
Kau memang tak akan pernah bisa memilih, keadaan apa yang kau inginkan. Tapi, kau dapat menentukan, jalan apa yang hendak kau gunakan untuk melewatinya.
~ Lord Faizal.
" Srek, bruk.." Dia menyandarkan kepalanya dengan bertumpuan pada tangannya yang ada di atas meja. Fokus kepada seorang perempuan berekspresi datar yang masih kelihatan sibuk dengan buku dan bolfoin, mencatat sesuatu dari papan tulis besar di hadapannya.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Lima menit...
Sepuluh menit...
" Hey, apa kau benar- benar ingin mencampakkan ku dengan perilaku mu itu, mine?" Tanyanya merasa bosan.
" Apakah kau pernah di ajari untuk mengingat pelajaran yang sudah berlalu, hah?" Menoleh ke arah lelaki itu dengan sama- sama bertumpuan tangan .
Deg!...
" Pipi mu sangat merah," terka Alberta, membuat Variella kembali menghadap ke arah papan tulis. Menangkup ke dua pipinya dengan telapak tangan.
" Bodoh, penglihatan mu bermasalah," jawab Variella.
" Kenapa enggan menatap ku lagi?" Tanya Alberta.
" Kau tau, aku harus menyalin semua ini sore ini~"
" Lagi- lagi kau pasti tertidur di dalam kelas, di mana teman mu yang selalu mengagumi ketampanan ku itu?" Variella refleks menoleh.
" Teman ku? Mengagumi ketampanan mu?"
" Ya, begitulah... Bahkan mereka membuat nama khusus untuk penggemar orang- orang tampan seperti ku di sekolah ini, bukankah itu benar?"
" Kau bisa pergi jika hanya ingin mengganggu kesibukan ku," kata Variella acuh.
" Kau mengusir ku?" Tanya Alberta.
" Apa aku perlu menggunakan kata- kata yang lebih jelas?" Jawab Variella tanpa menoleh, tetap melanjutkan aktivitasnya menyalin catatan.
" Aku akan diam, menunggu mu, kemudian kita akan pulang bersama." Timpal Alberta dengan rasa percaya diri.
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
" Akhirnya..."
Variella menutup bukunya, lalu memasukkan semua perlengkapan tulis menulisnya ke dalam tas. Berdiri, lalu dengan santainya berjalan ke arah pintu kelas. Keluar.
Tapi langkahnya berhenti, dia kembali ke bangku yang tadi baru saja dia tinggalkan. Menatap Alberta yang tengah tertidur di bangku yang biasanya di tempati oleh Zere.
Perempuan bersurai hitam itu mengangkat tangannya, menatap lekat pada Alberta yang tidur begitu lelap. Dia mengerling, lalu menurunkan tangannya kembali.
" Brakkk!!!!!... Bodoh! Apa kau mau menghabiskan malam mu dengan hantu- hantu di sekolah?" Timpal Variella, menggebrak meja dengan sekenanya.
Alberta hanya mengangkat kepalanya, diam. Tatapannya terlihat tajam dan menakutkan. Dia berdiri, berjalan beberapa langkah.
" Apa orang bodoh ini sedang marah?" Terka Variella di dalam hatinya, bertanya- tanya. Dia membeku pada posisinya. Sedikit tidak enak hati.
... ... ...
" Cantik! Apa kau mau menghabiskan malam mu dengan hantu- hantu di sekolah?" Katanya,
Hangat...
Variella menatap ke bawah, Alberta menggenggamnya yang masih diam dalam fikiran.
" Ah, tidak, ehem... Tapi, bisakah kau melepaskan tangan ku? Aku, sedikit keberatan," Tanya Variella.
" Hanya sedikit bukan? Anggap saja keberatan mu itu olah raga." Balas Alberta, lalu menarik Variella untuk keluar dari kelas.
Mereka berjalan berdua menyusuri area sekolah yang sudah sangat sepi menjelang malam. Senja semakin pudar. Tak ada yang berlalu lalang mau pun memapasi ke duanya.
" Apa kau tidak penasaran kenapa kau jarang sekali melihat ku akhir- akhir ini?" Tanya Alberta membuka percakapan kembali, Variella menoleh ke padanya dengan kepala agak menengadah ke atas karena tinggi badannya yang tidak setara dengan tinggi badan Alberta.
