
Kebencian dan rasa sayang. Keduannya memiliki kesamaan. Yaitu, merupakan kelemahan dan kelebihan terbesar bagi seseorang yang memilikinnya. Siapa pun itu.
~ The Three Knight Falsya.
" Jurus yang hebat, tak ku sangka kau bisa menggunakannya dalam waktu lama tanpa takut kehabisan tenaga. Tapi apa gunanya jurus ini jika kau gunakan kepada salah satu anggota Klan yang juga menguasainya!!"
" Bodoh!!"
" Siapa kau sebenarnya? Dan dari mana kau tau bagaimana cara menggunakan jurus rahasia anggota Utama Klan Lin?"
Suara geram Falisya menguar begitu saja, sekolah terasa seperti tempat mati. Tak ada seorang pun yang menyadari adanya gelombang energi sebesar itu. Mungkin lebih jelasnya, tak ada yang menyadari keadaan di sekitarnya dan Variella berada, padahal banyak siswa masih berlalu lalang.
Tekanan di sekitar dirinya perlahan menguat dan membentuk sebuah pusaran, menampakan sesosok pria yang tiba- tiba muncul dari pusat angin bertekanan tinggi itu.
Tempat ini sudah di beri portal pembatas yang cukup kuat, hanya beberapa orang tertentu yang bisa menembusnya, pria itu sangat berhati- hati.
" Ini hanya salam perkenalan saja, adik sepupu, aku tau pasti kau akan menyadari jurus andalan yang aku keluarkan barusan, Lin Falsya," katanya dengan raut datar dan tatapan dingin.
" Fal, Falisya, siapa dia?" Tanya Variella yang sudah sangat lemas di papahan Falisya.
" Aku juga tidak tau, aku tidak pernah mengenal orang itu di dalam Klan Lin," bisik Falisya membalas pertanyaan Variella.
Apa itu Klan Lin? Lincholn, atau?~ Variella.
" Aku hanya ingin Queen, kau berikan dia, maka aku akan melepaskan nyawa mu, kita impas, bukan? Satu, di tukar dengan angka satu juga, adik ku..." Tawar orang itu sangat sombong dan sok akrab sekali. Variella sedikit demi sedikit tau apa yang orang itu katakan.
Apa ini yang di maksud Zere waktu itu? Banyak orang menginginkan ku, dengan cara membunuh, atau menikah?~ Variella.
Falisya menoleh ke arah Variella,
" Queen?" Falisya tidak merasa ada sesuatu yang aneh dari dalam tubuh Variella. Jadi dia masih tidak bergeming.
" Fal, yang orang itu inginkan adalah aku, kau bisa memenuhi permintaannya, kau bisa pergi setelah menyerahkan ku, toh aku juga tidak akan mati." Timpal Variella kepada Falisya ikut meyakinkan dirinya sendiri. Suaranya semakin halus seiring tenaganya yang terserap habis oleh pusaran kekuatan itu. Tersenyum kecil.
" Wahh... Queen, ternyata anda sangat pengertian ya, apa kau mendengarnya, Tubah Kecil?" Sambung orang itu tersenyum miring. Di belakagnya banyak orang berjubah hitam dengan aura yang menakutkan juga.
" Duaarrr!!!" Semua tatapan mengarah pada sudut portal yang berhasil di tembus. Itu adalah Zere dan Anasita. Mereka masuk secara paksa dengan terus melemparkan serangan secara asal dan membabi buta. Membuat konsentrasi orang- orang itu terpecah untuk menangkis dan melawan serangan.
" Uhuk!!" Zere terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Begitu juga Anasita.
" Tenaga dalam ku," gumam Zere memegang dadanya.
" Zere, orang itu menggunakan jurus rahasia Klan ku, itu akan menyerap semua energi dan tenaga dalam mu secara perlahan sebelum memakan jiwa mu seutuhnya, kelemahan dari jurus ini adalah kau harus menyerangnya tanpa henti dengan serangan kuat secara langsung," Falisya me mind link Zere, dia belum sempat berfikir tentang siapa Zere dan apa maunya, begitu pun dengan Zere dan Anasita.
Yang terpenting sekarang, adalah mengalahkan musuh di depan mata, dan saling percaya satu sama lain.
