Split Up To Be Together

Split Up To Be Together
[ Part 23 ] : Kenyataan



"Ibu sudah mengenalnya?" Tanya Ravin yang berdiri di samping Mayoza.


Mayoza diam terpaku melihat orang yang dulu sangat di cintainya, kini berada di hadapannya. Dia adalah pria yang sangat tulus mencintainya. Pria yang baik dan pernah berjanji untuk setia selamanya sampai mau memisahkan. Bahkan untuk melupakannya pun, Mayoza butuh waktu bertahun-tahun. Mungkin saja sampai saat ini Mayoza belum berhasil untuk melupakannya. Apalagi pria yang dicintainya kini kembali. Waktu bertahun-tahun untuk melupakannya dengan sangat mudah terhancurkan sudah.


"Bu?" Panggil Ravin sambil memegang pundak Mayoza. "Kau baik-baik saja?"


"Iya, Ibu baik-baik saja." Mayoza langsung mengalihkan pandangannya dari Abian yang juga sedari tadi memandangnya. "Ibu mau ke toilet sebentar ya." Mayoza segera keluar dengan langkah sedikit cepat, Zhaw menyusulnya di belakang.


Abian bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, dia sangat terkejut ketika kembali melihat Mayoza setelah sekian lama. Di sisi lain, dia juga rindu dengan putrinya yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Abian duduk di kursi samping ranjang. Dia menggenggam erat tangan Cheara. Air matanya berhasil tumpah dan menetes ke tangan Cheara yang mulai di ciumannya. "Sayang, kenapa kau bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Abian pada Cheara yang terbaring lemah.


Ravin sangat takut. Dia takut kalau ayahnya Cheara akan marah padanya. Ravin juga tadi sudah bohong, bilang kalau ponsel Cheara tertinggal di rumahnya. Padahal saat ini Cheara sedang di rumah sakit. Apalagi, dia belum mengenal Ravin sebelumnya. Pasti Cheara tidak akan di izinkan untuk dekat dengan Ravin lagi.


"Tuan, saya permisi." Ravin berniat untuk keluar.


"Tunggu." Abian menarik tangan Ravin. "Kau siapa?"


Ravin kembali membalikkan badannya. Dia tersenyum sopan pada Abian. "Saya Ravin, temannya Cheara. Maaf tadi saya berbohong padamu. Saya hanya tidak mau kau cemas di perjalanan tadi." Jawab Ravin masih sangat gugup.


"Ravin?" Abian menatap Ravin sangat dalam.


"Iya, Ravin Mahawira." Jawab Ravin sekali lagi.


"Apa kau anak wanita tadi? Em, maksudku apa wanita tadi itu adalah ibumu?" Tanya Abian yang mulai melepaskan tarikan tangannya pada Ravin.


"Iya, dia ibuku. Namanya Mayoza Mahawira."


Abian kembali terdiam. Rabin pun menjadi bingung, ada apa sebenarnya? "Maaf, Tuan. Apa sebelumnya kau sudah mengenal ibuku?"


Abian bingung harus menjawab apa. Dia langsung mengalihkan tatapannya dari Ravin, kembali ke Cheara. "Tentu saja. Ibumu adalah wanita yang sangat aku cintai. Awalnya ku pikir, aku telah berhasil melupakannya. Ternyata, aku gagal. Pertemuan ini membuatku gagal melupakannya." Ucap Abian dalam hati.


"Tuan, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ravin dengan memegang pundak Abian.


Abian hanya mengangguk dan terus mencium tangan Cheara. Dia sangat merindukan putrinya dan juga putranya. Iya, dia merindukan pria muda yang kini berdiri di sampingnya, memegang pundaknya dan berbicara padanya. Dia merindukan Ravin, putranya.


✨✨✨


☁️Flashback ☁️


Pernikahan tanpa restu orang tua, namun mereka yakin, kebahagiaan akan selalu menyertainya. Mayoza dan Abian telah menikah 6 bulan lalu. Pernikahan mereka sangat sederhana, walaupun Abian adalah pewaris tahta keluarga Sayuda. Dia adalah Presiden Direktur di salah satu perusahaan milik keluarganya. Dia rela kehilangan semua yang dimilikinya demi menikah dengan wanita yang sangat dia cintai.


