
'Morning putri kecil Ayah. Morning putri kecil Ayah. Morning putri kecil Ayah. Morning putri kecil Ayah.'
Cheara langsung terbangun. Menurutmu itu apa? Salah. Itu adalah nada dering alarm di ponsel Cheara. Itu suara Super Hero nya 10 tahun silam. Rekaman suara itu masih tersimpan baik di ponselnya. Sengaja ia pasang itu sebagai nada dering alarm agar pagi harinya diawali dengan kebahagiaan. Hal itu juga membuat Abian seakan benar-benar ada di sisinya. Setidaknya begitu.
Suara itu membuat Ravin kebingungan. "Apa itu?"
"Astaga!" Ini kali ketika Cheara terkejut karena Ravin. Ternyata, ia sudah bangun lebih dulu darinya. Lalu, mengapa tidak membangunkan Cheara?
Ravin yang kembali disibukkan dengan ponselnya masih terus bertanya. Sepertinya ia tipe orang yang sangat menyukai jawaban. "Aku tanya, suara apa itu?"
"Apa pedulimu?" Cheara langsung merapikan pakaian dan menguncir rapi rambutnya model ekor kuda. Ia mengambil ransel dan tas jinjingnya.
"Ini," Ravin memberikan kunci rumah.
Pastinya itu membuat Cheara kembali bingung. Mengapa Ravin sangat suka dengan teka-teki? Selain ia suka membuat orang terkejut, ternyata ia juga suka membuat orang bingung dengan tingkahnya. Ravin bukan pria yang banyak bicara, tapi tindakannya selalu baik. Sepertinya, Cheara mampu mengenal Ravin lebih jauh hanya dalam beberapa jam saja.
"Ini kunci rumahmu. Selebihnya kau tanyakan saja pada pemilik rumah sewa itu." Ravin memencet salah satu tombol yang ada di mobil itu. "Pintunya sudah kubuka."
"Kau mengusirku?"
Ravin kembali menatap Cheara dengan dingin. Itu selalu membuat Cheara takut dan memilih untuk berpaling. Ia keluar dan tak lupa mengucapkan terima kasih. "Terima kasih ya atas kebaikanmu. Semoga luka di hatimu cepat pulih. Orang baik sepertimu tidak pantas untuk di sakiti. Semoga kita bisa bertemu lagi ya. Sampai jumpa." Cheara langsung menutup pintu mobil dan berlari menuju rumah sewa itu.
Ravin merasa jauh lebih tenang dari malam tadi. Mengapa bisa, seketika ia langsung lupa akan masalahnya. Bahkan malam ini ia bisa tidur nyenyak sekalipun di mobil. Baterai ponselnya pun masih banyak, itu artinya ia semalam tidak sibuk dengan ponselnya. Padahal, banyak orang yang menghubunginya berkali-kali.
"Perasaan apa ini? Aku sangat mencintai Rachel, namun mengapa aku bisa merasa setenang ini ketika semalam aku kehilangannya? Ada apa ini?" Ucap Ravin pelan.
"Satu lagi, jangan lupa pulang ke rumah. Setidaknya kau sikat gigi dan ganti pakaian dalammu. Jika kau mengabaikan hal itu, bukannya itu memalukan?" Tiba-tiba Cheara datang lagi. Kali ini, senyuman berhasil terukir di wajahnya.
"Astaga! Kau sungguh membuatku terkejut."
✨✨✨
Rumah sewa itu terdiri dari 3 rumah sejajar dan 3 bangunan lagi ada di lantai atas. Mungkin suatu kebetulan karena Cheara dapat rumah di lantai dasar, posisinya ada di tengah. Setidaknya, itu tidak membuatnya tambah lelah ketika pulang kerja harus menaiki anak tangga lagi untuk mencapai rumahnya.
Dengan senangnya, Cheara membuka pintu itu. Namun tiba-tiba ia merasa ada yang aneh.
