memulai makannya tanpa percaya dengan apa yang Cheara ucapkan. Setelah mereka selesai makan, Cheara segera merapikan dan mencuci piringnya. Cheara lupa kalau tangannya terluka akibat cengkraman dari anak buah Detho. Cheara merasa sangat perih ketika terkena sabun.


"Astaga perih sekali! Aw."


Ravin yang sedang merapikan kandang Cattarra, langsung berlari mendekati Cheara. "Kenapa?" Ravin meraih tangan Cheara. "Astaga, aku lupa kalau tanganmu terluka. Sini, ku obati lukamu." Ravin membawa Cheara ke meja makan. Ia mengambil kotak obat yang tersimpan di kamar Cheara, Cheara yang memberi taunya.


"Aduh, sakit." Rintih Cheara.


"Tahan ya, tinggalku plester."


Setelah selesai, Ravin kembali bertanya pada Cheara. "Apa yang sebenarnya terjadi." Tanya Ravin sambil memegang tangan Cheara dan menatapnya seperti biasa.


Cheara selalu terhipnotis dengan tatapan Ravin. "Aku... ," Cheara langsung mengalihkan pandangannya. "Aku tidak apa-apa. Cepatlah kau pulang."


✨✨✨


Bekasi, 19 Juli 2020


[ 21 : 32 WIB ]