
Bahagia itu kerelatifan, apa yang kau rasakan saat ini adalah sugesti mu sendiri dalam merasakan keadaan.
~ Lord Arthur.
Seorang perempuan dengan rambut panjang putih bersih tersenyum lembut ke arah depan. Di belakangnya, seorang laki- laki dengan pakaian sederhana dan tatanan rambut yang selalu di ikat ke atas memegang tali kendali Xawas dengan erat.
Pada satu kesempatan, laki- laki itu mengumpulkan rambut si perempuan, lalu menaruhnya ke depan di sisi kiri.
Mereka berkuda sambil mengelilingi padang rumput di dekat hutan, tempat laki- laki itu biasa membawa Xawas untuk mencari rerumputan segar dan menenangkan diri.
Laki- laki itu menerawang, akhirnya, dia bisa melihat si perempuan tersenyum. Glen selalu datang ke padang rumput itu tiga- empat kali dalam satu pekan. Tapi setelah bertemu dengan Suizu di hutan, dia menjadi lebih kerap datang.
Lambat laun mereka berdua menjadi sangat akrab.
" Kau bisa membuka mata," kata Glen yang sudah mengatungkan sesuatu.
" Bunga?" Suizu mengerutkan dahinya, itu seperti bunga mawar, tapi warnanya putih.
" Aku hanya punya sekuntum mawar untuk mu," terka Glen melihat Suizu bertanya- tanya, Suizu menerimanya.
" Mawar? Berwarna putih?" Tanya Suizu meneliti bunga di tangannya dengan lekat. Dia hanya pernah melihat mawar berwarna ungu gelap di hutan, tidak ada yang sebersih itu.
Glen hanya tersenyum, Glen tau sudah sangat lama Suizu berada di dalam hutan, mungkin juga memang tidak pernah pergi jauh dari rumahnya.
" Apa kau menyukainya?" Tanya Glen penasaran.
" Iya, terima kasih," jawab Suizu benar- benar senang.
" Aku tidak menerima kasih mu," timpal Glen membuat Suizu cemberut sekilas.
" Biar aku yang terus memberi mu kasih, jangan sampai kau kehilangan sesuatu, apalagi untuk ku," kata Glen membuat Suizu malu.
" Jika kau menyukainya, aku akan membawa lebih banyak besok, aku bisa menanamkannya di rumah mu, dan kau bisa terus menatapnya di saat merindukan ku," tawar Glen, sekilas dia membuat mata Suizu berbinar bahagia.
" Apa kau memiliki banyak bunga seperti ini di rumah mu?" Tanya Suizu menyelidik.
" Tidak juga, tapi ada banyak di pasar," tukas Glen.
" Pasar?" Tanya Suizu tidak tau.
" Pasar adalah tempat seseorang menjual dan membeli sesuatu. Banyak hal di jual di pasar. Ada bunga, sayuran, daging, makanan siap saji, pakaian, tembikar, bahkan budak," jelas Glen. Mendengar kata budak Suizu langsung merangkak mundur menjauhi Glen.
Glen mendekat berusaha menenangkan Suizu, tidak seharusnya dia mengatakan kata budak padanya yang terbiasa hidup damai bersama alam dan para binatang.
" Maaf, aku tidak berniat membuat mu ketakutan," kata Glen mengusap- usap puncak ramut Suizu lembut.
" Ah!" Variella berteriak ketika merasakan seseorang menyentuh pinggangnya dari sisi belakang. Membuyarkan bayangan sebuah kilas peristiwa aneh yang tiba- tiba saja lewat ke dalam fikirannya.
" Apa kau menyukainya? Kolan pemandian air panas ini adalah salah satu yang terbaik di Dunia Bawah," timpal seseorang. Variella terjungkat ke depan karena ternyata itu bukan hanya perasaannya belaka. Langsung membalik badannya ke arah suara di belakangnya.
" Ke, kau?!" Variella berkata dengan latah saking terkejutnya, seorang laki- laki berambut gelap yang hampir seluruhnya basah. Jelas- jelas psycopat di depannya itu sangatlah cabul. Dia memakai sebuah baju panjang tipis yang tidak berlengan, mungkin lebih tepatnya pakaian dalam di dunia itu.
" Apa kedua orang tua mu tidak pernah mengajari mu untuk tidak telanjang di depan seorang pria normal?" Tanya Faizal dengan seringaian yang biasa dia keluarkan, memberi tau seakan Variella yang patut di salahkan.
