
Alberta berjalan ringan seorang diri, menikmati malam yang semakin larut.
" Dunia tak tersentuh, rupanya dia juga telah menyadari kalau aku bukanlah seorang manusia," dia tersenyum sinis.
" Siapa diri mu yang sangat angkuh itu? Ha??? Aleta, aku juga akan melakukan hal yang lebih, dari apa yang hendak kau lakukan kepada ku. Jika mate ku, terluka di tangan mu, dan bersedih, karena ulah mu. Dia mate ku, bukan, dan tidak akan pernah bisa menjadi wanita mu..."
" Shyuuusssttt..."
" Salam hormat saya pada paduka, saya di minta untuk menjemput anda kembali pada Teriovalefi," terka seorang laki- laki berpakaian ala prajurit inti Teriovalefi dengan hormat, membungkuk di hadapan Alberta setelah tiba- tiba mendarat, membuatnya terkejut sekilas.
" Apa yang membuat mu di tugaskan sampai jauh- jauh menjemput ku ke Dunia Manusia?" Tanya Alberta penasaran, bahkan hingga Kerajaan sampai mengirim salah satu pasukan inti, berarti akan bersangkutan dengan kabar penting yang harus tersampaikan dengan jaminan seratus persen.
" Maaf Prince, saya di utus untuk menjemput anda, bersangkutan dengan keadaan Yang Mulia Lord sekarang," jawab prajurit itu.
" Ada apa dengan Yang Mulia Lord, apakah Ayah sedang tidak baik- baik saja?" Tanya Prince Alberta lagi dengan perasaan cemas.
" Yang Mulia Lord tengah terluka sekembalinya dari tanah terkutuk itu, Prince." Jawab sang prajurit.
Kepalanya seakan terhantam keras. Di tengah jalanan malam yang memang kebetulan sepi di sekitar sekolah, dia bertransformasi, kemudian mengeluarkan ke dua sayap gagahnya yang cerah, mengepak- ngepakkannya dengan kuat. Sehingga menimbulkan sebuah angin buatan yang cukup kencang.
" Typherus!" Beo nya, mengangkat ke dua kakinya, dan mulai naik ke udara, tangannya mengepal kuat, dengan rahang yang menyatu.
Typherus adalah tempat yang sangat ia benci. Tak di sangka setelah statusnya berubah menjadi tanah terkutuk, juga masih bisa mencari gara- gara dan memancing kemarahan Sang Prince Teriovalefi.
Prajurit inti Kerajaan Teriovalefi itu mengikutinya dengan sigap dari arah belakang. Hanya diam tanpa suara. Menyaksikan betapa Prince nya marah, terlihat aura bahwa dia sangat terluka, sama seperti beberapa ratus tahun yang lalu.
Typherus... Masih satu alasan yang sama.
" Kembalilah terlebih dahulu, aku akan sampai sebelum matahari terbit besok pagi, sampaikan keterlambatan ku pada Queen dan Putra Mahkota, masih ada yang ingin ku urus," Titah Prince Alberta pada seorang prajurit yang terus membuntutnya di belakang.
" Baik, Prince, saya undur diri," Jawab prajurit itu, melanjutkan perjalanannya melewati Prince Alberta yang mengubah haluan terbangnya ke suatu tempat. Berdiam diri pada sebuah pohon rindang di pekarangan seseorang.
🌀🌀🌀
Aleta mendongak ke arah kaca spion tengah mobil, melirik keadaan adiknya yang hanya diam dan terus menatap ke arah luar lewat jendela.
Variella masih tetap diam, tengkuknya terasa perih. Dan saat ia menyentuhnya, dia sadar ada sebuah luka di sana.
" Darah," batinnya.
" Maaf," kata Aleta memulai pembicaraan dengan canggung. Dia sedikit terlonjak karena terkejut. Dia mengerjapkan ke dua matanya berulang- ulang untuk memastikan apa yang tengah ia lihat adalah ilusi, atau bayang- bayang karena moodnya sedang buruk.
Tapi yang ia dapatkan berbeda, itu memang nyata. Dua orang lelaki yang tengah terbang menjauhi daratan dengan sayap- sayap yang terbentang indah.
Dan, seorang yang berada lebih depan dengan busana resmi berwarna cerah itu, sayap indah itu...
" Kak Alberta..." Terkanya lirih. Variella yakin, meski jarak mereka semakin jauh menuju ke langit- langit, entah hendak ke mana.
" Var..."
Variella menoleh, lamunannya pupus mendengar Aleta memanggil namanya.
" Aku benar- benar minta maaf," kata Aleta dengan wajah bersalah, lagi.
" Kau selalu begitu akhir- akhir ini pada ku, dan kau selalu saja meminta maaf setelahnya, dan aku selalu akan bilang, bahwa aku telah memaafkan mu," jawab Variella.
" Aku hanya tidak ingin kau terlalu dekat dengan orang asing, siapa tau mereka akan membahayakan mu," jelas Aleta.
