
Jika kau ingin di cintai oleh orang lain, maka dekatilah orang lain dengan cinta.
~ Prince Alberta.
Flash back on.
AUTHOR
Seorang bocah kecil berambut biru laut sepinggang terlihat sedang memetik beberapa tangkai bunga berwarna putih. Menghirup dalam bau khas bunga yang masih bercampur dengan embun pagi.
" Kau menjijikkan, Variella," terka seorang perempuan berpakaian ala kesatria dengan rambut merah panjang dan iris mata abu- abu.
" Memangnya kenapa?" Tanya Variella tidak terlalu menggubris omongan adiknya.
" Kita harus tumbuh menjadi kuat agar tidak mudah mati, kalau kamu selalu saja sibuk dengan bunga, atau hal- hal yang menjijikkan lainnya, apa pun itu, maka jangan pernah menyalahkan siapa pun, ketika ada seseorang yang berhasil mencuri nyawa mu. Karna kau terlalu lembek untuk bertarung." Jelas Anasita merasa puas dengan argumennya. Dia sangat benci pada Variella yang lemah lembut.
" Anas, aku bukan kau yang sangat berambisi dengan pertarungan, aku bukan kau yang sangat ingin terlahir menjadi seorang knight, aku juga bukan kau dengan segala kemampuan mu menguasai berbagai senjata dan menunggang kuda," Jawab Variella lembut.
" Aku tidak menyuruh mu menjadi seperti diri ku, aku hanya bosan dengan aktivitas mu yang sangat memuakkan. Cobalah berlatih untuk menggunakan senjata, seorang Princess dari Kerajaan yang besar juga sangat di tuntut untuk menguasainya. Bagaimana jika nanti kau sedang bepergian seorang diri? Tidak ada yang tau, bahaya apa yang akan kau tanggung di luar sana..." cerocos Anasita mulai jengkel pada kakaknya.
" Kau sangat berlebihan Princess An, bahkan kau sendiri juga tau aku sudah menguasai beberapa senjata, meski tidak terlalu mahir seperti mu, semua itu kurasa sudah cukup untuk melindungi diri ku sendiri," sanggahnya masih dengan kalem, yang malah membuat Anasita semakin jengkel dan muak. Variella memang tidak terlalu suka dengan bela diri. Itu terkesan, kasar.
" Toh, aku juga tidak akan mau mati dengan cara semudah itu," sambungnya.
" Dasar, sombong! Kemampuan mu itu belum seberapa dengan musuh- musuh yang mungkin nanti akan menghadang mu, jadi jangan pernah mudah puas dengan apa yang sekarang sudah kau capai, Princess Variella bertelinga tebal," balasnya mengolok.
" Perlakuan mu tidak cukup membuat ku tersinggung pagi ini, An," kata Variella.
Saat mereka berdua sedang asyik berargumen, dua orang pria gagah dengan balutan busana resmi datang menyela. Prince Arthur dan Prince Alberta.
" Ada apa ini?" Tanya Arthur yang saat itu telah hampir menginjak usia dewasa, umurnya 21 tahun.
Variella dan Anasita menoleh ke arah ke duanya, Variella langsung mendekati dan memeluk pria berbaju kebangsaan Teriovalefi yang sudah tidak asing di matanya itu.
" Kakak," sapa Variella dengan wajah cerianya.
" Aku hanya ingin memberi peringatan. Jangan salahkan aku, aku sangat benci dengan sikap lemah lembutnya," cerocos Anasita tidak mau tau.
" Kalian tidak pernah lelah meributkan hal itu?" komentar Alberta.
" Aku tidak perlu berlatih menjadi orang yang hebat dalam bertarung, dan handal dalam memainkan senjata, karna di sini, masih banyak orang- orang yang mencintai ku, yang tidak akan mungkin membiarkan ku berada dalam bahaya, dan aku memercayai hal itu," jawab Variella enteng, membuat Anasita langsung menatap tepat pada hazel birunya yang cerah, tapi dengan cepat juga berpaling.
" Kau juga pasti akan melindungi ku kan kak?" Tanya Variella mendongak pada Alberta yang lebih tinggi darinya. Yang di ajak bicara hanya tersenyum penuh arti.
