
Udara malam terasa sangat dingin menusuk kulit. Jaket dengan bulu yang tebal pun tidak cukup untuk mencegah hawa dingin menyentuh kulit. Sudah hampir 2 jam ia menunggu orang yang sebelumnya sudah membuat janji dengannya. Lalu dengan perasaan yang sangat kesal karena orang tersebut terlambat terlalu lama, akhirnya Ravin pun pergi dari tempat itu. Ia mengendarai mobilnya dengan perasaan yang sangat kesal dan kecewa. Ternyata benar, ia memang pantas dikecewakan. Ia pantas mendapatkan penderitaan dari semua orang, termasuk orang yang sudah ia percayai. Ravin mengira, orang itu adalah satu-satunya yang dapat mengerti keadaannya, namun ternyata sama saja. Semua orang selalu mengecewakannya. Bahkan kini, orang tersebut sudah membuatnya sangat kecewa dan Ravin sungguh sudah sangat menyerah untuk mencari orang yang benar-benar tulus padanya.
Lampu merah membuat Ravin dengan terpaksa harus berhenti. Padahal, ia ingin cepat sampai ke rumah lalu mengeluarkan segala kekesalannya. Tiba-tiba, ada seorang wanita yang hendak menyeberang jalan namun dari arah yang sama dengan Ravin, ada sebuah mobil yang mengabaikan lampu merah dan menabrak wanita itu hingga terpental jauh. Ravin pun teriak di dalam mobil melihat kejadian itu, ia sempat melihat wajah wanita malang itu. Ravin mengenalnya dan menduga bahwa itu adalah Sea, wanita yang baru saja membuatnya kecewa.
Dengan segera, Ravin keluar dari mobil lalu mendekati wanita yang tubuhnya terpental hingga ke tengah perempatan jalan. Ternyata benar, itu adalah Sea. Wanita yang sangat ia cintai namun telah membuatnya kecewa beberapa menit lalu. Ravin mencoba mencari dekati jantung Sea, namun semuanya telah terjadi. Sea telah meninggal di tempat.
"Sea!" Ravin mencoba untuk teriak namun tidak mampu. Tenggorokannya yang sakit, itu membuatnya hanya dapat memanggil pelan. Ternyata itu hanyalah mimpi buruk. "Ada apa denganku? Mengapa aku ada di sini?" Pandangan Ravin mengelilingi setiap ruangan. Tubuhnya terasa sangat lemas tak berdaya. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya, selimut tebal menutupi tubuhnya.
Ia sangat terkejut ketika melihat wanita yang tadi ia mimpikan ada di sampingnya, tertidur pulas dan menggunakan tangan Ravin sebagai bantalannya. Ravin pun melihat sang Ibu ada di sofa, tertidur pulas dengan jaket berbulu tebal.
"Sea." Ravin memanggil pelan sambil mengusap rambut wanita itu.
"Ravin? Kau sudah sadar? Syukurlah."
"Sea." Ravin memanggil lagi sambil menatap wanita yang telah bangun dari tidurnya.
"Kau tau dari mana nama itu?" Padahal, Cheara sudah yakin kalau buku harian yang ia cari mungkin saja tertinggal di mobil Ravin kemarin malam. Kemungkinan besar, Ravin membuka buku itu atau mungkin membacanya juga.
Ravin hanya diam. Ia menatap Cheara sampai matanya berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur kalau tadi hanyalah mimpi. Entah kenapa, ia tidak ingin kehilangan Cheara.
Cheara menunggu jawaban Ravin, namun pria itu hanya diam dan terus menatapnya. "Kau tidak boleh memanggilku dengan nama itu. Panggil saja Cheara." Cheara memberikan jeda, ia membalas tatapan Ravin. "Ada apa? Mengapa kau menangis? Ceritakan padaku. Mungkin itu bisa sedikit membuatmu tenang."
"Bolehkah aku memelukmu lagi?" Akhirnya, Ravin buka suara. Air matanya pun lolos keluar matanya.
"Jika itu bisa membuatmu tenang, tentu saja boleh." Kali ini bukan Ravin yang memeluknya, namun Cheara. Ia duduk di samping Ravin lalu memeluknya. Sungguh itu membuat Cheara bingung. Saat di dekat Ravin, ia selalu merasa sangat tenang. Apa mungkin Ravin pun merasakan hal yang sama dengannya?
Dalam pelukan, Ravin mencoba mengatakan sesuatu. "Maukah kau menjadi temanku?"
Cheara sempat bingung. Mengapa bisa mencari teman semudah itu? Bukankah mereka baru bertemu dan belum banyak mengenal? Mengapa pria cerdas seperti Ravin bisa mempercayainya sebagai teman? Sepertinya pertanyaan itu akan ditanyakan lain waktu.
"Tentu saja. Mulai sekarang kita adalah teman. Jadi jika kau membutuhkan seseorang untuk mencurahkan segala sesuatu, temuilah aku ya." Ucapan itu semata-mata karena Cheara ingin membuat Ravin lebih tenang.
Ravin melepaskan pelukan itu. Ia memegang kedua lengan Cheara dan menatapnya lagi. Cheara berpikir, apa hal itu adalah hobinya? Apa menatap seseorang dengan seksama adalah ketenangan untuknya? Apa menatap seseorang hingga membuat hatinya luluh adalah suatu kebahagiaan untuknya?
