Shoecha

Shoecha
Ch 30- Serangan Tiba- Tiba



VARIELLA


Aku memandang langit- langit kamar, kakak telah kembali ke kamarnya. Cahaya terang bulan menerobos masuk lewat celah jendela yang tertutup.


Aku beranjak dari ranjang, berjalan pelan untuk kemudian membuka jendela lebar- lebar. Aku memang tak pernah bisa melewatkan malam dengan tenang, jika itu tanpa menatap langit yang membentang luas.


Ingatan ku kembali pada momen yang telah ku lewati beberapa waktu yang lalu,


" Aku mencintai mu, jangan pergi lagi... Diamlah, dan biarkan malam ini, seluruh semesta iri dan cemburu, aku, hanya ingin berada di sisi mu, mencintai mu, dan terus seperti ini," bisiknya.


Mm... Ternyata yang tadi itu cuman mimpi ya... Tapi rasanya...


Aku menyentuh dada ku, sesak, perasaan ini begitu menyiksa. Rindu yang lebih dalam. Perasaan familiar.


Tapi, pria itu cukup tampan... Aku tersenyum. Setelahnya, aku sadar, bahwa aku telah jauh berfikir tentang apa yang selama ini terjadi, hingga tak terasa, malam hampir saja berakhir.


Laki- laki itu berbeda, dia bukan Kak Alberta.


🌀🌀🌀


Aku berjalan lunglai menuruni satu demi satu anak tangga. Sesuatu mengenai hidung ku, hmmm...


" Pagi, Tuan Putri ku," Aku tersenyum, Kak Aleta tengah sibuk menata berbagai macam makanan hasil karya tangannya sendiri di atas meja makan.


" Aku membuat sarapan kesukaan mu pagi ini, ada ayam madu saos tomat, sup biji bunga teratai dengan kuah lembut sutra, nasi goreng ekstra pedas, seblak jamur, bla bla bla bla..." Dia menghadang ku.


" Aku tidak sarapan kak," jawab ku enteng, meski makanan- makanan itu terlihat sangat menggoda, tapi tidak tau kenapa nafsu makan ku sedang sangat minim sekarang.


" Oh, ayolah... Var, apa kau benar- benar tidak tau bagaimana cara untuk menghargai usaha orang?" Aku mendengus kesal.


" Roti dengan selai kacang saja, aku ambil yang itu," tawar ku.


" Itu bukan aku yang buat. Satu gigitan kecil ayam madu saos tomat," jawabnya.


" Baiklah, satu gigitan ayam madu saos tomat," kata ku.


" Di tambah satu sendok sup biji bunga teratai dengan kuah lembut sutra," tambahnya.


" Oke- oke, kau berhasil mempermainkan ku kak, aku akan sarapan bersama mu, apa kau sudah cukup puas?"


Kak Aleta menarik satu kursi ke belakang, lalu mempersilahkan ku untuk duduk. Kami duduk bersebelahan. Suasana yang tenang.


Biasanya kami akan lebih banyak mengobrol ketika sedang berada di meja makan, apa pun, tentang apa yang telah kami alami masing- masing seharian, atau bahkan hanya bergurau sederhana.


" Wajah mu masih pucat, tidak usah pergi ke sekolah," aku berhenti menggerakan sendok ku.


" Aku tidak papa, aku ingin pergi, aku akan jaga diri baik- baik, lagi pula aku sudah dewasa," aku tersenyum selembut mungkin. Padahal aku sudah sengaja memakai pewarna bibir dan bedak agar terlihat lebih segar, tapi kenapa Kak Aleta masih bisa saja menyadarinya?


" Apa tidur mu semalam nyenyak?" Malam yang panjang dan melelahkan.


" Iya," jawab ku sekenanya.


" Jangan mencoba untuk berbohong, kau sangat amatir tau," apa aku berfikir dengan suara yang terlalu keras ya? Kenapa dia mendadak bisa tau segalanya?...


Dia mengusapkan tangannya ke kepala ku, rasanya seperti ada sengatan- sengatan kecil.


" Jangan membuat tatanan rambut ku berantakan!" Ketus ku, Kak Aleta tidak merespon sama sekali. Hanya senyum, dan senyum. Melanjutkan makannya. Misterius!


" Nanti aku akan menjemput mu seperti biasa. Mom dan Dad mengundang kita untuk makan malam di rumah utama." Bangunan yang ku tempati saat ini adalah rumah yang di beli Kak Aleta saat dia baru transfer study High School ke mari, karena jarak sekolah dan rumah utama terbilang lumayan jauh.


" Bisakah kalau aku tidak datang saja?" Aku masih fokus pada sarapan ku yang tinggal setengahnya.


