Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 28 ] : Brengsek!



"Ayah, kemana Ravin? Kenapa dia belum pulang juga?" Tanya Cheara yang sudah mulai membaik.


"Ayah tidak tau. Mungkin saja banyak kerjaan yang harus dia kerjakan. Kau sabarlah, Ravin pasti akan segera datang." Jawab Abian sambil merapikan baju-bajunya.


"Tapi ayah, ini sudah jam 5 sore. Ini sudah waktunya Ravin pulang kerja."


"Mungkin dia lembur, Cheara. Kau tunggulah sebentar lagi."


Tidak lama, Zhaw datang. Sepertinya, dia baru pulang kerja dan langsung datang ke rumah sakit. "Cheara, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik, Zhaw."


Zhaw memberikan bungkusan berisi makanan untuk Abian. "Tuan, ini aku bawakan makanan untukmu. Makanlah agar kau tidak sakit."


Abian mengambilnya. "Terima kasih, Zhaw."


"Terima kasih Zhaw." Zhaw mengangguk sambil tersenyum. "Zhaw, kau tau kemana Ravin?"


"Ravin? Setahuku dia pergi kerja. Apa belum pulang?"


"Belum, apa mungkin dia lembur?"


"Mungkin saja. Coba kutelpon dulu."


Zhaw menelpon Ravin berkali-kali, namun jawabannya sama saja, ponsel Ravin tidak aktif.


"Kemana ya dia? Perasaanku tidak enak."


"Kau tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kau bisa sakit."


Cheara semakin cemas. Pikirannya terus saja berpikir yang macam-macam. Dia kembali teringat dengan percakapan Gauri yang di dengan beberapa waktu lalu.


"Zhaw, tolong cari Ravin. Aku takut dia kenapa-napa." Cheara memegang lengan Ravin, memohon agar Zhaw menolongnya.


Zhaw menggenggam Cheara dengan erat, mencoba menenangkannya. "Tenanglah, Ravin tidak akan kenapa-napa."


"Tolong, Zhaw. Tolong cari Ravin, tolong." Cheat amukai menangis. Zhaw tidak tega dan akhirnya mengiyakan permintaan Cheara.


"Baiklah-baiklah, aku akan mencari Ravin. Tapi kau harus tenang dan beristirahatlah. Kau harus percaya aku Ravin baik-baik saja."


Cheara mengusap air matanya. Dia mengangguk paham dan setelahnya, Zhaw pergi mencari Ravin.


"Sea, ada apa? Kenapa kau cemas sekali dengan keadaan Ravin?" Tanya Abian pada putrinya.


"Ayah, Tuan Gauri akan mencelakakan Ravin. Dia akan membuat Ravin celaka."


"Apa maksudmu?"


"Aku mendengarnya sendiri, Yah. Tuan Gauri, ayahnya Ravin, dia menyuruh orang untuk mengawasi Ravin dan jangan segan untuk membuatnya celaka."


Abian terkejut ketika mengetahui kalau putranya dalam bahaya. Bagaimana bisa dia hanya diam saja sedangkan anaknya diambang kematian?


"Sea, Ayah harus pergi." Abian langsung mengambil tas selempangnya yang ada di sofa.


"Ayah mau kemana?"


"Ayah mau membantu mencari Ravin. Kau baik-baik ya di sini. Ayah akan titip kau dengan perawat nanti." Abian berbicara sambil keluar ruangan.


"Ayah, hati-hati!"


✨✨✨


Ravin tidak bisa diam saja. Dia terus memberontak untuk melepaskan ikatan tali di tangan dan kakinya. Mulutnya di bekap dan matanya ditutup kain tebal. Dia hampir kehabisan napas. Semakin dia memberontak, semakin penjahat itu menyiksanya.


Ravin mulai lemas, dia mulai merasa sesak dan akhirnya pingsan. Darah mulai mengalir di wajah dan lengannya.


"Menyusahkan sekali anak ini!" Ucap salah satu preman sambil menendang kencang kaki Ravin.


"Apa dia lebih memilih harta daripada nyawanya? Anak bodoh!" Preman lain menamparnya dengan kencang.