Arthur mendekati adik pertamanya, mengacak- acak tatanan rambut biru lautnya yang indah.
" Hey, kau melupakan sesuatu, kalau di sini masih ada kakak juga, Princess Variella... Kakak tidak akan membiarkan mu mati sebelum kau menikah dengan kakak jelek yang berhasil merebut perhatian mu itu dari ku," Variella hanya diam, tersenyum samar pada kakaknya.
" Bodoh, kau masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Variella adalah mate ku hingga saat ini, Arthur. Dan lagi, tak seharusnya kau menyelipkan pembelajaran- pembelajaran dari otak mesum mu itu sedikit demi sedikit kepada adik mu saat dia masih terlalu lucu untuk mengetahuinya."
" Apanya yang mesum? Menikah?" Tanya Arthur.
" Huh, sepertinya hanya aku yang terus menjadi pemicu masalah dan tak terlalu berguna di antara kalian," sela Anasita merasa keberadaannya tak di hiraukan sama sekali. Berjalan menjauh, pergi memasuki istana. Atau mungkin pergi keluar seperti biasa untuk berlatih.
" Anasita," Arthur berbalik meninggalkan Alberta dan adiknya, Variella, menyusul Anasita yang sedang penuh dengan mood buruknya. Arthur sepenuhnya tau, bahwa sebenarnya Anasita itu memiliki niat yang baik, tapi dia sendiri tak pernah bisa mengungkapkannya dengan lebih baik.
Alberta mengajak Variella yang saat itu belum genap berumur 14 tahun ke bawah sebuah pohon rindang yang saat itu sedang berbuah sangat banyak di sisi utara taman, agak jauh dari kolam buatan kesukaan Moon Goddes yang penuh dengan teratai.
Dia selalu tak berdaya mencium bau wangi laut dan angin basah musim gugur dari tubuh mate nya. Alberta mendekatkan wajahnya pada Variella, lalu mencium puncak rambut itu dengan lembut.
Flash back off.
Gadis itu terbangun, cahaya bulan menerobos masuk lewat celah jendela yang tidak tertutup rapat. Pukul tiga lewat limas belas menit, dini hari, lagi. Dia bangkit, memijit pelan pelipisnya berkali- kali. Rasanya seperti ada dentuman hebat tiap kali ia melihat gambaran- gambaran itu.
" Mimpi aneh itu lagi, selalu saja, meninggalkan kesan rindu yang mendalam." Perhatiannya beralih, ketika sebuah suara mirip retakan terdengar. Lampu tidurnya pecah.
" Ah... Grr, jangan lagi!!! aku sudah menghabiskan banyak lampu beberapa hari ini," teriaknya frustasi.
Angin lirih tiba- tiba datang menyapa kian kuat, menerbangkan apa saja yang mampu ia bawa, seonggok kertas, buku- buku ringan, bahkan membuat jendela kamarnya terbanting- banting ke dinding beberapa kali.
" Sepertinya aku belum bangun," gadis itu membaringkan tubuhnya lagi, menutup mata. Tapi setengah menit kemudian, embusan nafas berat terdengar, matanya kembali terbuka. Dia mengacak- acak rambutnya asal.
" Oh God!... Ada apa ini?" Tanyanya entah pada siapa. Lalu bangkit mendekat ke arah jendela, membukanya secara sempurna. Menampakkan malam yang mulai tembus oleh cahaya samar sang fajar.
Entah melamunkan apa, karena menurutnya, semua ini sudah terlalu rumit dan menyita fikiran. Kehidupannya yang tiba- tiba saja berubah melewati batas kewajaran sebagai manusia biasa.
Variella menengadah menatap ke atas dimana bulan tengah sempurna membentuk lingkaran penuh yang memesona. Sangat menawan di antara bintang- bintang yang mulai memudar karena pagi akan segera tiba. Diam.
" Tuhan, tolong beri tau aku tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi, jika ini merupakan sebuah permainan yang harus ku selesaikan. Buat aku mengerti semua hal tidak logis yang memenuhi kepala ku, jika ini merupakan sebuah pertanyaan yang harus ku jawab," pintanya, berharap dalam kesunyian. Sepi.