" Ah... Apa," Alberta dengan tiba- tiba saja membalik tubuhnya, mengapit tubuh kecil Variella ke dinding.
Pria itu mendekatkan kepalanya pada Variella, kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk mendongakkan kepala Variella ke atas.
...
...
...
Variella terus memberontak melepaskan diri. Alberta hanya menatapnya,
" Jangan bilang apa- apa sayang..." Kata Alberta pelan dengan suara yang di buat sangat menggoda.
" Kau?!..." Timpal Variella kaget, rasanya semakin bergumuruh mendengarnya, tidak ada rasa marah, tidak ada rasa tidak suka yang ia fikirkan.
Yang ada hanya, RINDU...
Perasaan aneh itu datang lagi.
" Aku bercanda, ayo, sudah hampir gelap," Jawab Alberta melepaskan Variella, berjalan lebih dulu. Lagi- lagi meninggalkan Variella yang tidak bisa apa- apa. De javu yang membuatnya sangat linglung dan merasakan hal- hal tidak masuk akal.
Dan ketika perasaan itu muncul, dia hanya bisa menyentuh dadanya kuat- kuat. Berusaha menebak masa lalu seperti apa yang sebenarnya telah ia lupakan.
Ini benar- benar terasa nggak adil.
" Jangan terus diam," kata Alberta menoleh ke arah Variella.
" Itu seperti bukan kau yang selalu membuat ku ingin mencium mu karena kesal," lanjutnya, tidak ada reaksi apa pun. Variella hanya menunjukkan ekspresi linglungnya.
" Aku baik- baik saja," katanya.
" Hh... Kau selau membuat ku merasa takut untuk kehilangan, Princess..."
" Berhentilah membual Kak, jangan buat aku lupa kalau kau adalah senior ku," cerocos Variella.
" Aku tidak sedang membual, ayolah... Aku sangat jujur pada mu,"
" Dasar musang buruk rupa!" Ejek Variella.
" Hey, tak seharusnya kau memanggil ku begitu, kau melukai hati ku, dan kau harus membayar mahal untuk menebusnya," sanggah Alberta.
Dia berhenti, memasang tatapan menyelidik seperti seekor elang.
" Beraninya!" Racaunya tidak jelas. Menatap ke arah sebuah cabang pohon. Ada seekor kelelawar yang sedang hinggap di sana.
Kelelawar di sore hari? Cukup mengesankan bagi si Prince.
ALBERTA
Ada sesuatu yang mengganjal, apa ini? Aku menoleh, hm... Di sana.
" Beraninya!" Beo ku, membuat Variella yang saat itu menatap ku menelisik kebingungan.
Sosok itu, dia memiliki aura seorang bangsawan yang menguar dari tubuhnya. Aku tidak tau dia, dan tidak mengenal siapa dia, juga, berasal dari Klan sebelah mana.
Heh, yang pasti aku tau betul apa yang membuatnya kemari, Seekor vampir yang hendak coba- coba mengincar mate ku rupanya...
Aku sangat familiar dengan tatapan lapar dari mata biadab makhluk konyol itu.
Aku menoleh kepada Variella yang memberikan tatapan bertanya- tanya.
Warna biru di puncak kepalanya dua kali lebih pekat dari waktu itu. Syukurlah jika semua ini akan segera berakhir...
Tapi, apa benar bahwa aura kebangkitannya akan memancing predator- predator tidak tau diri dari seluruh lapisan dunia?
" Ayo," ajak ku, mengait tangan kecilnya dalam genggaman ku.
" Kau harus berhati- hati Variella, jangan pernah mau di ajak seseorang yang menurut mu asing. Apalagi dia menggandeng mu, setampan apa pun dia. Mengerti?"
" Kenapa aku harus mengikuti kata- kata mu?" Tanya Variella balik.
" Karena itu berbahaya, ******* seperti itu pasti hanya memanfaatkan ketampanannya saja untuk merayu mu, lalu mereka akan melukai mu, atau~"
" Wah... Bijaksana sekali... Jadi, kakak sedang mencoba untuk memberi tau ku betapa berbahayanya aku berteman dengan mu ya?" Ucapnya memotong kata- kata ku dengan menaikan sebelah alisnya. Tersenyum dengan sedikit semburat kemenangan.
Aku, aku salah bicara.