
Ini adalah hari ketiga Cheara berada di tempat yang masih asing baginya. Ia rela harus menempuh jalan yang cukup jauh demi mencari pekerjaan. Ia sempat bingung harus mencari pekerjaan kemana lagi. Kini, ia mengenakan kemeja biru muda dengan rok putih selutut. Rambutnya tetap terkuncir rapi model ekor kuda. Ia berjalan menyusuri keramaian dengan menggendong tas coklat muda miliknya. Hal itu tidak terlalu membuatnya lelah, hanya saja pikirannya yang lelah. Pikirannya seakan sudah berapi-api hingga sedikit lagi mati, menyisakan asapnya.
Cheara mampir di sebuah warung kecil yang letaknya ada di depan gang sempit pinggir jalan. Ia duduk dan membeli sebotol air mineral. Kini, uang 20 ribunya berkurang 5 ribu. Sebenarnya ia masih memiliki simpanan, namun itu ia simpan untuk ongkos ke kampung hari Minggu nanti. Ketika sedang santai duduk untuk beristirahat, lewatlah seorang Nenek berjalan di hadapannya lalu dihadang oleh 2 pria berbadan besar dan berperawakan preman. Mereka berdua memarahi, membentak, bahkan sampai mendorong Nenek itu hingga terjatuh. Dengan perasaan kemanusiaan, Cheara tidak terima jika mereka memperlakukan Nenek itu dengan kasar. Cheara bangun dari duduknya dan mencoba mendekati mereka.
Namun, niatnya dihadang oleh pemilik warung. "Jangan kesana jika kau tidak ingin celaka, gadis muda. Mereka adalah rentenir yang kejam. Biarkan mereka melakukan apa yang diinginkan."
"Kau menyuruhku untuk diam ketika melihat seorang Nenek diperlakukan seperti itu?" Bantah Cheara, ia langsung berlari mendekati Nenek yang sudah terjatuh kerena di dorong oleh pria berbadan paling besar itu.
"Mengapa kalian melakukan ini padanya?"
"Siapa kau? Tidak usah ikut campur. Pergi!" Kata salah satu dari mereka lalu mendorong Cheara hingga ikut terjatuh disamping Nenek yang menangis.
Cheara bangkit. "Aku cucunya. Ada urusan apa kau dengan Nenekku?"
"Nenek kau ini berhutang padaku. Hutangnya sudah banyak, namun tidak sepeserpun ia membayarnya."
"Aku akan segera membayar hutang Nenekku. Beri aku waktu 1 minggu."
"1 minggu? Tidak bisa, kutunggu besok sore. Jika kau tidak melunasinya, aku bersumpah akan menghabisi Nenek tua itu. Paham?!"
"Besok? Kau pikir mudah untuk mencari uang?"
Pria yang berbadan besar menarik Cheara, lalu ia mengambil tasnya dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalamnya. Mereka mengambil ponsel dan jam tangan yang dipakai oleh Cheara. Mereka menjadikan itu sebagai jaminan, setidaknya mengurangi jumlah hutang yang ada. Padahal sertifikat rumah Nenek itu sudah mereka ambil, namun mereka bilang itu masih jauh daripada hutang yang dimilikinya.
"Jika kau besok tidak membayarnya, ponsel dan jam tanganmu ini menjadi milikku. Setidaknya untuk membayar cicilan Nenek miskin itu selama 3 bulan lalu. Paham tidak?!"
Akhirnya mereka pergi dengan tawa yang licik. Cheara mencoba membantu Nenek itu untuk bangun. Nenek itu tidak terluka, namun tangan Cheara tergores karena kuku pria itu panjang dan tajam.
