Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 19 ] : So Sweet



Mayoza sangat menyambut baik kedatangan Cheara. Apalagi ketika ia tau bahwa Cheara akan menginap, perasaannya sangat senang. Wajar saja, ia seorang ibu yang ingin memiliki anak perempuan sebagai adik dari Ravin. Baru saja Cheara datang, Mayoza langsung mengajaknya ke kamar meninggalkan Ravin di ruang tamu.


"Sini, duduklah. Kau tidak perlu sungkan, Cheara." Mayoza menyuruh Cheara untuk duduk dengannya di atas kasur yang sangat rapi dan bersih.


"Terima kasih, Bibi. Aku sangat senang bisa berjumpa denganmu lagi." Cheara tersenyum dengan manisnya.


"Aku pun sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Sering-seringlah datang ke sini, temani aku."


"Baiklah, Bi."


Mayoza melihat lengan Cheara yang terluka dengan darah yang sudah mengering. "Ada apa dengan lenganmu? Apa kau terluka?" Mayoza meraih lengan Cheara.


"Tidak apa-apa, Bi. Tadi aku hanya terjatuh. Lagi pula lukanya tidak parah kok."


Mayoza segera pergi membuka laci, mengambil kotak obat. Ia mencari obat luka, alkohol, kapas dan plester. "Kemari, biar ku obati lenganmu."


"Bibi, tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri." Ketika Cheara menolak, Mayoza langsung membersihkan luka itu dengan alkohol. "Aw!" Spontan, Cheara teriak dan Ravin mendengarnya.


"Apa yang kalian lakukan? Hah?" Langkah kaki Ravin terdengar mendekati kamar.


"Apa Ravin tidak mengetahuinya?" Tanya Mayoza.


"Kurasa tidak dan memang tidak perlu."


Ravin mengetuk pintu kamar karena penasaran. "Ibu, Cheara, ada apa?"


"Jangan sampai Ravin tau, Bi. Lagi pula ini hanya luka kecil." Cheara tidak ingin Ravin tau karena memang lukanya pun tidak parah.


Mayoza senang jika Ravin perhatian dengan Cheara. Ia pun memang sangat menyetujui jika Cheara bersanding dengan Ravin. Tanpa mendengarkan perkataan Cheara, Mayoza memberi tau yang sebenarnya terjadi. "Ini, lengan Cheara terluka. Ibu sedang mengobatinya."


Dengan cepat, pintu itu terbuka dan Ravin langsung mendekati mereka. "Kenapa bisa seperti itu? Apa yang terjadi, Cheara?" Seperti biasa, Ravin akan panik jika melihat Cheara terluka.


"Tidak-tidak, aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya terjatuh. Lukanya pun tidak parah." Jawab Cheara yang berusaha agar Ravin tidak sepanik itu.


"Kau ini, mengapa tidak bilang padaku?" Ravin meraih obat luka yang akan Mayoza berikan pada Cheara. Ia segera mengobati Cheara dengan pelan. Lukanya memang parah, tetapi banyak dan lumayan perih.


✨✨✨


Rumah mewah yang telah di hias untuk acara pernikahan terlihat sangat sempurna. Detail kecil di setiap hiasan, membuat rumah itu terlihat lebih mewah. Warna dominan abu-abu dan jingga adalah perpaduan warna kesukaan Rezvan dan Rachel. Bahkan untuk badget acara itu adalah hasil dari uang mereka berdua. Mereka sengaja mengadakan acara itu di rumah agar tidak ada yang mengetahuinya. Mereka ingin acara itu hanya untuk keluarga saja. Makannya, tidak ada tamu undangan yang datang selain keluarga dari kedua mempelai.


Rezvan dan Rachel minat keindahan dekorasi itu dari lantai atas. "Rezvan, acara pernikahan seperti inilah yang aku inginkan. Bersanding denganmu sebagai pengantin." Rachel menatap Rezvan. "Aku mencintaimu."


Rezvan meraih wajah cantik calon istrinya itu. Ia menatapnya penuh cinta. "Aku juga mencintaimu, Rachel. Aku ingin kau menjadi istriku satu-satunya dan selamanya." Ia pun memeluk Rachel dengan lembut.


"Bagaimana dengan Ravin? Apa kau mengundangnya untuk datang besok?" Rachel bertanya.


"Aku dan ayahku sepakat untuk tidak mengundang Ravin dan ibuku. Kau tau kan, mereka bukanlah keluargaku. Ravin hanya adik tiriku dan Mayoza hanya ibu tiriku." Rezvan membelai rambut Rachel. "Lagi pula, aku tidak ingin Ravin menghancurkan acara pernikahan kita."


"Iya benar. Dia selalu berkata kalau masih mencintaiku. Padahal sudah jelas, aku tidak mencintainya dan hanya menginginkanmu selamanya."


"Kau memang pandai memikat hati semua orang, sayang. Termasuk memikat hatiku, kau sangat pandai."


✨✨✨


Setelah selesai mengobati luka di lengan Cheara, Mayoza segera mengusir rabin keluar dari kamar. Banyak sekali gak yang ingin Mayoza ceritakan pada Cheara, karena memang lebih nyaman curhat dengan sesama perempuan. Ravin memang anak yang baik dan pengertian, tetapi ia tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan curhat ibunya.


Mayoza mencari album foto yang di mana semua isinya adalah foto-foto Ravin saat kecil. Ada 2 album yang masih disimpan baik olehnya. Mulai dari foto Ravin saat baru lahir, baru merangkak, tengkurap, berjalan, berlari hingga Ravin mulai masuk sekolah.


