Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 21 ] : Melukai



Ravin sudah menyelesaikan pertemuan kerjasamanya dengan salah satu langganan yang akan kembali membuka cabang. Banyak pesanan makanan untuk minggu depan. Setelah semuanya selesai, seperti biasanya Ravin mengecek dapur dan berkomunikasi langsung dengan para pegawainya. Dia juga menyempatkan diri untuk mendatangi beberapa pelanggan di sana, bertanya soal makanan atau fasilitas yang ada di restoran tersebut. Semuanya terlihat puas dengan pekerjaan Ravin yang mengatur semuanya dengan baik.


"Terima kasih atas pujiannya. Sering-seringlah berkunjung ke sini ya." Kata Ravin dengan sopan sambil memberikan senyuman.


"Restoran ini jauh lebih baik lagi jika ada Tuan Ravin di sini." Puji salah satu pengunjung wanita yang datang bersama suaminya.


"Ah, Nyonya bisa saja. Restoran ini akan lebih baik lagi jika banyak pengunjung yang datang." Kata Ravin dan mereka pun tertawa. "Kalau begitu, saya permisi ya. Silahkan di nikmati hidangannya." Ucap Ravin lalu pergi kembali ke ruangannya.


Tugasnya sudah selesai, tapi ini masih pukul 3 sore. Masih 2 jam lagi untuk waktu pulang. Ravin berniat untuk menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Tidak ada game di ponselnya. Dia selalu menggunakannya untuk bertukar kabar atau mencari berita yang sedang diperbincangkan.


Satu berita membuat Ravin terjut. Dia langsung membuka artikel dengan judul 'Pewaris Tahta Mahawira menikah?'. Ravin membacanya dengan detail. "Menikah? Bahkan aku baru putus dengan Rachel. Lalu siapa? Rezvan? Dia akan menikah dengan siapa?" Ravin bertanya pada dirinya sendiri. "Apa dengan Rachel? Mengapa aku tidak tau soal pernikahan ini?" Ravin segera menutup ponselnya dan langsung berniat untuk pergi ke rumah Mahawira. Dia penasaran, apakah berita ini real atau hoax?


Ketika Ravin hendak keluar dari ruangannya, salah satu pegawai menghentikannya. "Maaf, Tuan. Ada yang mencarimu, dia menunggu di ruang tunggu."


"Siapa?"


"Aku tidak tau. Dia seorang wanita yang sepertinya bekerja di salah satu laundry." Ucap pekerja itu yang sebelumnya memang melihat seragam kerja yang digunakan orang tersebut.


Ravin berpikir kalau itu Cheara. Tapi kenapa Cheara datang? Dia tau dari mana kalau Ravin bekerja di sana? Ravin segera mendatangi ruang tunggu.


Ternyata benar, di sana ada Cheara tapi dengan seorang pria yang juga menggunakan seragam yang sama. "Cheara?" Panggil Ravin. Cheara dan Zhaw pun menengok. "Ada perlu apa kau ke sini?"


"Ravin, duduklah dulu." Pinta Cheara yang menyuruh Ravin untuk duduk di sampingnya. Ravin menurutinya. "Aku dan Zhaw hari ini pulang cepat. Jadi aku berniat mengunjungimu ke sini."


"Apa dia yang mengajakmu? Apa dia yang memberi taumu?" Tanya Ravin sambil melirik kan matanya ke arah Zhaw.


"Ravin, aku sudah tau semuanya. Aku sudah tau kalau kau dan Zhaw ada sahabat." Kata Cheara.


"Apa maksudmu memberi tau Cheara yang sebenarnya?! Apa mau mu?!" Ravin mulai membentak Zhaw.


"Ravin, tenanglah dulu. Bukan Zhaw yang memberi tau ku, tapi..."


"Bukannya sudah kukatakan, jangan kau dekati Cheara! Apa kau mau merebutnya dariku lagi?! Kau tidak puas dengan apa yang telah kau lakukan terhadapku dulu?! Hah?!" Kali ini Ravin benar-benar marah. Bahkan dia sampai menarik kerah baju Zhaw yang duduk di depannya. Untung saja ruang tunggu itu sepi dan tertutup, jadi tidak ada yang melihatnya.


"Ravin, hentikan! Dengarkan dulu penjelasanku!" Cheara yang mencoba menahan amarahnya Ravin, malah terjatuh saat hendak menarik tangan Ravin. "Aw!" Kepalanya terbentur ke meja yang ada di sampingnya, hingga akhirnya Cheara pingsan.


"Cheara! Bangunlah, tolong!" Kata Ravin sembari menepuk pelan pipi Cheara. "Lihatlah! Ini semua karena mu! Berhentilah merusak kebahagiaanku!" Ravin malah memarahi Zhaw yang hanya bisa diam saja saat dibentak.


