Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 1 ] : New Life



Udara sejuk, pepohonan rindang, air sungai yang jernih mengalir sepanjang jalan. Kicau burung bertengger di ranting pohon ramai terdengar. Pria tua yang setiap pagi selalu rajin bersiap berangkat kerja, tak lupa ia bawa pacul dan topi petaninya. Namun kini, semua hilang ditelan waktu. Kesendirian dalam kesepian membawanya pada luka yang tak pernah ia gores. Luka itu hadir bukan karena kesalahannya, namun ia seakan dipaksa harus terluka.


5 tahun lalu, keluarga yang penuh dengan kemewahan telah hancur seketika. Kepergian ratu membuat sang raja dan putrinya hancur remuk bagai tertimpa piramida. Tak ada keyakinan sedikit pun untuk dapat bertahan sejauh ini. Namun seakan waktu telah membantunya. Selang 3 tahun, sang putri perlahan pulih dari lukanya. Luka akibat kehilangan orang yang sangat berpengaruh bagi nafasnya. Kini ia dapat berdiri, berjalan sendiri tanpa air mata yang membasahi pipi. Sang Super Hero telah membantunya untuk kembali tersenyum. Namun tak lama, sang putri pun lagi-lagi harus kehilangan Super Hero itu. Ayah tercintanya kini harus berada di balik jeruji besi dengan tangisan yang tiada henti. Hatinya akan terus terluka, merasa bersalah karena ia hanya bisa diam di dalam sel sedangkan putri tercintanya itu harus berjuang hidup sendiri.


Harapan ku hanya satu


Aku ingin bahagia seperti dulu


Dibawah atap sederhana sekalipun


Hanya itu yang aku mau


Bukan sendiri di dalam rumah


Menyaksikan setiap kenangan yang berlalu lalang dipikiran


Aku ingin bahagia kembali


Bahagia bersama orang kucintai


- Sea -


"Cheara! Bukan pintunya! Ayo cepat! Bukalah! Aku tau kau ada di dalam! Cepat keluar!" Teriakan bersamaan dengan gedoran pintu sudah sangat Cheara kenal.


Segeralah Cheara mengusap air matanya, menurup buku hariannya dan album foto keluarganya. Ia langsung membuka pintu dengan perasaan yang amat sangat takut. Pasalnya ia sudah tau apa yang akan didapat. Ia belum bisa membayar uang sewa rumah selama 3 bulan dan terpaksa hari ini juga harus segera keluar dari rumah itu.


"Mana uang sewanya? Tidak ada kan? Aku tidak mau tau, segera kosongkan rumahku! Hari ini juga, kau harus keluar!"


"Bibi, maafkan aku. Beri aku waktu 1 minggu untuk membayarnya. Aku janji pasti akan bayar." Cheara memohon sambil mencium tangan pemilik rumah sewa itu.


"Terus saja ucapkan janji! Aku sudah tidak percaya denganmu. Hari ini juga, kau pergi dari sini!"


✨✨✨


Langkah yang dipaksa untuk terus berjalan. Pikiran yang tiada henti terus mencari jawaban atas satu pertanyaan, aku harus bagaimana? Salah satu hal yang ia takutkan selama ini ternyata benar-benar terjadi. Ia akan hidup sendiri dengan penuh kesulitan. Ia harus rela untuk tidak melanjutkan pendidikan ke Universitas seperti yang diharapkan. Mencari pekerjaan dengan lulusan yang ia miliki ini sangatlah sulit. Di desa, rata-rata wanita yang sudah lulus sekolah hanya diberikan 2 pilihan. Mereka harus melanjutkan pendidikan ke Universitas atau menikah. Keadaanlah yang memaksa mereka untuk memilih pilihan yang kedua. Namun tidak dengan Cheara. Ia terus berusaha mengembalikan keadaan seperti dulu. Ia harus berusaha untuk membuktikan bahwa bukan ia dan keluarganya lah yang bersalah atas semua musibah itu. Namun apalah daya, Cheara tidak dapat berbuat apa-apa untuk sang ayah.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?" Tanya Cheara pada dirinya sendiri. Ia terlihat lemas dan tidak ada tujuan hidup.


