Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 10 ] : Katanya "Pasangan Serasi."



Sudah seharian Ravin berada di rumah Cheara. Bahkan mereka belum keluar rumah sejak pagi. Mungkin saja hal ini menjadi kesempatan untuk Ravin dan Cheara bisa mengenal lebih jauh lagi. Mulai dari Ravin yang memasak untuk makan siang hingga Cheara yang mulai buka suara, menanyakan apa yang terjadi pada Ravin sejak pertemuan pertama mereka.


Ravin yang masih sibuk memasak untuk makan malam terus saja diganggu oleh pertanyaan yang Cheara lontarkan. Ravin hanya terus diam walaupun Cheara merengek dan marah-marah karena dicuekin.


"Mengapa kau sangat ingin tau?" Tanya Ravin yang sedang sibuk memotong wortel, kentang dan beberapa sayuran lain untuk melengkapi sup yang ia buat.


Cheara membawa kursi dan duduk disamping Ravin yang sedang memasak. "Kau itu kan temanku. Bukankah kau harus menceritakannya padaku soal itu? Masalah itu kan menyangkut denganku juga. Aku melihat kejadian itu, makannya aku bertanya padamu apa yang terjadi sebenarnya."


"Bukan keharusan, tapi keinginan." Pernyataan Ravin membuat Cheara melongok penuh tanya. "Kalau keharusan, artinya aku wajib menceritakan semuanya padamu tanpa memandang privasi kehidupanku."


"Kalau keinginan?" Tanya Cheara yang masih bingung.


"Kalau keinginan, kau tidak wajib mengetahui semuanya. Kau hanya ingin tau hal-hal yang sebenarnya tidak merugikan juga tidak menguntungkan dirimu." Ravin menatap Cheara, bahkan ia jongkok untuk bisa lebih dalam menatapnya. "Paham?"


Cheara gelagapan. Walaupun ini bukanlah kali pertama ia ditatap Ravin seperti itu, tetapi ia selalu gugup. Ia hanya bisa mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat saja. Cheara langsung berdiri dan memalingkan wajahnya agar tidak terlihat gugup. "Kita harus pergi, Ravin. Bukankah sore ini kita harus bertemu rentenir itu?"


"Kau sangat pandai mengalihkan pembicaraan ya."


"Kau juga ternyata sangat pandai berbicara. Kukira kau hanya pria dingin yang tidak kuat mengutarakan kalimat panjang."


Ravin berdiri. Ia kembali menatap Cheara dan lagi-lagi selalu berhasil membuat Cheara gugup, sangat terlihat gugup. Matanya yang terus menatap bola mata Cheara dan tangannya yang mulai membuka celemek bukanlah penghalang untuknya.


"Ayo, bersiaplah tuan putri." Ucap Ravin dengan lembut.


✨✨✨


Rumah mewah dan elegan terlihat sangat sepi dan sunyi. Penghuni rumah itu kebanyakan adalah pelayan dan pengurus rumah, totalnya ada 13 orang pekerja di rumah itu. Sedangkan majikan di rumah itu hanya 2 orang, seorang pria setengah tua yang selalu sibuk dan menghabiskan waktunya di kantor, juga seorang pria berusia 26 tahun, anak pewaris kekayaan itu. Rumah itu bisa dibilang selalu bersih bahkan pekerja yang bekerja di sana tidak terlalu lelah, pasalnya debu jejak kaki pun sama sekali tidak mengotori lantai rumah itu.


Namun hari ini, Rachel berada di rumah itu tanpa izin terlebih dahulu kepada pemilik rumah. Ia memang sudah menjadi calon majikan di sana. Rachel pergi ke dapur dengan membawa belanjaan yang dibelinya. Ia berniat memasak untuk makan malam nanti. Baru saja selesai, tuan muda rumah itu sudah tiba. Ia pulang lebih awal dari biasanya.


"Rachel? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Rezvan yang langsung menuju dapur ketika mendengar suara berisik akibat pisau dan talenan.


"Ah sayang, kau pulang lebih awal rupanya?" Seperti biasa, Rachel selalu memberi ciuman pada kekasihnya itu. "Aku sedang memasak untuk makan malam."


"Mengapa kau melakukan itu? Untuk apa aku mempekerjakan banyak pelayanan jika makan malam saja kau sendiri yang memasaknya?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin belajar menjadi calon istri yang baik untukmu."


"Kemari," Rezvan meraih pinggang Rachel dan mendekat ke hadapannya. "Kau ini sangat manis, manis sekali."


Rachel pun memeluk Rezvan dan berbisik, "aku mencintaimu, sayang."