Loh kok aku sudah mendapatkan kunci rumahnya? Berarti, aku sudah membayar uang di muka? Perasaan, aku belum mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar uang rumah sewa ini.
Cheara berbicara dalam hati sambil ternganga. Tangannya masih beku di gagang pintu. Ia masih bingung. Namun ia kembali terkejut. Kali ini bukan karena Ravin, tetapi suara tegas seorang wanita terdengar nyaring.
"Hallo, kamu Cheara ya? Semoga betah ya tinggal di sini. Eum, kamu gadis yang sangat cantik." Katanya sedikit merayu. Memang benar, Cheara adalah gadis yang cantik dan manis. Tanpa polesan apapun di wajahnya, namun ia selalu terlihat sempurna.
"Hallo. Bibi pemilik rumah sewa ini ya?"
"Iya benar sekali. Jangan panggil aku bibi, panggil saja Eonni Onny. Aku ini salah satu pecinta drama Korea. Kau tau? Aku selalu berdoa supaya jodohku sampai mati adalah Lee Dong Wook. Kau taukan siapa dia? Jangan bilang kau juga suka padanya dan berharap menjadi miliknya?" Ucap Onny yang hanya dibalas senyuman oleh Cheara. Ia tiba-tiba memegang salah satu pundak Cheara dan membuat Cheara semakin bingung dengan tingkah wanita tua itu. "Ah ada apa denganku! Tentu saja kau tidak menyukainya kan? Karena setampan apapun dia, pasti kau mengakui bahwa kekasihmu lebih tampan dari siapapun. Ya walaupun memang kenyataannya kekasihmu itu tampan, berbadan tinggi dan tegap, manis, seperti Oppa Korea. Yakan?"
Cheara hanya terus melongok sambil mulutnya terbuka lebar. Otaknya tak mampu lagi berpikir panjang dan terlalu keras. Perutnya pun terkocok karena lapar yang membuatnya menjadi mual. Ditambah, pidato sambutan dari Onny yang sama sekali tidak ia mengerti. Drama Korea? Pria tampan? Kekasihku? Apa itu? Semua itu tidak dapat dimengerti oleh Cheara.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Itu sungguh membuatku pusing." Jawab Cheara dengan polosnya. Bahkan senyuman melas menghiasi wajahnya.
"Yasudah lupakan saja. Semoga kau betah ya. Aku pergi dulu. Dadah..."
Ketika Onny pergi, Cheara dengan cepat masuk kedalam rumah itu. Bagaimana bisa ia akan bertahan lama jika mempunyai pemilik sewa sebawel itu? Bahkan ia sampai lupa apa yang tadi sempat membuatnya bingung, seakan ada sesuatu yang mengganjal. Tapi sungguh, kini rasanya otak akan berapi dan perut akan mengempis. Rasanya pusing dan lapar. Perasaan seperti ini bukanlah yang pertama kali ia rasakan, sudah sering bahkan hampir setiap hari ia merasakannya. Cara menghilangkannya yaitu tidur. Mungkin orang lain tidak bisa tidur dalam keadaan lapar, namun Cheara menjadikan hal itu untuk mencegah lapar.
✨✨✨
Tok tok tok tok...
"Permisi."
Tok tok tok tok...
"Permisi."
"Ravindra!"
Cheara langsung bangun dari tidurnya. Setelah sadar kalau itu hanyalah mimpi, Cheara langsung berlari ke kamar mandi. Ia berkali-kali membasahi wajahnya dengan air keran yang mengalir. Ia berhenti setelah mendengar ada yang memanggilnya di luar. Ternyata, itu yang membuatnya terbangun dari mimpi buruk. Sungguh, mimpi itu terasa nyata. Cheara sempat bingung sambil menatap wajahnya di depan cermin.
"Ada apa denganku? Mengapa aku mimpi buruk soal pria itu? Bahkan aku saja baru mengenalnya."
Tok tok tok tok...