"Hey, Tuan Gauri meneleponku." Preman bertubuh paling besar di antara 3 lainnya mengangkat panggilan masuk dari Gauri. "Hallo, Tuan."


"Bagaimana? Apa semuanya beres?"


"Tentu saja, Tuan Gauri. Kami tidak akan membuatnya mati."


"Bagus kalau gitu. Jaga dia sampai acaranya selesai. Setelah itu, bawa dia kehadapanku, paham?!"


"Siap, Tuan!"


Di tempat lain, tepatnya di rumah mewah yang kini mulai sampai di penghujung acara, Rezvan dan Rachel mengucapkan terima kasih sebagai acara penutup. Lalu semua tamu undangan pulang dengan penuh privasi.


Rumah itu mulai sepi, sisa keluarga Rezvan dan Rachel. "Akhirnya acara ini selesai. Semua rencana telah terlaksanakan dengan baik. Semoga, kalian terus bersama sampai maut memisahkan ya." Ucap Ibunya Rachel.


"Rezvan, aku titip Rachel. Jaga dia dengan baik dan bahagiakan dia selalu. Tolong berikan dia kesetiaan." Lanjut Ayahnya Rachel.


"Tentu saja, Ayah. Aku akan menjaga istriku dengan baik."


"Kalau begitu kami harus segera pergi. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan." Ayahnya Rachel berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih Ayah, Ibu. Aku akan bahagia bersama Rezvan."


Lalu setelah itu, mereka pulang. Sisa Rezvan dan Rachel di sana. Mereka tidak tau kemana Gauri pergi hampir 20 menit lamanya. Tiba-tiba, Gauri datang dan duduk di sofa bersama Rachel dan Rezvan.


"Ayah, kau dari mana saja?" Tanya Rezvan.


"Ayah habis mengurus adik tirimu itu."


"Ada apa dengan Ravin?"


"Dia tadi datang dan ingin masuk. Untung saja Ayah sudah menyuruh orang untuk mengawasinya. Kalau tidak, mungkin acara ini sudah hancur." Jelas Gauri.


"Apa yang akan Ayah lakukan selanjutnya?"


Rachel dan Rezvan ikut bahagia mendengarnya. Mereka memang sudah yakin kalau Gauri akan menang dalam segala hal, apalagi hanya untuk menyingkirkan Ravin.


✨✨✨


Abian pergi dengan sisa uangnya. Dia pergi menuju rumah seseorang. Jam sudah berada di pukul 5 sore. Ini sudah waktunya orang pulang kerja. Saat sampai di depan rumah yang dia tuju, Abian memberanikan diri untuk memencet bel tersebut. Dia berharap, orang yang ingin ditemuinya masih tinggal di sana.


Tingtong!


Tingtong!


Tingtong!


Terdengar seorang wanita membuka datang dan membuka sedikit pintu gerbang. "Ada apa, Tuan?"


"Apa benar ini rumah Tuan Deman Ephraim?"


"Iya benar. Ada perlu apa, Tuan?"


"Saya ingin bertemu dengannya, ini urusan penting. Bilang saja, Abian Sayuda ingin bertemu dengannya."


"Baiklah, Tuan. Tolong tunggu di sini."


Abian menunggu di luar, dia tidak dipersilahkan masuk mungkin karena penampilannya yang sederhana seperti itu. Tidak lama, Deman datang.


"Tuan Abian?" Tanya dengan sangat terkejut.


"Iya, amu Abian."


"Ayo, Tuan, silahkan masuk." Abian langsung masuk dan di persilahkan duduk di ruang tamu. "Kau apa kabar? Aku benar-benar terkejut dengan kedatanganmu, Tuan."


"Aku baik-baik saja. Aku datang karena ada sesuatu yang mendesak."


"Maaf sebelumnya, Tuan. Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau seperti ini sekarang?" Tanya Deman setelah melihat penampilan Abian yang berubah drastis. Dulu dia adalah bos atau pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Sekarang, Abian hanya seorang pria pengangguran yang baru pulang dari penjara.


"Ceritanya panjang. Intinya tujuanku datang ke sini, aku ingin meminta tolong padamu."


