
Sesuatu yang paling pantas untuk di cintai adalah rasa cinta itu sendiri~ Lord Arthur.
ALETA
Aku menatap jam berwarna hitam di pergelangan tangan ku. Jam tujuh lewat lima. Aku sudah berada di posisi ini sejak tadi, bersandar di bagian samping mobil bitam ku yang mengkilat- kilat.
Tidak tau kenapa perasaan ku menjadi absurd di iringi detakan jantung ku yang mulai tak menentu. Jadi aku sibuk menatap langit- langit malam berusaha meredamnya.
Saat aku tak sengaja menatap ke depan karena jengah, aku terperangah.
Aku bisa melihat seorang perempuan dengan gaun berwarna biru terang yang ujungnya menyentuh lantai- lantai, leher jenjangnya yang polos dengan sebuah kalung bermata biru senada berbentuk kupu kecil.
Rambutnya di biar terurai dengan sedikit kepangan ke belakang. Anting- anting yang menjuntai panjang membuat telinganya kian elok di pandang. Dan gelang dari emas putih yang elegan di pergelangan kirinya.
Bibir tipisnya yang tersapu warna merah setengah peach dengan kesan natural, lalu pipinya yang bersemu merah, bulu matanya yang lentik dan panjang. Seketika aku merasa dia bagaikan pemeran utama dalam cerita hidup ku.
Falisya Abraham Lincholn, atau, harus ku sebut, Lin Falsya? Aku tak percaya kalau tak pernah menyadari kesempurnaannya selama ini. Apa ini kenapa aku merasa tidak tenang dan sangat gugup?
" Kak Aleta ya, kenapa?" Angan ku buyar. Aku tidak sadar di sebelahnya masih ada anak tomboy Afrakulania dengan rambut kemerahan itu.
" Anasita yang memaksaku memakai gaun seperti ini, pasti berlebihan kan, aku tidak pernah terlihat seperti ini di depan Kak Al sebelumnya," kata Falisya ragu, lebih tepatnya mungkin malu. Aku dapat menangkap rona merah tomat di pipinya itu.
" Kau cantik," kata ku seketika, ah tidak, bukan, itu adalah pemikiran si Arguza. Tapi entah mengapa kata- kata itu begitu saja lolos dari bibir ku. Bodoh! Aku dapat melihat Falisya kembali tersipu. Entah sudah berapa lama kami bertiga malah hanya berdiri di tempat ini.
" Sudah, jangan sampai kalian berdua terlambat, ini adalah acara besar," kata Anasita mendorong ku menyingkir tanpa iba, lalu membuka pintu mobil dan mendorong Falisya masuk sebelum menutupnya kembali.
Aku termangu.
" Kenapa? Mau di dorong juga?" Tanya Anasita menatap ku.
" Eh, tidak, aku pergi," kata ku cengo saat Anasita tiba- tiba menatap ku. Ku kira dia adalah orang yang dingin, judes dan menyebalkan, tapi ternyata tidak juga.
Aku langsung memutar langkah menuju pintu kemudi, melajukannya pelan menembus jalanan yang malam ini mungkin terasa sedikit ramai.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Dia tidak seperti biasanya yang selalu cerewet sewaktu berhadapan dengan ku. Dan aku juga tidak seperti diri ku yang biasanya juga sangat akrab dengannya.
Dia menghabiskan waktunya hanya untuk melihat ke arah luar lewat kaca jendela.
Aku merasa malam ini berbeda, bahkan setelah sekian tahun aku mengenalnya. Kenapa perasaan ini baru muncul sekarang? Perasaan asing yang membuat ku serasa patung yang tak bisa berbuat apa- apa.
" Kenapa kak?" Tanyanya, akhirnya dia mau membuka suara. Tapi aku?
" Cantik," jawab ku.
" Bodoh! Apa kau tidak bisa menyimpan tenaga mu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada membuat ku mengatakan hal- hal aneh seperti itu?" Tanya ku me mind link Arguza, si Leader yang tengah kasmaran itu.
