
Diam... Aku mengatuk- atukkan pen ku di atas meja.
" Huh, masih banyak sekali orang- orang yang bukan orang biasa di sekitar mu. Sekali lagi, jadi berhati- hatilah... Alberta, dan teman mu, si Falisya itu,"
Apa benar? Kak Alberta dan Falisya... Mereka bukanlah manusia?
" Kemudian, Master Arguza, dia adalah Leader kami, The First Knight of Shoecha,"
" Tunggu, apakah dia berambut putih dan juga memiliki iris keperakan?" Tanya ku refleks, kilas kejadian itu seketika muncul kembali. Wajah sang Leader yang sangat bijaksana.
" Ya, dan dia sekarang, adalah Aleta Souju," aku menutup mulut ku dengan telapak tangan,
" kakak?"
" Iya, dia adalah Knight pertama. Sisanya aku belum bertemu, tapi akan dengan segera."
Terus, Kak Aleta? Adalah seorang master yang sangat di hormati, tapi kenapa sikapnya pada Zere waktu itu... Padahal seharusnya mereka saling mengenal dengan baik,
" Anasita Amber Albaroza, putri ke dua dari Lord Afrakulania, The Last Knight of Shoecha, seharusnya, dia adalah saudara kembar mu," aku terdiam sesaat,
" Saudara kembar?"
" Iya, tapi aku juga kurang faham, ingatan kami sebenarnya sama- sama tersegel sejak peperangan beribu- ribu tahun yang lalu di Kamland,"
Dan, Anasita... Aku menoleh ke belakang. Dia masih tetap dengan posisi kebanggaannya, menghadap jendela.
Entah, apa yang sedang dia fikirkan, atau beban apa yang sebenarnya sedang dia tanggung.
Meskipun dia terlihat ceria dan penuh senyuman setiap saat, matanya malah banyak mengabarkan tentang kesedihan dan tekanan mendalam.
Saudara kembar, apakah itu memang mungkin terjadi?...
Siapa sebenarnya aku?
" Dan kau, kau adalah junjungan kami, putri pertama dari Lord Afrakulania. The Queen of Shoecha, sang Putri Cahaya yang memiliki kuasa atas dunia. Banyak yang ingin merebutnya dari mu dengan berbagai cara, termasuk pernikahan, atau pembunuhan."
" Itu, mengerikan," komentar ku.
Tidak tidak, aku menggeleng- gelengkan kepalaku keras.
Aku hanyalah seorang gadis High School biasa. Putri bungsu dari salah satu keluarga yang cukup berpengaruh di daratan Asia.
Tumbuh di kalangan bangsawan yang penuh aturan dan membosankan.
Sungguh, nggak ada sedikit pun celah yang dapat membuktikan, kalau aku, adalah salah satu bagian dari mereka.
Semua kata- kata Zere benar- benar mengganggu, apa aku harus mempercayainya?
" Dueeerr.... Bruuukkkk, Dertttt brak," aku meluruskan pandangan ku pada arah puing- puing Kerajaan yang hampir sebagiannya roboh.
Seorang perempuan terlihat berjalan keluar dari puing- puing bangunan itu dengan santai. Dia sangat, cantik.
" Kau pikir siapa diri mu, berani- beraninya menghakimi nyawa orang lain yang bukan hak mu. Kehidupan dan Kematian bukanlah milik mu. Heh, kau benar- benar membuat ku merasa jijik dengan cara mu memperlihatkan betapa congaknya kegelapan,"
Katanya dengan nada ringan, tapi cukup membuat semua orang yang mendengarnya merasa merinding. Kata- kata itu seakan- akan merupakan sebuah tantangan, atau mungkin, lebih tepatnya, ancaman, kepada Sang Jiwa Kegelapan.
Ah, aku teringat bayangan peristiwa abnormal itu lagi...
Mungkinkah aku memang sosok anggun tak berekspresi yang mengerikan itu?
" Kya!!!..." Aku memegang ke dua sisi kepala ku dengan kuat.
Aku berteriak di dalam kelas, aku benar- benar tidak menyadarinya sama sekali. Semua emosi ini mengalir begitu saja.
" El?.." Seorang menyentuh bahu ku lembut, Falisya... Dia nampak sangat khawatir. Semua orang menatap ke arah ku. Tak terkecuali Tuan Holwis, Zere, dan, Anasita.
" Gluduk gluduk!! Gluk..." Aku terdiam dan menunduk sesaat. Sial!!!
" Nona Variella, apa kau merasa sedang kurang sehat saat ini?" Tanya Tuan Holwis.