"Silahkan, Tuan. Aku akan berusaha menolongmu setelah semua yang pernah kau berikan padaku dan keluargaku hingga kami bisa seperti sekarang ini."


"Kau kenal dengan Gauri?"


"Tentu saja, aku tau siapa Tuan Gauri. Dia adalah bos baru di perusahaan yang dulu adalah milikmu. Setelah kau memberikan perusahaan itu kepada Nyonya Mayoza, kini perusahaan itu di kelola dan dikuasai oleh Tuan Gauri."


"Dikuasai?"


"Iya, Tuan. Aku akan menjelaskannya nanti padamu. Lalu kau ingin meminta tolong apa, Tuan?"


"Tolong aku untuk menjaga perusahaan itu dan segala macamnya yang menjadi milik Mayoza juga anaknya."


"Anaknya Nyonya Mayoza? Maksudmu Tuan Ravin dan Tuan Rezvan?"


"Bukan, hanya Ravin. Dia adalah anakku dan Mayoza."


"Sungguh?! Lalu, apa yang bisa ku bantu?"


"Kau adalah satu-satunya orang yang mengerti kisah hidup keluargaku sejak dulu. Tolong jaga perusahaan itu dari Gauri. Aku akan membuatnya celaka atas perbuatannya sendiri."


"Aku akan membantumu semampuku, Tuan."


"Boleh aku meminta tolong satu hal lagi?"


"Silahkan."


"Tolong sewa orang untuk menemukan Ravin yang sedang di sekap oleh orang suruhan Gauri. Sepertinya, rencana Gauri untuk menguasai semua harta Ravin akan dimulai. Aku benar-benar minta tolong padamu, Deman."


"Baik, Tuan! Aku akan membantumu! Aku pastikan, Tuan Ravin akan baik-baik saja."


✨✨✨


Zhaw sudah mencari Ravin di tempat yang sering mereka kunjungi. Zhaw teringat kata-kata Cheara kalau Gauri akan membuat Ravin celaka.


"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Tuan Gauri?"


Zhaw langsung pergi menuju rumah keluarga Gauri. Saat sampai di sana, dia bertanya pada satpam yang tau tentang keberadaan Ravin sebelumnya. Satpam itu memberi taunya dan Zhaw segera pergi menuju suatu tempat. Dia tau di mana Gauri akan menyekap Ravin.


Ternyata dugaan Zhaw benar, Ravin di sekap di tempat yang jauh dari pemukiman warga. Itu adalah tanah berpuluh-puluh hektar milik Ravin, tepatnya milik keluarga Sayuda yang ingin dikuasai oleh Gauri.


Zhaw memarkir motornya jauh dari rumah tepat penyekapan tersebut. Dia berjalan pelan menuju pintu belakang. Saat sampai dia melihat lewat jendela, Ravin sedang di siksa 3 orang berbadan besar. Tubuhnya sangat lemas dan penuh darah.


"Kurang ajar! Brengsek!" Ucap Zhaw pelan penuh kesal. Dia pelan-pelan masuk kedalam rumah itu.


Brugh!


Bugh!


Bugh!


Zhaw memukul preman bertubuh paling besar dari belakang dengan balok. Saat preman itu terjatuh, preman lain mulai menyerangnya.


"Ravin! Menyingkirlah!" Zhaw berteriak meminta Ravin menyingkir agar tidak terkena pukulan. Ravin pun menurutinya dan berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya.


Preman itu sangat kuat dan Zhaw sempat kewalahan. Saat balok besar ingin memukul Zhaw dari belakang, Ravin berhasil menghalanginya. Ikatan di kaki dan tangannya berhasil dia lepaskan. Kini, Zhaw dan Ravin berusaha untuk mengalahkan preman itu dan segera pergi. Namun sepertinya sulit dilakukan.


✨✨✨


Wadaw, feeling Cheara mantap ya. Dia tau kalau Ravin sedang kenapa-napa. Untung aja ada Zhaw yang bantuin Ravin. Kalau gak, mungkin Ravin udah mati karena disiksa sama preman brengsek suruhan Gauri:v


Next part ya, maciw♥️


Bekasi, 2 November 2020


[ 22 : 29 WIB ]