
Semakin banyak pertemuan dan perpisahan yang datang silih berganti, mengajari cara memaklumi dan berfikir lebih dewasa dari sebelumnya.
~ The Second Knight Zere.
VARIELLA
Sejak kepulangan Kak Aleta beberapa hari yang lalu, aku nggak tau kapan dia akan kembali lagi ke ibu kota. Memulai debutnya, dan meninggalkan ku lagi.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju hutan belakang sekolah, kelas masih akan di mulai sekitar tiga puluh menit lagi. Mengingat- ingat kembali tentang apa yang terjadi semalam.
Aku melihat jelas siluetnya di bawah hamparan cahaya rembulan yang tepat jatuh ke arah kamar ku. Dia sangat tampan berkali- kali lipat dari biasanya. Rambut coklat panjang dengan tatapan dingin yang elegan. Hazel tajam yang tepat menyapu kedalaman hati ku.
Aku merasakan debaran yang hebat saat itu, pada titik terdekat kami semalam. Pada setiap kata yang ia ucapkan tanpa penekanan. Aku bahkan bisa merasakan nafas beratnya yang tidak beraturan menggelitik wajah ku. Aku terus termenung. Kata- katanya,
" Aku telah mengucapkan janji, dan aku, Mate dari Princess Afrakulania, akan memenuhi semua yang telah ku sebutkan di depan Sang Lord,"
" Tolong jangan dekati laki- laki lain, aku akan menunggu mu, terus menunggu mu mengingat semuanya,"
Janji apa yang pernah kau ucapkan sebelumnya? Di depan Lord... Dan apa hubungannya dengan ku, juga Princess Afrakulania itu?...
Aku tidak pernah merasa pernah melupakan sesuatu sebelumnya, tapi kenapa kehadiran mu malah merubah segalanya? Seperti seorang penyusup, tapi terus meminta di akui. Enggan, tapi di sisi lain, aku juga menginginkannya.
" Kreeekk.." Aku menoleh ke atas, menyilangkan ke dua tangan ku di atas kepala.
" Awas!!"
" Shyush..." Aku tertegun, ranting- ranting itu dilingkupi sebuah cahaya berwarna biru bersih, seakan menahannya agar tidak mengenai kepala ku.
Aku menatap penasaran pada Zere, dia menghempaskan tangannya, tepat dengan ranting- ranting itu yang juga ikut terpental mengantuk tanah. Dia menghampiri ku. Mengelus puncak kepala ku lembut.
" Hati- hati~"
" Tadi, apakah kau yang melakukannya?" Tanya ku memotong perkataannya karena penasaran. Ini sudah yang ke dua. Aku tidak ingin terus di permainkan seperti ini. Menjadi seorang bodoh yang tidak tau apa- apa, di antara mereka semua, yang tidak bisa ku tebak.
" Aku akan mengatakannya, tapi, bisakah kita duduk? Tidak enak jika harus berbicara dengan berdiri," katanya sambil tersenyum seperti biasanya.
Kami duduk bersebelahan di bawah sebuah pohon di atas hamparan rumput hutan yang hijau.
" Ngukkkk Ngau..." Aku menoleh ke segala arah, mencari sumber suara aneh itu. Aku yakin tidak salah dengar, meskipun suara itu sangat pelan.
" Apa yang sedang kau cari?" Tanyanya, tapi aku tetap menikmati kesibukan ku.
" Elena, kau," terka Zere membuat ku menoleh, ada sesuatu yang berlari mendekat, dia mengelus- elus puncak kepala sesuatu yang ia panggil dengan kata " Elena" itu.
" Ngukkk, ngau ngauuu," geramnya, oohhh... Ternyata.
" Anak anjing yang lucu," komentar ku, memiliki bulu panjang dengan warna putih bersih, mata indah dan wajah imut.
Anak anjing itu mendekati ku, mengusap- ngusapkan kepalanya di kaki ku.
" Dia bukan anak anjing Var, dia seekor serigala kecil," jelasnya.
" Candaan mu sangat lucu Zere," sangkal ku, tidak mungkin hewan semanis ini adalah seekor serigala, bukan?
" Aku tidak bercanda, tidak ada anjing yang tidak bisa menggonggong," katanya.
" Dia tidak ganas, jadi jangan khawatir," sambung Zere menenangkan.
" Aku yang memeliharanya sejak kecil, dia bersikeras ikut dengan ku kemari, sayangnya di asrama tidak di perbolehkan membawa hewan piaraan. Jadi dia tinggal di hutan ini."
" Apa itu tidak papa?" Tanya ku.
" Ya, dia bisa menjaga diri dengan baik," jawab Zere dengan sangat yakin.
" Kau, um, siapa kau sebenarnya?" Tanya ku. Kejadian tadi, juga beberapa waktu yang lalu, langsung masuk ke kepala ku.
" Aku adalah teman mu," jawab Zere, apa dia memang tidak pernah di ajari untuk serius?
" Zere... Kumohon..." gumam ku, dia tau, bukan jawaban itu yang ku mau.
" Aku adalah orang yang bisa kau andalkan, aku adalah orang kepercayaan mu, apa kau ingat?" Ucapnya. Lagi lagi,
" Ada apa dengan ingatan ku? Aku bahkan merasa tak pernah melupakan sesuatu. Aku tidak pernah mengalami kecelakaan yang membuat kepala ku kehilangan fungsi syaraf, atau gagar otak, juga amnesia..." Jawab ku gemas ketika semua orang menanyakan ku tentang ingatan.
" Kami? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya ku semakin penasaran.
