Shoecha

Shoecha
Ch 33- Sekedar Delusi, Atau?...



Tak ada yang lebih hebat, kecuali sebagaimana kau dapat menguasai diri ku sepenuhnya.


~ Prince Alberta.


AUTHOR


" Maaf, Lord, kemana anda akan pergi dengan begitu tergesa?" Kavyla terjun dari atas pohon tepat di depan Tuannya yang sudah keluar dari gerbang Istana dengan langkah terburu.


" Aku harus menjemput seseorang yang seharusnya ku jemput," jawab Faizal terlalu ambigu. Kavyla tidak tau harus bertanya apa lagi. Sebenarnya Faizal juga tidak tau kenapa dia dengan spontan berkata ingin menjemput seseorang.


" Biarkan saya mendampingi Yang Mulia," tawar Kavyla, beberapa waktu ini Lordnya terlihat sangat khawatir, dan sekarang tiba- tiba berkata ingin menjemput seseorang, tentu saja itu membuatnya tidak tenang.


" Aku adalah salah satu dari Tiga Lord penguasa Negri Bawah, kau tidak perlu menghawatirkan ku," timpal Faizal seakan mengetahui arah fikiran Kavyla dengan mudah.


" Lebih baik kau pergi ke Desa di sebelah selatan Sungai Thebeza, tinjau perkembangan Sistem Irigasi Desa dan Tambang Batu Amarin, Lauzy ada di sana,"


" Baik, Kavyla menerima tugas dari Yang Mulia," Kavyla menjawab dengan tegas masih dengan posisi berlutut. Faizal berlalu begitu saja.


Dia menggunakan kekuatan dimensi untuk mencari jejak orang yang dia cari.


" Dunia Manusia?" Gumamnya.


" Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa dia bisa memancing ku hingga ke mari?"


Flash back on.


Orang itu menutupi ke dua matanya dengan lengan karena terlalu lelah, menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon yang sangat besar dan rindang.


Mata yang terus memandang penuh dengan rasa hampa. Wajah putihnya yang terlihat halus dengan hidung runcing dan rahang tegas. Rambut perak keputihan laki- laki itu di ikat ke atas dengan hiasan rambut penuh ukiran yang elegan.


" Mungkin suatu saat nanti aku tidak akan bisa pergi ke sini dengan lebih leluasa lagi," sesalnya.


Namanya adalah Glen, dia merupakan seorang laki- laki tampan yang sangat dingin dan sulit untuk di ajak bergaul.


Tidak jauh dari tempatnya, seekor kuda berwarna coklat terang tengah sibuk memilah- milah rumput segar dengan tali yang di pasak pada tanah.


" Ngghhiikkkk"


" Nghiikk,"


Faizal menoleh ke arah kudanya yang tiba- tiba saja menjadi tidak terkontrol. Kuda itu terus menukik- nukik berusaha melepaskan diri, padahal Glen tidak merasa ada ancaman yang berarti di sekitar situ.


" Hei, ada apa dengan mu?" Tanya Glen sambil mengelus tengkuk kuda coklatnya dengan lembut, berusaha menenangkan. Hanya kepada Xawaz dia berperilaku lembut dan penuh perhatian. Tapi kuda itu tidak menggubris, malah semakin menjadi- jadi.


" Xawaz? Apa yang terjadi? Siapa yang mengganggu mu?" Tanyanya lagi, tapi lagi- lagi Xawaz malah terus meronta. Hingga tak lama setelah itu dia berhasil menendang dada Glen dan melepaskan diri dari tali pasak itu.


Glen yang memiliki tenaga dalam cukup tinggi hanya mundur beberapa langkah akibat tendangan Xawaz karena tidak menduga serangan tiba- tibanya.


Kuda itu berlari sangat kencang ke arah Timur. Dengan langkah cepat Glen mengejar Xawaz dengan sesekali melompat di antara dahan- dahan pohon. Xawaz berlari tunggang langgang tanpa berhenti hingga memasuki sebuah pedalaman hutan. Tapi Glen tidak menyerah untuk terus mengejarnya.


Semakin dia masuk ke kedalaman hutan itu, semakin jelas dia dapat mendengar alunan sebuah musik yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Dan lagi, sebuah suara lembut yang membuatnya melayang- layang dan tak lagi peduli dengan sekitar. Sebuah suara lembut seorang gadis yang membuatnya tiba- tiba jatuh cinta.


