Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 27 ] : Diculik



Setelah sampai di Restoran Shazihander's, tempat kerjanya, Ravin segera masuk ke ruang meeting. Sudah ada klien yang telah menunggu 30 menit di sana.


"Maaf saya sudah membuat kalian menunggu lama." Sapa Ravin yang langsung duduk di tempatnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Ravin. Para pekerjamu melayani kita dengan baik." Ucap satu-satunya wanita yang ada di sana.


"Iya, bahkan kami merasa nyaman berlama-lama di sini." Ucap salah satu pria diantara 3 pria lain, termasuk Ravin.


"Baguslah kalau begitu, terima kasih. Bisa kita mulai sekarang?" Tanya Ravin dan dibalas anggukan oleh yang lain.


Meeting berjalan lancar hingga 1 jam kedepan. Kontrak kerja sama berhasil didapat oleh Ravin. Dengan begitu, Ravin akan mendapatkan gaji beserta bonus untuk bulan ini.


"Terima kasih banyak untuk keputusan yang kalian ambil. Semoga, kami bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan kalian." Kata Ravin seperti biasa, memberikan senyuman terindah diantara pria lainnya. "Silahkan di minum kopinya. Itu adalah kopi terbaik milik restoran ini." Pinta Ravin dan yang lain mulai meminumnya.


"Tuan Ravin, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya wanita itu.


"Silahkan." Jawab Ravin.


"Soal berita yang sedang hangat diperbincangkan, apakah benar kalau Tuan Rezvan menikahi kekasih anda?"


Ravin terdiam sejenak akan pertanyaan yang membuatnya kembali teringat dengan berita yang dia baca kemarin. Awalnya Ravin tidak mau memperdulikan masalah itu, tapi kini rasanya dia ingin tau yang sebenarnya. Soal alasan kenapa pernikahan itu dilaksanakan tertutup dan kenapa dia sebagai anggota keluarganya tidak diberi tau?


"Maaf jika pertanyaan saya menyinggungmu, Tuan." Ucap wanita itu lagi.


"Tentu saja tidak. Soal berita itu, saya tidak bisa banyak berkomentar. Saya pun sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita yang telah menjadi istri Tuan Rezvan. Kami sudah lama berpisah, jauh sebelum dia dan Tuan Rezvan memutuskan untuk menikah." Jawab Ravin dengan mencoba tenang.


"Lalu, kenapa pernikahan itu dilangsungkan secara tertutup? Bukankah pernikahan adalah acara yang seharusnya dilangsungkan dengan mewah dan terang-terangan?" Wanita itu kembali bertanya. Namun salah satu teman yang duduk di sampingnya mencoba untuk menghentikannya dengan cara menyenggol tangannya.


"Maaf, Tuan Ravin. Sepertinya itu adalah masalah keluarga yang seharusnya tidak kami bahas. Untuk meeting kali ini sudah selesai. Terima kasih dan sampai jumpa lagi. Senang bisa bekerja sama denganmu." Salah satu pria menutup perbincangan dan segera pamit, diikuti oleh yang lain.


Rasa penasaran kembali menyelimuti Ravin. Sejujurnya, dia pun tidak tau jawaban atas pertanyaan wanita tadi. Ravin segera keluar dari ruang meeting dan pergi dari restoran itu. Dia bukan pergi menuju rumah sakit untuk bertemu Cheara, tetapi pergi ke rumah dimana acara pernikahan itu berlangsung.


✨✨✨


Abian dan Mayoza sepakat untuk berbicara lebih jauh lagi. Mereka mengobrol di taman belakang rumah sakit, tidak banyak orang di sana karena memang hari sudah mulai siang. Mereka duduk di bangku taman dengan posisi berjauhan. Rasanya sangat canggung karena telah berpisah hampir 28 tahun.


"Diumur berapa saat kau menikah denganku dulu?" Tanya Ravin untuk memulai pembicaraan.


Mayoza sedikit berpikir. "21 tahun dan kau 23 tahun." Jawaban Mayoza seakan hal itu baru terjadi kemarin. Dia mengingatnya dengan jelas.


"Berapa umurmu saat kita terakhir bertemu?" Tanya Abian untuk memulai pembicaraan.


"Di umurku ke-22 tahun, saat kehamilanku menginjak 4 bulan dan kita berpisah." Jawab Mayoza tanpa memandang Abian, begitu pun dengan Abian sendiri.


"Apa kau berusaha untuk terus mengingatku? Apa kau berusaha untuk tidak melupakanku?" Tanya Abian semakin serius.


"Awalnya iya, aku ingin terus mengingat tentangmu. Tapi, sepertinya tidak untuk sekarang." Jawab Mayoza dengan bibir yang gemetar menahan tangis.


