
"Ravin, apa yang terjadi? Sebenarnya ada apa?" Cheara bertanya karena ia menduga ada Ravin sudah mengenal Zhaw lebih dulu. "Apa kau sudah mengenalnya jauh lebih dulu?"
"Cheara, masuk lah ke dalam rumah dan beristirahatlah karena besok kau harus bekerja. Aku yang akan menjemputmu."
"Tapi Ravin..."
Klek.
Ravin membuka kunci otomatis pintu mobilnya. "Istirahatlah." Ravin menatap Cheara dengan wajah yang lesuh.
"Kau juga ya. Wajahmu terlihat sangat lelah."
"Iya, aku akan tidur dengan nyaman sambil membayangkan kebahagiaan tadi."
"Aku juga, aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih ya atas semuanya." Cheara menepuk pundak Ravin. "Berbahagialah selalu." Sambil tersenyum dengan manis.
Jari kelingking di tangan kanan Ravin terulur kan. "Kau harus berjanji untuk membantuku mencari kebahagiaan. Aku juga akan berjanji untuk membantumu mencari kebahagiaanmu."
Cheat membalas dengan jari kelingkingnya. "Aku berjanji."
✨✨✨
Selasa, 19 November 2020
Akhir-akhir ini, Cheara selalu bangun lebih awal dari biasanya. Sebelum alarm berbunyi, ia sudah merapikan rumahnya. Cattarra pun sudah dimandikan dan diberi makan.
"Kenapa kulkasku terisi penuh oleh makanan? Pasti ini semua karena Ravin." Cheara mengambil 2 buah telur dari kulkas. "Astaga pria itu, baik sekali."
Selain pekerjaan rumah yang sudah selesai, Cheras pun langsung membuat sarapan dan bekal untuk Ravin. Ia ingin Ravin merasakan masakannya. Sudah beberapa kali Ravin memasak makanan untuknya, tetapi Ravin belum pernah mencicipi masakan Cheara.
Setelah semuanya beres, Cheara kembali ke kamar untuk mengambil tas dan ponselnya. Ada 3 panggilan masuk dan 2 pesan dari Ravin.
Aku sudah di depan rumahmu
Segera keluar, aku tunggu
"Astaga, Ravin sudah menungguku dari tadi." Cheara langsung segera keluar dan mengambil kotak makan sebagai bekal untuk Ravin.
Ia melihat mobil Ravin terparkir tepat di depan gerbang rumah sewa itu. Cheara juga melihat Ravin sedang berbicara dengan Zissa. "Mereka terlihat cocok." Ucap Cheara yang merasakan kalau Zissa dan Ravin cocok jika disandingkan. Merek terlihat serasi dengan tinggi badan masing-masing yang ideal. Zissa adalah wanita cantik dan pintar. Ia sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri dengan fakultas hukum terbaik. Cheara berpikir, Ravin adalah seorang manager yang pandai sangat cocok jika bersanding dengan Zissa yang juga pintar dan cantik.
"Aku sangat ingin menjadi seperti Zissa, cantik dan pintar." Cheara melamun, melihat Zissa dan Ravin dari depan rumahnya.
"Cheara! Cepatlah, nanti kau telat!" Teriak Ravin memanggilnya.
"Oh, baiklah." Cheara berlari menuju Ravin dan Zissa.
"Kau lama sekali." Ravin menampakkan wajahnya yang sedikit kesal.
"Maaf, tadi aku harus mengurus Cattarra dulu." Cheara menjadikan Cattarra sebagai alasan, padahal karena ia membuatkan bekal untuk Ravin. "Zissa, apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah, aku ingin berangkat kuliah."
"Owh," Cheara menengok ke arah Ravin. "Bisakah kau mengantarnya?"
"Aku mengantarnya?" Ravin kaget.
"Tidak perlu, Cheara. Aku sudah memesan taxi online." Jawab Zissa.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi ya." Cheara berpamitan sambil tersenyum pada Zissa, senyumnya pun tidak kalah manis darinya.
✨✨✨
Selama di perjalanan menuju Laundry Aksewara tempat Cheara bekerja, banyak sekali pertanyaan yang ingin diucapkan Cheara. Ia tau kalau sikap Ravin telah berubah padanya. Cheara yakin, Ravin perlahan pasti akan sering banyak bicara padanya. Sambil meminum susu yang Ravin berikan, Cheara terus berbicara tentang kucingnya yang ia beri nama Cattarra. Ravin hanya mengangguk, menggeleng, tertawa dan diam sekalipun Cheara terus berbicara. Namun Cheara tidak masalah akan hal itu, karena memang pada dasarnya Ravin memang orang seperti itu. Tapi setidaknya, sekarang ia mulai sedikit berubah padanya.
Hingga Cheara menyerah. Ia tidak tau lagi harus membicarakan apa pada Ravin. Jika mereka hanya saling diam, rasanya tidak asik. Akhirnya Cheara berniat untuk menyalakan radio yang ada di mobil itu. Ia tidak tau harus memencet tombol yang mana. Pada tombol bertuliskan 'On', radio itu menyala dengan volume yang kencang sekali hingga membuat Cheara kaget bukan main.