" Kak, usia ku sudah delapan belas tahun, aku sudah bukan anak kecil... Jadi, berhenti menganggap ku seperti itu, okey? Mungkin di mata kakak mereka asing. Tapi di mata ku, mereka semua adalah teman- teman ku." Sangkal Variella.
" Teman- teman ya..."
Hening. Perempuan itu berniat untuk kembali menatap ke luar, tapi ke dua makhluk bersayap itu memang benar- benar sudah tidak ada.
🌀🌀🌀
Perempuan itu tertidur dengan sangat lelap, hingga kemudian sebuah suara mengagetkannya. Variella hampir tidak pernah menutup jendelanya rapat saat hendak pergi tidur.
Tapi malam ini ia terbangun, hanya karena benturan daun jendela dengan tembok yang tidak terlalu keras.
Lelah...
Dia sama sekali tak berusaha untuk bangun, atau membuka mata, hanya menunggu, kapan Peri jahat itu kembali menidurkannya.
" Krieet... Brukkk!!!"
Variella masih tetap dalam keadaan terpejam.
" Cuman halu," itu yang terus di ucapkannya di dalam hati dan fikiran untuk menenangkan diri. Karena memang hal- hal seperti itu kerap mendatanginya.
Mimpi buruk, suara- suara aneh, kekuatan misterius, dan sejenisnya.
" Tak,"
" Tak,"
Kali ini dia bukan lagi mengucapkan kata- kata untuk menenangkan diri. Itu sungguhan suara kaki, nyata...
Perasaan jengah dan takutnya berubah menjadi rasa penasaran dengan sekejap.
Ingin rasanya mengintip, siapa yang berani masuk ke kamarnya pada malam buta dengan cara yang tidak masuk akal. Tapi dia sama sekali tak ingin membuka matanya untuk mengintip. Dia yakin orang yang sedang berjalan mendekatinya bukanlah orang jahat.
" Tak,"
" Tak,"
Sepi...
Suara itu sudah berhenti. Pria itu menatap wajah mate nya dengan tatapan lembut. Lalu membelai anak rambut dan pipinya perlahan.
" Aku selalu merindukan saat- saat kita bisa bersama dalam ketenangan," katanya tanpa pendengar, mungkin.
" Deg, deg, deg,"
" Aku selalu merindukan senyum indah dan keceriaan mu yang bahkan terasa kekanak- kanakan," lanjutnya.
" Deg, deg, deg,"
" Aku selalu merindukan mu yang sok kuat dan banyak bicara,"
" Deg, deg, deg,"
" Aku selalu merindukan mu, akan, setiap saat, setiap waktu, meski tanpa alasan,"
" Deg, deg, deg,"
Dia mendekatkan wajahnya dengan perlahan, tersenyum dengan apa yang telah ia rasakan sekarang. Meski semua ini belum berakhir sepenuhnya. Nafas mereka saling beradu tak beraturan, panas.
" Deg, deg, deg,"
Dia mendaratkan sebuah ciuman halus pada Variella yang tengah terlelap, menyapu bibir indahnya yang menawan dengan belaian- belaian rasa cinta. Tak terelakkan. Dia sudah memutuskan untuk mencintai mate nya sebelum lelaki itu mencium wangi laut dan angin basah musim gugur dari tubuh Variella.
" Deg, deg, deg,"
Dia melumatnya, menyalurkan kasih sayang, cinta, dan kerinduan yang menguar menjadi satu, terus membelai dan menikmati tiap sentuhan jari- jari tangannya pada surai hitam mate nya. Tak peduli.
" Deg, deg, deg,"
" Ada apa Var?" Tanya sebuah suara dari luar, berjalan mendekat.
" Cih," umpat Alberta, menyudahi ciuman singkatnya, lalu meraih tangan kiri Variella, menciumnya dengan penuh kelembutan juga.
" Deg, deg, deg,"
" Aku harus pergi, tapi aku akan kembali," katanya, berbalik kembali menuju ke arah jendela.
" Deg, deg, deg,"
" Aku telah mengucapkan janji, dan aku, Mate dari Princess Afrakulania, akan memenuhi semua yang telah ku sebutkan di depan Sang Lord,"
" Deg, deg, deg,"
" Tolong jangan dekati laki- laki lain, aku akan menunggu mu, terus menunggu mu mengingat semuanya,"
" Aku tau kau sudah bangun, karena kau benar- benar terlihat menikmati ciuman yang ku berikan tadi, dan kau terlihat terlalu malu untuk membalasnya, kan?"
" Deg, deg, deg,"
" Aku pergi," lanjutnya.
Variella membuka matanya, menatap ke arah jendela.
Pria dengan ke dua sayap gagah itu...
Dia bangun. Menutup mulutnya dengan tatapan terus tertuju pada langit- langit, yang perlahan menelannya tanpa sisa.
Itu Alberta.
" Var,"
" Cklekk," pintu terbuka, menampakkan sosok Aleta yang berdiri dengan raut cemas. Pria itu mendekat, untuk ke tiga kalinya, masuk ke dalam kamar Variella secara terang- terangan. Memeluk sang adik yang masih terdiam kebingungan dengan tatapan ke arah jendela.