✨✨✨


Acara pernikahan berlangsung dengan hikmat. Kedua mempelai kini telah merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Di depan keluarga besar, Rezvan berjanji untuk setia menjaga Rachel. Rezvan lalu mencium kening wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Pesta pernikahan pun berlangsung sampai malam. Di sana tidak ada orang selain keluarga besar Rezvan dan Rachel.


Orang suruhan Gauri yang di tugaskan untuk mengawasi Ravin, dari pagi hingga sore berada di depan Restoran tempat kerja Ravin. Mereka memberikan kabar pada Gauri kalau semua aman-aman saja. Memang nyatanya, seharian Ravin tidak keluar dari restoran itu dikarenakan banyaknya meeting. "Semuanya aman, Tuan Gauri. Sepertinya dia tidak tau tentang pernikahan itu." Ucap Andri yang menjadi suruhan Gauri.


"Kau tenang saja, Tuan. Aku akan terus mengawasinya sampai besok." Andre terkejut ketika melihat Ravin yang keluar dari restoran itu dengan menggendong seorang wanita. "Tuan, itu dia keluar. Tuan Ravin sepertinya akan pergi."


"Cepat ikuti kemana dia akan pergi. Jangan lupa kau kabari aku lagi." Gauri menutup telponnya.


✨✨✨


Ravin sangat panik, Cheara bisa seperti ini karenanya. Ravin segera menggendong Cheara masuk ke mobil dan terpaksa dia meminta Zhaw untuk menyetir. Tidak mungkin kan jika Zhaw yang duduk di bangku tengah menemani Cheara yang pingsan. "Cepatlah! Kalau dia sampai kenapa-napa, itu semua karena kau!" Kata Ravin yang masih saja menyalahkan Zhaw.


Zhaw mengangguk dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat. Saat sampai di sana, Cheara langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Ravin dan Zhaw hanya bisa menunggu di luar. Zhaw hanya bisa diam di saat-saat seperti ini. Dia tidak pernah menyangka kalau Ravin sebenci ini padanya.


"Ravin, tolon maafkan aku." Kata Zhaw yang memang sangat ingin meminta maaf dengan Ravin. Dia berjanji pada dirinya sendiri, jika bertemu Ravin akan terus meminta maaf sampai Ravin memaafkannya.


"Kau itu sungguh sangat buruk. Kau pria yang sangat buruk. Kau seorang teman yang sangat buruk. Aku sungguh membencimu." Ucap Ravin sambil menahan suaranya untuk kembali membentak Zhaw. Dia hanya duduk diam tanpa memandang Zhaw, begitu juga dengan Zhaw.


"Seharusnya kau bisa mendengarkan penjelasanku dulu. Semua itu hanya fitnah, Ravin. Kau harus percaya padaku." Kali ini, Zhaw berusaha untuk meraih tangan Ravin. Tetapi tetap saja, Ravin semakin menjauh darinya. "Setidaknya kau maafkan aku, sekalipun kau tidak bisa percaya padaku."


"Aku tidak ingin membahasnya lagi." Ravin kemudian menatap Zhaw yang duduk di sampingnya. "Jangan kau dekati Cheara, karena dia milikku. Jangan lakukan kesalahan yang akam membuatku lebih membencimu!"


"Apa kalian adalah keluarga Nona Cheara?" Tanya dokter yang keluar dari ruang rawat Cheara.


"Saya calon suaminya, Dokter." Pengakuan Ravin membuat Zhaw terkejut. Dia tidak tau bahwa wanita yang di sukainya ternyata sudah menjadi calon istri dari sahabatnya sendiri. “Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Benturan keras pada kepalanya membuat Nona Cheara mengalami cedera yang serius. Tidak ada hal yang lebih parah dari itu, tapi kemungkinan dia untuk sadar lumayan lama. Sekitar 2 sampai 3 hari lagi Nona Cheara baru akan sadar." Mendengar penjelasan dokter membuat Ravin menyesal. Dia menutup kedua wajahya sambil menarik napas panjang. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya." Dokter langsung pergi.


Ravin kembali duduk. Dia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak sengaja, karena saat itu dia ingin memukul Zhaw. "Ini semua karena kau!" Ravin menonjok Zhaw sampai terjatuh. Walau hanya sekali, itu membuat Zhaw merasa sangat sakit.


Ravin langsung pergi untuk menghubungi Mayoza.


"Ravin, kau boleh melukaiku bagaimana pun, asal kau mau kembali menganggapku sebagai sahabatmu." Kata Zhaw yang melihat kepergian Ravin setelah memukulnya.


✨✨✨


Aduh Ravinnn!! Setidaknya dengerin dulu napa penjelasannya si Zhaw. Nanti nyesel lagi setelah tau kenyataannya :v


Sabar guys, sabar:v Ikutin terus kelanjutan ceritanya ya. Intinya, penyesalan akan datang belakangan kan? Hehehe


Bekasi, 17 September 2020


[ 18 : 50 WIB ]