Cheara pun mengunjungi lapas tempat ayah tercinta ditahan. Ia menceritakan semua yang terjadi. Dengan penuh rasa bersalah, sang ayah menangis memeluk putri tercintanya. Ia merasa ini semua karenanya. Ia tidak mampu melindungi putri semata wayangnya itu.


"Ayah, tidak usah menangis. Aku tidak apa-apa. Aku yakin, semua ada jalannya."


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan pergi ke kota. Aku akan cari kehidupan baru di sana. Ayah jangan khawatir, aku sudah biasa hidup sendiri. Aku pasti mampu dengan cepat beradaptasi di sana."


"Kau sudah yakin dengan tujuanmu? Sungguh?"


"Iya, kurasa begitu. Mau tidak mau, inilah jalan satu-satunya agar aku dapat melunasi hutang rentenir itu dan membebaskan Ayah dari sini." Ucapan Cheara membuat Abian menangis semakin menjadi-jadi. Sepertinya, Super Hero nya itu merasa telah gagal melindungi keluarganya. Dalam hati, ia meminta maaf kepada istri tercinta karena tidak bisa menjaga putri mereka.


"Sering-seringlah mengunjungi Ayah ya. Jangan biarkan Ayah menahan rindu dan rasa khawatir terlalu lama."


✨✨✨


Hari semakin siang, panasnya matahari semakin menjadi-jadi. Sudah mulai jarang terlihat orang berlalu-lalang di panasnya siang hari seperti ini. Cheara terlebih dahulu menghitung sisa uangnya hasil dari gaji yang sudah 3 minggu lalu diberikan. Sisa uangnya sangat jauh dari cukup. Bahkan ia sempat menangis karena takut akan sia-sia jika tiba di kota, lalu tidak bisa kembali pulang ke kampung.


Namun inilah yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa berdiam diri di kampung itu. Bahkan untuk meminjam uang ke tetangga pun, ia sudah cukup malu. Pasalnya, Cheara sudah berhutang hampir ke seluruh tetangga di sekitar rumahnya. Bahkan ia belum bisa membayar semua hutang itu.


Akhirnya, Cheara menaiki angkutan kota yang relatif murah untuk sampai ke terminal. Jujur, ini pertama kali ia ke tempat itu dan melihat banyak sekali orang berpergian dengan bus yang berbeda tujuan. Walau begitu, Cheara paham bus mana yang harus ia naiki.


Ketika masuk kedalam bus itu, hampir semua bangku sudah di tempati. Sisa 3 bangku paling belakang, akhirnya Cheara duduk dan meletakkan tasnya di bawah bangku itu. Ponselnya berdering berkali-kali, namun ia tidak sadar akan hal itu. Seperti biasa, Detho yang menelpon. Detho adalah pria berumur yang menjabat sebagai seorang rentenir kejam di kampungnya. Ia pula yang membuat Abian, Super Hero Cheara dipenjara yang bukan karena kesalahannya.


Cheara dengan terpaksa mengangkat panggilan itu. Jika tidak, Ayahnya pasti akan celaka. "Hallo."


"Hey gadis manis, jangan coba-coba kau kabur dariku ya. Kembali! Atau aku akan membuat hidupmu menjadi tidak nyaman."


"Bukankah selama ini kau sudah sangat membuat hidup keluargaku menderita?"


"Yang akan kulakukan nanti bukan lagi membuat hidup kalian menderita, tetapi aku akan membuat hidup kau dan Abian celaka!"


"Sudah kubilang, aku akan bayar hutang-hutang itu. Setidaknya kau beri aku waktu untuk mencari pekerjaan agar aku menghasilkan uang. Jika aku tetap di sana, bagaimana bisa dengan cepat aku meluaskan hutang itu?"


