Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 26 ] : Pulih



Abian merapikan baju yang ada di tasnya. Semua bajunya bau karena memang jarang dicuci dengan sabun. Dia melipatnya dengan rapi, lalu kembali memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba, seorang perawat datang untuk mengecek keadaan Cheara.


"Permisi, Tuan. Saya ingin mengecek keadaan nona Cheara." Ucap perawat itu yang langsung mengecek nadi di tangan Cheara.


Abian hanya tersenyum ramah dan kembali merapikan bajunya. Tidak lama, Ravin dan Zhaw datang. "Selamat pagi." Sapa Ravin.


Abian tersenyum melihat putranya itu ceria di pagi hari. "Selamat pagi, Ravin." Balas Abian.


"Suster, bagaimana keadaan Cheara?" Tanya Zhaw yang masih berdiri di samping suster sedangkan Ravin sudah duduk di sofa dengan Abian.


"Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Nanti dokter akan datang untuk mengecek dan mengobati luka di kepalanya." Jawab perawat itu dengan sopan.


"Ayah..."


Semua terkejut, Ravin dan Abian beranjak dari sofa dan dengan cepat mendekati Cheara. Mereka mendengar Cheara memanggil ayahnya, walau dalam keadaan mata yang masih tertutup.


"Suster, kau dengar kan tadi dia berbicara?" Tanya Ravin.


"Iya, tunggu sebentar. Biar saya panggil dokter." Perawat itu segera berlari keluar untuk memanggil dokter.


"Sea, ini ayah. Kau sudah sadar?" Abian mengatakannya tepat di telinga Cheara sambil mengelus wajah mulus putrinya itu.


"Ayah..." Cheara memanggil lagi, namun matanya masih tertutup.


Ravin memegang tangan kanan Cheara, sedangkan Zhaw yang ada di belakang Ravin, hanya bisa menahan diri untuk mendekati Cheara. Dia tidak ingin Ravin cemburu dan marah lagi padanya.


Perawat tadi kembali datang dengan dokter. Segera, Ravin dan Abian menyingkir untuk memberi luang agar dokter bisa mengecek Cheara. Mulai dari detak jantung, nadi hingga infus, dokter mengeceknya dengan teliti.


Setelah selesai, dokter menyimpulkan bahwa kondisi Cheara sudah normal. Dia sudah sadar tetapi karena benturan tersebut yang menyebabkan pusing berlebih, itu yang membuatnya sulit untuk membuka matanya. Dia perlahan akan membuka matanya jika dirasa pusingnya berkurang.


"Jadi, apakah dia akan sadar dengan cepat?" Tanya Abian kembali memastikan.


"Tentu, Tuan. Kalian bisa mengajaknya mengobrol, tapi jangan membuatnya berpikir keras. Tolong bantu dia agar bisa menghilangkan pusingnya. Saya juga akan membuatkan resep obat yang baru untuk nona Cheara." Jelas dokter.


"Terima kasih, Dokter." Kata Ravin.


"Kalau begitu, saya permisi. Semoga nona Cheara cepat sembuh." Dokter dan perawat itu segera pergi.


✨✨✨


Mayoza belum siap bertemu dengan mantan suaminya, Abian. Dia akhirnya memutuskan pergi ke kantin rumah sakit, dengan alasan lapar karena belum sarapan. Padahal, dia sudah sarapan di rumah. Tidak lama, Zhaw datang sendiri tanpa Ravin.


"Zhaw, bagaimana keadaan Cheara?" Tanya Mayoza setelah Ravin duduk di bangku, tepat di depannya.


"Dia sudah sadar, hanya saja belum mampu membuka matanya karena pusing yang berlebih. Mungkin luka di kepalanya cukup parah." Zhaw menjelaskannya.


"Syukurlah kalau begitu." Mayoza meneguk air putih miliknya. "Pesanlah makanan, tadi kau belum sarapan di rumah."


"Tidak, aku belum lapar." Jawab Zhaw. "Bu, terima kasih ya kau sudah membentuku untuk akur lagi dengan Ravin."


"Iya, sama-sama. Ini juga senang sekali kalian bisa akur lagi. Semoga setelah ini tidak ada masalah lagi di antara kalian ya." Ucap Mayoza dengan memberikan senyuman di akhir.


