
Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Zissa atas makanan yang sudah ia bawakan. Makanan itu memang tidak selezat masakannya sendiri, namun setidaknya bisa membuat perutnya terisi dan semoga cukup sampai besok pagi. Uang yang Cheara miliki sisa 20 ribu. Itu adalah uang satu-satunya yang ia miliki. Bagaimana bisa ia hidup di kota besar ini dengan uang 20 ribu?
Cheara sudah keluar masuk beberapa toko untuk mencari pekerjaan, tetapi hasilnya nihil. Ia mulai kembali memikirkan rentenir kejam itu, bagaimana bisa ia mengumpulkan uang 50 juta sampai hari Minggu nanti? Bahkan untuk sekedar menyicil saja ia belum memiliki uangnya. Sambil bersandar di bangku taman, Cheara memejamkan matanya. Ia sangat lelah, bahkan surat lamaran dengan amplop coklatnya pun sudah jelek karena ia gunakan sebagai kipas tangan, untung saja ijazah dan surat-surat lainnya sudah ia masukkan kedalam ransel sebelum akhirnya terlipat dua seperti amplop itu. Sulit sekali mencari pekerjaan di kota dengan lulusan SMA yang ia miliki, bahkan untuk sekedar sebagai tukang cuci piring di warung pinggir jalan pun sulit.
"Copet! Astaga copet! Tolong! Tas saya di copet, tolong!"
Pakaian yang Cheara kenakan saat itu adalah kemeja putih yang dipadu dengan rok hitam selutut, ia pun mengenakan platshoes berwarna hitam. Pakaian itu sangat jarang ia pakai. Rok itu membuatnya sulit untuk berlari mengejar pencopet yang lari dengan kencang menerobos kerumunan orang yang berjalan di pinggir jalan. Di ujung jalan, pencopet itu berhasil di tangkap oleh beberapa pria penjual makanan di sekitar. Namun nahas, sebelum di tangkap, pencopet itu mengambil balok panjang sebagai penyangga warung makan lalu memukul kepala Cheara karena ia tau, Cheara lah yang membuat aksinya ketauan. Setelahnya, pencopet itu ditangkap warga dan dibawa ke kantor polisi karena memang sudah menjadi buronan.
Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Beberapa orang membantu Cheara yang jatuh kesakitan akibat pukulan itu dan hendak membawanya ke rumah sakit karena darah yang terus mengalir di kepalanya. Tangan, kaki dan wajahnya pun banyak luka goresan dan lebam. Namun Cheara menolaknya dan langsung bangun lalu membawa tas yang tadi di bawa kabur pencopet. Dengan jalan yang terpincang-pincang, Cheara mendekati wanita setengah tua yang menangis di bangku taman, ditemani beberapa orang di sana.
"Nyonya, ini tasnya." Kata Cheara memberikan tas itu.
"Astaga, apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau bertaruh nyawa demi menolongku, gadis muda?" Tanya Nyonya itu dengan mata yang sembab.
✨✨✨
Tugas seorang Manager memang terlihat mudah jika dipandang mata, namun nyatanya tanggung jawab mereka sangat sulit. Semakin maju sebuah restoran, semakin banyak pula yang mengajukan untuk bekerjasama. Hal itu membuat Ravin menjadi lebih pusing. Dalam keadaaannya yang kurang baik, rasanya sulit untuk berpikir dalam mengambil keputusan di tempat kerjanya. Masalah dengan keluarganya belum cukup baik, ditambah masalah dengan kekasihnya. Ravin memutuskan untuk pulang dengan alasan kurang sehat. Kini Ravin tinggal di sebuah apartemen sederhana yang jauh dari tempat kerja dan juga rumahnya. Ia ingin menghindar dari semua orang yang berusaha menghibur atau membantunya. Ravin masih ingin sendiri, tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Ya Tuhan, jagalah pria ini. Ia orang baik, kurasa begitu. Pulihkanlah luka dihatinya. Orang sebaik dia, tidak pantas untuk dilukai. Aku berharap, dia benar-benar orang yang baik.
- Sea -
"Sea? Nama yang indah." Ucap Ravin yang merasa kalau tulisan di buku harian milik wanita itu terarah padanya. "Apa dia menyukaiku? Ah, dasar aku ini! Dasar pria gila!" Katanya sambil memukul-mukul kepala.