"Astaga!" Teriak Cheara hingga kotak susu yang ia pegang tumpah. "Yah!"
"Maafkan aku, Ravin. Aku benar-benar tidak sengaja menumpahkan susu itu." Jawab Cheara panik karena takut Ravin marah karena Cheara menumpahkan susu di mobilnya. "Aku akan membersihkannya." Cheara mengeluarkan tisu dari ransel miliknya. Ia langsung mengambil kotak susu yang terjatuh dan mulai mengelap susu yang tumpah.
"Cheara cukup!" Ravin menarik tangan Cheara. "Hentikan itu. Biarkan saja."
"Tapi Ravin, ini akan membuat alas mobilmu lengket dan bau."
"Cepat hentikan."
Cheara pun menghentikannya. Cheara merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya ia memegang apapun yang ada di mobil itu. Ia hanya perlu duduk, diam dan turun saat sampai tujuan. Mengapa ia seceroboh itu? Apa karena ia merasa sudah lebih dekat dengan Ravin dibanding sebelumnya? Seharusnya tidak begitu.
"Aku hanya ingin menyalakan radio untuk membuat cair suasana. Aku tidak tau kalau volume radio itu sangat kencang dan membuatku terkejut lalu menumpahkan susunya." Ucap Cheara sambil menunduk.
"Cheara, itu bukan masalah besar. Kau jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa, Cheara." Ravin mengelus pipi Cheara.
"Lagi pula, mengapa sebelumnya kau menyalakan radio dengan volume sebesar itu dan tidak dikecilkan lagi?"
"Karena itu yang membuatku merasa tenang disaat gundah."
"Maafkan aku Ravin." Sekali lagi, Cheara meminta maaf.
✨✨✨
"Zhaw, hari ini kau bertugas di gudang ya. Kau catat semua barang-barang yang masuk dan yang akan dikirim." Pinta Sandra saat breafing bersama pegawainya.
"Memangnya kemana Andrew, Nyonya?" Tanya Ravin. Andrew adalah pegawai yang ditugaskan untuk mengatur keluar masuknya barang laundry.
"Dia sedang cuti hari ini dan kau menggantikan tugasnya. Untuk Cheara, kau kirim barang ke alamat yang ada di sebelah barat ya. Ini catatannya." Sandra memberikan kertas berisi alamat barang yang akan dikirim.
Setelah selesai breafing, semua pegawai bubar dan memulai pekerjaannya. Cheara segera datang ke gudang untuk mengambil barang yang akan dikirimnya. Ada sekitar 20 barang dengan alamat yang ada di sebelah barat untuk hari ini. Cukup banyak, namun Cheara pasti mampu menyelesaikannya sebelum jam pulang. Seperti biasa, Zhaw membantunya untuk mencari barang mana yang harus ia kirim.
"Kau selalu membantuku, terima kasih Zhaw." Kata Cheara sambil tersenyum dengan membawa tumpukan baju laundry.
"Sama-sama Cheara. Kau hati-hati ya. Jika perlu sesuatu, telpon saja aku."
"Oke, kau juga semangat ya kerjanya. Aku pergi dulu." Cheara pun pergi meninggalkan Zhaw yang harus bertugas di gudang.
✨✨✨
Suasana hati Ravin bisa dibilang cukup bahagia dari pada hari sebelumnya. Menjalankan breafing pagi dengan para pegawainya, mengecek keadaan dapur dan sebagainya, menanda tangani semua kontrak kerja sama hingga bertutur sapa dengan para pengunjung restoran dengan hati yang bahagia.
"Tuan Ravin terlihat lebih fresh dari sebelumnya. Apakah kau sedang jatuh cinta?" Tanya salah satu klien penting yang sedang berkunjung ke sana.
"Apa? Oh maaf, apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Ravin serius dengan mata yang melebar.
"Biasanya, pria seusiamu itu sedang dalam masa-masa kasmaran." Ada 3 orang di sana dan mereka mengangguk membenarkan. "Pastinya yang membuat mereka bahagia itu adalah wanita. Sudah pasti, kau sedang jatuh cinta kan?"
Ravin menganggapnya serius. Ia melongok dengan pernyataan itu. Bagaimana mungkin itu terjadi padanya? Bukan jatuh cinta yang sedang ia rasakan, tetapi parah hati yang luar biasa. Lalu apakah patah hati adalah suatu kebahagiaan? Dan mengapa wajahnya terlihat bahagia disaat sedang patah hati?
"Tuan Ravin? Apakah yang ku katakan benar?"
"Tentu saja tidak. Aku sedang tidak jatuh cinta pada siapapun. Aku hanya sedang fokus dengan pekerjaanku."
"Wah tuan Ravin sungguh pria yang luar biasa."
"Ia benar, beruntung sekali wanita yang akan dicintainya ya." Kata klien lain sambil tersenyum.
Beruntung? Apakah seharusnya Rachel beruntung bisa dicintai olehku? Lalu mengapa ia malah pergi meninggalkanku?
✨✨✨
Bekasi, 13 Agustus 2020
[ 22 : 25 WIB ]