" Aku akan pergi ke UKS, anda tidak perlu mengkhawatirkan keadaan saya," aku membereskan buku- buku ku, lalu mencangklong tas ku dengan sebelah tangan.
" Maaf, Tuan Holwis, telah mengabaikan anda selama jam pelajaran," aku membungkukan tubuh sesaat.
" Habiskan sisa hari mu untuk beristirahat dengan baik, Nona Variella," membenarkan letak kaca matanya. Aku pergi.
Setelah itu, Tuan Holwis memulai kembali kelasnya.
Aku berjalan melewati koridor yang sepi dengan langkah pelan. Rintik- rintik air hujan turun mewarnai udara.
Baru jam sembilan pagi. Aku berencana untuk menghabiskan lima jam pelajaran ku untuk berbaring di UKS, menunggu Kak Aleta menjemput ku nanti.
🌀🌀🌀
Tiba- tiba, aku rindu dengan Mom dan Dad. Sedang apa mereka? Apa mereka ingat, bahwa putri kecilnya sudah menginjak usia delapan belas tahun?
Huuuuuuuuhhhh... Gadis yang malang...
" Dert... Dert..." Aku membuka ponsel ku, sebuah pesan we chat dari,
" My Prince,"? Gumam ku merasa bingung.
" Dert... Dert..."
" Dert... Dert..."
Sejak kapan aku menyimpan kontak dengan nama menjijikan seperti ini?
Seberapa banyak pun aku mencoba untuk mengingatnya, semua itu terasa sia- sia.
Akhirnya aku memutuskan untuk membukanya.
" Mine,"
" Lima hari lagi akan aku jemput sepulang sekolah. Keluarga ku akan mengadakan sebuah pesta yang besar."
" Dan kau, di undang sebagai salah satu tamu yang berbeda,"
Kak Alberta?
Hhh... Siapa lagi yang akan melakukan hal semacam ini, selain orang itu...
" Dimana sekarang?" Aku mengetik jawaban beberapa saat setelah dapat menerka dengan pasti si pengirim pesan.
" Dert... Dert..."
" Dert... Dert..."
" Di rumah,"
" Jangan rindu,"
aku mengerutkan dahi. Kenapa aku malah jadi peduli padanya.
" Rindu?"
" Mimpi!" Balas ku.
" Dert... Dert..."
" Dert... Dert..."
" Dert... Dert..."
" Bam!!!..." Aku menoleh, suara pintu di banting dari luar.
" Cih, dia lagi," gumam ku.
Natalia, dia berjalan dengan langkah besar dan tatapan angkuhnya ke arah ku.
" Oh, ayolah... Aku sedang tidak ingin ribut dengan mu hari ini," kata ku lemah.
Sedangkan dia malah bertindak lebih aktif dengan menarik ikat rambut ku, sehingga membuat rambut hitam ku yang cukup indah terurai bebas. Lalu menjambaknya ke belakang sehingga kepala ku sedikit mengantuk ke dinding.
" Au,"
" Kakak ketiga, ngomong- ngomong, dimana mulut besar mu yang biasa kau pakai untuk mengolok ku itu? Mana rasa berani mu yang biasanya?" Apakah dia benar- benar telah menjadi seorang psikopat?
Matanya sangat nyalang memburu. Bukan, dia terlihat bukan seperti Natalia... Mungkinkah Natalia benar- benar menginginkan ku untuk mati? Mungkinkah Natalia memang berani melakukannya?
" Lia, apa kau sedang berusaha untuk membunuh ku?" Tanya ku masih mempertahankan ekspresi datar ku.
" Hm... Ya, aku bahkan sangat ingin membuat mu tidak bisa kembali bereinkarnasi, kakak ku yang cantik," terkanya mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari balik sakunya.
Pembunuh berdarah dingin...
" Ayo, apa yang ingin kau katakan? Apakah ada permintaan yang bisa ku penuhi untuk yang terakhir kali?"
Tidak menguntungkan. Letak UKS benar- benar sangat jauh dari keramaian dan jarang di lalui orang.
" Natalia, kita tumbuh bersama sejak kecil, aku masih tidak tau, kenapa kau bisa jadi sangat membenci ku seperti ini?" Tanya ku. Masih mencoba untuk bersikap wajar, tenang, dan menguasai diri sebaik mungkin.
Mungkin dia sedang kesal, seburuk apa pun hubungan kami, setidaknya aku tidak pernah berharap kalau akhir dari alur ceritanya akan menjadi seburuk ini.
" Pembual! Tidak tau diri! Dasar ******!" Umpatnya.
" Aku~"
" Ah!" Aku tersentak.