✨✨✨
Gold Right Restauran yang bernuansa klasik telah dibuka untuk hari ini. Sebelum dibuka, Ravin selalu mengadakan breafing oleh semua pegawainya. Ravin dikenal sebagai manager yang baik, ramah, disiplin dan pekerja keras. Namun akhir-akhir ini, para pegawai merasa bahwa atasannya itu sedang kurang sehat. Ia terlihat lesu dan murung, wajahnya pun nampak ada beberapa luka goresan dan lebam. Melihatnya seperti itu sama sekali tidak membuat para pegawainya semangat untuk bekerja.
Ravin terus saja berdiam diri di ruangannya. Biasanya, ia selalu memantau setiap pekerjaan yang dilakukan pegawainya. Mulai dari kerapihan dan kebersihan dapur, hingga menyapa setiap pengunjung. Kini, ia terus saja melamun dan tidak mau diganggu. Namun tiba-tiba ia berniat untuk membuka pesan yang dikirimkan oleh Ibunya. Sekitar 257 pesan dari sang Ibu yang masuk selama 3 hari ini. Ia membukanya namun tidak membaca satu persatu. Isinya hanya untuk bertanya yang baginya tidak penting sama sekali.
"Kapan kau pulang ke rumah?"
"Apa kau sudah makan?"
"Ini sudah malam, aku harap kau sudah tidur ya."
"Pulanglah, Nak. Demi Ibu."
Ravin langsung mematikan kembali ponselnya yang telah rusak, namun masih bisa dinyalakan. Ia terpikir lagi tentang perkataan Ibunya kemarin.
"Aku sudah kehilangan Ayahmu. Aku juga tidak mau kehilanganmu."
Apa maksud dari ucapannya itu? Apa itu hanya untuk mempengaruhinya agar pulang ke rumah? Namun jika itu benar, rasanya ia sangat tersentuh ketika melihat sang Ibu menangis tersedu-sedu dan Ravin hanya diam.
"Sea. Mengapa aku terus memikirkannya? Rasanya aku ingin bertemu dengannya untuk berkeluh-kesah."
✨✨✨
Nek Arre tidak mempunyai keturunan. Ia tidak bisa memiliki anak karena ada masalah pada kesuburan suaminya. Mereka hidup bahagia sebelum rentenir itu datang dan mencoba merayu Nek Arre dan suaminya untuk meminjam uang padanya. Dalam keadaan suami Nek Arre yang sakit, akhirnya ia meminjam uang untuk berobat. Itulah awal mula urusan Nek Arre dengan rentenir kejam itu.
"Nenek yang sabar ya. Aku akan bantu Nenek untuk membayar hutangnya." Ujar Cheara dengan santun. Air matanya mengalir tiada henti, sedih karena membayangkan perjuangan Nek Arre selama ini melawan rentenir itu sendirian. "Apa Nenek susah mencoba untuk melaporkan masalah ini ke polisi?"
"Sudah. Tapi entah apa yang terjadi, orang itu kembali lagi. Kau tidak perlu menolongku, aku tidak mau kau celaka. Biarkan aku mati disiksa oleh mereka." Kata Nek Arre sambil terus menangis. Cheara memeluknya, ia jika ikut menangis. Ia sama sekali tidak keberatan jika ponsel dan jam tangannya disita, setidaknya Nek Arre bisa sedikit tenang.
"Aku harus pergi. Besok sore, aku akan kembali lagi ke sini. Jangan khawatir, aku pasti akan menyelesaikan semuanya. Kau jangan sedih ya, Nek." Cheara akhirnya berpamitan lalu pergi dari sana.
✨✨✨
Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Cheara masih terus berjalan, menyusuri setiap toko untuk melamar kerja. Namun tidak ada satupun yang menerimanya dengan alasan mereka belum membutuhkan tenaga kerja yang baru. Sambil menangis, Cheara menyemangati dirinya. Ia harus semangat, berjuang demi Super Hero-nya. Akhirnya, ia menemukan sebuah toko yang sedang membutuhkan tenaga kerja dengan upah sesuai apa yang dikerjakan. Dengan semangat, Cheara merapikan rambut dan pakaiannya. Ia berjalan sedikit pincang karena luka memar di lututnya. Cheara memasuki toko laundry yang lumayan besar, lalu ia menemui salah satu pekerja yang sedang membawa barang menuju motornya.