"Sungguh?" Rezvan melepas pelukan itu. "Bukankah itu juga yang kau katakan pada Ravin?"


"Itu hanya palsu, tapi untukmu tidak." Rachel menjawabnya tanpa ragu. Padahal, Rezvan sendiri adalah kakak dari pria yang pernah menjadi kekasihnya dan tersakiti karenanya.


"Jangan tinggalkan aku seperti kau meninggalkan Ravin ya."


"Tidak akan, sayang." Jawab Rachel dengan manja.


✨✨✨


Sebelum ke rumah Nek Arre, terlebih dahulu mereka menuju apartemen tempat Ravin tinggal. Ravin harus mengambil uang yang ia janjikan untuk membayar hutang Nek Arre pada rentenir. Selain niat karena ingin menolong, Ravin juga sebenarnya ingin membuat keinginan mulia Cheara untuk menolong orang terkabulkan. Sekalipun dalam kekurangan, Cheara masih selalu memikirkan kesusahan orang lain. Sedangkan Ravin, ia hanya orang yang sedang termakan suasana duka akibat kehilangan cintanya. Sampai-sampai ia lupa melihat sekelilingnya. Cheara lah yang membuatnya kembali sadar dan perlahan hidup lebih baik lagi.


Setelah sampai, Cheara memutuskan untuk tetap di mobil dan menunggu Ravin kembali. Ravin meninggalkan kunci mobilnya dan sepenuhnya percaya pada Cheara. Namun Cheara sama sekali tidak berniat untuk membawa kabur mobil itu. Lagi pula, ia tidak bisa mengendarai mobil. Di basemen, banyak sekali mobil yang terparkir rapi. Cheara berniat keluar dari mobil karena melihat ada anak kucing dibawah mobil dengan mesin menyala dan ada pengemudinya di dalam. Tanpa berpikir lagi, Cheara keluar dan berlari untuk memberi tau pengemudi itu agar tidak menjalankan mobilnya.


"Diam! Jangan jalankan mobilmu, Tuan. Ada kucing di bawah mobilmu." Teriak Cheara pada pengemudi yang belum terlihat jelas wajahnya.


Setelah mesin mobil itu mati, Cheara langsung mengambil anak kucing malang itu. Ternyata, kaki kucing itu terluka, mungkin itu yang membuatnya susah berjalan.


"Hey, cepat singkirkan kucing itu. Cepat minggir! Ayo cepat!" Sepertinya ia adalah supir pemilik mobil itu. Terlihat dari seragam yang ia kenakan dan seorang pria yang duduk di bangku tengah.


"Iya maaf, Tuan." Jawab Cheara yang terlihat takut dengan suara lantang itu.


"Cheara!" Ravin berteriak dari jauh dan berlari mendekati Cheara. "Apa yang kau lakukan? Kau tidak apa-apa?" Tanya Ravin sambil memegang wajah Cheara.


"Aku baik-baik saja." Cheara menunjukkan anak kucing yang ia tolong. "Kucing ini, dia terluka."


"Apakah kalian masih lama membuat pertunjukan romansa seperti itu di depanku?" Kata pria berjas setengah tua yang turun dari mobilnya. "Kau ini, sungguh tidak tau malu. Kau--kau tidak punya malu."


"Apa maksudmu?" Tanya Ravin dengan santai, namun tatapannya terlihat kesal.


"Kenapa dengan penampilanku? Apa yang kau maksud?" Cheara merasa sedikit sakit hati atas sindirannya.


"Dia lebih baik daripada kekasih anakmu. Jangan pernah membandingkan dia dengan kekasih anakmu yang tidak tau malu itu!" Ravin mulai berteriak dengan emosinya.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk melupakan kami dan jangan pernah kau temui kami lagi." Kata pria tua itu tanpa rasa bersalah atas apa yang telah ia ucapkan.


Tanpa kata-kata lagi, Ravin menarik Cheara untuk segera pergi dengan kucing yang dibawanya. Banyak pertanyaan di pikiran Cheara. Kekasih anak dari pria itu berarti adalah kekasih kakak atau adiknya Ravin. Lalu apa hubungannya Ravin dengan kekasih saudara kandungnya itu? Dan siapa pria itu? Apa dia adalah ayahnya Ravin? Tapi kenapa mereka terlihat tidak akur sama sekali?


"Wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Dia hanya akan menemanimu saat sepi dan pergi saat ia merasa ingin pergi. Kau lihat saja!" Terikat pria tua itu dari kejauhan.


