Shoecha

Shoecha
Ch 34- Wanita Asing



Faizal berjalan menyusuri hutan itu, mengikuti aroma menenangkan yang malah kian bertambah pekat menggodanya. Baru kali itu si Lord di ajak petak umpet oleh rasa penasarannya sendiri yang menggebu- gebu.


Hingga setelah dia sudah berjalan cukup lama, sesuatu membuatnya tertarik. Ada sebuah portal tingkat tiga di tempat seperti ini, benda berharga seperti apa yang ada di dalamnya tidak terlalu terlihat karena pantulan cahaya matahari.


Saking penasarannya, Faizal memutuskan untuk berjalan mendekati portal itu untuk memastikan apa yang sedang di sembunyikan di dalamnya. Bahkan dia sampai tidak sadar kalau aroma aneh tadi sudah cukup lama menghilang.


Dia berjalan begitu hati- hati mendekati portal itu, lalu menempelkan ujung kakinya ke sudut portal seperti tengah menendang sebuah bola, membuatnya langsung pecah.


" Portal level tiga yang belum matang dan di buat terlalu terburu- buru," setelah menunggu beberapa detik, akhirnya batas pelindung itu menghilang. Memperlihatkan tubuh lemah seorang wanita dengan rambut hitam panjang dan pakaian lusuh yang terkesan sangat terbuka dan, aneh.


Faizal menempelkan tangannya pada kening wanita itu.


" Luka yang cukup parah, apa sebenarnya yang kau lakukan sehingga menyinggung kaum Rubah Klan Lin, manusia lemah?" Tanya Faizal pada dirinya sendiri.


Faizal memutuskan untuk melangkah pergi dari tempat itu, hatinya seakan merasa sakit ketika dia berfikir untuk mencampakannya di tengah hutan yang rimbun dan gelap seorang diri dengan di penuhi luka. Tapi bukan dirinya jika harus mencampuri urusan orang lain.


" To... Long..." Gumam si wanita membuat Faizal tersentak. Sisi terdalam hatinya memerintahkan untuk membawa wanita itu turut pergi, tapi dia tidak tau apakah itu hal yang tepat.


" Aggrr!! Baru kali ini aku harus di pusingkan masalah makhluk bernama wanita... Seorang manusia yang lemah pula!!" Umpatnya. Akhirnya dia menggendong wanita itu juga. Setidaknya, dia tidak mungkin tidak mengobati luka wanita itu sebelum membuangnya.


" Ya, itu adalah alasan yang tepat," terkanya menyangkal rasa perhatian dan simpatinya yang datang begitu saja.


Saat Faizal mengangkat tubuh ringkih wanita itu, sesuatu terjatuh. Tapi Faizal melesat begitu cepat, sehingga tidak terlalu memperhatikannya. Tujuannya adalah lekas sampai di Istana.


Sesampaikannya di Istana, dia berjalan acuh melewati prajurit- prajurit dan beberapa maid yang berlalu lalang dan menatapnya penuh perhatian.


Lord Faizal Licia Albikairi.


.


Salah satu dari Tiga Lord Besar Penguasa Negri Bawah.


.


Yang seumur hidup senyumannya bisa di hitung dengan satu tangan.


.


Yang wajahnya bahkan lebih datar dari pada tembok.


.


Yang sifatnya bahkan lebih dingin dari pada es.


.


Yang perawakannya bahkan lebih keras dari pada batu.


.


.


Tidak ada yang menyangka, kalau orang se " sempurna" itu bahkan bisa juga menggendong seorang wanita di ke dua tangannya.


Lauzy yang menunggu Faizal sedari tadi di depan kamar untuk melaporkan sesuatu sepulang dari Desa Ruzna karena mengira Lord nya tengah beristirahat, sontak langsung berlutut dan memberi hormat ketika melihat orang yang dia tunggu sedari tadi itu berjalan dari arah luar dengan wajah datar yang tak terbaca.


" Panggil Dokter Kerajaan, suruh dia datang sebelum setengah dupa habis!" Perintah Faizal dengan tegas, melewati Lauzy sebelum dia sempat menjawab, hilang di balik pintu kamar.


" Baik Yang Mulia," jawab Lauzy tersenyum, membuatnya terlihat sangat tampan.