"Memangnya jika kau pergi dari sini, kau akan cepat kaya? Hahahaha!!" Tawa Detho yang terbahak-bahak membuat Cheara semakin kesal tak tertahankan. Bahkan ia terkadang menangis ketika ditagih seperti itu. "Cepat! Kembali!"


"Tidak! Aku akan tetap pergi untuk mencari uang agar Ayahku bisa cepat terlepas dari jeratan orang sepertimu."


"Silahkan saja, tetapi jika hari Minggu nanti kau tidak bisa melunasi hutangnya, ucapkanlah salam perpisahan pada super heromu itu."


✨✨✨


Diluar perkiraan, ternyata Cheara sampai pada jam 1 dini hari. Sebelumnya ia pikir akan sampai sekitar jam 5-6 pagi, lalu ia bisa lanjut untuk mencari rumah sewa. Jika begini nyatanya, bagaimana ia bisa menunggu 4-5 jam kedepan? Ia harus kemana? Ditambah, hujan turun dengan sangat deras. Cheara memilih untuk jalan dari terminal ke tengah kota. Gelap, sepi dan perasaan takut menyelimuti. Ada orang yang dijemput dengan keluarganya, ada juga yang naik angkutan kota untuk lanjut ke tujuannya. Cheara takut, nantinya uang yang ia miliki tidak cukup untuk menyewa rumah. Akhirnya ia memilih untuk jalan kaki saja.


Sudah setengah jalan, hujan yang turun dengan sangat deras perlahan berhenti dan menyisakan jalan yang basah dan sedikit genangan. Ternyata di tengah kota tidak sepi seperti apa yang Cheara takutkan. Ada beberapa toko yang buka. Banyak juga orang yang masih berlalu-lalang di jam seperti itu. Kini keadaan tidak segelap tadi. Banyak lampu jalan dan lampu di toko-toko yang membuat sekitarannya terang. Kini, Cheara merasa sedikit lebih baik. Untung saja hujan cepat berhenti, hanya lewat saja.


Ia mencari tempat yang setidaknya bisa untuk istirahat hingga pagi nanti. Tapi dimana? Ini adalah kota. Bukan kampung tempat tinggalnya selama ini yang di sepanjang jalan pasti ada pohon untuk tempat berteduh. Di kota, bahkan untuk tempat duduk pun masih jarang di temui. Namun buah dari hasil lelahnya tiba. Ia melihat ada taman tempat bermain dan di sana ada bangku taman yang sepertinya bisa untuk tempat ia beristirahat. Cheara sedikit berlari untuk sampai ke tempat itu. Lalu ia duduk dan dengan santainya melepas tas besar dan berat yang sedari tadi ia jinjing. Tubuhnya terasa sangat lemas di sandaran bangku. Cheara sedikit memejamkan matanya dan memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


"Rachel! Rachel tunggu!"


Mata yang terpejam dan pikiran yang sedang bekerja seketika membuat Cheara kaget bukan main. Taman yang letaknya ada di belakang gedung tinggi itu cukup sepi dan sedikit gelap. Wajar saja bila ada orang berbicara apalagi teriak akan terdengar sangat jelas. Mata Cheara berputar mengikuti dari mana suara itu hadir. Ia melihat seorang pria berlari mengejar seorang wanita yang mengenakan baju mini berwarna biru muda dengan tatanan rambutnya yang sedikit ikal. Wanita itu berjalan tergesa dan sedikit berlari, sedangkan pria itu berlari jauh di belakang wanita itu sambil teriak memanggil.


Namun Cheara langsung berlari mendekati pria itu ketika ada mobil dengan laju kencang dan berpotensi akan menabraknya. Dengan cepat, Cheara mendorong pria yang tidak ia kenal itu ke tepi sebrang jalan. Cheara dan pria itu terjatuh sehingga membuat luka di tangan mereka. Dengan cepat, Cheara meminta maaf karena sudah melukainya. Namun tatapan sayup dan napas yang terengah-engah membuat Cheara khawatir padanya.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Cheara dengan perasaan yang sangat khawatir.


✨✨✨


Bekasi, 22 Juni 2020


[ 21 : 46 ]