Shoecha

Shoecha
Ch 6- Princess Variella



Di luar kenyataan bahwa Variella adalah mate ku, Afrakulania adalah keluarga ke dua bagi ku. Queen Vania dan Lord Afgar.


Aku menyentuh dada ku, rasanya sesak. Aku tidak terima jika seseorang berniat untuk menghancurkannya. Atau bermain- main dengan keluarga ku.


" Puk!" Aku menoleh, mendapati Lord Arthur yang barusan menepuk bahu ku pelan. Aku tau, dalam kalut hatinya, dia berusaha menenangkan dan memberi ku semangat selama ini. Aku membungkukkan badan hormat.


" Salam kepada Lord Arthur, aku dari Teriovalefi datang untuk berkunjung," mungkin sekarang dia sedang melihat ku berkaca- kaca. Tapi itu tidak terlalu buruk, mengingat dia juga pernah melihat ku menangis beberapa tahun yang lalu.


Dia menundukkan badannya juga, membalas sapaan formal ku,


" Prince Alberta, senang bertemu dengan mu lagi. Juga terima kasih atas kunjungan mu yang sudah kesekian kalinya ini,"


" Hh... Maaf sebelumnya, jika kunjungan ku yang terlalu sering ini mengganggu diri mu,"


"Ck, memang bodoh, tentu saja tidak Al, bahkan aku merasa sangat senang kau terus berkunjung, apalagi di saat Afrakulania benar- benar belum stabil dan tidak bisa di tinggalkan, bahkan sekarang aku sangat di sibukkan oleh urusan Negara ku yang sangat besar ini seorang diri,"


" Yah... Kau Lord muda tampan yang berpengalaman dan sangat sibuk, tapi sayangnya, aku selalu lebih unggul satu langkah dari mu Arthur," terka ku meninggalkan kesan keformalan.


Aku tersenyum kecil, begitu pun dengannya.


Lord Afgar telah kembali ke tempat peristirahatannya delapan belas tahun yang lalu, menggantikan konsekwensi yang harus di timpa oleh Queen Vania akibat dari ritual sakralnya.


" Ngomong- ngomong, di mana Anasita, aku tak pernah melihatnya setiap kali berkunjung ke mari?" Tanya ku penasaran.


" Dia sedang berada di Puncak Pegunungan Merah, tempat Dewa Kehidupan dan Cinta, selalu saja berpindah- pindah, aku bahkan tak tau bagaimana cara membawa dia pulang ke Istana ini kembali," jawabnya dengan tiga jari kiri menyentuh pelipis.


" Jangan terlalu memikirkan banyak hal, kau jadi terlihat sangat tua, okey? Dia berjuang cukup keras, aku yakin dengan kemampuannya, dia akan baik- baik saja. Pada saatnya nanti, dengan sendirinya dia pasti akan kembali,"


" Benar, dia memang sangat keras kepala, aku sepenuhnya tau kalau Anasita benar- benar menyayangi kakaknya, dan dia hanya ingin agar aku fokus pada urusan Istana, padahal dia tidak tau kalau justru kepergiannya itu yang malah membuat ku sangat khawatir, kemudian kurang fokus."


" Astaga, peristiwa- peristiwa yang terjadi beruntun selama ini benar- benar telah sukses membuat ku gila,"


" Hey, Lord otak mesum, dari dulu kau memang sudah gila... Kau saja yang baru menyadarinya," ledek ku.


" Bodoh! kau yang malah terlihat lebih gila dari ku. Mmm... kalau boleh ku tau, sebenarnya kostum apa yang sedang kau pakai ini? Tapi, sepertinya kau memang lebih cocok mengenakan baju aneh itu dari pada jubah kebangsaan Teriovalefi," ejeknya. Aku memandang almamater sekolah yang ku kenakan.


" Huh, dasar tidak tau model, di Dunia Manusia, orang yang mengenakan seragam ini di anggap sangat keren, Ini adalah almamater sekolah ku di Dunia Manusia, salah satu High School terbaik di sana," jawab ku.


