Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 11 ] : Cemas



Di hari Minggu ini, Cheara bangun lebih awal dari biasanya. Ia sangat merindukan ayahnya. Baru beberapa hari rasanya sudah beratus abad tidak bertemu. Hari ini tepat 1 tahun ayahnya menjadi tahanan tanpa kesalahan. Entah bagaimana cara untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah.


Setelah ia membuat makanan untuk kucing yang ia beri nama Cattarra, Cheara siap-siap untuk segera pergi. Ia selalu membawa ranselnya ketika keluar rumah. Banyak barang berharga di dalamnya. Ketika keluar rumah, langit masih gelap. Jalanan pun masih sepi. Terpaksa, Cheara berjalan menuju terminal dikarenakan kendaraan umum belum ada yang beroperasi. Lagi pula, lokasinya tidak terlalu jauh. Semoga saja uangnya cukup untuk pergi dan kembali lagi. Di jalan, Cheara merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin faktor luka waktu itu. Ditambah dinginnya udara pagi dan angin sejuk,membuat Cheara sangat mengantuk.


"Ah sejuk sekali. Rasanya aku ingin kembali tidur, huam." Kata Cheara sambil menguap dan membuat matanya berair.


Ketika sampai di terminal, Cheara merasa kakinya kebas. Ia segera mencari kursi untuk sejenak beristirahat sebelum menuju loket untuk membeli tiket. Kini bukan hanya kaki, seluruh badannya terasa seperti membeku, dingin sekali. "Ah, dingin sekali. Aku pikir ini bukan sejuk, tetapi terlalu dingin." Katanya.


Setelah merasa lebih baik, Cheara langsung menuju loket dan membeli tiket. Ia segera berlari menuju bis dan mengambil posisi di tengah dengan dua bangku. Terasa lebih baik dari sebelumnya, Cheara membuka tas dan mendapatkan banyak panggilan masuk dari Ravin.


"Ada apa dengannya? Mengapa ia menelponku 27 kali?" Ketika Cheara ingin menelpon balik, ia berpikir terlebih dahulu. "Sebaiknya jangan ku beri tau dia. Lebih baik aku matikan saja ponsel ini." Cheara memilih untuk mematikan ponselnya agar Ravin tidak menelpon dan mengirim pesan padanya.


✨✨✨


Di depan gerbang rumah sewa khusus wanita, tempat tinggal Cheara, Ravin berkali-kali mencoba menghubunginya karena ia melihat rumah Cheara digembok. Tiba-tiba seorang wanita keluar dari rumah yang ada di samping rumah Cheara. Ravin berniat bertanya padanya, namun ia enggan. Tapi ia berpikir lagi, daripada penasaran kemana Cheara pergi, lebih baik ia bertanya.


Ravin keluar dari mobilnya dan langsung mengejar wanita itu. "Hallo." Sapanya.


Wanita itu pun menengok dengan spontan. "Hallo." Ternyata itu adalah Zissa.


"Apakah kau mengenal Cheara?" Tanya Ravin dengan suara dinginnya.


"Cheara yang tinggal di samping rumahku?"


"Iya, apakah kau tau kemana ia pergi?" Ravin langsung bertanya tujuannya. Ia memang pria yang tidak suka basa-basi.


"Entahlah. Aku belum terlalu mengenalnya."


"Jadi kau tidak tau kemana ia pergi hari ini?" Tanya Ravin memastikan.


"Iya, aku tidak tau kemana ia pergi sepagi ini. Tapi tadi malam dia masih ada di rumah, aku makan malam bersamanya."


"Apa yang dia bicarakan padamu? Em, maksudku apakah dia mengatakan akan pergi ke suatu tempat?"


"Tidak. Dia hanya menceritakan tentang seorang pria yang katanya adalah teman barunya, mungkin saja yang ia maksud adalah kau."


Ravin hanya diam. Ia merasa jawaban dari wanita itu tidak ada gunanya. Zissa hanya seorang yang suka basa-basi dan berlama-lama, tidak seperti Cheara.


"Kalau begitu terima kasih." Ravin langsung pergi dan meninggalkan Zissa.


"Pria itu sangat kaku. Pria itu sangat keren dan... aku menyukainya. Pria yang tampan." Puji Zissa sambil tersenyum melihat kepergian Ravin yang mengendarai mobilnya dengan laju kencang.


✨✨✨


Sampailah di terminal kampung halaman Cheara. Belum ada seminggu ia meninggalkan tempat kelahirannya itu, tapi rasanya sudah sangat rindu. Ia langsung disapa dengan para pedagang yang berjualan di sekitar terminal. Berbagai jenis makanan yang tidak ia temukan di kota. Sebenarnya Cheara sangat ingin membeli salah satu dari makanan itu, namun sepertinya tidak sekarang. Sudah hampir 4 tahun lalu Cheara mencicipinya dan mungkin saja kini ia lupa bagaimana rasanya.