Ponselnya berdering. Ini bukanlah yang pertama kali. Sudah beribu kali Mayoza, sang ibunda menelponnya. Beratus-ratus pesan masuk dari Mayoza, bahkan untuk di buka pun Ravin tidak pernah melakukannya. Ia benar-benar ingin sendiri. Hanya sendiri.
"Untuk apa mereka berpura-pura peduli padaku? Untuk apa mereka pura-pura menyukaiku? Untuk apa mereka berpura-pura mencintaiku? Untuk apa!" Ravin benar-benar dalam posisi dimana ia mulai frustasi. Ia sangat mencintai Rachel, bertahun-tahun ia mencoba bertahan dengan sikapnya yang manja dan pemarah. Ravin bertahan karena ia sangat mencintai Rachela, bahkan ketika ia sudah dikhianati sekalipun, ia masih tetap mencintainya.
"Aku ingin jawaban atas pertanyaan itu! Apakah aku ini sangat tidak pantas untuk dihargai? Apakah diriku ditakdirkan untuk disakiti? Aku butuh jawaban atas pertanyaan itu!" Ravin berteriak sambil membanting semua yang ada di dekatnya, bahkan ponselnya pun hancur karena ia lempar ke televisi yang juga ikut pecah. Ia menangis dan rasanya ingin dipeluk oleh orang yang benar-benar tulus peduli padanya.
✨✨✨
Di rumah sewa yang masih dalam keadaan berantakan, Cheara mempersilahkan wanita itu duduk di meja makan. Iya memang, bangku yang ia miliki hanyalah di ruang makan. Tidak mungkin ia membiarkan wanita yang terlihat kaya raya itu duduk lesehan. Wajahnya yang sudah dibersihkan dan diberi obat luka oleh wanita itu, kini terlihat sedikit membaik. Luka lebam pada tangan kanan, kaki kanan dan wajahnya terlihat lebih membiru.
"Apa luka di kepalamu baik-baik saja? Sepertinya luka itu semakin parah." Wanita itu terus memandang Cheara. Ia benar-benar sangat khawatir dan merasa bersalah.
"Kau baru menempati rumah ini?" Tanya wanita itu yang matanya terus mengelilingi setiap ruangan yang ada di rumah itu.
"Iya, baru kemarin." Cheara kembali sambil membawa gelas yang berisikan air putih. "Maaf ya Nyonya aku hanya punya air putih."
"Ah, tidak masalah. Kau ini sungguh gadis yang baik." Wanita itu menghabiskannya dengan sekali tegukan. "Maaf ya, aku sangat haus."
"Biar ku tambahkan airnya. Tunggu ya." Cheara mengambil teko yang berisikan air putih.
"Terima kasih. Oh iya, siapa namamu?"
"Kau bisa panggil aku Cheara." Cheara membawakan teko dan diletakkannya di atas meja. "Apa yang kau lakukan di sana, Nyonya?"
"Namaku Mayoza. Jangan panggil aku Nyonya, aku inikan bukan majikanmu." Katanya sambil tersenyum. "Apa maksud dari pertanyaanmu?"
"Em, maksudku kau itu orang kaya. Penampilanmu meyakinkanku, lalu apa yang kau lakukan di tempat keramaian seperti itu? Apalagi tanpa pengawal."
"Aku sedang mencari anakku."
"Anakmu hilang? Berapa usianya? Lelaki atau perempuan? Kau sudah melapor ke polisi?"
"Dia adalah pria tampan yang sangat cerdas. Pria yang periang dan penuh tawa, namun kini telah berubah. Semakin dewasa, ia menjadi pria yang dingin dan cuek. Bahkan pada ibunya sendiri."
"Dewasa?"
"Iya, Ravindra Gauri Mahawira. Dia adalah putraku. Ada yang bilang, ia sering datang ke tempat itu, makannya aku mengunjunginya."
Cheara berpikir sebelum akhirnya ia sadar bahwa kemungkinan besar pria yang Mayoza maksud adalah Ravin, pria yang ia kenal kemarin.
✨✨✨
Bekasi, 25 Juni 2020
[ 21 : 58 ]