" Masa bodoh, Dunia Manusia sepertinya tak lebih baik dari Negri Bawah,"


" Hm, kau memang sangat suka merendahkan dari pada merendah, tidak berubah. Berkunjunglah sekali- kali ke apartemen mewah ku di Dunia Manusia. Lagi pula penampilan ku seperti ini pun juga karna aku sedang terburu- buru, kau tau? Aku telah menemukannya, aku telah menemukan mate ku di dunia manusia, dia ternyata satu sekolah dengan ku," lanjut ku terlampau bahagia.


Dia tersenyum samar, antara percaya dan tidak.


" Apa kau yakin?" Tanyanya.


" Kau sangat, ehhh... stts. Kau sedang ber pura- pura bodoh apa memang sedang lupa sebenarnya? Makanya, cepat kau cari mate mu sana! Agar kau tau bagaimana rasanya keterikatan antar mate!... Menjadi seorang Lord muda yang masih singgle bukan berarti kau harus melupakannya bodoh!..." Cerca ku, mungkin hanya aku yang berani berteriak seperti itu di depan muka seorang Lord besar dan terhormat sepertinya secara langsung.


" Maaf," jawanya singkat.


" Jangan buat aku menyesal dengan kata- kata ku, Er. Aku tidak bermaksud," beo ku. Dia sangat lihai untuk membuat orang merasa sungkan dan bersalah.


" Tidak papa, aku tidak tersinggung sama sekali. Lalu, bagaimana keadaanya? Apa dia baik- baik saja?" Tanya Lord Arthur.


" Hufff... Segel itu rupanya benar- benar nyata. Dia bahkan tak lagi mengingat ku. Dia berada jauh di sisi terdalam dari dirinya sendiri," jawab ku.


" Apa tidak lebih baik seperti itu? Sangat berbahaya jika musuh bisa mencium aura Shoecha dari tubuhnya,"


" Aku tau, tapi, perlahan- perlahan semua itu juga pasti akan terjadi kan?"


" Tenangkan diri mu, kita hanya tinggal menunggu waktu memainkan tanggalnya. Yang pasti, aku ingin agar kau tidak membiarkannya dalam bahaya selagi aku belum bisa turun tangan secara langsung, ketika semua makhluk dari seluruh lapisan dunia telah mulai mencium kebangkitan Shoecha. Jaga dia untuk ku Al. Aku memercayakan adik ku itu di bawah naungan mu untuk sementara waktu,"


" Heh! Aku sudah mengucapkannya berapa kali pada mu, Lord Arthur yang terhormat, kau tak perlu mengultimatum ku seperti itu, dia adalah mate ku, aku tak akan pernah membiarkan diri ku tergores sedikit pun, dan dia adalah separuh lebih dari alasan aku hidup, dia adalah diri ku, hidup ku yang sesungguhnya. Kau seharusnya mengerti itu,"


" Kau sangat lucu jika sedang jengkel, untungnya dulu Variella tak melihat mu menangis seperti seorang perempuan," goda nya. Dasar! Memuakkan!


Aku tau, meladeni seorang bujang tua memang sangat tak berguna banyak.


Aku menatap taman indah di hadapan ku. Begitu juga dengan Lord Arthur, mungkin. Kami membisu dalam pikiran masing- masing. Memikirkan segalanya. Memori- memori indah yang dulu sempat terlewat dengan senyuman dan rasa bahagia.


Kembali merengkuh bayangan- bayangan yang tak akan lagi pernah terulang, untuk, dan sampai kapan pun.


Aku harap setelah semua teka- teki ini terjawab, dan setelah permainan ini berakhir, kita akan bisa kembali hidup dalam kebahagiaan.


Lord Afgar, siang ini, aku, Alberta Haygo Arfakas, Putra dari Dewa Hujan, Prince Teriovalefi, selaku mate dari putri mu, Variella Bluetania Albaroza, Princess Afrakulania, bersumpah, di hadapan mu yang sekarang sedang beristirahat di bawah tanah Afrakulania, aku akan terus melindungi dan mencintainya seumur hidup ku.


Tak peduli apa pun yang terjadi.


Aku berjanji, aku akan membawanya pulang...


Dalam keadaan sehat, dan tidak kekurangan satu apa pun... Aku akan berjuang untuk itu.