Semua fasilitas pribadi hingga pekerjaannya hilang saat Abian lebih memilih Mayoza daripada keluarganya. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia tidak ingin kehilangan Mayoza, dia juga tidak ingin kehilangan keluarganya. Dengan berat hati, 5 hari sebelum menikah, Abian memutuskan untuk pergi dari rumah karena memang keluarganya yang mengusirnya.


Singkat cerita, pernikahan mereka berlangsung sederhana di rumah Mayoza. Tidak ada yang datang kecuali penghulu dan paman dari Mayoza yang meninggal 1 bulan setelah pernikahan itu. Tidak berselang lama, Mayoza hamil dan sudah menginjak 2 minggu. Abian sangat bahagia lebih dari apapun. Dia merasa kebahagiannya telah utuh.


"Jika anak kita berjenis kelamin laki-laki, aku ingin memberinya nama Ravin Sayuda." Kata Abian sambil mengelus perut Mayoza yang tengah mengandung anaknya, walaupun belum terlihat besar.


"Tapi jika dia berjenis kelamin perempuan, aku ingin memberinya nama Sea, Sea Sayuda." Mayoza yang tiduran di kasur memeluk Abian yang duduk di sampingnya.


Ketika kehamilan Mayoza menginjak 2 bulan, dia harus menerima kenyataan pahit. Ayah mertuanya sakit parah dan sudah stadium akhir. Walaupun kehadiran tidak di sambut baik oleh keluarga Sayuda, tapi Mayoza tetap menganggap keluarga itu adalah keluarganya juga.


Penyakit yang di derita ayah mertuanya adalah senjata untuk pernikahannya dengan Abian. Keluarga Sayuda memberikan pilihan kepada Abian sebagai permintaan terakhir ayahnya. Abian harus memilih, menikah dengan Delina atau hidup menderita dengan Mayoza dan anak dalam kandungannya akan ikut merasakannya juga? Delina adalah wanita pilihan untuk dijodohkan dengan Abian dan tentunya dari keluarga terpandang, berbeda jauh dengan Mayoza yang hidup sederhana dan tidak lagi mempunyai kedua orang tua.


Tentu saja Abian tidak ingin istri dan anaknya dalam bahaya. Tapi dia juga tidak ingin menikah dengan Delina dan meninggalkan mereka. Itu adalah pilihan yang sulit untuk Abian. Tapi Mayoza meminta Abian untuk menuruti kemauan ayahnya. Mau bagaimana pun, itu adalah ayahnya dan kini kondisinya sekarat.


Dengan sangat terpaksa, Abian menurutinya. Dia dan Mayoza berpisah saat kandungan Mayoza menginjak 8 bulan. Surat perceraian mereka telah diresmikan. Akhirnya, Abian menikah dengan Delina di sebuah perkampungan yang dimana itu adalah rumah keluarga Delina.


Lahirlah anak perempuannya yang Abian beri nama Cheara Sea Virranza Abian, tanpa memberikan nama Sayuda di belakangnya. Dengan alasan agar tidak terus mengingat Mayoza yang ingin jika anaknya perempuan, ingin diberi nama Sea Sayuda.


Di kehidupan Mayoza, dia dilamar oleh pria yang usianya 5 tahun lebih tua darinya dan 3 tahun lebih tua dari Abian, mantan suaminya. Mayoza menerima lamaran itu karena dia berpikir akan melahirkan anak yang pasti membutuhkan banyak biaya untuk mengurusnya. Pria itu bernama Gauri Mahawira, pria kaya raya yang sudah 2 kali menikah dan Mayoza adalah yang ke 3. Pernikahannya yang kedua tidak dikaruniai seorang anak dan dia pun memutuskan untuk bercerai. Pernikahannya yang ke dua dikaruniai seorang putra bernama Rezvan Mahawira. Gauri ingin sekali mempunyai anak perempuan. Saat bertemu Mayoza yang sedang hamil bayi perempuan, dia langsung menikahinya.