Zhaw hanya tersenyum dan mengangguk kecil. "Aku harus segera pergi ke tempat kerja."


"Baiklah, hati-hati ya." Mayoza membuka dompet dan mengambil beberapa uang. "Ini, ambillah." Dia memberikannya pada Zhaw.


Zhaw sedikit melotot karena terkejut. "Untuk apa, Bu?"


"Untuk ongkosmu. Ambillah, setidaknya untuk kau sarapan dan makan siang." Mayoza masih mengulurkan tangannya untuk memberikan uang senilai 300 ribu pada Zhaw.


"Tidak perlu, Bu. Aku masih punya uang. Aku pergi dulu ya." Sebelum pergi, Zhaw terlebih dahulu mencium pucuk kepala Mayoza. Dia memang selalu seperti itu, Mayoza pun masih mengingatnya.


✨✨✨


Awalnya, Ravin memang tidak ingin berangkat kerja. Apalagi ketika Cheara sudah sadar, dia semakin yakin dengan keputusannya untuk mengambil cuti. Dia duduk di kursi samping Cheara dan Abian yang duduk di sofa membiarkannya. Melihat Ravin mengkhawatirkan Cheara seperti itu membuat Abian senang sekaligus sedih.


Dia senang karena Cheara akan aman bersama Ravin. Tapi dia sedih jika nantinya mereka saling mencintai dan ingin memiliki, namun kenyataannya mereka adalah saudara, walaupun bukan kandung. Karena Abian tidak ingin kedua anaknya itu menjadi sepasang kekasih. Itu adalah permohonannya.


"Ravin, kau pergilah berkerja. Aku bisa menjaga Cheara." Pinta Abian.


"Tidak, aku ingin cuti saja hari ini." Tiba-tiba, pertanda panggilan masuk di ponsel milik Ravin berdering. Ravin segera mengangkatnya. "Hallo, selamat pagi... Dengan saya sendiri... Apakah tidak bisa ditunda hingga besok?... Baiklah, saya segera kesana... Sama-sama." Ravin mematikan panggilan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Abian.


"Ada meeting pagi ini dan tidak bisa ditunda."


Ravin mengambilnya dan segera pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Tidak lama, Ravin keluar dengan pakaian yang rapi dan wangi. Abian sangat bahagia, pertama kali melihat putranya dengan penampilan seperti itu. Ravin sangat tampan dengan tinggi badan yang semampai.


"Tolong segera beri tau aku jika ada apa-apa dengan Cheara. Setelah meeting selesai, aku akan langsung datang kesini." Ucap Ravin dan mengambil beberapa uang dari sakunya. "Ini, ambillah. Kau harus sarapan, Tuan. Cheara akan marah padaku jika memberikanmu kelaparan. Dia sangat menyayangi ayahnya." Kata Ravin.


Abian mengambil uangnya. "Terima kasih, Ravin. Kau ataupun Sea, kalian anak yang baik." Abian memberikan senyuman berharganya pada putranya itu, sebelum akhirnya Ravin pamit pergi.


✨✨✨


Mayoza ingin bicara pada Abian. Dia ingin meminta pada Abian untuk tidak memberi tau yang sebenarnya dulu. Mereka harus mencari waktu yang tepat, tidak untuk sekarang. Ketika berjalan menuju ruang rawat Cheara, dia melihat Ravin yang berjalan terburu-buru.


"Ravin!" Panggil Mayoza dan Ravin mendekati mendekatinya.


"Ibu? Kupikir ibu pulang lagi. Ke mana Zhaw?" Tanya Ravin.


"Dia sudah berangkat kerja. Kau juga mau berangkat kerja?"


"Iya, aku buru-buru. Ada meeting yang harus ku selesaikan." Ravin mencium pipi kanan dan kiri Mayoza. "Aku pergi, Bu." Lalu Ravin membuat melanjutkan langkahnya.


Mayoza kembali berjalan menuju tujuannya. Sesampainya di sana, dia dengan ragu membuka pintu. Dia berpikir kembali dengan keputusannya untuk berbicara pada Abian setelah bertahun-tahun berpisah. Apakah ini adalah keputusan yang baik?