"Apa yang terjadi padamu? Mengapa wajahmu dipenuhi luka?" Tanya Ravin dengan suara yang pelan.
Cheara pun membalas tatapan itu. Sesekali ia tersenyum karena mendengar suara pria itu membuatnya senang, entah kenapa. "Aku tidak apa-apa. Ini bukan luka yang serius."
"Apakah itu tidak membuatmu sakit?"
"Tanti saja tidak. Sepertinya, kau harus mengenalku lebih jauh lagi. Setelah itu kau akan tau sekuat apa diriku." Jawab Cheara sambil tersenyum. Senyum itu bertambah lebar ketika Ravin ikut tersenyum juga. Ia terlihat sangat manis saat tersenyum dibandingkan dirinya yang selalu dingin dengan raut wajah yang datar.
"Kau istirahat lah. Aku akan pulang setelah kau tidur."
"Jika kau akan pergi setelah aku tidur, lebih baik aku tidak tidur untuk waktu yang lama."
"Besok aku harus bekerja, jadi aku harus istirahat terlebih dahulu."
"Kamu bisa istirahat disini bersamaku." Ravin memiringkan tubuhnya. Ia menyuruh Cheara untuk tidur bersama di sampingnya. Hanya tinggal 5 jam menuju jam 6 pagi, itu bukanlah waktu yang lama.
"Apa maksudmu? Aku tidur bersamamu? Itu tidak mungkin."
"Kalau begitu, tidurlah seperti tadi. Tidur lagi dilenganku. Aku tidak ingin kau pergi."
✨✨✨
"Kau hati-hati ya. Terima kasih sudah membantuku menjaga Ravin malam ini. Maaf jika itu membuatmu lelah." Ucap Mayoza sambil memegang tangan Cheara.
"Sama-sama, Bibi. Aku senang bisa membantumu. Semoga Ravin cepat sembuh. Aku pamit ya." Cheara pun berpamitan kepada Ravin yang masih tertidur. Ia memegang kedua tangan Ravin. "Aku pergi ya. Semoga lekas sembuh."
Cheara lalu pergi menuju tempat kerjanya dengan berjalan kaki. Banyak juga orang yang memilih untuk jalan kaki dibandingkan naik angkutan umum hingga berdesak-desakan. Namun itu bukanlah alasan Cheara. Ia tidak punya uang sepeserpun untuk naik angkutan umum. Disaat-saat seperti ini, ia selalu memikirkan keadaan di kampung halamannya dan keadaan Super Hero nya di lapas. Entah apa yang akan terjadi padanya hari Minggu nanti. Mungkin ini adalah detik-detik akhir ia menghabiskan waktu bebasnya sebelum rentenir kejam itu membuat hidupnya hancur.
Cheara berjalan sambil melamun, itu yang membuatnya sangat terkejut ketika ada suara klakson motor dan berhenti di sampingnya. "Astaga!"
"Cheara? Kau jalan kaki menuju tempat kerja?"
"Zhaw? Aku sungguh terkejut."
"Maaf. Lagi pula mengapa kau berjalan sambil melamun? Jika ada lubang di jalan bagaimana? Apa kau rela terjatuh dan menanggung malu?" Ucapan Zhaw membuat Cheara tertawa. Ledekan itu sangat sederhana namun mampu membuat Cheara kembali semangat di pagi hari ini. "Ayo kita berangkat bersama?"
"Tidak perlu, aku takut merepotkanmu,"
"Tidak tidak. Aku yang meminta, ayo."
Akhirnya, Cheara mengiyakan ajakan itu. Setidaknya, ia tidak akan pegal harus berjalan kaki menuju tempat kerja yang lumayan jauh dengan kaki yang masih terpincang-pincang. Di perjalanan, motor yang Zhaw kendarai membuat merasa nyaman. Zhaw pun melontarkan beberapa pertanyaan hingga membuat keadaan tidak canggung.
"Ada apa denganmu? Apa kau berkelahi hingga membuat dirimu terluka seperti itu?"
"Apa maksudmu? Tentu saja tidak." Jawab Cheara dengan nada yang sedikit kencang.
"Mengapa kau menaikkan nada bicaramu? Aku kan hanya bertanya agar kau menjelaskan yang sebenarnya."
"Maaf, maaf. Aku ini tidak pandai peka terhadap keadaan."
"Jadi aku harus selalu to the point jika berbicara denganmu?"
"Iya, aku tidak suka basa-basi."
"Jadi jawablah pertanyaanku."
"Apa itu penting?"
"Tergantung,"
"Apa?"
"Apa-apaan kau ini? Kau kini sungguh membuatku terpojokkan dan merasa tidak nyaman dengan pertanyaanku sendiri. Sepertinya berbincang denganmu membuatku takut." Zhaw lagi-lagi mengucapkan hal yang membuat Cheara kembali tertawa.
Dua pria yang ku temui di kehidupan baruku ini sangat berbanding terbalik. Ravin yang beku dan Zhaw yang cair.
✨✨✨
Bekasi, 28 Juni 2020
[ 21 : 33 ]