"Permisi, ada orang di dalam?" Kesekian kalinya tamu itu memanggil sambil mengetuk pintu.
"Iya tunggu."
Cheara berlari untuk membuka pintu. Memang, ia tidak bisa pelan-pelan jika melakukan sesuatu. Kalau tidak jalan cepat, ya pasti lari. Sebelum membukanya, ia berdiri di depan pintu sambil merapikan rambut dan mengeringkan wajah dengan lengan bajunya.
Krek...
"Hallo." Sapa wanita cantik dengan rambut yang terurai rapi. Ia membawa nampan berisikan makanan dan minuman. Cheara terfokus pada nampan itu. Sungguh ia sangat lapar dan melihat makan itu membuatnya langsung berenergi, apalagi jika dimakannya.
"Hallo, ada apa ya?" Tanya Cheara dengan senyum yang terlihat bingung.
"Aku datang untuk menyambutmu. Namaku Zissa, tetangga samping kanan rumahmu."
"Aku Cheara, terima kasih ya sudah mau berkunjung ke rumahku. Ayo silahkan masuk."
✨✨✨
Entah apa lagi yang harus ia lakukan. Rasanya tidak terima sama sekali jika wanita yang ia cintai, pergi meninggalkannya demi pria baru. Yang lebih menyakitkannya lagi, pria itu adalah kakaknya sendiri. Rasanya semua orang tidak pernah berlaku adil padanya, termasuk kedua orang tuanya. Kesalahan sebesar apapun, jika Rezvan yang melakukan pasti diampuni. Namun kesalahan atau bahkan ketidak sengajaan yang Ravin lakukan, pasti selalu salah dan sulit untuk dimaafkan. Terkadang ia berpikir, apakah ia adalah anak tiri? Apakah dirinya adalah anak adopsi? Mengapa dirinya selalu diremehkan?
"Permisi, Pak. Ada Nyonya Mayoza, ia menunggu di ruang rapat."
"Untuk apa dia datang?" Tanya Ravin cetus, sepeti biasanya.
"Saya tidak tau, Pak."
"Suruh dia datang ke ruangan saya. Jika tidak mau, suruh dia pergi dari sini."
"Baik, Pak."
Ravin bukanlah tipe orang yang menyukai sepi dan kesendirian. Ia sangat tidak suka akan hal yang berhubungan dengan kesunyian. Namun ketika kejadian 5 tahun silam, ia menjadi lebih suka menyendiri dalam gelap. Tidak ada yang menggangu bahkan dalam waktu yang lama. Anak yang sangat aktif seketika menjadi pendiam. Hingga kini, hal itu sudah menjadi kebiasaannya.
Rezvan tidak pernah bilang kalau ia membenci Ravin sebagai adiknya, namun Ravin tidak yakin akan hal itu. Sebelum ia tumbuh menjadi pria yang tangguh, masa kecilnya selalu penuh dengan luka. Namun setelah Ravin dewasa, ia baru sadar kalau itu adalah suatu penderitaan. Apa yang telah kakaknya lakukan padanya adalah penderitaan. Apalagi ia selalu diancam untuk diam dan mengakui bahwa ialah yang salah atas kesalahan kakaknya. Ravin sadar kalau itu adalah kebodohan yang membuat dirinya kini tidak dipedulikan oleh keluarga.
"Ravindra, Ibu rindu padamu." Ucap seorang wanita setengah tua yang sudah berdiri di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk apa Ibu datang kemari? Apapun caranya, aku tidak akan pulang." Jawabnya dengan nada dingin.
"Ibu tau itu, tapi kali ini Ibu mohon padamu. Pulanglah, Nak."
"Apa yang sedang terjadi?"
"Aku sudah kehilangan Ayahmu. Aku juga tidak mau kehilanganmu." Mayoza menutupi wajahnya, ia menangis tersedu-sedu sambil terus berdiri di depan meja kerja Ravin.
✨✨✨
Bekasi, 24 Juni 2020
[ 22 : 09 ]