"Umurmu sekarang 39 tahun kan?" Tanya Abian lagi.


Mayoza hanya mengangguk dan terus menundukkan kepalanya.


Mayoza terkejut mendengarnya. Mantan suaminya itu adalah orang yang tulus dan baik hati. Namun masih saja hidupnya menderita. Sejam itukan kehidupan yang didapat oleh pria baik seperti Abian?


"Selama ini aku sangat menyayangi Cheara. Dia adalah anak yang baik dan aku selalu merasa nyaman setiap di dekatnya. Ternyata itu semua karena didikanmu." Kata Mayoza.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kita bisa bertemu lagi." Abian mulai tersenyum pada Mayoza.


"Iya, kurasa ini saatnya aku mengungkapkan soal isi hatiku yang selama ini kupendam sendiri."


Abian melotot bingung. "Apa?"


"Aku sangat merindukanmu. Jujur, tahun ke-3 saat kau pergi, aku masih berharap kau kembali padaku. Sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk melupakanmu, tapi bahkan hingga kini tidak bisa. Ragaku memang milik suamiku, tapi hatiku tetap berpihak padamu." Ucap Mayoza dan dia kembali menangis, tidak mampu menahan air mata yang ingin tumpah.


"Begitu juga denganku. Awalnya kupikir, aku bisa melupakanmu setelah rasa cintaku terhadap istriku tumbuh. Tapi nyatanya, aku mencintai istriku dan juga dirimu. Rasa cintaku pada istriku telah hilang setelah dia pergi, tapi rasanya cintaku pada dirimu tidak pernah hilang bahkan hingga kini." Ucap Abian dan membuat Mayoza tambah menangis.


Abian memeluk mantan istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Kini, rindunya telah terobati. "Aku mencintaimu, Abian." Ucap Mayoza dalam pelukannya.


✨✨✨


Mobilnya berhenti sedikit jauh dari rumah yang seharusnya ramai karena acara pernikahan. Rumah itu terlihat sepi, tertutup pagar hitam yang tinggi. Sudah lama dia tidak berada di rumah itu, rasanya sedikit asing.


"Apakah acaranya sudah selesai? Rumah itu terlihat sepi." Kata Ravin yang masih terdiam di dalam mobilnya. "Haruskah aku datang ke sana? Tapi dengan alasan apa?" Ravin bertanya pada dirinya sendiri.


Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya Ravin memutuskan untuk datang kesana. Mobilnya terparkir tepat di depan rumah itu. Dia turun dan bertanya pada satpam yang memang kenal dengannya. "Tuan Ravin?"


"Tolong bukakan pintu gerbangnya. Ada barang yang harus aku ambil di sini." Pinta Ravin dengan sopan.


"Maaf, Tuan. Tapi aku tidak bisa membuka pintunya. Soalnya, aku diminta untuk tidak menerima siapapun yang datang ke rumah ini." Jawab satpam itu yang masih diam di pos satpam.


"Memangnya ada apa?" Tanya Ravin sekarang tidak tau.


"Aku pun tidak tau. Lebih baik sekarang Tuan Ravin pergi, kalau sampai Tuan besar tau nanti bisa jadi masalah besar." Tuan besar yang satpam itu maksud adalah Gauri.


"Pernikahan? Apa di rumah ini sedang diadakan acara pernikahan? Kenapa tidak ada yang memberi tauku?!" Ravin mulai kesal. "Tolong, buka pintunya! Atau aku..."


Tiba-tiba, seorang pria berbadan besar membekap Ravin dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat sehingga Ravin pingsan dengan cepat. Pria itu segera membawa Ravin masuk kedalam mobilnya dan segera pergi dari rumah itu. Satpam itu hanya bisa diam karena tau kalau itu adalah orang suruhan Gauri, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


✨✨✨


Pernyataan bahwa cinta sejati itu tidak bisa terpisahkan oleh apapun kecuali maut benar ya. Buktinya, Mayoza dan Abian sudah berpisah hampir 17 tahun lamanya tapi masih saling mencintai. Mungkin aja memang mereka ditakdirkan untuk bersama selamanya ya:)


Oh iya soal Ravin, kemana preman itu membawa Ravin ya? Apa ada yang akan menyelamatkan Ravin? Soalnya kan gak ada yang tau kalau Ravin datang ke rumah itu. Jangan sampe deh Ravin di apa-apain. Takutnya apa yang Cheara denger dari Gauri malam itu, terjadi pada Ravin. Yang soal Gauri mau nyelakain Ravin.


Baca terus ya kelanjutan ceritanya:)


Terima kasih ♥️


Bekasi, 10 Oktober 2020


[ 14 : 28 WIB ]