✨✨✨


Di sepanjang jalan, Ravin hanya diam. Memang diam adalah kebiasaannya, namun ini bukanlah diam biasa. Terlihat di matanya bawah pikiran dan hatinya sedang hancur. Cheara tidak mungkin bertanya, ada apa sebenarnya? Itu akan membuat Ravin marah nantinya. Cheara pun tidak mampu memecahkan keheningan itu, tapi Ravinlah yang membuka pembicaraan.


"Apakah kucing itu akan kau rawat?"


"Iya, sepertinya begitu. Bukanlah malang nasibnya? Ia hanya tinggal sendiri tanpa orang tua dan keluarganya, seperti aku."


"Kau belum banyak cerita soal dirimu dan kehidupanmu padaku."


"Kau tidak perlu tau, Ravin. Itu akan membuatmu iba padaku dan aku tidak menyukai itu."


"Kenapa?"


"Aku pun belum banyak tau soal kehidupanmu dan hatimu. Apa kau tidak berniat untuk memberi tauku?"


Ravin kembali dia. Cheara merasa sepertinya apa yang ia katakan salah. Tapikan Ravin duluan yang membicarakan soal kehidupan. Sudahlah, hati dan pikirannya sedang kacau. Sudah pasti keadaan akan berubah seperti ini.


Ketika sampai di rumah Nek Arre, Ravin sudah melihat dua rentenir berbadan kekar namun pengecut itu duduk di bangku depan bersama Nek Arre. Mereka bersikap manis padanya, tak seperti biasanya. Ketika Cheara yang masih menggendong kucing dan Ravin mendekati mereka, Tohang dan Rengko menyambutnya dengan ramah dan senyuman.


"Ku kira mereka tidak bisa tersenyum." Bisik Cheara pada Ravin.


"Selamat datang, Tuan. Cepat bayar hutang itu karena kami tidak punya banyak waktu lagi." Kata Tohang.


"Berikan surat tanda lunas untukku dan untuk Nek Arre." Kata Ravin.


"Ah, soal itu sudah kami siapkan, Tuan. Tunggu sebentar." Tohang menyuruh Rengko untuk menghitung uang itu dan ia sendiri menyiapkan surat-suratnya.


"Minggirlah, beri kami tempat duduk." Pinta Ravin pada Tohang dan Rengko yang langsung berdiri ketika di perintah.


"Kau sungguh keren." Bisik Cheara sambil tersenyum, ia terus saja mengelus-elus bulu kucing yang malang itu.


"Uangnya lebih 1 juta, Tuan." Kata Rengko setelah menghitung uangnya dengan cepat. Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal yang berhubungan dengan uang. Apalagi untuk hal menghitung uang.


"Kuberikan itu untuk kalian. Ku peringatkan sekali lagi, jangan pernah ganggu mereka." Kata Ravin yang dimaksud adalah Cheara dan Nek Arre.


"Siap, Tuan. Terima kasih banyak, ini surat-suratnya. Sudah kucap, tinggal kau tanda tangan saja."


Ravin pun menanda tangani 3 lembar surat pernyataan lunas, untuk mereka, untuknya dan untuk Nek Arre. "Oh iya, kembalikan juga sertifikat rumah ini. Cepat!"


Tohang dan Rengko segera mengambil tas yang berisi berkas-berkas. Ia mencari dengan cepat dimana sertifikat rumah Nek Arre. "Ini, Tuan." Tohang memberikannya. "Ini juga ponsel dan jam tangan milik gadis itu."


Ravin mengambilnya. "Segera pergi tanpa berkata apapun."


Tohang dan Rengko langsung pergi dengan senang. Nek Arre berkali-kali mengucapkan banyak terima kasih pada Cheara terutama Ravin. Nek Arre menyatakan kalau mereka adalah pemuda yang baik dan tulus. Ia merasa beruntung bisa dipertemukan oleh mereka.


"Aku sudah lama melupakan kehidupanku. Sudah lama sejak aku merasakan rasanya hancur dan kepalsuan. Berkat Cheara, aku mampu kembali pada diriku." Jelas Ravin yang membuat Cheara kagum.


"Kalian adalah pasangan yang serasi. Semoga kalian bisa bersama sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan." Pernyataan Nek Arre membuat Ravin dan Cheara hanya diam dan saling menatap sambil tersenyum paksa karena terkejut dengan pernyataan itu.


✨✨✨


Banyak teka teki di part ini. Hayo ada yang bisa nebak atau gak? (G penasaran tuh:v) Tunggu aja deh next part nya:) thank you all:*


Bekasi, 14 Juli 2020


[ 21 : 21 ]