Tapi setelah melahirkan, ternyata anaknya berjenis kelamin laki-laki dan Mayoza meminta Gauri untuk memberinya nama Ravin Mahawira.


☁️End Flashback ☁️


✨✨✨


Mayoza tidak kuat berlama-lama di dalam ruangan itu. Dia tidak ingin Ravin mencurigainya. Sungguh, Mayoza sangat merindukan Abian. Mayoza tidak tau kalau Zhaw mengikutinya dari belakang. Hingga saat Mayoza duduk di bangku taman, Zhaw duduk di sampingnya.


"Nyonya, apa kau baik-baik saja?"


Mayoza terkejut dan langsung mengusap air matanya. "Zhaw? Mengapa kau mengikutiku?"


"Aku tau kalau kau tidak baik-baik saja. Jadi aku berniat untuk mengikutimu." Zhaw mengelus bahu Mayoza dengan lembut. "Apa yang membuatmu menangis? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Zhaw yang masih bingung.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja, Zhaw." Jawab Mayoza yang memberikan senyuman walau terlihat dipaksakan.


"Kalau begitu, aku ingin jujur padamu soal suatu hal." Kata Zhaw.


Mayoza menyerongkan tubuhnya ke arah Zhaw. "Katakan padaku, kau ingin mengatakan apa?" Mayoza merapikan rambut Zhaw. Dia memang telah menganggap Zhaw sebagai anaknya.


"Soal Ravin. Sebenarnya ini adalah masalah pribadi kalian. Tapi aku sudah tidak kuat lagi menyembunyikannya sendiri."


"Katakan saja padaku."


"Apakah benar kalau Ravin bukan anak kandung dari keluarga Mahawira?" Pertanyaan Zhaw membuat Mayoza terkejut. Mungkin dia bingung, dari mana Zhaw bisa tau? "Aku sudah lama mengetahuinya, sejak sebelum ibuku meninggal. Aku mendengarnya sendiri dari Tuan Gauri dan Rezvan."


"Apa kau sudah memberi tau Ravin soal ini?"


"Belum, aku berniat untuk terus menyembunyikannya. Aku tidak ingin ikut campur urusan keluarga kalian. Tapi aku harap, Ravin harus segera mengetahuinya atau dia akan celaka."


"Celaka? Siapa yang akan mencelakakannya?"


"Mahawira tidak akan selamanya diam. Mereka pasti akan melakukan apa pun untuk menghancurkan Ravin. Aku tidak ingin dia kenapa-napa, Nyonya."


Mayoza terdiam. Dia tidak ingin putranya terluka karena Gauri. Tapi dia juga harus mendapatkan waktu yang tepat untuk me ceritakan semuanya. Apakah ini saatnya? Abian datang dan sudah bertemu Ravin, apakah ini saat yang tepat?


"Aku akan mencari waktu yang tepat. Tapi aku mohon, tolong jaga Ravin. Hanya kau yang dapat aku percaya, Zhaw." Pinta Mayoza sambil memegang kedua tangan Zhaw.


"Cheara juga sudah mengetahuinya. Dia tidak dengan mendengarnya langsung dari Tuan Gauri. Aku akan menjaga Ravin sampai kau siap untuk mengatakan semua padanya. Ini janjiku padamu, Nyonya." Kata Zhaw.


✨✨✨


Zhaw emang udah tau kalau Ravin bukan anak kandung Mahawira, tapi dia blm tau kalau Ravin itu anak dari Abian. Gimana ya kira-kira respon Ravin setelah tau kalau dia dan Cheara itu ternyata adik dan kakak? Ya walaupun bukan saudara kandung ya...


Makasih banyak untuk kalian yang setia membaca cerita ini♥️


Bekasi, 20 September 2020


[ 22 : 36 WIB ]