Cheara segera pergi dan sedikit berlari agar cepat sampai tujuan. Lokasi terminal dengan kampung tempat tinggalnya masih lumayan jauh. Setidaknya ia menggunakan ojek untuk sampai, namun Cheara kembali berpikir apakah uangnya akan cukup untuk pulang nanti? Namun jika ia harus jalan kaki, sepertinya tidak kuat. Karena luka di kakinya yang baru kering tapi masih terasa sakit. Akhirnya Cheara memutuskan untuk naik ojek dengan ongkos 20 ribu.


"Ayah, katakan padaku apa yang terjadi padamu? Mengapa kau diam saja? Apa kau sakit?" Cheara sangat cemas melihat kondisinya ayahnya mengkhawatirkan. Ia memegang wajah ayahnya penuh tanya. "Ayah, bicaralah. Aku merindukanmu." Kata Cheara yang mulai berlinang air mata.


Abian berhasil berbicara dan air matanya pun tumpah. "Aku sangat merindukanmu dan juga ibumu. Aku sangat merindukan kalian."


Cheara pun akhirnya menangis. Mereka berpelukan dan saling menangis mencairkan kerinduan. Mereka rindu bersama di bawah rumah penuh kebahagiaan. Rindu tertawa dan mengobrol bersama seperti 8 tahun lalu disaat ibu juga istri mereka masih hidup.


"Seandainya ibumu masih hidup, pasti ia sangat marah padaku. Ia akan sangat marah karena aku membiarkanmu hidup susah sendiri. Ia akan sangat bangga padamu karena kau bisa menjalani semuanya sendiri. Aku sangat merasa bersalah." Abian kembali menangis.


"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ibu akan sangat bangga pada ayah karena hingga kini masih bisa bertahan demiku. Kau harus bertahan demiku, Ayah." Cheara menatap Abian sambil menangis. "Aku akan segera membebaskanmu dari semua cobaan ini. Kau akan segera bebas. Aku berjanji akan membebaskanmu dari semua tuduhan ini. Aku janji."


"Ayah akan bersabar dan bertahan untukmu, untuk bahagiamu. Ayah berjanji padamu." Abian kembali memeluk Cheara.


✨✨✨


Entah kenapa Ravin sangat mencemaskan keadaan Cheara. Ia pun masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa bisa secepat itu dekat dengan orang yang baru saja ia kenal. Saat pertama kali melihat Cheara, rasanya Ravin merasa aman. Ia merasa Cheara berbeda dari semua orang yang selama ini berada di dekatnya. Semua orang yang penuh kepalsuan. Tapi pada Cheara, rasanya ia dapat memberikan kepercayaan penuh padanya.


Ravin memutuskan untuk pulang, kembali ke apartemennya. Mayoza yang sedang memasak bertanya pada Ravin, mengapa ia kembali dengan cepat. Padahal sebelumnya ia izin pergi untuk joging bersama Cheara.


"Kok sudah pulang? Joging nya sudah selesai? Cepat sekali?" Tanya Mayoza sambil memotong wortel untuk ia masak sebagai sup.


"Tidak." Jawab Ravin singkat.


"Tidak apa? Kau ini selalu berbicara dengan singkat. Aku ini Ibumu, bukan orang lain. Mengapa kau berkata padaku seakan aku adalah orang asing?"


"Aku tidak tau dimana Cheara. Ia pergi sejak pagi tadi."


"Pergi kemana?"


Tanpa menjawab, Ravin segera pergi menuju kamarnya. Ia benar-benar sangat penasaran, mengapa Cheara pergi sepagi itu dalam keadaan yang bisa dibilang belum sehat? Bahkan ponselnya pun sengaja ia matikan. Ada apa sebenarnya?


"Apa yang aku katakan salah?" Mayoza mencoba mengingat apa yang mereka bicarakan tadi. "Tadi ia bilang kalau ia tidak tau kemana Cheara pergi, lalu aku bertanya kemana Cheara pergi?" Mayoza merasa bodoh jika sedang berbicara dengan putranya yang cerdas itu. "Ah astaga, putraku yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh?"


Ravin mencoba menenangkan dirinya. Ia mencoba bertanya pada pikirannya, mengapa secemas ini? Mengapa seketika menjadi gila hanya karena seorang wanita yang baru ia kenal? Ravin menutupi kepalanya dengan bantal. Tiba-tiba ponselnya bunyi panggilan masuk. Dengan cepat, Ravin meraih ponselnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Cheara, dimana kau?!"


"Ravin, ini aku."


"Kau? Ada apa kau menghubungiku?"


✨✨✨


Bekasi, 17 Juli 2020


[ 21 : 43 WIB]