" Baik, pergilah, bawa Variella sejauh mungkin dari tempat ini, aku dan Anasita akan mengurus sisanya, tapi jagan harap aku akan melepaskan mu saat aku tau kau melukainya nanti, sedikit pun," jawab Zere juga memberikan gelombang suara lewat fikiran pada Falisya.
Falisya mengangguk faham sebelum dia pergi, mana mungkin dia akan melukai Variella, orang yang dia sayangi.
Zere memberitahukan rencana penyerangan yang dia susun cepat di kepalanya kepada Anasita lewat mind link juga yang di jawab dengan isyarat mata persetujuan.
" Kau tidak akan pernah bisa kabur dari genggaman ku!" Tukas orang itu yang sekarang terlihat sangat marah, tapi sebelum dia bisa mengejar Falisya dan Variella, Zere dan Anasita sudah menghadang mereka dengan serangan.
" Mau lari? Jangan harap Pak Tua," kata Anasita menantang.
" Kejar mereka, jangan biarkan mereka lolos, hidup, atau mati!" Perintah orang itu tegas kepada beberapa bawahannya yang sudah berhasil menyelinap keluar dari portal pelindung itu, karena dia tau akan sulit baginya bisa lolos dari hadangan dua bocah ingusan itu tanpa melayani mereka.
" Prince Saifar, kau sangat naif! Queen bukan lalat yang bisa kau tangkap hidup atau mati dengan cara begitu saja," cerca Zere meregangkan otot- otot tangannya.
" Sepertinya kita memang harus menyelesaikan ini dengan cepat," ujar Anasita yang sudah mengeluarkan pedang bersarung merahnya yang penuh dengan sengatan energi listrik.
" Kalian masih butuh setidaknya seratus tahun berlatih untuk bisa seimbang degan ku!" Kata orang yang di panggil Zere dengan sebutan Prince Saifar itu berlagak.
" Ahh... Bacott!!! Anas, serang!" Zere mengomando maju menyerang Saifar dan beberapa bawahannya yang tersisa dengan kecepatan penuh. Zere tentu tau kalau Saifar sangat lemah dalam pertarungan jarak dekat.
Mengalahkannya memang belum memungkinkan, tapi jika untuk membuatnya merasa kalah sangatlah mudah. Yaitu, memberikannya luka yang tidak terduga.
Untuk mu, Falisya Abraham Lincholn, siapa pun kau, aku akan membuat pergitungan dengan mu nanti~ Zere.
Falisya menggendong Variella di kedua tangannya, terus berlari sekenanya menggunakan jurus peringan tubuh yang dia miliki.
" Cecunguk! Berani sekali mengikuti ku!" Terka Falisya ketika mendapati beberapa orang berjubah hitam dengan aura membunuh pekat masih saja mengejarnya.
Falisya terus menambah kecepatan berlarinya, karena tidak mungkin menyerang dalam keadaan dia membawa Variella. Itu akan sangat beresiko.
Dia menatap Variella yang sudah tidak sadarkan diri, banyak pertanyaan bersembunyi di dalam benaknya. Tentang siapa sebenarnya sahabatnya itu, hingga seorang Vampir darah campuran berkekuatan tinggi saja mengejar- ngejarnya tanpa ampun. Dan, ya, Queen...
" Siapa sebenarnya diri mu, El? Kenapa kau tidak pernah memberi tahu ku?" Tanyanya tidak terjawab.
Siapa pun Variella, dia adalah sahabat yang sangat dia cintai. Falisya tau, dia di lahirkan denga kekuatan ini, adalah untuk melindungi orang- orang yang sangat dia sayangi nantinya, seperti Variella.
" Aku tau kau orang baik, aku percaya, dan akan selalu mempercayai mu," gumam Falisya menambah lagi kecepatan berlarinya berkali- kali lipat. Orang- orang berjubah hitam itu sangat tangkas dan tidak punya lelah.
Entah sudah berapa lama dia berlari. Sekarang dia sudah berada di dalam hutan di pinggiran kota. Hutan yang sangat rimbun dan gelap, di depan sana, jauh di kedalaman hutan, setau Falisya, itu adalah salah satu portal untuk menuju ke Dunia Bawah.
Tiba- tiba dia memikirkan sebuah ide untuk mengecoh orang- orang berjubah hitam itu.