Karena saat jatuh kawan tak akan bersisa...


Karena saat mati kesempatan tak akan berguna...


Karena saat gelap penerang tak akan pernah ada...


Di depannya, sebuah bangunan dari kayu yang terlihat indah meski sederhana, tepat di sampingnya ada sebuah sungai yang mengalir tenang. Di atas sungai itu ada sebuah gazebo yang setiap sudutnya di tutupi dengan kelambu tipis berwarna putih.


Di situlah orang itu tengah duduk memandang ke depan. Yang bisa Glen lihat hanyalah punggung si wanita yang menggambarkan kesepian tak berhujung.


Glen mulai tertarik, wanita itu memiliki rambut berwarna putih, sama seperti dirinya. Bahkan angin tak sungkan untuk terus menghempasnya. Kali ini, dia harus berterima kasih pada Xawaz, yang sudah membawanya menemukan surga. Tempat yang tidak pernah dia sadari keberadaannya. Dan sosok yang sangat, ya, wanita yang sanggup melelehkan hatinya hanya dengan suara.


Aku tak peduli dengan adanya sesal...


Bahkan bayang akan meninggalkan ku dalam kesendirian...


Wanita itu terus saja melanjutkan kegiatanya memetik alat musik dan bernyanyi, seakan tak menyadari kehadiran Glen di belakangnya.


Aku tak peduli pada keberadaan cinta...


Bahkan perasaan akan meninggalkan ku dalam kerisauan...


Glen berjalan mendekat dengan langkah lembut, dia tidak ingin mengganggu wanita itu. Semakin dekat, dan lebih dekat lagi, aroma harum bercampur manis dari sesuatu yang tidak pernah dia cium menguar ke udara, membuatnya mabuk seakan tengah menyesap kadar alkohol dalam arak ribuan tahun dengan kualitas paling tinggi.


Glen sudah berada tepat di belangnya, hanya berjarak dua meter menuju gazebo itu.


Aku hanya seorang lemah...


Aku hanya jiwa tak tau arah...


Aku hanyalah perempuan yang di tinggalkan...


Glen masih diam, di sampingnya, Xawaz juga terdiam memandang lurus ke arah depan. Lagu itu berhenti, begitu pula permainan musiknya.


" Maaf, aku Glen, nama ku, Glenfate Enola Karafi," kata Glen benar- benar terburu- buru. Dia terlihat sangat percaya diri.


" Untuk apa kau datang ke sini?" Tanya wanita itu lembut.


" Untuk mu, aku mencintai suara mu, aku mencintai cara mu memainkan alat musik, aku mencintai diri mu yang tengah duduk di bawah sinar mentari pagi," jawab Glen apa adanya.


Wanita itu menoleh, memperlihatkan wajahnya.


Tapi sebelum itu terjadi, Faizal sudah terbangun.


Faizal memegang pelipisnya, baru akhir- akhir ini kepalanya kerap sekali terasa pusing, padahal beberapa ratus tahun yang lalu juga tidak ada masalah pada kesehatannya.


" Apa barusan aku memimpikan seorang wanita?" Tanya Faizal pada dirinya sendiri yang tersenyum canggung, tapi raut wajahnya malah terlihat seperti orang yang aneh dengan senyum itu.


" Ah, iya, tapi yang ku mimpikan adalah wanita yang sudah memiliki pria," katanya lagi, dia tertidur di ruang baca pribadinya karena terlalu lelah memeriksa dokumen- dokumen Negara.


Dia akhirnya menutup semua itu, memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat, tapi saat baru keluar dari ruang baca, tiba- tiba aroma aneh mampir ke dalam penciumannya.


Aroma yang sangat harum dan bercampur sedikit perasaan manis. Aroma itu sangat mirip dengan apa yang ada di dalam mimpinya barusan. Karena itu Faizal mengabaikannya. Mungkin karena mimpi itu masih segar, jadi aroma itu juga sebuah halusinasi.


Dia terus berjalan melewati koridor, yang anehnya, aroma itu tidak pernah mau perhenti mengikutinya. Karena penasaran, sampailah dia di sini, portal antar dunia.


Flash back off.


" Dunia Manusia?" Gumamnya.


" Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa dia bisa memancing ku hingga ke mari?"