Tiba-tiba, pintu terbuka. Abian keluar dari dalam dengan terkejut karena melihat Mayoza yang ada di depan pintu. Mereka masih saling berpandangan, tidak mampu menyapa bahkan berbicara sedikitpun.


Mayoza langsung meneteskan air matanya dengan ekspresi wajah yang datar. Abian segera menutup pintu dan kini berada di luar ruangan. Sepi, tidak ada siapapun di lorong itu. Mereka masih saling menatap sebelum akhirnya, Abian membuka suara. "Kau... Apa kabar?" Tanya Ravin dengan suara yang gemetar.


"Tidak seperti yang kau lihat." Jawab Mayoza dengan pipi yang basah karena air mata.


Dengan susah, Abian kembali bertanya. "Ada apa? Apa yang terjadi padamu?"


Mayoza pun berusaha untuk menjawabnya. "Setelah kau pergi, aku selalu merasa tidak baik-baik saja."


"Kupikir kau sudah bahagia sekarang." Ucap Abian yang tidak tau lagi harus berkata apa.


"Bagaimana bisa aku bahagia jika kebahagiaanku telah hilang. Kau adalah kebahagiaanku yang pergi." Ucap Mayoza dan air matanya mengalir lebih deras.


"Apa hidupmu menderita?" Tanya Abian.


"Iya, aku dan anak kita, kami hidup menderita dibawah kekayaan."


"Bagaimana bisa? Apakah harta yang aku berikan untuk kalian tidak cukup?" Tanya Abian.


"Semua harta itu... Kami tidak memilikinya lagi. Semuanya telah hilang."


"Apa maksudmu?"


Mayoza menjelaskan semuanya. Menjelaskan tentang harta yang Abian berikan untuk Ravin sebelum mereka bercerai telah dikuasai oleh suaminya, Gauri Mahawira. Gauri telah membohonginya, dia telah memfaatkannya untuk mendapatkan semua harta itu.


"Kenapa bisa dia? Tega sekali dia!" Abian sedikit kesal, dia langsung memeluk Mayoza. "Maafkan aku telah membuat kalian hidup menderita."


Mayoza pun membalas pelukan itu dengan erat. Dia merindukannya, merindukan tubuh pria yang dicintainya, bahkan hingga kini.


"Aku tidak akan lagi membuat kalian menderita, aku akan menjaga kalian." Ucap Abian lagi.


Mayoza melepaskan pelukan itu. "Ravin, dia adalah anakmu. Dia mencintai Cheara, putrimu. Bagaimana bisa kita membiarkan mereka bersama? Itu tidak boleh terjadi." Ucap Mayoza yang belum tau kalau Cheara bukanlah anak kandung Abian.


"Iya, tidak mungkin kita membiarkan mereka bersama. Walaupun Sea bukan anak kandungku, tapi aku menganggapnya seperti anak kandungku sendiri."


"Apa? Dia bukan anak kandungmu?" Mayoza terkejut.


Abian menjelaskan bahwa Cheara adalah anak dari kekasih istrinya dulu. Mereka melakukan kesalahan besar hingga akhirnya mereka memiliki Cheara. Namun, pria itu tidak mau bertanggung jawab dan akhirnya, Abianlah yang dijodohkan dengannya.


"Kalau begitu, biarkanlah mereka bersama karena mereka bukanlah adik kakak sedarah." Ucap Mayoza.


"Tidak bisa, aku tidak menginginkannya, Mayoza. Tolong mengertilah." Abian tetap pada keputusannya kalau dia tidak ingin Ravin dan Cheara menjadi sepasang kekasih.


✨✨✨


Di part kali ini kita santai dulu ya:v Ravin dan Zhaw udah baikan, ditambah Cheara yang juga udah sadar. Tapi, persoalan Ravin dan Cheara yang saling mencintai gak direstui sama Abian. Nah loh, gimana ya hubungan mereka selanjutnya?


Part kali ini lumayan panjang ya:v Soalnya, niatnya aku mau bikin buat part selanjutnya itu persoalan yang baru. Jadi untuk sekarang, masalah Zhaw dan Ravin udah selesai ya. Kita lanjut lagi ke masalah selanjutnya, di part selanjutnya ✨


Bekasi, 08 Oktober 2020


[ 22 : 00 WIB ]