"Ravin kecil tampan sekali, Bi. Dia terlihat sangat manis dan lembut." Ungkap Cheara saat melihat foto Ravin yang baru mempunyai gigi.


Ketika Mayoza membuka album lembar demi lembar, pandangan Cheara berhenti pada satu foto. "Bi, siapa mereka?" Di foto itu, Ravin berada di tengah-tengah antara pria berbadan tinggi dan pria yang tingginya sama dengan Ravin.


"Zhaw? Apakah yang dimaksud adalah Zhaw yang kukenal?"


"Mereka sangat akrab sejak kecil bahkan sampai lulus sekolah hingga lulus kuliah." Mayoza memperjelas.


"Akrab? Apakah sekarang mereka masih akrab?"


"Setelah kejadian beberapa tahun lalu, hubungan mereka semakin merenggangkan bahkan tidak lagi berhubungan sama sekali. Aku pun tidak tau dimana Zhaw tinggal sekarang. Aku sering melihatnya berlalu lalang, tapi kita seperti tidak saling kenal."


"Apa yang sebenarnya terjadi, Bi?"


"Ah entahlah. Kau bisa tanyakan itu pada Ravin."


"Ternyata benar apa yang aku rasakan. Mereka sudah saling kenal sebelum aku mempertemukan mereka. Tapi mengapa mereka menyembunyikannya? Bahkan mereka seperti tidak pernah kenal sebelumnya."


"Cheara, istirahatlah. Ini sudah larut malam. Sepertinya Ravin juga sudah tidur." Mayoza merapikan albumnya. "Terkadang dia suka ketiduran di balkon rumah. Biar aku cek dulu, kau tidur duluan saja."


"Biar aku saja, Bi. Kau istirahat saja. Aku yang akan mengeceknya." Cheara langsung turun dari kasur dan keluar dari kamar.


Ia melihat Ravin yang duduk dengan sofa panjang di balkon sambil menghadap ke jendela. Bahkan ia juga belum melepas kemeja dan dasinya. Sepertinya benar, dia ketiduran. Cheara mendekatinya untuk memastikan apakah Ravin benar-benar sudah tidur.


"Ravin?" Cheara memanggil pelan. Ravin tertidur sangat pulas di atas sofa empuk berwarna hitam. Wajahnya terlihat sangat lelah. Di atas meja, terlihat banyak sekali kertas-kertas yang berantakan. Laptop pun masih menyala, sepertinya ia ketiduran saat sedang menyelesaikan tugasnya.


Cheara duduk di lantai tepat di depan wajah Ravin yang tertidur pulas. "Tega sekali ayahmu memperlakukanmu seperti itu. Padahal semua kekayaan itu milikmu, tetapi mengapa kau masih saja bekerja keras seperti ini? Bahkan mereka berniat ingin menghabisimu." Cheara mengelus rambit Ravin. "Aku benar-benar tidak bisa melihatmu sedih, apalagi sampai terluka. Walaupun aku baru mengenalmu, tapi kau benar-benar teman berharga untukku. Kau tenang saja, aku akan melindungimu dari kejahatan yang ingin mereka lakukan padamu. Kita kan sudah berjanji untuk saling membahagiakan dan aku akan membahagiakanmu, dengan cara menjagamu dari kejahatan mereka."


"Emh, Cheara? Apa yang kau lakukan di sini?" Ravin bangun dari tidurnya. Sungguh, Cheara takut Ravin mendengar apa yang ia ucapkan tadi.


"Oh Ravin? Aku hanya... tadi hanya ingin... aku sangat haus dan ingin mengambil minum." Jawab Cheara gerogi.


"Kalau kau haus, pergi ke dapur dan ambil air. Mengapa kau ada disini?" Ravin memiringkan tubuhnya dan menatap Cheara. "Apa kau melihat ku tidur, em?"


Dengan cepat, Cheara bangun dari duduknya. "Tentu saja tidak. Tadi aku ingin menutup jendela dan mematikan laptopmu. Aku hanya ingin memastikan kau sudah tidur."


Ravin bangun dan duduk lalu menarik tangan Cheara hingga membuat Cheara duduk di pangkuannya. Mata mereka lagi-lagi bertemu. Ravin selalu berhasil mengambil tatapan Cheara dan Cheara tidak bisa memalingkan pandangan itu.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Ravin.


"Apa maksudmu?" Cheara malah balik bertanya. Kini jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


"Apa kau menginginkanku?"


"Ravin lepaskan!" Cheara berusaha melepaskan genggaman tangan Ravin.


"Jujur dulu, baru aku lepaskan." Katanya sambil tersenyum.


"Tidak! Aku tidak menginginkanmu! Cepat lepaskan!" Cheara mulai memberontak. "Kalau tidak, aku akan teriak!"


"Baiklah." Ravin melepaskannya, Cheara pun langsung bangun. "Apa kau lapar?"


"Tidak, aku hanya haus." Cheara langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum.


✨✨✨


Makin hari makin uwuw aja nih mereka:v Apa Cheara udh mulai suka sama Ravin ya? Soalnya kan awal ketemu Ravin, Cheara merasa ada sesuatu di hatinya. Tapi Cheara gak yakin kalau dia jatuh cinta sama Ravin. Secara, mereka baru ketemu dan emng dasarnya Cheara gk ngerti soal jatuh cinta, soalnya kan blm prnh pacaran:v


Kalau Ravin sih udh jelas ya, dia masih cinta sama Rachel dan dia cuma anggap Cheara teman dekatnya aja:v


Bekasi, 21 Agustus 2020


[ 21 : 56 WIB ]