" Siapa yang cabul? Aku masih mengenakan pakaian dalam, sedangkan kau?" Faizal menjawab Variella tidak mau kalah. Variella tertegun.
" Tau aku tidak mengenakan sehelai pakaian sedikit pun, lalu kenapa kau harus kesini?!" Tanya Variella masih judes.
" Aku hanya ingin menemani mainan baru ku berendam, mungkin," jawab Faizal cuek. Benarkah dia hanya menganggap Variella sebuah mainan baru? Variella tercekat mendengar kata mainan baru muncul dari mulut laki- laki di depannya.
" Apa aku terlihat begitu murahan di mata mu?" Tanya Variella yang sekarang lebih terlihat sebagai raut tidak terima.
" Terserah apa katamu saja, aku hanya ingin mengambil kembali jubah ku," terka Faizal sembari berjalan keluar dari dalam kolam pemandian air panas, memungut kembali jubahnya di antara pakaian- pakaian Variella yang tergeletak sembarangan. Rasanya dia tidak bisa terus berada di dekat tatapan Variella yang sayu itu.
Variella masih menatap punggung Faizal yang menjauh. Di dekat pintu menuju arah paviliun dalam, Faizal berhenti. Dia menjentikan jarinya tanpa menoleh. Membuat tumpukan pakaian Variella yang aneh dan terbuka itu langsung terbakar karena mengeluarkan api.
" Ingat, aku adalah Tuan. Istana ini milik ku, jadi jangan pernah bertanya kenapa aku datang, atau untuk apa aku ada di salah satu sudut dari tempat ini, karena itu bukan urusan mu!" Terka Faizal dengan ekspresi yang sudah kembali menjadi kaku, tidak sesantai sebelumnya.
" Dan lagi, jangan mencoba menggoda orang- orang ku dengan pakaian bodoh mu itu, di sini, kepala selalu menjadi taruhan jika sampai lalai terhadap tugas," imbuh Faizal melanjutkan langkahnya pergi dari hadapan Variella.
Variella masih kaku pada posisinya, tanpa sadar, air matanya mulai merembes turun. Kata- kata Faizal terus berputar- putar di kepalanya.
Dia memejamkan mata.
Gambaran- gambaran aneh itu masih terus menyeruak masuk menghantuinya sepanjang hari. Gambaran absurd yang berbeda- beda dan seperti tak terhubung antara satu sama lain.
Kebenaran tentang semua orang yang menginginkanya, dan kebenaran- kebenaran lain yang menyusulnya.
Lalu, psycopat mesum yang di satu sisi sangat pengertian, tapi di muka selalu melemparkan kata- kata yang sukses membuatnya terjatuh begitu keras setiap dia mendengarnya.
**Sampai kapan aku harus mengalami semua keadaan menyedihkan ini?~ Variella.
🌀🌀🌀**
" Apa kau yakin calon Queen ada di sini?" Tanya Kavyla ragu.
" Kau meremehkan ku? Tadi aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau tadi Ka'er membawanya masuk, lalu tidak lama Lord menyusulnya," jawab Lauzy tidak suka di remehkan.
Mereka berdua tengah bersembunyi di balik sebuah bongkahan batu besar di halaman depan Paviliun Tenggara.
" Tapi ini adalah Paviliun Tenggara, tidak pernah ada orang yang menempati paviliun ini selama beratus- ratus tahun lamanya sebelum ini," timpal Kavyla masih tidak percaya.
" Kau pikir haya Paviliun Tenggara yang sudah tidak di huni cukup lama? Paviliun yang lain kan juga masih banyak bukan? Kau seharusnya tau juga, walau pun begitu, Paviliun Tenggara adalah salah satu Paviliun terbaik di sini," jelas Lauzy tetap kekeh pada penemuannya.
" Baiklah, aku akan percaya pada mu kali ini karena aku benar- benar penasaran dengan calon Queen ku," timpal Kavyla pasrah.
" Santailah, kau pasti akan terpesona setelah melihatnya nanti. Calon Queen kita adalah oranga yang sangat cantik dan~" Sebelum Lauzy melanjutkan kata- katanya, Kavyla sudah menyenggol lengannya cukup kuat.
Seorang laki- laki dan perempuan bersamaan keluar dari paviliun.
Itu adalah Lord nya dan Ka'er.
" Aku selalu benar," gumam Lauzy penuh kemenangan.