Shoecha

Shoecha
Ch 9- Sepulang Sekolah



Dan, sesuatu yang paling pantas untuk di musuhi, adalah permusuhan itu sendiri.


~ Lord Arthur.


Lonceng pulang sekolah telah berbunyi.


" Kak Al!" Teriak seseorang, aku dan Falisya langsung menoleh ke arah suara. Natalia beserta dua cecunguk di belakangnya.


Dia berjalan cepat di antara kerumunan siswa, meninggalkan Anabel dan Jaesy, menghampiri Kak Alberta yang berhenti dan menoleh ke arahnya karna mendengar namanya di panggil oleh seseorang.


Huh, ini baru drama yang membosankan. Sayangnya aku tidak pernah tau kapan dia berulang tahun, ingin rasanya aku memberinya kaca ukuran 3 x 3 meter agar dia cepat tersadar dengan mulut beracunnya.


" Bukkk!!!" Astaga, aku tertawa, dan, Falisya tertawa dengan tawa yang lebih sadis dari ku.


" Au..." Rintihnya. Aku berjalan mendekat.


" Em, apa kau masih mengingat pelajaran Tuan Holwis kemarin? Tapi menurut ku, sepertinya tidak hanya melamun di pagi hari saja yang merepotkan, Nona Natalia yang terhormat," Aku mengingatkannya, tapi ku kira nada ku malah seakan mencemooh.


" Bukankah begitu, Tuan Holwis?" Kata ku pada Tuan Holwis yang ia tabrak, meminta persetujuan.


Dan, bisa ku tebak, Tuan Holwis pasti akan memberikan kuliah sore gratis tambahan pada si Natalia. Aku berlalu, Falisya sudah tidak ada di tempatnya. Ku putuskan untuk menghampiri Kak Alberta.


" Hai, k, kak Al, sore," sapa ku sedikit canggung. Sebenarnya aku merasa malu karna baru tau bahwa si dia adalah senior ku saat Falisya memberi tahu ku tadi pagi. Mmm, lebih tepatnya, memarahi ku karna omongan ku yang katanya kurang ajar. Dia, kelas tiga.


Aku ingin bertanya tentang banyak hal padanya, semoga saja sikap kalemnya itu benar- benar karena dia tau apa yang terjadi dengan ku akhir- akhir ini. Karena aku sendiri sudah sangat bingung menghadapi semuanya tanpa kejelasan.


" Sore," dia tertawa, sungguh keren. Kami berdua berjalan beriringan. Entah mengapa aku malah merasa sangat dekat dengannya, padahal tadi pagi aku masih bersikap dingin, tapi sekarang?


Tidak- tidak! Aku yakin ini karena aku sedang membutuhkannya saja, tidak kurang, dan tidak juga lebih.


" Ada apa? Apa ada yang salah dengan ku?" Tanya ku sedikit minder. Apa dia merasa aneh dengan sikap ku yang tiba- tiba saja menjadi sok akrab dan sok kenal begini? Ck, ini cuman siasat agar aku bisa membuktikan kecurigaan ku pada mu saja. Jangan terlalu ge' er.


" Ah tidak, teman mu, ku kira dia selalu menunjukkan hal menyedihkan di depan ku," jawabnya.


Untungnya...


" Oh, si Princess Musang Ingusan itu," jawab ku enteng.


" Apa?" Tanyanya lagi tak mengerti mendengar jawaban ku yang absurd.


" Natalia, dia bukan teman ku, tapi, yeach... Memangnya sejak kapan dia selalu menunjukkan hal menyedihkan di depan mu?" Terka ku berbasa- basi.


" Aku sudah tidak bisa menghitungnya, mungkin, hampir setiap kali kita bertemu," katanya, tertawa ringan. Aku hanya tersenyum sekilas. Dia tidak terlalu membosankan ternyata. Dan, lagi, senyuman dan tawanya sangatlah indah. Aku akan berusaha lebih dekat dengannya lagi, agar dia tidak terlalu terkejut, dan tidak juga menganggapnya terlalu serius saat nantinya aku bertanya sesuatu, yang mungkin sedikit tidak akan masuk akal.


🌀🌀🌀


Seperti biasa, sesampainya di rumah aku langsung masuk ke dalam kamar. Karena memang tidak ada yang istimewa, tidak ada hal yang berubah sama sekali.