"Selamat siang, apa benar toko ini sedang mencari pegawai baru?"
"Iya benar, apa kau ingin melamar kerja disini?" Tanya pria dengan tubuh yang lumayan tinggi dan wajahnya yang lumayan tampan.
"Iya benar, aku harus menemui siapa ya?"
"Kau masuk saja, disana ada ruangan dengan pintu berwarna putih. Kau bisa menemui Bu Sandra."
"Terima kasih. Ah, dengan siapa aku berbicara?"
"Panggil saja aku Zhaw, dan kau?"
"Aku Cheara. Yasudah, aku permisi ya." Cheara langsung menuju tempat yang Zhaw beri tau.
✨✨✨
Sudah waktunya Ravin pulang, namun ia masih tetap diam di ruang kerjanya. Berkali-kali beberapa pegawai mencoba untuk memberinya makanan, namun ia selalu menolak. Wajahnya terlihat lebih pucat dari pagi tadi. Rasanya, ia ingin menangis di pelukan orang yang benar-benar tulus untuk menemaninya. Ketika nama 'sea' terlintas dipikirannya, ia langsung bergegas pergi menuju taman yang biasa ia kunjungi. Ravin tau, itu telah menjadi tempat yang akan Cheara kunjungi juga.
Ravin menunggu hampir 2 jam. Dari orang yang ramai berlalu-lalang, hingga tinggal beberapa yang lewat, lalu sekarang sepi dan gelap. Lampu jalan pun beberapa sudah mati. Udara malam yang dingin membuat Ravin semakin lemas. Ia belum makan apapun sejak kemarin, mungkin itu yang membuatnya lemas. Tepat pada jam 7 malam, Ravin yang berniat untuk pergi langsung terkejut ketika melihat Cheara berdiri di sampingnya. Mereka berhadapan, saling bertatapan. Cheara mencari jawaban di mata Ravin yang berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa yang terjadi padamu? Kamu bertengkar dengan siapa? Mengapa banyak luka di wajahmu? Kamu sakit? Kamu terlihat sangat pucat." Cheara langsung melontarkan banyak pertanyaan. Ia pun tersadar mengapa berbagai pertanyaan keluar dari mulutnya? Mengapa ia membuat Ravin merasa tidak nyaman? "Maafkan aku. Kamu tidak perlu menjawabnya."
Ravin langsung memeluk Cheara. Ia menangis dipeluknya dengan dekapan yang sangat erat. Bahkan suara tangisannya pun sangat terdengar oleh Cheara. Tidak tau apa yang harus dilakukannya, Cheara pun dengan perlahan menepuk-nepuk bahu Ravin. Ia berniat untuk berterima kasih atas kebaikannya, Cheara yakin pasti Ravin yang membayar uang dimuka untuk sewa rumah yang kini ia tempati. Cheara mencoba membuatnya tenang terlebih dahulu. Ia berniat membiarkan Ravin saja yang melepaskan pelukan itu agar ia merasa tenang.
Setelah hampir 10 menit, Ravin pun diam. Suara tangisannya tidak terdengar lagi oleh Cheara. Cheara pun ikut diam. Ia perlahan menepuk bahu Ravin, sedikit kencang namun Ravin tetap diam. Setelah sadar kalau Ravin pingsan, Cheara sangat khawatir. Ia memposisikan Ravin tidur di bangku taman lalu melepaskan jaketnya dan ia menutup tubuh Ravin agar sedikit hangat. Cheara ingin meminta bantuan namun tidak ada seorang pun di sana.
"Ravin, bangunlah! Ravin!" Cheara memanggil Ravin tepat di telinganya, namun Ravin tidak juga sadar.
✨✨✨
Bekasi, 26 Juni 2020
[ 22 : 41 ]