" Nama ku Zere Aradika, putra ke dua dari Lord Titartora. The Second Knight of Shoecha. Aku terlahir dengan lambang khusus Klan Mermaid Legendaris dari Dewa penguasa Air Poseidon."
" Lambang khusus Klan Mermaid? Dewa penguasa Air Poseidon?" Gumam ku masih tak mengerti.
" Iya, lambang khusus itu merupakan identitas dan takdir yang aku dapatkan, juga ke enam Knight yang lain, mereka adalah pasukan inti Shoecha yang di atur untuk menjaga keseimbangan hubungan antar dunia, kau yang melakukannya,"
" Aku? Yang melakukannya? Maksud mu? Lalu siapa ke enam lainnya?" Tanya ku lagi. Aku ingat apa yang aku lihat waktu itu. Pertempuran mengerikan yang berakhir menyedihkan. Di sana ada tujuh makhluk bersayap yang awalnya ku anggap kawanan burung. Tujuh makhluk gagah yang di hormati dan di segani, orang- orang yang entah kenapa terasa sangat dekat.
Knight... Jadi itu mereka? Aku mengingatnya.
" Anasita Amber Albaroza, putri ke dua dari Lord Afrakulania, The Last Knight of Shoecha, seharusnya, dia adalah saudara kembar mu," aku terdiam sesaat,
" Saudara kembar?"
" Iya, tapi aku juga kurang faham, ingatan kami sebenarnya sama- sama tersegel sejak peperangan beribu- ribu tahun yang lalu di Kamland,"
" Apa? Ber, beribu- ribu tahun? Apa itu umur mu?" Tanya ku tidak percaya.
" Ya, dan tidak, umur ku bahkan sudah lebih dari apa yang bisa di bayangkan oleh manusia biasa. Kami selalu akan menyimpan kekuatan kami agar tidak terkuras habis sebelum bisa mewariskan kekuatan Legendaris pada keturunan kami, dan selama itu, belum ada yang menikah di antara kami, karena kau memberikan kami sebuah obat level tinggi. Segel Hati, itu akan membuat kami tidak bisa merasakan cinta," Aku menutup mulut ku.
" Aku, kenapa aku melakukannya?" Tanya ku penasaran. Tidak bisa merasakan cinta. Itu, sangat tidak adil bagi mereka.
" Karena jika ada segel itu, kami tidak akan mati sebelum memiliki keturunan, kau memberikannya di tengah pertempuran saat kami semua terluka, jadi dengan itu jiwa kami masih bisa bertahan hidup hingga sekarang meskipun dengan jalur reinkarnasi berulang,"
" Lalu bagaimana? Apa kalian akan terus seperti itu?" Tanya ku lagi.
" Tidak, kau yang akan melepaskan kami nanti, aku percaya pada mu," jawab Zere.
" Kau bilang ingatan mu juga tersegel, lalu, kenapa kau bisa bicara seperti ini?"
" Ingatan kami akan pulih dengan sendirinya ketika jiwa Shoecha pada Putri Cahaya mulai muncul, tapi sugesti dan keyakinan juga cukup berpengaruh.
Sedangkan kekuatan kami baru akan utuh secara sempurna, ketika darah Shoecha itu benar- benar telah bangkit, lalu menghancurkan Segel Hati masing- masing dari kami," lanjutnya. Aku tidak tau harus berkomentar apa lagi. Aku tidak sepenuhnya mengerti.
" Kemudian, Master Arguza, dia adalah Leader kami, The First Knight of Shoecha,"
" Tunggu, apakah dia berambut putih dan juga memiliki iris keperakan?" Tanya ku refleks, kilas kejadian itu seketika muncul kembali. Wajah sang Leader yang sangat bijaksana.
" Ya, dan dia sekarang, adalah Aleta Souju," aku menutup mulut ku dengan telapak tangan, tidak percaya.
" kakak?"
" Iya, dia adalah Knight pertama. Sisanya aku belum bertemu, tapi akan dengan segera."
" Huh, masih banyak sekali orang- orang yang bukan orang biasa di sekitar mu. Sekali lagi, jadi berhati- hatilah... Alberta, dan teman mu, si Falisya itu,"
" Tidak mungkin, Kak Al, Falisya?..."
" Itu benar, tapi aku belum tau, dari mana mereka berasal, dan apa tujuan mereka datang kemari,
" Dan, untuk saat ini, aku belum dapat memanggil mu Queen, maafkan aku,"
" Tidak papa,"
" Dan kau, kau adalah junjungan kami, putri pertama dari Lord Afrakulania. The Queen of Shoecha, sang Putri Cahaya yang memiliki kuasa atas dunia. Banyak yang ingin merebutnya dari mu dengan berbagai cara, termasuk pernikahan, atau pembunuhan."
" Itu, mengerikan," komentar ku.
" Aku tidak ingin berbicara banyak, karena ini terlalu rumit. Semuanya akan jelas seiring waktu berlalu.
Berhati- hatilah, akan banyak orang baru datang di sekitar mu, baik dan buruk tidak akan terlihat hanya oleh mata,"
" Semengerikan itukah?" Aku takut, iya. Jika semua itu benar, maka aku hanyalah seperti sebuah benda pertaruhan mereka.
" Hey... Variella yang ku kenal bukanlah Variella yang penakut dan mudah menyerah. Terlebih, Queen ku, bukanlah seorang yang lemah, dan mudah takhluk akan nasib."
" Zere, aku~"
" Kami akan selalu melindungi Queen, hidup, atau mati. Nyawa kami berada pada kesetiaan atas anda," Dia tersenyum.