Aku selalu bosan seorang diri. Tidak lagi ada yang bisa ku ajak sekedar bercerita, atau bercanda ringan sejak Aleta selalu di sibukkan dengan perguruan tinggi dan masalah- masalah tentang band nya. Jarang pulang, sulit untuk di ajak mengobrol, sulit juga di ajak pergi bersama saat weekend.


Dia benar- benar mengacuhkan ku semenjak tamat dari High School. Apalagi Mom dan Dad yang juga cuman sibuk sama pekerjaan mereka. Sekolah yang sangat membosankan, pokoknya, lengkap sudah hidup ku yang hitam putih tak berwarna ini.


Aku mengambil laptop ku, membawanya ke kasur. Menggunakannya untuk mencari apa saja yang bisa menghibur ku.


Aku adalah penyuka berita, tentang semua hal sih, tanpa label khusus. Aku men- scroll turun pada beranda berita viral terbaru bulan ini.


Shoecha...


Tunggu, tapi, di mana aku pernah mendengarnya ya?...


Shoecha...


Shoecha... Shoecha...


"Shoecha adalah sebuah garis, takdir yang tidak bisa kau hujat adanya. Shoecha adalah cerminan dari bening hati yang ada pada putri cahaya," aku terdiam, apa maksud dari kata- kata itu? Aku memandang sosok itu dengan mendongakkan kepala.


Ah, ya, Shoecha, itu adalah kata- kata yang di ucapkan oleh perempuan anggun berambut toska di dalam mimpi ku.


Aku meng klik judul muka artikel itu dua kali, membacanya lamat- lamat.


" Batu Bintang Shoecha"


Dahi ku mengernyit, seketika saja tangan kiri ku refleks meraba leher tanpa kendali. Mencari- cari sesuatu.


Aku menundukkan kepala untuk memperhatikannya lebih seksama. Liontin ini benar- benar sama, persis dengan gambar yang tampak di bawah judul artikel.


Gambar dari batu yang di sebut sebagai Batu Bintang Shoecha.


Liontin ku ini terbuat dari sebuah batu, mungkin marmer, tapi entahlah, aku juga tidak tau. Yang ku tau batu ini memiliki kualitas yang sangat bagus.


Bentuknya adalah sebuah bintang dengan enam buah sudut, di tengahnya terdapat sebuah lingkaran berwarna biru terang seperti permata, kemudian bintang tersebut di batasi oleh dua buah lingkaran dengan lingkaran bagian luar membentuk sudut- sudut lancip.


Sedangkan gambar itu memperlihatkan sebuah batu usang dengan bentuk sedikit lebih besar, menempel pada sebuah penampang batu berbentuk persegi.


" (11/19) Seorang petani gandum telah menemukan sebuah benda yang di duga merupakan salah satu tinggalan bersejarah dari masa kuno saat sedang beristirahat di sisi lahannya yang luas.


" Belum di ketahui secara pasti tentang apa maksud dari benda itu di buat, mau pun dari mana benda itu berasal.


" Benda itu cukup unik dan sangat menyita perhatian saya, maka saya berinisiatif untuk menyuruh teman saya yang kebetulan merupakan salah seorang pengelola Museum Daerah untuk memeriksanya," tutur petani itu saat tim redaksi meminta penjelasan.


" Pihak museum pun menindak lanjuti penemuan benda asing tersebut, dan benar saja, hasil penelitian bahkan tidak bisa melacak tahun berapa benda itu ada di Bumi.


" Di belakang penampang persegi batu tersebut terdapat sebuah aksara yang belum bisa di terjemahkan. Hanya kata Shoecha yang ditulis jelas di bagian depan, di bawah batu berbentuk bintang enam sudut yang di kelilingi oleh lingkaran bersudut lancip.


" Batu itu sekarang di ambil alih oleh pemerintah pusat bagian kebudayaan untuk di teliti lebih dalam kembali."


Aku berhenti sesaat,


" Ternyata aku kurang up to date," gumam ku. Dan saat aku hendak kembali melanjutkan membaca artikel itu, tiba- tiba saja laptop ku mati.


Aku menekan tombol power berkali- kali.


" Err... Persetan!" umpat ku.


Kemudian, sebuah cahaya menyilaukan seketika datang merengkuh seluruh kesadaran ku. Rasanya aku seperti terhuyung- huyung. Ringan sekali.


Dan selanjutnya setelah itu...