" Bahan gosip hangat terbaru! Akhirnya... Aku akan mempunyai seorang Queen," gumam Lauzy pergi mencari Dokter Kerajaan secepat mungkin dengan paras berharap- harap dan bahagia.


Di dalam kamar, Faizal tak segan membaringkan wanita asing itu di atas ranjang pribadinya, bahkan Atsannia saja tidak pernah menempati ranjang dingin itu.


Dia masih terduduk di sisi ranjang, menekuri goresan wajah wanita itu yang terlihat cukup cantik, di tambah helai demi helai rambut panjangnya yang hitam pekat dan halus untuk di sentuh.


Faizal membuka telapak tangannya ke arah dada wanita itu, menyalurkan tenaga dalam dan mencoba memperbaiki kerusakan fatal pada organ vitalnya, dan mengurai rasa sakit itu agar bisa berkurang banyak. Karena dia tau luka separah itu, jangankan Dokter Kerajaan, dia pun juga akan kehabisan banyak tenaga dalam untuk menyembuhkannya.


" Uhuk!" Faizal terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah di sudut bibirnya, dan kejadian itu tepat di saat Lauzy dan Dokter Kerajaan itu masuk ke dalam kamar pribadi Faizal.


Setelah ke duanya memberi penghormatan, Faizal dengan cekatan merapikan selimut tebalnya pada tubuh wanita asing itu karena pakaiannya terlalu terbuka untuk di lihat laki- laki lain.


Laki- laki lain? Mungkin fikirannya yang sedang salah.


Dia lekas keluar dengan langkah terburu- buru entah ke mana, menghilangkan jejak darah di sudut bibirnya dengan jempol.


" Obati dia," katanya sebelum berlalu. Lauzy beralih menatap calon Queen nya dengan pandangan yang masih memperlihatkan raut bahagia. Calon Queen nya sangat cantik.


" Lord sangat berbeda ketika sedang jatuh cinta, bahkan sifat buruknya tidak bisa menutupi rasa cemas dan sayangnya pada calon Queen ku," gumam Lauzy dengan pendapatnya sendiri.


Benarkah seperti itu? Hanya Faizal yang tau semuanya dengan lebih jelas.


Kenapa dia mau menolong Variella. Kenapa dia membawa Variella ke Istananya. Kenapa dia membaringkan Variella di ranjangnya. Kenapa dia bersedia mengobati Variella. Kenapa dia melakukan semua itu.


Tapi di luar sana, Faizal juga tengah bingung dengan dirinya sendiri. Ingin mengatas namakan menolong orang? Sayangnya dia tidak pernah melakukan semua itu selain pada rakyatnya. Ingin mengatas namakan rasa belas kasih dan iba? Sayangnya dia adalah Demon tanpa keduanya.


" Jangan sampai calon Queen ku kenapa- napa, atau kau harus membayar ku dengan kepala mu! Aku akan menunggu di luar agar tidak mengganggu mu," pesan Lauzy dengan tatapan tajam kepada Dokter Kerajaan yang sudah sedikit berumur itu.


Tapi Lauzy sudah melesat pergi juga sebelum si Dokter Istana menjawab dengan sepatah kata pun. Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonya, tapi ada juga yang mengatakan, pohon yang terus bersandingan, maka akan mengeluarkan buah yang sama.


Lauzy, Kavyla, dan Lord nya, mereka sebenarnya memiliki tempramen yang hampir sama, mengingat orang tua mereka dulu juga merupakan rekan dan kawan baik.


" Calon Queen mu juga calon Queen ku, Tuan... Aku akan menyembuhkannya meski itu dengan seluruh sisa hidup ku." Terka Dokter Kerajaan itu. Dan dia, mulai jatuh fokus untuk mengobati wanita itu.


" Ha ha ha... Akhirnya, Lord ku..." Lauzy terus saja bersorak gembira hingga orang- orang yang melihatnya mungkin mengatainya gila di dalam hati. Masa bodoh dia tidak peduli selagi tidak ada yang menceploskannya.


Hari ini dia memiliki beratus- ratus skor lebih unggul dari Kavyla. Sayangnya di saat- saat paling bahagia seperti ini, Kavyla malah masih berada di desa di dekat Sungai Thebeza yang jaraknya beribu- ribu mil dari Istana.