" Tidak tau kenapa, Bibi Eline dan si musang betina ingusan itu terlihat sangat tidak menyukai ku hingga saat ini,"


" Ada aku. Kau tau? Mom dan Dad sangat merindukan putri kecilnya," candanya.


" Akan ku fikirkan lagi," aku terdiam. Melanjutkan sarapan ku tanpa minat. Makanan- makanan ini penuh dengan campuran rasa kehampaan, malas, tidak suka, dan banyak lagi hal negatif yang tumpah dari hati ku.


" Makanlah yang banyak agar cepat sembuh,"


🌀🌀🌀


" Kenapa sih diam saja?" Tanya Falisya dengan wajah sok cutenya.


" Menurut mu?..." Tanya ku tak memiliki maksud apa pun.


" Ke Mall XXX saja, itu adalah pusat perbelanjaan paling mewah di Negara ini,"


" Oke, ide mu memang luar biasa, Jaesy... Aku memang harus menjadi pusat perhatian pada perjamuan malam nanti, Tuan Putri Natalia Souju yang cantik dan tiada duanya ini," Falisya menoleh, dengan mendengarnya saja aku tau siapa pemilik suara- suara perusak gendang telinga itu. Mereka berlalu.


" El?.. Apa itu yang sedang kau fikirkan?"


" Aku tidak punya waktu untuk memikirkan seekor Musang,"


" He.. Ayolah... Muka mu barusan tak berkata demikian. Bahkan ada banyak sekali tulisan " tak berdaya" di situ," candanya.


" Banarkah?" Tanya ku. Kenyataannya aku memang tak berdaya setelah memasuki gerbang " penjara utama" keluarga Souju itu.


" Bukankah itu hanya sekedar jamuan makan malam?" Tanya Falisya.


" Kenapa fikiran mu sederhana sekali sih?" Tanya ku.


" Teman, ku kira aku memiliki nasib lebih beruntung dari pada diri mu, tapi siapa sangka kalau kita sekarang tidak lagi sederajat, siapa yang tau bagaimana jamuan makan malam dari salah satu keluarga besar Negara ini?" Katannya. Bukan masalah sederajat atau tidak, tapi terbiasa atau tidak.


" Aku akui hidup mu itu sangat simpel, keluarga mu juga harmonis~"


" Oke, cukup- cukup, aku tau, itu adalah jamuan yang sangat besar bagi mu yang tidak pernah ingin berurusan dengan kata " konglomerat". Tapi kau harus hadir." Bujuknya.


" Kenapa aku harus?"


" Apa kau tau? Jika kau tidak hadir maka reputasi mu sebagai Nona tunggal yang sah akan di lupakan,"


" Kenapa aku harus khawatir, aku sama sekali tidak butuh mereka mengakui ku, atau mengenal ku. Kenyataannya, memang tidak pernah ada Variella Souju di dunia ini, Hanya ada Variella Aesyel yang tak butuh ketenaran dan harta, aku hanya ingin tumbuh seperti orang- orang pada umumnya, dengan mu, dengan Kak Aleta,"


" Hm~"


" Swussshhhh..."


" Ah!" Angin yang sangat kencang. Tidak, hampir seperti badai. Angin ini bahkan membuat ku tidak bisa melihat dengan jelas.


AUTHOR


Angin berhembus tak beraturan dengan kecepatan yang sangat besar, menerbangkan apa pun yang mengahalangi jalannya seperti sebuah tornado.


Falisya membuat batasan pada dirinya agar tetap dapat berdiri kokoh di tengah- tengah hembusan angin.


" Tidak, hembusan Angin Penyerap Jiwa, ini bukan angin biasa, ini adalah sebuah jurus,"


" Jurus ini hanya di ajarkan kepada keturunan inti Klan Utama Lin yang kelak akan di jatuhi mandat melindungi Klan sehidup semati, bahkan aku mendapatkannya dengan harga yang tidak murah. Siapa sebenarnya orang ini?" pikirnya sejenak.


" Aesyel! Tidak~" Dia menangkap tubuh Variella yang telah jatuh lemas.


" Kesadaran dan tenaganya mulai menurun," gumamnya. Falisya menekankan jari telunjuknya pada kening Variella, lalu cahaya putih kebiruan muncul. Cahaya itu akan mencegah jiwanya di gerogoti secara perlahan.


" Jurus yang hebat, tak ku sangka kau bisa menggunakannya dalam waktu lama tanpa takut kehabisan tenaga. Tapi apa gunanya jurus ini jika kau gunakan kepada salah satu anggota Klan yang juga menguasainya!!"


" Bodoh!!"


" Siapa kau sebenarnya? Dan dari mana kau tau bagaimana cara menggunakan jurus rahasia Klan Utama Lin?"