" He he, kalau kau keberatan, aku bisa menggantikan mu untuk menghadiri perjamuan itu, ya... Walaupun sebenarnya aku masih memiliki banyak kerjaan di sini," jawab Arguza enteng.
" Mau di lihat dari sisi mana pun, tidak kelihatan kalau kau itu berniat membantu. Berhenti mencari kesempatan dan merendahkan harga diri ku di depannya," timpal ku memutus mind link.
" Dasar, kau saja penggoda wanita tapi masih sok seperti punya malu," terka Arguza yang masih sempat ku dengar jelas.
Agrrr!
Ayolah...
Aleta...
Kau ini lelaki. Dan dia itu, dia adalah sahabat baik Variella, adik kecil ketiga mu setelah Natalia.
Akhirnya aku hanya sok fokus pada jalanan. Ini pasti tidak benar. Otak ku sedang bermasalah.
FALISYA
Aku memilih sebuah dress berwarna hitam sederhana. Saat sudah siap dan hendak keluar, tiba- tiba saja pintu kamar ku di buka begitu saja.
" Ck ck ck, ini adalah kencan pertama mu, jadi jangan membuatnya malu," kata Anasita seakan dia dekat dengan ku, padahal kita masih belum lama berkenalan. Dan seakan, dia sangat mengenal Kak Al timbang aku yang sudah kerap menginap di sini dan ratusan kali bertemu dengannya.
Anasita lalu menutup pintu dan berjalan mendekati ku. Entah sihir apa yang dia gunakan, seketika di tangannya muncul sebuah gaun berwarna biru. Dia memaksaku untuk mengenakannya. Dan aku tidak punya pilihan karena dia lagi- lagi menggunakan jurus aneh untuk mengerjaiku, sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Setelah selesai mengenakan gaun itu, aku berjalan ke arah meja rias, duduk tenang di situ dan menunggunya melukis wajah ku seakan itu adalah sebuah maha karya. Aku tidak bisa melawannya.
" Apa kau mencintainya?" Tanya Anasita telak.
" Mmm... Kenapa kau harus bertanya hal seperti itu?" Tanya ku canggung. Kenapa harus bertanya seperti itu?
" Jika kau mencintainya, kau harus berani. Atau perasaan mu hanya akan menjadi air keruh karena kau sendiri memutus jalan alirannya," terkanya, saat itu aku dapat melihat wajahnya yang terkesan sayu dari pantulan bayangan di cermin.
Lalu suasana hening. Hingga setelah beberapa menit.
" Sudah selesai, kerja keras ku sempurna," komentar Anasita, dia selalu menghindari kata- kata yang berakhir untuk memuji seseorang, itu yang ku tangkap dari perangai dan model bicaranya.
Aku tersenyum.
" Terima kasih," kata ku. Lalu dia menyeret ku turun ke lantai dasar. Di ruang tamu ada Zere yang tengah sibuk berkutat dengan handphone nya, di sebelahnya, Elena tenggelam menatap layar televisi yang di biar menyala.
" Ekkhhhem..." Dehem Zere tanpa menoleh. Tapi aku hanya menghiraukannya. Sedang Anasita, dia malah menanggapi Zere sekenanya.
Ketika sampai di luar, aku bisa melihat mobil hitamnya terparkir siap di teras. Dan dia, ya, dia bersandar di pintu samping. Dia mengenakan sepatu hitam, celana hitam dan jas senada, juga dasi berwarna hitam dengan kemeja putih sebagai pakaian dalam.
Dari kejauhan aku masih dapat menangkap aroma parfumnya yang maskulin, Kak Al tengah mendongak ke arah langit. Entah bintang apa yang begitu menyita pandangannya.
Padahal di sini aku malu, padahal aku berjalan mendekatinya dengan dada yang berdebar.
Deg...
.
Deg...
.
Deg...